Jumat, Maret 13, 2009

Senin dan Kisah Sepatu Kakak-Adik


oleh: widodo



Senin 9 Maret 2009, saya berpikir berulang-ulang sebelum akhirnya memutuskan pulang ke kampung di Wonogiri. Ada sejumlah hal yang menjadi bahan pertimbangan, jika saya tak pulang, maka kapan lagi sebab Minggu 15 Maret rencana ada technical meeting peserta KMD di Unnes (500an orang), di sana mesti memberikan wawasan tentang KMD bagi mahasiswa calon peserta. Pun saya mesti merampung proposal dan izin penelitian yang belum tuntas. 20-22 Maret dan 27-29, KMD dilaksanakan di Unnes. Pulang kapan lagi, padahal rencana pulang lagi saat Pemilu (9 April). Jika pulang sekarang, waktu begitu pendek, Selasa (10 Maret) sudah hari efektif, jadi paling lama saya di rumah hingga Rabu, 11 Maret. Akhirnya saya putuskan, pulang.

Pagi jam 7.15 terpaksa membangunkan seorang karib (Apit Tegal) yang masih merajut mimpi di pulau kapuk. Saya minta diantar ke Ungaran, agar secepatnya bisa sampai di rumah. Hari itu pulang, tak membawa tas, hanya kain pembalut badan dan uang, plus HP. Alhamdulillah begitu saya menginjakkan kaki di Pasar Ungaran, bus Semarang-Solo datang, berangkatlah saya (Terima kasih Apit sudah mau mengantar, kesekian kalinya saya merepotkan teman-teman).

Begitu di bus, coba saya nikmati sejuknya (sebenarnya: dingin) udara AC bus Safari. Sesantai mungkin saya sandarkan kepala di jog sandaran, menarik nafas sedalam-dalamnya dan menhembuskan dengan penuh rasa, plong dan Alhamdulillah. (tadi malam atau malam sebelumnya tidur jam 2 pagi, sehingga memaksa saya memejamkan mata beberapa saat).

Dalam perjalanan saya sempatkan meng-SMS beberapa orang teman. Jam 9.50, ketika bus memasuki kawasan Kerten Solo, HP berdering, “Kwarcab Kota Smg” memanggil. Intinya, mengundang rapat Pesta Siaga Tingkat Kota Semarang, rapat Selasa jam 14.00. Saya terhenyak sesaat, mengapa kemarin saya tidak dihubungi dulu, dan kini saat mencoba mengistirahatkan diri sejenak, ada panggilan tak terduga, mereka membutuhkan saya. Saya tanyakan juga, mengapa kemarin tidak menghubungi dulu? Jawabnya, baru bisa sekarang, semua Pelatih Pembina dan Andalan diundang rapat.

Saya jawab, insyaAlloh saya datang, saya usahakan, terima kasih. Mengapa, saya jadi ingat pesan nabi “Siapa yang memutuskan harapan orang yang datang kepadanya, Alloh akan memutuskan harapannya pada hari kiamat dan tidak akan masuk sorga” (Abu Hurairah RA). Saya tak ingin memutuskan harapan saya sendiri, selama bisa membantu, akan kita bantu, semoga Alloh dan orang-orang nanti dapat membantu saya.

Dan bus memasuki Terminal Tirtonadi jam 10 lebih sedikit. Segera saya berlari mengejar bus Gunung Mulia yang keluar gerbang terminal. Alhamdulillah saya melaju bersama gunung mulia. Cuaca cukup panas dan lapar (hampir setiap saya pulang ke rumah, jarang sarapan dulu). Bis berhenti di Terminal Jatisrono jam setengah 13, langsung saja saya ngeloyor ke warung mie ayam dekat peron terminal. “Mie ayam Bu!, pinta saya, plus es teh. Usaha bersantai di bus menjadikan rileks pikiran, barangkali salah mengapa pesan es teh, sebab kepala jadi ngelu. Mikir juga akhirnya, besok-besok kalau habis makan yang panas mending jangan minum es dulu.

Adik sepupu, si Yoko datang sesaat sebelum mie habis, ditawari mie nggak mau. Meluncur pulang, dan sampai di rumah ada kakang Bowo, mak’e dan gomin, serta 2 orang saudara yang berkunjung. Senang rasanya bisa sampai rumah lagi, Alhamdulillah. Seperti yang sudah sudah, mesti mak’e menyuruh segera makan, selalu begitu. Mata inipun tak ngantuk.

Dan siang itu, sebuah kisah indah kembali disaksikan, latarnya tak begitu jelas, apakah di Pakistan atau Iran (jelasnya matoritas muslim). Hanya sepenggal cerita yang bisa saya ungkapkan. Seorang adik kakak, adiknya perempuan dan kakaknya lelaki, tak tahu siapa namanya. Keluarga miskin, dengan 2 orang anak. Adik kakak sama-sama masih SD. Si adik yang masuk sekolah pagi harus segera pulang karena siangnya sang kakak masuk sekolah siang. Mengapa mesti segera pulang? Mereka hanya memilki 1 pasang sepatu yang mesti dipakai bergantian. Adik memakai pagi hari, kakak siang harinya, begitu terus setiap hari. Mau tak mau, sepatu ini cepat juga ausnya, sepatu menjadi butut.

Prestasi keduanya terbilang cemerlang di sekolahannya, terutama sang kakak. Kelebihan si kakak dan si adik, mampu berlari cepat untuk anak seumuran mereka. Si kakak memang tergabung dalam tim lari di sekolah. Demi mengejar prestasi belajar, si kakak harus tekun belajar, ini tentu berdampak dengan jarangnya datang latihan lari, padahal sepekan setelah pengumuman hasil belajar, ada lomba marathon tingkat regional. Dengan segenap pengorbanan, pagi itu ketika pengumuman ujian, nama si kakak terpampang di papan pengumuman, ia berhasil menjadi juara meski nomor 2.

Ada sesuatu yang mesti ia perjuangkan. Sepatu bututnya mesti segera diganti, tentu tidak dengan membeli, ia harus memperolehnya dengan berlari. Ia berkeyakinan harus menjadi juara, bukan juara I, namun juara III. Sebab, juara III akan mendapatkan sepatu baru, sepatu ia impikan. Sepatu yang akan ia berikan untuk adiknya tersayang, adik semata wayang.

Siang itu ia segera menemui sang guru olahraga, ia merengek meminta dimasukkan ke dalam tim lomba. “Kemana saja engkau selama ini, tak pernah datang lari”, “Saya mohon Pak masukkan saya dalam tim”, “Pulanglah, engkau bisa masuk dalam tim untuk perlombaan tahun depan, itu pun jika kau rajin”. “Pak…masukkan dalam tim, saya pasti juara Pak”, luluh juga sang guru melihatnya murid kesayangannya menangis sejadi-jadinya siang itu. Sorenya, ia dilatih secara individu. Diusahakannya dengan begitu meyakinkan sang guru pelatih, benarlah ia lolos untuk masuk dalam tim dengan begitu luar biasa.

-teman-teman, Bapak-guru, begitu trenyuh saya menyaksikan kisah ini, tak terasa basah mata saya, hampir saja airnya menetes deras jika tak saya tahan, agak malu juga sebab Yoko dan kang Bowo turut menyaksikan kisah yang sama”- seandainya saya menjadi si kakak.

Ia begitu kasihan pada adiknya, “Dik, nanti kalau kakak menang, sepatu ini buat adik, kakak pasti akan menjadi pemenang ke-3”, “Ia kak, tapi kalau kakak tidak menjadi juara, bagaimana?” Tanya adiknya. “Pasti aku akan juara ke-3”.

Dan tibalah saat perlombaan dimulai, maraton yang cukup jauh. Melewati pegunungan, tepi hutan, tepian sungai dan area danau yang disekelilingnya rerimbun pepohonan pinus. Mati-matian ia berjuang, memasuki lebih dari separuh perjalanan ia mulai merangsek ke depan barisan pelari. Dan kini ia nomor 1, ingatlah ia, ia bukan untuk juara 1, namun juara 3. Diperlambatlah ia pada posisi ke 3. Seorang pelari di sampingnya menyikut, terjungkal si kakak, ia mulai kehilangan posisi ke-3. Semangatnya bangkit begitu mengingat si adik kecilnya mesti berlari pulang secepat-cepatnya agar sepatunya gantian dipakai sang kakak.

Berlari ia, berlari. Pelari ke 7,6,5,4, dan kini ia menjadi yang ke-3 lagi. Semakin menjadi-jadi larinya meski, nafas begitu menderu, keringat bercucuran, dan panjatan kaki yang mulai goyah. Oh dia sekarang urutan ke-1 di detik-detik terakhir, ia juara. Dielu-elukan seluruh khalayak, sang guru dan kepala sekolah, ia juara.

Bukan senang, sedihlah ia menjadi juara 1, ia tak mendapat sepatunya. Di tepian kolam rumah, ketika sepatu dan kaos kaki dilepas pelan-pelan. Kaki, jari, dan telapak yang lecet perih tak seperih perasaannya. Didinginkan oleh air kolam, kaki terendam dan ikan-ikan riuh bergerombol mendinginkan suasana, kisah ini berakhir.

Selasa pagi, 10 Maret saatnya kembali ke Semarang.

by: widodo

Apa dan Bagaimana KMD Kota Semarang (Sepenggal Wawasan)






Berdasar pengalaman di Semarang, KMD atau Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar seringnya diikuti mahasiswa kependidikan/calon guru atau yang sudah menjadi guru. Setiap KMD maupun diklat/kursus lainnya yang difasilitasi oleh Lemdikacab (Pusdikcab) Kota Semarang juga melibatkan panitia pelaksana dari gugusdepan yang menyelenggarakan.

Pada level cabang (kabupaten/kota), secara kewenangan KMD menjadi tanggung jawab Kwartir Cabang melalui Lemdikacab Kota Semarang. Sederhananya, proses penyelenggaraannya melalui beberapa proses kerjasama antara Kwartir dengan Gudep (biasanya Gudep di Perguruan Tinggi). Jika gudep yang menjadi tempat penyelenggaraan, maka gudep menyampaikan permohonan tertulis dan lisan kepada Kwarcab, Ketua Kwarcab akan meneruskan surat tersebut ke Ketua Lemdikacab (Pusdikcab) tentu dengan disposisi atas surat permohonan dari gudep. Jika Lemdikacab sanggup, maka Kwarcab dan Lemdika akan memberikan jawaban ke gugusdepan penyelenggara. Adakalanya Kwarcab memberikan surat kesangggupan memfasilitasi kursus jika memang gudep meminta kesanggupan secara hitam di atas putih.

Selanjutnya ada pembahasan bersama antara Lemdika dengan panitia dari gudep tentang hal-hal menyangkut teknis KMD, biasanya tentang biaya dan fasilitas, serta teknis pelaksanaan keseharian kursus. Ketua Pusdik akan merapatkan bersama jajaran pelatih yang diundang untuk membahas perencanaan kurus, biasanya meliputi pengeplotan tugas panitia kursus, tim pelatih, jadwal, tata tertib, latar belakang KMD yang akan dilaksanakan, pesan khusus Ketua Kwarcab dan hal teknis lainnya.

Semestinya KMD berlangsung selama 7 hari, yaitu 4 hari di kelas dan 3 hari berkemah, dengan jumlah 90 jam pelajaran. Hal tersebut sesuai SK Kwarnas no. 90 tahun 2001 tentang Kursus Mahir pada Gerakan Pramuka. Pada kenyataannya, panitia gugusdepan meminta agar dalam pelaksanaan kursus waktunya dipadatkan menjadi 6 atau 5 hari. Jika selama 6 hari, Lemdika biasanya bersedia selama tidak mengurangi jam pelajaran prinsipil kursus. Namun, jika diminta 5 hari, Lemdika tidak akan bersedia karena akan memadatkan jam materi, sehingga dikhawatirkan tujuan Kursus tidak tercapai, peserta tidak akan mencapai kompetensi yang diharapkan.

Selama pelaksanaan kursus, peserta mesti mengikuti aturan main yang berlaku. Mereka perlu mengerjakan tugas, membuat catatan, bekerjasama, berkomunikasi dengan pelatih. Peserta yang dinyatakan lulus berhak mendapatkan sertifikat KMD dan Surat Hak Bina (SHB). Syarat kelulusan KMD paling tidak berdasarkan 4 point, yaitu: (1) pre test-post test, (2) kehadiran, (3) tugas-tugas, dan (4) catatan. Misalnya, untuk kehadiran, peserta harus memenuhi 75% dari total 90 jam pelajaran yang dipersyaratkan. Resiko kekurangan dari point-point tersebut adalah peserta kelulusannya ditangguhkan, atau bahkan tidak lulus.

Apabila peserta dinyatakan ditangguhkan, maka ia didorong untuk menyelesaikan kekurangan-kekurangan yang ada, misalnya memenuhi tugas materi tertentu. Bagaimana memenuhi tugas tersebut sangat ditentukan oleh kebijakan pemimpin kursus dan wali kelas. Jika kekurangan tersebut telah dipenuhi, maka sertifikat kursus dapat diserahkan kepada yang brersangkutan. Sedangkan bila peserta dinyatakan tidak lulus, maka yang bersangkutan mesti mengikuti kursus lagi (jika masih berminat).

Perlu diketahui, dalam sebuah partisipasi kegiatan termasuk kursus, adalakanya peserta berpikir bahwa yang penting mendaftar dan jarang datang. Namun, dalam kursus yang dilaksanakan Lemdikacab, peserta yang membayar dan mendaftar belum tentu dinyatakan akan mendapatkan sertifikat (ini bukan di seminar-seminar yang kadang peserta mendaftar, meski tak datang tetapi mendapat sertifikat), jadi di sini mbayar belum tentu lulus.

Melalui KMD, peserta diharapkan memperoleh bekal keterampilan, sikap, dan pengetahuan tentang bagaimana membina pramuka di gugusdepan. Peserta yang lulus diharapkan dapat menerapkan apa yang diperoleh selama kursus di satuan ataupun pangkalan yang dibinanya. Kegiatan membina setelah KMD ini lazim disebut masa pemantapan, yang dilaksanakan minimal 6 bulan. Setelah itu, Pembina ini dapat mengikuti Kursus Mahir Lanjutan (KML).

Minggu, Maret 08, 2009

KATA MEREKA TENTANG KITA (PRAMUKA); part 1




Minggu, 8 Maret 2008, Semarang. Saya menjalankan tugasnya sebagai sebagai juri lomba kepramukaan di sebuah sekolah di Kota Semarang. Sebagai juri salah satu lomba dari sekian beberapa lomba yang dilaksanakan. Hari-hari yang terlewati semakin mendekatkan saya pada berpramuka sepanjang hayat, tiada hari tanpa berpramuka.

Sabtu, sehari sebelumnya, saya telah berencana setelah bakdha dhuhur hendak pulang ke kampung halaman, di Wonogiri. Maklum, hampir sebulan saya tidak pulang menjumpai sang Ibu, keluarga dan kerabat, kangen rasanya. Lebih kangen lagi, pada Bapak di Pangkal Pinang Bangka Belitung yang sedang merantau, berangkat seminggu yang lalu.

Namun, pagi itu ketika saya menyudahi menonton acara televisi pagi itu, Avatar The Legend of Aang Global TV. Dari ruang TV, lalu saya kembali ke kamar, ada tulisan one miscall di HP. Saya cek, jebule jam 08.13 HP saya berdering mendapat panggilan dengan identitas “Kwarcab Smg”, ini berarti nomor telepon kwarcab Kota Semarang. Saya menduga pasti penting, karena jarang sekali saya mendapat kontak dengan nomor telepon Kwarcab Kota Semarang. Biasanya panggilan itu karena dibutuhkan sebagai “apa” di kegiatan Kota semarang.

Apalagi, sekitar 12 hari lahgi akan dilaksanakan Kursus Pembina pramuka mahir dasar (KMD) di Unnes, jadi saya pikir ini pasti soal KMD yang akan dibahas oleh Kak Tusno (Kalemdikacab/Pusdikacab). Saya berinisiatif segera menelpon balik, dan diterima oleh seseorang di Kwarcab. “assalamu’alaikum, halo ini widodo, Kak”. dijawab “eh, dik widodo”. “Lha ini saya dengan siapa?” Tanya saya, “dengan Gunawan” jawabnya. “Gunawan sinten?” Tanya saya lagi, “Kak Gunawan” katanya, “oh kak Gunawan Surendro, saya pikir siapa, kok suaranya katon tuwo banget, ada apa Kak?” saya komentar sambil terkekeh. Jadi intinya saya diminta kesediaan menjadi juri di Lomba Galang Tegak se-Jateng di SMA 5 Jalan Pemuda Semarang. Dari Kwarcab kota semarang, ada 6 orang yang dikirim. Saya sendiri sebenarnya, kalau di Gerakan pramuka, dinesnya di Lemdikacab (salah satu perangkat Kwarcab). Jadi, kalau moment tertentu dihubungi Kwarcabnya, ya baru berangkat. Oleh karena itulah, akhirnya saya terpaksa dengan berat hati memberitahu Mamak di rumah, “Mak, aku ra sidho muleh, maaf ya Mak. Aku minggu sesuk esuk jam 8, kon dadi juri nang SMA Limo Semarang!”.

Minggunya, dengan pinjaman motor teman yang pulang ke Batang, saya berangkat ke SMA 5, santai saja yang penting tidak 10 menit sebelum jam 8 saya sudah sampai. Jam 9 masih ada briefing dengan juri lainnya. Kami seperti reuni lagi bersama Kakak-kakak Pelatih Pembina dari kota semarang, beberapa memang jarang bertemu. Saya juga sempat bertemu dengan guru-guru yang pernah bersama-sama menjadi juri senam pramuka 3 tahun lalu, bertemu dengan 4 guru/Pembina dari SMP 22 Semarang, guru dari SMA 12 Semarang. Saya bertemu juri dari berbagai kalangan, tak kurang ada 30 juri saat itu (di ruang juri). Lomba yang menjadi jatah saya bertajuk lomba Lagasakti VII. Suatu lomba menilai kecakapan peserta dalam halam kebudayaan dan kepramukaan. Lomba ini terdiri dari 2 juri, saya dan Kak Ristinah. Dimana dari sekian puluh pangkalan diadakan babak penyisihan dan diambil masing-masing 3 adik pramuka penggalang putera dan puteri untuk maju ke babak final. Waktunya memang lebih cepat karena hanya 6 orang yang maju babak final dan tiap peserta diberi waktu 5 menit untuk menjawa pertanyaan dari masing-masing juri.

Pada lomba ini, saya mesti mengajukan 2 pertanyaan kepada peserta. Yaitu, (1) menurut adik, bagaimana pandangan masyarakat terhadap gerakan pramuka?, (2) sebagai seorang pramuka, apa yang akan adik lakukan untuk meningkatkan kualitas/mutu gerakan pramuka? (sebenarnya sih, pertanyaan yang disusun panitia untuk saya ajukan kurang pasti, artinya tidak seperti yang saya tuliskan tadi, tampaknya pembuat soal masih kesulitan membedakan antara: gerakan pramuka, pramuka, dan kepramukaan).

Saya terkesan dengan jawaban para peserta yang rata-rata berusia 13 tahun ini. Simpulan jawaban mereka bahwa masyarakat menilai kepramukaan sebagai kegiatan positif karena dapat membentuk kedisiplinan, mempunyai keterampilan, menambah pengetahuan dan wawasan dan sebagainya. Hal yang akan dilakukan untuk meningkatkan mutu adalah dengan aktif di kegiatan kepramukaan. Saya sentil sedikit dengan tambahan pertanyaan, “Apakah setelah SMP, jika melanjutkan SMA/SMK, apakah adik tetap aktif dalam kepramukaan?”. Jawabnya, “ia kak, sebab saya sudah aktif sejak SD, saya dulu siaga”. “oh, begitu” komentar saya.

Lebih kurang, jam 12 siang. Lomba itu tuntas, seluruh peserta telah mendapatkan penilaian, semoga tidak mengecewakan. Hasilnya kami laporkan kepada panitia. Setelah shalat, makan siang, dan ngobrol-ngobrol ringan dengan juri lainnya. Lalu, saya pamit pulang. Eh, di tempat parkir ketika hendak menyetarter motor, dua orang kawan saya, kakak Pembina dari pangkalan SMP 13 Smg yang juga rekan di Racana Wijaya (Kak Eko Cahyo Nugroho dan Kak Shoki Muamar) menghampiri saya. Kami masih terlibat diskusi kecil tentang lomba yang diikuti dan soal KMD yang akan dilaksanakan oleh Unnes. KMD yang wajib (harus diikuti oleh seluruh mahasiswa program kependidikan/keguruan menjelang PPL). Sedikit-sedikit kami saling nggojeki, nggasaki seperti yang sudah-sudah kalau bertemu. (Nah, tentang KMD, kita ceritakan lain kali saja).

Sementara obrolan kami sudahi, lalu saya meluncur ke Sekaran. Di perjalanan saya sempatkan mampir di pom bensin di Kretek Wesi Sampangan. Di situ, tanpa dinyana-nyana, sang juru pom bensin menyapa saya “Salam Pramuka!, saya yang sedang pegang stang motor hanya menyawab “salam pramuka!” tanpa tangan menghormat sebagaimana salam pramuka biasanya. Saya tersenyum, saya benar-benar tersenyum, saya terkesan. Lagi-lagi saya terlibat diskusi dengan Mas Penjaga POM itu. Ia bilang, “Pramuka sekarang kok nggak segebyar dulu to Mas?”tanyanya setengah ingin menjelaskan juga, “oh, apa iya toh sekarang itu?!” Ya tetap rame acaranya kok, ya mungkin di pangkalan masing-masing saja. “anu lho mas, kok orang koyo ndisik, ndisik ki cah-cah pramuka sing neng sekolah rame turut negendi-ngendi, kok saiki sepi” begitu komentarnya. Saya tak sempat berkomentar lagi, karena pengemudi motor di belakang saya mesti mendapatkan haknya”. “matur nuwun mas!”

Saya pikir, saya berpikir lagi. Hem, ternyata apa yang saya tanyakan kepada peserta saat lomba di SMA 5, jawabannya saya dengar langsung oleh Sang Juru POM bensin. Hem, benarkah pramuka demikian itu, benarkah gerakan pramuka sedemikian sepi? Hem, tidak juga, tanggal 15 ini Kota semarang mengadakan pesta siaga tingkat kota. Namun, kita (gerakan pramuka dan pramuka) mesti berbenah, bahwa kita jangan sampai berhenti. Maju terus, berkegiatan, membela kepramukaan sebagai kegiatan positif dan berdampak positif, melalui apa? Berkegiatan yang bermanfaat, bukan menghamburkan anggaran duit saja.

Hem, gak ono entek’e ngomong, panjang dijabarkan, tak habis diuraikan untuk suatu pekerjaan dan perbuatan. Sekian dulu…bla la bla.

BHP Bukanlah Kiamatnya Pendidikan




Sejak masih berupa draf, RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) sudah sarat kontroversi. Dapat dipahami banyak perubahan, mulai dari status kelembagaan pendidikan, sumber dana, tenaga pendidikan, hingga sistem perpajakan. Sehingga, barulah pada draf ke-36 RUU BHP disetujui DPR pada 17 Desember 2008.

Sebagian pihak menilai, UU BHP dinilai sarat nuansa komersialitas. Negara terkesan lepas tangan dalam hal pendanaan pendidikan dan menyerahkannya kepada masyarakat dengan dalih otonomi pendidikan. Meski dalam UU ditegaskan negara dan institusi BHP menanggung minimal 2/3 biaya operasional pendidikan, hal ini retorika belaka jika tak segera diwujudkan.

Telah diatur dalam UU BHP tentang jaminan kuota 20 persen untuk masyarakat miskin bisa menikmati pendidikan tinggi. Agaknya, untuk jangka waktu dekat (2-3 tahun), jaminan tersebut belum terbukti. Apalagi bagi Perti yang sebagian besar dananya masih subsidi pemerintah. Di Unnes dalam 3 tahun terakhir, tiap mahasiswa dipatok membayar SPL minimal 5 juta. Namun jika UU BHP menimbulkan beban finansial, animo masuk Unnes tidak menurun, justru naik.

Respon mahasiswa terhadap BHP cukup beragam. Tak sedikit yang tidak tahu sama sekali “Apa itu BHP?”. Ada lagi yang merasa fine-fine saja, bagi mereka yang “ekonomi kuat”. Ada lagi yang mampu tapi berontak karena menilai dampak UU BHP sebagai kiamat pendidikan (komersialisasi). Pun ada yang setuju, karena begitulah pengelolaan pendidikan yang mesti melibatkan stakeholders. Anehnya, ada pula yang tidak peduli karena merasa biaya pendidikan menjadi tanggung jawab orangtuanya.

Tidak ada pendidikan (dalam arti sekolah) yang murah, mulai dari sarana belajar, seragam sekolah, hingga kegiatan karya wisata siswa membutuhkan uang. Jika pendidikan dianggap murah sesungguhnya tidak murah karena biaya yang dikeluarkan telah disubsidi dari pemerintah. Selama ini kita juga cukup puas dengan mengenyam pendidikan. Persoalannya saat ini tidak hanya biaya, namun kurikulum terlalu padat serta kualitas guru yang tak kunjung membaik meski telah disertifikasi.
Upaya mencari sumber dana pengelolaan pendidikan bukan berarti Perti lalu mempermainkan sistem pendidikan. Dengan alasan meningkatkan mutu dan kesempatan, tak jarang membuka kelas jauh di daerah-daerah. Apakah itu demi mutu? kualitas SDM? Pemerataan kesempatan pendidikan? Tidak selalu, tak sedikit lebih demi UUD (ujung-ujungnya duit).

Pendidikan dianggap mahal karena pendidikan dimaknai secara sempit. Pendidikan sebagai aktivitas di ruang kelas atau di gedung. Sesungguhnya, pendidikan bukan sekolah. Pendidikan adalah upaya change of behavior. Sehingga harapannya ada perubahan (perbaikan) perilaku dan terkuasainya kompetensi. Pendidikan merupakan inverstasi yang “mahal” karena perlu niat dan ketekunan bukan hanya karena uang dan kepintaran. Jika yang diinginkan adalah hasil (pekerjaan). Tak salahlah jika menginginkan pekerjaan, kita akan semaksimal mungkin berusaha dan berkarya. Justru ironisnya jika targetnya adalah uang, sebab segala cara dan tipu daya akan dipakai supaya beroleh uang.

Mau tidak mau, kita akan ber-BHP dan lebih mandiri. Orangtua dan perusahaan semakin dilibatkan. Perusahaan memberikan dana beasiswa. Di Unnes, berbagai jenis beasiswa ditawarkan kepada mahasiswa. Namun diantara mereka yang tidak mau dimiskinkan, saat pendaftaran beasiswa para mahasiswa berlomba-lomba mencari Surat Keterangan Tidak Mampu dari kelurahan. Lalu, benarkah dana beasiswa untuk penunjang kuliah?
Unnes telah meningkatkan dana studi bagi dosen untuk S2 dan S3 telah 3 kali lipat dari yang terdahulu, sebuah upaya yang perlu diapresiasi. Namun, Unnes -yang katanya ingin menjadi universitas kelas dunia- mesti semakin menggiatkan riset-riset dan kerjasama dengan institusi dan perusahaan. Dari upaya tersebut, dana bisa diperoleh, soal eksistensi akan mengikuti.

UU BHP maupun BHP itu sendiri bukan harga mati terhadap ketidakmampuan berpendidikan. Kontroversi ini menjadi wujud sikap positif terhadap keraguan antara harapan dengan realitasnya.

express 5 Maret 2009
oleh: Mhs Prodi Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran Unnes

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!