Kita mungkin lebih senang disebut miskin ketika kita sedang "kaya"?
Saya merasakan bahwa lagu Alm. Alda Risma “Aku Tak Biasa” masih sesuai dengan semangat percintaan gaya baru (modern), karena memang kalau orang ditinggal pacarnya atau istrinya jadi kelimpungan. Tapi untuk konteks orang miskin, maka judul lagu itu sudah sangat tidak sesuai, kenyataannya bahwa orang Indonesia yang –maaf- miskin sudah terbiasa dengan kemiskinannya itu.
Bahkan yang mengaku miskin senang disebut miskin kalau ada SLT (Subsidi Tunai Langsung) atau mungkin saat pembagian/pemberian beras (membeli dengan harga murah) bagi warga miskin (Raskin). Orang kaya minta dimiskinkan, orang yang benar-benar miskin saja sulit untuk membuktikan dirinya miskin (memang aneh).
Sikap dan perilaku orang juga sebenarnya teracuni oleh ”jiwa-jiwa miskin” -betapa tidak- yang katanya miskin saja masih mengaku-ngaku miskin. Kenyataannya -Indonesia yang dikatakan mengalami peningkatan jumlah orang miskin- banyak diantara ”orang-orang miskin” itu masih mampu tiap tahun berganti-ganti kendaraan bermotor keluaran terbaru. Lalu sebenarnya apa yang menjadi parameter dan indikator orang tertentu menyentuh derajat kemiskinan.
Kalau benar data 38% penduduk Indonesia miskin, maka itu baru sebuah bentuk kemiskinan materi alias miskin harta benda atau miskin sandang, pangan, papan. Hal yang memprihatinkan adalah orang yang miskin hatinya. Mereka selalu merasa kurang dan kurang, sehingga lupa bersyukur secara tulus kepada Tuhan. Bahkan bisa disebut mereka ini telah terjangkiti penyakit materialisme (paham kebendaan).
Saya tersentil oleh sebuah pengingat dari Tuhan ”Allah membenci orang kaya yang sombong, tetapi lebih benci lagi kepada orang miskin yang sombong”. Sungguh aneh memang, apa yang mau disombongkan oleh orang-orang miskin? Bisa jadi orang miskin yang paling rendah derajatnya adalah orang yang miskin hati dan harta benda tetapi masih ”percaya diri” untuk menyombongkan diri. Apakah kita termasuk orang-orang semacam ini? Semoga tidak.
Senin, Maret 02, 2009
Kita Biasa Miskin!
Labels:
refleksi
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
Materiil atau spiritual dulu?
Pertanyaan komentar ini bisa sulit atau mungkin mudah dijawab. Dalam kesehariannya, orang yang diberi hak untuk memimpin di suatu lembaga tak jarang menyelewengkan amanah tersebut. Penyelewengan ini kita kenal beberapa diantaranya soal korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Sehingga dalam hati saya bertanya, sebenarnya yang jadi Kyai atau tokoh agama kok kok masih ada yang menjadi “penyeleweng”? Jawabnya karena mereka belum makrifat. Lalu apalagi itu makrifat? Mungkin orang awam akan sulit menjawabnya. Tetapi biasanya ada persepsi bahwa kesalahan atau penyelewengan itu adalah kewajaran karena mereka juga manusia.
Pertanyaan lain, materiil atau spriritual dulu yang harus dipenuhi? Dalam pernyataan lain, kita kadang cenderung mendahulukan materi daripada spiritual. Buktinya, banyak dari kita memenuhi nafsu perut (kebutuhan makan), baru kemudian kita beribadah (shalat). Dengan alasan bahwa dengan “pemenuhan” tersebut, maka kekhusukan ibadah akan terjaga. Benarkah demikian?
Logika sederhananya misal kita hendak shalat, apakah kita tidak menutup aurat kita dahulu (tidak berpakaian yang layak)? Artinya disini, bahwa kesadaran akan perlunya shalat sebagai kekuatan spiritual, sedangkan baju atau pakaian sebagai kebutuhan material.
Pendapat lain akan menyatakan, bahwa orang -untuk dapat memenuhi materi shalat- harus memenuhi kebutuhan materi berawal dari kesadaran akan usaha memenuhi kepentingan ibadahnya. Singkatnya, untuk pakai baju orang harus sadar kegunaan bajunya itu.
Pertanyaan ini tidak akan berhenti pada pencapaian jawaban tadi, karena ada pertanyaan lainnya. Apakah kita harus cukup makan –materi- baru kita teguh untuk mengimani dan beribadah? Ataukah iman dulu baru kemudian kita cukupi makan kita? Semoga saudara/saudari bisa membantu memberikan jawaban.
Sehingga dalam hati saya bertanya, sebenarnya yang jadi Kyai atau tokoh agama kok kok masih ada yang menjadi “penyeleweng”? Jawabnya karena mereka belum makrifat. Lalu apalagi itu makrifat? Mungkin orang awam akan sulit menjawabnya. Tetapi biasanya ada persepsi bahwa kesalahan atau penyelewengan itu adalah kewajaran karena mereka juga manusia.
Pertanyaan lain, materiil atau spriritual dulu yang harus dipenuhi? Dalam pernyataan lain, kita kadang cenderung mendahulukan materi daripada spiritual. Buktinya, banyak dari kita memenuhi nafsu perut (kebutuhan makan), baru kemudian kita beribadah (shalat). Dengan alasan bahwa dengan “pemenuhan” tersebut, maka kekhusukan ibadah akan terjaga. Benarkah demikian?
Logika sederhananya misal kita hendak shalat, apakah kita tidak menutup aurat kita dahulu (tidak berpakaian yang layak)? Artinya disini, bahwa kesadaran akan perlunya shalat sebagai kekuatan spiritual, sedangkan baju atau pakaian sebagai kebutuhan material.
Pendapat lain akan menyatakan, bahwa orang -untuk dapat memenuhi materi shalat- harus memenuhi kebutuhan materi berawal dari kesadaran akan usaha memenuhi kepentingan ibadahnya. Singkatnya, untuk pakai baju orang harus sadar kegunaan bajunya itu.
Pertanyaan ini tidak akan berhenti pada pencapaian jawaban tadi, karena ada pertanyaan lainnya. Apakah kita harus cukup makan –materi- baru kita teguh untuk mengimani dan beribadah? Ataukah iman dulu baru kemudian kita cukupi makan kita? Semoga saudara/saudari bisa membantu memberikan jawaban.
Labels:
refleksi
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
Langganan:
Komentar (Atom)
DARI MASA KE MASA
DOAKU
Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Atur Pembuka

Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!