Minggu, Maret 14, 2010

ANTARA KONDOM DENGAN “BANYAK ANAK BANYAK REZEKI”

ngulik-ulik koran lawas....
Seperti ditulis Kompas, Kamis (25/1/2007), singkatnya bahwa, bagi warga Korsel tahun 2007 sebagai Tahun Babi Emas membawa nilai positif yaitu membawa harapan dan berkah. Namun bagi pabrik kondom, Tahun Babi Emas justru membawa kerugian karena pembelian kondom menurun drastis disebabkan sebagian para istri lebih memilih hamil dan melahirkan tahun ini supaya anaknya membawa berkah dan diberkahi.

Bagaimana kalau Indonesia khususnya Jawa punya tahun “hebat” misalnya Tahun Kebo Emas? Fenomena ini bukan sekadar pertunjukan dramatis manusia dalam sisi ingin mencapai derajat kepuasan materiil dan spiritual. Nah, bagaimana sikap orang jawa dalam konteks kebutuhan akan kondom? Wong Jawa mempunyai perhitungan tahun-tahun sebagai masa baik dan buruk, dan membaginya dalam mangsa-mangsa yang cukup rumit. Tapi soal kondom tidaklah penting, mengapa begitu? Zaman dulu ketika masih pakai lampu teplok (lampu dengan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa) alias zaman belum mengenal listrik, orang jawa memiliki anak dalam jumlah banyak -bisa 10 atau lebih dari itu- sesuatu yang luar biasa. Waktu itu jelas tidak ada kondom, makin luar biasa lagi karena wong jawa punya ungkapan “banyak anak banyak rezeki”.

Lha sekarang bagaimana? Nyatanya orang jawa juga tidak terbiasa pakai kondom. Ini terjadi karena mereka mungkin tak suka pakai kondom, sebab malah tidak nyaman. mungkin bisnis kondom tak cocok di negeri ini karena “isi otak” kita memang tidak soal itu. Kultur kita tidak ingin “terkondomi” oleh yang lain-lain apalagi untuk urusan yang satu itu (hubungan Pasutri). Bukan berarti kita ini regresif, buktinya kita sudah “terkondomi” oleh racun Barat berupa sikap hedonistik dan paham konsumerisme, Sitik-sitik mewah – sitik-sitik tuku.

Tapi nampaknya sudah ada pergeseran paradigma juga, nyatalah orang jawa membatasi dalam melahirkan anak. Jumlah anak dalam satu keluarga antara 2-3 orang. Hal itu tentu tidak lepas dari tuntutan kebutuhan hidup dan himpitan masalah ekonomi yang sedang sulit. Apalagi, pemerintah Jateng melalui Pak Bibit Waluyo juga nyengkuyung program KB. Jadi ternyata prinsip hidup “banyak anak banyak rezeki” luntur juga karena soal ekonomi pailit, melilit, pelit, dan sulit.



DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!