Sabtu, April 25, 2009

Calo, Sidang Lalu Lintas, dan yang Menggelikan Kita Belajar


by wido


Kamis, 23 April 2009, menjadi pijakan awal saya mengenal dunia hukum sipil. Menemani seorang kawan untuk mengikuti persidangan perkara pelanggaran lalu lintas. Kawan saya ini pun bukan yang berperkara alias bukan terdakwa, hanya mewakili temannya yang pada suatu sweeping operasi lalu lintas terbukti tidak membawa SIM (malah tidak punya SIM).

Pagi itu, memburu waktu agar sampai di Pengadilan Negeri/Niaga Kota Semarang karena jam 08.00 harus mengikuti sidang. Belum benar-benar menginjakkan kaki di halaman parkir, 2-3 orang sudah mendekat. Awalnya saya tak tahu ini siapa. Dengan berani mereka merangsek “Mas, saya wakili ikut sidangnya biar cepat!”. Tak menggubris tawaran itu, kami bergegas langsung ke tempat sidang, pikir kami acara akan dimulai tepat waktu. Agaknya kami harus kecewa, sidang yang mesti diikuti itu tidak segera mulai.

Justru di depan ruang sidang yang berjumlah 3 ruangan, di sana sudah berjubel orang-orang. Ada yang berdiri, sebagian duduk. Jadi bertanya-tanya, tempat duduk banyak yang kosong, mengapa mereka berdiri. Agak bingung juga mencari nomor dan jadwal ruang sidang di papan pengumuman, karena ada sekitar 500an orang yang mestinya mengikuti sidang, padahal dibagi menjadi 3 ruang berbeda, “wah, melu ruang sidang sing ngendi iki?” begitu teman saya si Adi ngedumel sendiri. Baru saja mendekat mencari ruang tempat sidang, beberapa orang pria mendekat “mana mas saya carikan nomornya, Cuma 2000!”. Karena memang tidak tahu medan yang kami hadapi, akhirnya kawan saya menyerah, ya sudah 2000 rupiah tak apa yang penting segera tahu ruangnya.

Si Calo yang diberi kesempatan membantu ini ternyata sudah lihai, tak sampai 30 detik ruang tempat sidang teman saya sudah diketahui, bahkan juga dituliskan di surat Bukti Pelanggaran (tilang). Si Adi tambah ngomel-ngomel setengah berbisik “asem, aku nggolekine nang papan iki, jebule nang papan sijine”.

Sidang tidak segera dimulai padahal sudah lebih dari 30 menit kami menunggu. Orang-orang yang berperkara semakin banyak berdatangan. Dan jumlah calo pun juga bertambah. Dari calo yang menawarkan mencarikan nomor dan tempat sidang di papan pengumuman (ada 2 papan besar), sampai yang menawarkan mewakili sidang, bahkan sampai ada yang menguruskan tanpa lewat sidang. Ini berarti “main belakang”.

Perilaku calo di pengadilan ini tampaknya bukan hal asing lagi, pegawai di sana juga sudah mahfum dengan keadaan ini alias menghalalkan atau memaklumi. Asalkan saja pihak pengadilan justru yang menjadi mandor calo-nya…haha, apa kata dunia.

Akhirnya sidang dimulai sekitar jam 9.30, saya mau belajar ah..kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Ternyata sidang ini tidak seperti lazimnya sidang sebagaimana saya tonton di TV. Para terdakwa duduk di kursi dan diurutkan sesuai nomor di surat Tilang. Namun, ketika sidang dimulai, terdakwa dipanggil satu demi satu berhadapan langsung hakim dan berdiri di depan meja hakim. Ada hakim ketua dan seorang anggota dan seorang panitera sidang. Tidak jelas apa yang dikatakan, samar-samar saya dengar intinya hakim menanyakan “apa pelanggarannya?”, lalu menyebutkan vonisnya “25 ribu, atau 30 atau 45 ribu”. Sang hakim benar-benar sudah lanyah (hafal) pelanggarannya dan berapa vonis dendanya. Hakim anggota lainnya menunjukkan dimana tempat mengambil barang bukti atau barang jaminan sekaligus tempat pembayaran denda.

Hebat benar sang calon. Saya belajar lagi. Ada calo yang mondar mandir tapi pasif saja berdiri di depan papan pengumuman, sesekali menawarkan bantuannya untuk mencarikan nomor. Ada calon yang sejak di depan halaman kantor sudah agak buru-buru sambil memegangi satu atau beberapa lembar surat tilang, segera mencari nomor yang dimaksud di papan. Jadi, ada yang pasif pun ada yang aktif.

Para calo ini, ada yang berpakaian ala kadarnya (tapi semuanya bersepatu) dan mungkin karena saking paginya di sana mungkin tidak mandi (wajahnya masih kusut seperti orang habis bangun tidur..hehe). Ada pula yang parlente, dengan kemeja lengan panjang dimasukkan, sepatu kulit plus kaca mata. Kalau diamati para calo ini juga membawa “senjata” yaitu 1 spidol atau bolpoint.

Banyak orang dulu berharap lebih baik mengkuti sidang pengadilan karena berasumsi bahwa dendanya akan lebih kecil daripada jika “dipalak” oleh polisi ketika masih di jalan. Tapi, jika dihitung-hitung lagi, selisihnya tidak berbeda jauh, karena denda jika ikut sidang minimal 25 ribu plus uang beli bensin ke tempat sidang plus “biaya” imateriil karena perlu waktu/hari tertentu dan mesti menunggu (meninggalkan pekerjaan lainnya). Sehingga, orang-orang berpikir lagi “mending sidang di tempat” alias damai saja.

Para makelar (untuk tidak menyebut calo) juga butuh makan, mencukupi kebutuhan keluarga, ada anak yang perlu disekolahkan, ada dapur yang perlu dibikin ngebul. Kita bisa belajar dari bagaimana cara calo mengkomunikasikan tawaran kepada para terdakwa untuk menitipkan penyelesaian perkara itu kepada mereka. Sebagian begitu sigap, jemput bola menawarkan “bantuannya”.

Uniknya, ternyata ada orang yang berperan sebagai bos atau mandor para calo itu. Dia yang tidak perlu repot menjanjikan apapun, bahkan sangat ramah kepada siapapun. saya menyaksikan sendiri, bos ini malah menawarkan bantuan bagi yang benar-benar kesusahan dalam perkaranya. Misalnya, ada seorang Bapak tidak menemukan nama dan nomor kendaraannya di papan pengumuman, bingung bagaimana mengambil STNK yang ditahan. Nah, sang mandor ternyata dengan penuh senyum memberikan saran-saran, yang jika dipikir-pikir masuk akal dan sama sekali tidak merugikan, justru sangat membantu.

Hari ini, saya belajar lagi… banyak yang ingin saya ceritakan, namun jika terlalu banyak akan membosankan. Cukup sekian…

.

Minggu, April 19, 2009

CIRI-CIRI PERUBAHAN TINGKAH LAKU SEBAGAI HASIL PEMBELAJARAN


Pengantar: Dalam keseluruhan poses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas yang utama.

Pendidikan dan pembelajaran adalah changes of behavior. Ketika proses pembelajaran telah dilaksanakan untuk hal-hal tertentu, maka pencapaian yang terbaik adalah perubahan perilaku peserta didik menjadi pribadi yang positif. Pembelajaran bukan menuju demagogi (perubahan ke arah kondisi negatif), tetapi merupakan pedagogi dan andragogi.

Ciri perubahan tingkah laku sebagai hasil pembelajaran, yaitu:
1)Perubahan tingkah laku interaksi sosial, misalnya seorang anak kecil yang tadinya sebelum memasuki sekolah bertingkah manja, cengeng, egois, dan sebagainya, tetapi setelah beberapa bulan masuk sekolah dasar, perilakunya berubah menjadi anak yang baik, tidak lagi cengeng dan sudah mau bergaul dengan teman-temannya.

Seorang pelajar SMA kelas X (kelas I) sebelumnya sering meninggalkan rumah dan tidur di tempat temannya, sering berkelahi, malas sekolah, dan sebagainya, tetapi setelah pindah sekolah ke kota lain, tingkah lakunya berubah menjadi sebaliknya. Hal ini karena anak tersebut telah belajar dari sekolah dan lingkungannya yang baru.

Dari contoh tersebut, dapat dipahami bahwa perubahan yang timbul adalah bersifat positif. Tujuan yang diinginkan dalam belajar adalah hasil yang positif. Ada juga yang hasilnya bersifat negatif (buruk), misalnya karena bergaul dengan anak-anak nakal, selalu melihat perjudian, sering menonton film porno, maka anak pun menjadi nakal dan jahat. Anak tersebut telah belajar dari hal-hal negatif dan kondisi yang buruk.

2)Perubahan kebiasaan. Belajar yang berhasil dapat mengubah kebiasaan, dari yang buruk menjadi baik, seperti merokok, minum-minuman keras, keluyuran bangun terlambat, dan sebagainya. Kebiasaan buruk tersebut harus diubah menjadi yang baik. Kebiasaan buruk akan menghambat jalan menuju kebahagiaan tetapi sebaliknya adalah sebagai pelicin jalan menuju kemelaratan, dan itu jangan diteruskan karena bisa “mendarahdaging”. Cara menghilangkannya ialah belajar melatih diri menjauhkan kebiasaan buruk dengan meneguhkan keyakinan dan tekad bukat harus berhasil.

3)Pengembangan dan peningkatan keterampilan. Dengan belajar dapat menambah dan mengubah keterampilan, misalnya olahraga, kesenian, jasa, teknik, pertanian, perikanan, pelajaran, dan sebagainya. Seseorang yang terampil main bulu tangkis, bola, tinju maupun cabang olahraga lainnya adalah berkat belajar, bakat, dan latihan yang sunguh-sungguh. Demikian pula halnya dengan keterampilan bermain barang kerajinan dan sebagainya semuanya perlu usaha dengan belajar yag serius, rajin, dan tekun. Pengembangan keterampilan ini dapat dengan jelas kita lihat pada hasil belajar pada anak-anak sekolah kejuruan (vokasional) dan teknik.

4)Peningkatan pengetahuan. Belajar bertujuan menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu, misalnya tidak bisa membaca, menulis, berhitung, berbahasa inggris menjadi bisa semuanya. Dari tidak mengetahui keadaan di kutub utara menjadi mengetahui dan sebagainya. Ilmu pengetahuan terus berkembang dan dinamis. Karena itu setiap orang, besar , kecil, tua, muda diharuskan belajar terus agar dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju.


Lebih tegas lagi, perubahan perilaku tersebut dapat klasifikasikan oleh Benjamin Bloom, cs. dalam bukunya Taxonomy of Educational Objectives (1956) ke dalam 3 ranah utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Perilaku pada kawasan kognitif adalah perilaku yang merupakan hasil proses berpikir. Dalam bahasa sederhanya adalah perilaku hasil kerja otak. Bloom, misalnya membagi kawasan kognitif menjadi enam tingkatan: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Keenam tingkatan tersebut secra berturut-turut merupakan tingkatan perilaku kognitif dari yang paling rendah atau sederhana sampai ke yang paling tinggi atau kompleks. Menyebutkan definisi ekonomi, membedakan fungsi meja dan kursi, membuat gambar sketsa bangunan dengan jangka dan busur, menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus.

Perilaku kawasan psikomotorik adalah perilaku yang dimunculkan oleh hasil belajar fungsi tubuh manusia. Ia berbentuk gerakan tubuh. Berlari, melompat, berputar, memukul, dan menendang adalah perilaku psikomotorik. Perilaku kawasan psikomotorik ini, oleh Bloom dibagi menjadi lima tingkat, yaitu menirukan gerak, memanipulasikan kata-kata menjadi gerak, melakukan gerak dengan tepat, merangkaikan berbagai gerak, dan melakukan gerak dengan gerak wajar dan efisien.

Perilaku afektif dimunculkan seseorang sebagai pertanda kecenderungannya untuk membuat pilihan atau keputusan untuk beraksi di dalam lingkungan tertentu. Mengganggukkan kepala yang ditafsirkan sebagai tanda setuju, meloncat dengan muka berseri-seri sebagai tanda kegirangan dan pergi ke masjid atau ke gereja sebagia tanda beriman kepada Tuhan adalah contoh perilaku dalam kawasan afektif. Bloom membagi kawasan ini menjadi lima tingkatan kemampuan, yaitu: menerima nilai, membuat respon terhadap nilai, menghargai nilai-nilai yang ada, mengorganisasikan nilai, dan mengamalkan nilai secara konsisten atau karakterisasi.

Sebenarnya sikap itu tidak tampak oleh mata, sebab sikap baru merupakan kecenderungan berperilaku. Ia berada “di dalam hati”. Tetapi, siapa yang dapat membaca isi hati orang lain kalau sikap itu tidak dimunculkan berupa kata-kata, gerakan badan atau kombinasi keduanya? Dengan perkataan lain, seseorang menafsirkan sikap orang lain dengan melihat perilakunya atau gejala yang ditimbulkannya. Penafsiran seperti ini sangat sulit. Kunci utamanya terletak kepada bagaimana cara menafsirkan perilaku tertentu sebagai sikap tertentu pula. Prinsip menfasirkan perilaku atau gejala untuk menyatakan sikap orang sering kali masih diperdebatkan karena kehawatiran terjadinya salah tafsir. Bagaimana dengan orang yang berperilaku pura-pura seperti menangis padahal ia sebenarnya gembira? Orang harus berhati-hati dan sangat cermat dalam menafsirkan sikap orang lain dari perilakunya. Tetapi, berlainan halnya dengan penafsiran terhadap kemampuan berpikir orang dengan melihat gejalanya alam menjawab tes atau penafsiran kemampuan psikomotorik orang dengan melihat hasil gerakannya.

Jadi, dalam hal ini sangat penting untuk menentukan metode dan instrumen yang digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar seseorang, baik dalam kawasan kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!