oleh: Kak Widodo
Tengoklah, pincingkan sedikit kelopak mata unutk melihat apa yang terjadi pada teman-teman kita dan anak-anak Anda, bagaimana mereka menghabiskan waktunya dalam keseharian di sana, di kampusnya, di kos-kosan mereka.
Saksikan bahwa modus dan gaya pacaran mahasiswa begitu berbeda. Virus cinta memang bisa menyerang siapa saja. Dulu ketika kunjungan si cowok cukup pada malam minggu ke kos ceweknya, lalu sekadar makan malam. Kini tak lagi selalu begitu, si cewek yang diajak [atau malah yang mengajak] ke kos cowoknya [pacarnya]. Menghabiskan malam-malam di dalam kamar, menutup rapat pintu kamar, lalu kalau sudah demikian bagaimana kelanjutannya? Silakan menduga. Berapa kali saya sampai jengah ketika harus melaporkan teman 1 kos sendiri kepada Pak Kos bahwa ada teman yang ngamar dengan sang pacar, nginep di kosan bersama.
Waktu kunjung kos -cowok ke kos cewek dan sebaliknya- sekitar 4 tahun lalu masih dibatasi sampai jam 9 malam, kini jam-jam itu seperti kehabisan daya batre. Sehingga terlewatilah masa kunjung menjadi jam 21.30 atau jam 22.00 bahkan tengah malam. Di manakah fungsi kendali sosial dari masyarakat, punggawa RT RW atau lurah apalagi tokoh agama. Setiap shalat jumat, masjid juga dipenuhi khalayak, namun mengapa setiap malam juga sebagian jamaah itu pindah ke kos-kos bermesum. Berapa kalikah Anda melihat, kalau mahasiswa cewek boncengan dengan sang pacar seperti manjat pohon kelapa.
Kalau anda sebagai orangtua setiap minggu atau sewaktu-waktu mentransfer uang ke ATM si anak tersayang, pernahkah anda bertanya bagaimana peruntukan uang itu? Seberapa sering menanyakannya? Ataukah anda percaya begitu saja? Tak jarang terjadi, uang hanya untuk memenuhi Hp dengan pulsa guna komunikasi berjam-jam dengan sang doi belaka. Seberapa persenkah uang itu untuk kepentingan pengerjaan tugas kuliah daripada untuk menghabiskan tariff chatting, atau komunikasi di kancah friendster hingga larut malam atau pagi buta.
Apakah sebagai orangtua telah merasa puas tatkala anak-anaknya telah mencapai Indeks prestasi (IP) yang terpuji mendekati IP 4, ataukah merasa senang bahwa ketika mereka pulang ke rumah sudah diantar sang pacar. Kadang agak bingung juga menyaksikan bahwa sang pacar seringnya hanya menjadi tukang ojek atau teman shopping.
Mahasiswa yang dengan alasan lembur, lalu setiap bangun tidur mesti melewati di atas angka jam 7. Sibuk menumpuk pakaian kotornya di pojok kamar, lalu dengan alasan sibuk akhirnya cukup ke jasa laundry. Pernah beberapa kali ngguyoni kawan ketika ia sedang mencuci motor sang pacar ”lho sekarang pacar jadi tukang cuci motor to…hehe?”, atau ketika seorang teman sedang mencuci pakaiannya padahal saat itu sang pacar juga berkunjung di kos –komentar saya ”lho, kalau punya pacar tapi masih nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, terus pacarmu nggo opo?!”. Ya, pengungkapan saya barangkali terlalu kasar, namun batin ini serasa gondok.
Siapa bilang kalau hanya kos cowok yang lebih jorok daripada kos cewek? Tidak selalu, berapa kali membuktikan di kos putri bahwa tisu, sepatu, sampah, sandal, bak, ember, daun-daun, gelas, dan piring berserakan tak karuan di depan kamar pada calon ilmuwan, calon guru, calon pemimpin.
Apakah selalu bahwa yang doyan blue film (untuk menyebut secara halus film porno) adalah para mahasiswa lelaki? Tidak juga. Berapa kali saya berwawancara atau bahkan pengakuan mereka sendiri bahwa mahasiswa perempuan juga sama saja, bahkan bisa lebih dari itu.
Banyak pergeseran dan peri pergaulan di kampus-kampus, maka sebaiknya tak menyangsikan jika ada pernyataan bahwa mahasiswa perempuan di Semarang 80% diantaranya berpacaran dan sudah tidak perawan lagi.
Tahukah anda, apa yang dapat saya lakukan? setidak-tidaknya saya tak melakukan apa yang mereka lakukan.
