Sabtu, Juli 11, 2009

LENGANG

LENGANG
Karya: Sandra Noryz

Paruh sang malam
aku mencium selaksa air kemurung
aku tergelepar mengemis harapan dalam termenung
renungan yang lusuh, luruh, penuh ricuh
bukankah kau merasa ?
sang lingkaran emas berkesiur
berjihad demi tegaknya sang kasih
parau…ia berteriak-teriak bercricau
lengang…ia menerobos ingar binger di luaran
gontai…ia berlari penuh duri
tak ada jeri cuma berlari
tak ada pelik cuma keringat dalam hati menelisik
ah…aku tak pernah paham ini dengkugan
bahkan tak sadar yang barusan terkalimatkan
.

Jumat, Juli 10, 2009

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN YANG TERMASUK DALAM RUMPUN MODEL PENGOLAHAN INFORMASI

Beberapa model pembelajaran dalam rumpun model pemrosesan informasi adalah model pembelajaran induktif, ceramah, problem solving, model pembelajaran modul dan sebagainya.

1)Lecture
Model ini efisien untuk tujuan sejumlah besar informasi dalam waktu yang singkat dan memudahkan siswa memperoleh materi yang jelas dan sederhana dibandingkan dengan menyajikan dalam bentuk teks. Strategi ini dapat berwujud kegiatan pembelajaran deduktif. Model ini biasanya berlaku untuk siswa dengan jumlah yang banyak (kelas besar).

Hal yang perlu diperhatikan guru adalah identifkasi kebutuhan pebelajar, kemampuan yang dimiliki, dihubungkan dengan materi baru yang akan dipelajari. Menyusun garis besar materi dalam suatu struktur yang jelas. Penyampaian hendaknya bervariasi dalam arti multimetode dan multimedia. Jadi, model ini perlu memadukan beberapa metode pembelajaran. Penyimpulan dan tindak lanjut setelah memperoleh balikan dari peserta didik. Ketertiban siswa juga tetap dijaga, guru harus peka terhadap siswa yang kurang perhatian atau konsentrasi pelajaran.

2)Model induktif
Model ini dimulai dengan pemberian berbagai kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha mensintesis, menemukan, atau menyimpulkan pinsip dasar dari pelajaran tersebut. Model ini juga dikenal sebagai discovery atau Socratic.

Model ini tepat digunakan apabila: (1) Siswa telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut, (2) yang akan diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara prbadi, sikap, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan, (3) Guru mempunyai keterampilan mendengarkan yang baik, fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, terampil mengulang pertanyaan, dan sabar, dan (4) Waktu yang tersedia cukup panjang.

3)Problem solving/pemecahan masalah
Dengan model ini, seseorang diharapkan memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka harus mampu memecahkan masalah, menemukan (discovery) sesuatu untuk dirinya sendiri, dan berkutat dengan pelbagai gagasan. Pendekatan pembelajaran yang digunakan disebut belajar generatif (generatif learning). Asumsinya adalah bahwa semua kegiatan belajar adalah menemukan. Apabila guru menyampaikan informasi kepada siswa, siswa harus melakukan operasi mental agar informasi itu dapat mereka miliki. Strategi belajar generatif mengajarkan siswa tentang cara-cara mengoperasikan mental ketika menghadapi informasi baru. Misalnya, siswa diajarkan tentang teknik bertanya, meringkas, membuat analogi tentang materi yang telah dipelajari, dan membuat ulasan atas ceramah yang telah didengarkan.

Model ini merupakan penerapan teori kontruksivistik dan teori pengolahan informasi. Dari kedua teori tersebut menunjukkan “kata kunci” penting yang mesti menjadi perhatian dalam pembelajaran, yaitu pemecahan masalah (problem solving). Masalah merupakan kesenjangan antara harapan dengan realita, dan pastinya masalah bukanlah yang ada diangan-angan tetapi nyata terjadi.

Tujuannya ialah mengembangkan keterampilan siswa dalam menganalisa masalah abstrak yang kompleks. Untuk maksud ini, dilakukan pemantauan tehadap berpikirnya siswa untuk melihat apakah di situ termasuk lima kegiatan umum yang dilakukan pemecah masalah yang ahli sebagaimana dilihat oleh Voss, dkk. Tersebut. Kelima kegiatan itu (terlihat dalam dua atau lebih dari siasat yang dilakukan ahli) adalah: (1) melakukan analisa historis atas masalah; (2) menemukan kendala yang terdapat dalam konteks masalah; (3) mengubah masalah yang dikemukakan menjadi anak-anak masalah; (4) menyusun pemecahan yang ditujukan kepada tiap anak masalah dan (5) menilai pemecahan, dengan memberikan dasar logis bagi pemecahan itu dan menyebutkan implikasinya.

4)Model Pembelajaran Modul
Sistem pembelajaran modul merupakan model pembelajaran mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Kerangka yang dimaksud adalah modul. Modul ini sebagai suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sitematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru maupun peserta didik. Sebuah modul adalah pernyataan satuan pembelajaran dengan tujuan-tujuan, pretes aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi-kompetensi yang belum dikuasai dari hasil pretes, dan mengevaluasi kompetensinya untuk mengukur keberhasilan belajar. Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, tenaga, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.

Dengan pembelajaran modul ini, peserta didik mendapat kesempatan lebih banyak untuk “mengolah informasi” dan belajar sendiri, membaca uraian, dan petunjuk di dalam lembaran kegiatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan serta melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam setiap tugas. Karena itu setiap peserta didik dalam batas-batas tertentu dapat maju sesuai dengan irama kecepatan dan kemampuan masing-masing.

Selasa, Juli 07, 2009

Bahasa Oligarki

Bahasa Oligarki
Karya: SandraNoryz

Ku berdiri ditepian jeri
aku lempar mata ke belakang
siluet mata setan perlahan menghadang
dekil, mendengus-dengus geram
dalam ketakutan…
terdengar teriakan lengang
aku terbeliak,
aku dapati jibunan orang membunuhku
bukan dengan pedang, belati, ataupun senjata laras panjang
Tapi tangis !!!
hatiku tersedak
sejak itulah aku merindukan sebuah rumah
rumah yang oligarki, demokrasi yang hakiki
serta dihuni makhluk-makhluk bernurani
di belakangku mayat-mayat berserakan
di depanku para bajingan berpangku tangan
woi…siapa yang punya hati tolong kemari !
bantu perjuangan orang-orang nyaris mati
ini darurat…cepat!
Asah kemampuan untuk masyarakat sendiri
hidup sama dengan mati
mati sama dengan cinta dan peduli…

TIWUL UNTUK KITA SEMUA

Oleh Widodo


Siswono Yudho Husodo (mantan Menteri dan Ketua HKTI) menegaskan tak ada yang lebih efektif untuk membangun bangsa kecuali melalui pendidikan yang baik bersamaan layanan kesehatan prima dan input makanan berkualitas. Harga beras merangkak naik secara drastis meskipun operasi pasar dijalankan. Lagi-lagi orang miskin semakin pusing supaya bisa makan.

Tahun 2007 dan sebelumnya, memang aneh, ketika Thailand dan India sudah berswasembada beras, justru Indonesia “bersemangat” mengimpor beras. Kejayaan bidang pangan Indonesia sudah pudar bahkan gelar “Master of rice” sudah dicopot sejak lama. Pemerintah memutuskan tetap mengimpor beras, bahkan jumlahnya sampai 500.000 ton. Kemudian beras impor tersebut digelontorkan ke pasar yang tujuannya adalah mengendalikan harga beras. Kenyataan diberbagai daerah membuktikan bahwa operasi pasar dan impor beras tidak menyelesaikan masalah, karena beras yang dijual dengan sistem operasi pasar ini justru dimonopoli oleh pedagang. Hal yang lebih tidak sehat lagi, impor beras cenderung dinilai gagal karena dianggap lebih dimanfaatkan kepentingan politik tertentu. Bagaiamana kebenarannya harus ditelisik lebih lanjut.

Alhamdulillah sejak 2008, Indonesia telah swasembada beras lagi. Tahun 2009 ini pun diharapkan juga akan lebih mandiri lagi, bisa swasembada lagi, syukur-syukur termasuk sector pertanian lainnya. Sebagai warga Negara, tentu kita nyengkuyung kebijakan pemerintah yang baik-baik.

Operasi Pasar dan Tiwul!

Kembali ke soal Operasi Pasar. Operasi pasar dapat saja berhasil dan benar-benar dapat mengendalikan harga beras di pasar. Tetapi syarat yang mesti dipenuhi adalah harus ada kesinergisan langkah para pelaksana Operasi Pasar, mulai dari Menteri Pertanian, Bulog, pedagang, dan sampai pada penikmat beras itu sendiri alias rakyat.

Jumlah beras berikut cadangan pangan yang lebih dari cukup belum tentu bisa mencukupi kebutuhan rakyat akan pangan. Mengapa demikian, karena stok beras yang digelontorkan meski dalam jumah besar tetapi di pasar justru dimonopoli pedagang. Jika pedagang bertindak sebagai spekulan dan tukang monopoli, maka yang akan terjadi rakyat tetap kekurangan pangan.

Dalam diri rakyat sendiri harus bertindak positif juga. Kita harus mencari alternatif lain untuk mencukupi kebutuhan makan, bukan hanya nasi beras. Berbagai jenis bahan pangan tersedia di sekitar kita. Jangan lupakan, ketika zaman Pak Harto sudah dikenalkan dan digalakkan secara nasional alternatif makanan lain seperti nasi tiwul khas Gunung Kidul dan Wonogiri, sagu khas Irian, umbi talas, jagung, dan masih banyak lagi. Selama ini bahan pangan seperti itu hanya menjadi pelengkap saja karena diolah sebagai kue, itupun jarang-jarang saja.

Tiwul yang berasal dari singkong yang dikeringkan bisa dimasak menjadi beragam jenis makanan yang enak sekaligus mengenyangkan, tentu gizinya juga ada. Menggalakkan makan tiwul harus dibiasakan juga oleh para pejabat, pejabat jangan hanya bisa menghimbau dan mengarahkan, tetapi harus menjadi contoh dengan ikut menikmati. Jadi kita harus membuang jauh-jauh pikiran termanjakan oleh nasi beras. Hanya saja, memang kita terbiasa dengan segala yang serba instan atau cepat saji. Pengadaan tiwul ini juga sulit dipenuhi jika lahan-lahan subur justru “ditanami’ dengan gedung-gedung.

Mengubah pola pikir “belum makan kalau belum makan nasi (beras)” memang sulit, karena rakyat Indonesia apalagi Orang Jawa sudah terbiasa dengan nasi beras. Bahan pangan lain hanya menjadi sampingan saja, bahkan tak dimanfaatkan dan dibiarkan tumbuh mangkrak di pekarangan.

Upaya yang mesti dipopulerkan lagi adalah diversifikasi pangan (pertanian). Ahli pangan kita sudah cukup pandai merekayasa tanaman pangan supaya menjadi beraneka ragam, sayangnya bibit hasil rekayasa ini di jual mahal. Dengan alokasi anggaran pembangunan pertanian yang besar, maka pemerintah dapat menyubsidi ilmuwan dan petani supaya dapat mengembangkan berbagai varietas tanaman pangan. Sudah banyak usaha diversifikasi pertanian ditempuh, namun masih terbatas dalam percobaan yang kurang disosialisasikan kepada petani.

Di samping diversifikasi pertanian, langkah lain mestinya juga dengan intensifikasi pertanian. Di tengah menurunnya luas lahan produktif di Indonesia, maka pemerintah harus mendorong petani untuk melakukan penghematan lahan. Dengan lahan yang terbatas atau sempit, lahan itu ditanami berbagai tanaman pangan pokok. Upaya ini akan efektif bila di dukung ketersediaan pupuk dengan harga murah. Tapi bisa jadi, kalau sudah bicara tentang pupuk, maka nasibnya juga seperti beras karena pupuk yang bersubsidi malah dimonopoli atau ditimbun oleh pedagang. Di sinilah pemerintah sekali lagi harus menjadi penegak hukum, pedagang nakal harus “disikat”. Di samping ketersediaan pupuk, juga harus ada pengadaan bibit unggul. Bibit unggul dapat disediakan melalui rekayasa genetik. Jadi jawaban dari upaya pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup adalah membiasakan makan dari dari sumber bahan pangan lainnya, serta intensifikasi pertanian yang diikuti dengan penganekaragaman tanaman pangan.

Menjelang Pemilu Pilpres, para calon menjual dagangannya, yang ingin menyejahterakan rakyat Indonesia. Banyak pihak mengkritik para calon, termasuk antar pesaing, antar para kandidat. Rakyat itu permintaannya sederhana saja, siapapun presidennya yang terpenting golek sandang, pangan, dan papan itu gampang.


Minggu, Juli 05, 2009

SALAH PAHAM


SALAH PAHAM
By Kang Wid


Karena suatu hal yang sepele, kita dan teman menjadi salah paham, misskomunikasi. Dampak berikutnya adalah retaknya hubungan dan tercerai-berainya persahabatan, bahkan bagi pasangan yang telah terikat dalam pernikahan menjadi bubar.

Gara-gara yang sepele, namun seharian kita marah-marahan dengan teman se-kos, se-kontrakan, atau keluarga serumah.

Kali ini kita bicara soal dampak negatif teknologi, semisal telepon seluler. Kenyataan ini menunjukkan bahwa teknologi ada dampak negatifnya, bukan soal alatnya, tetapi bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya.

Kita dimudahkan dengan HP, namun tak jarang barang ini pun membelenggu karena mungkin sebagian dari kita menganggapnya sempurna untuk menyampaikan berita, ide, masalah, curhat, dan seabrek persoalan.

Belum lagi soal HP yang berdering ditengah malam atau pagi dini hari. Saat orang ingin beristirahat, namun kesannya masih ada gangguan. Gangguan atau bukan ini kembali pada prinsip diri kita. Bagi saya, siapapun pada jam apapun, selama masih bisa, maka SMS atau panggilan tak bernomor pun (private number) akan coba diterima dengan kelapangan hati. Semua demi apa? Inilah hidup untuk memberi pelayanan dan penghargaan. Sekalipun mereka iseng melakukannya, menggoda, atau apalah maksudnya. Bahkan, tindakan saya yang demikian ini pun tak luput dari kritik, bahwa saya “ada maunya”

Kadang atau seringnya, ada teman coba menelpon kita, nada dering sudah ada, tapi ketika di terima dan waktu bergulir beberapa detik lalu kontak terputus secara tiba-tiba. Lalu munculah praduga macam-macam, ada yang menyebut kita tidak suka dihubungi olehnya, bencilah, atau tak suka diganggu. “Kalau ndak mau di telpon, ngomong aja, nggak usah dimatiin gitu!”, itu SMS yang kadang saya terima.

Ada kawan mencoba menghubungi kita, tetapi tidak nyambung-nyambung. Lalu, teman kita ini mencoba untuk menghubungi teman lainnya ternyata bisa dengan mudahnya kontak masuk. Tuduhannya sekarang, kita dianggap mematikan HP, supaya tak ada yang mengganggu, supaya tak ada menghubungi dan praduga lain sebagainya, sekali lagi muncul lagi kiriman SMS “kalau nggak suka, ngomong aja, nggak usah pakai dinonaktifkan begitu!”.

Teman kita mencoba mengirim SMS kepada kita atau siapalah. Statusnya pending alias ditunda belum diterima. Atau statusnya terkirim, tetapi mengapa tak segera mendapat balasan. Anggapan yang muncul kemudian, kita dianggap sudah bosan, atau malas berkomunikasi dengannya. Kita dianggap tak mau membalas bahkan tidak mau berteman lagi.

Atau kata kita, kita tidak pernah menelepon dia, seakan-akan dia yang harus selalu menghubungi saya dulu. Lalu kita dianggap pelit, medit bin koret. Kita dianggap hanya mencari untungnya saja, mencari untungnya sendiri dari pertemanan ini.

Wahai teman-temanku, adakalnya kita tak segera membalas SMS atau menjawab panggilan, bisa jadi pas tidak punya pulsa, atau sedang repot-repotnya mengerjakan sesuatu. Misalnya, ada yang menelpon, tapi kita sedang mengikuti seminar, mengisi acara pelatihan, sedang sholat, dan sebagainya. Dalam keadaan seperti itu, mau tidak mau, kita tak bisa menjawab telepon atau membalas SMS dengan segera.

Adakalanya panggilan terputus, karena bisa jadi koneksi sinyal memang sedang low atau rendah, atau lose/hilang, atau ada roaming dan sebagainya. Dengan murahnya biaya menelepon atau ber-sms, ibaratnya seperti orang menunggu diantrian ketika membeli karcis kereta api menjelang mudik. Harus menunggu dulu, hingga tiba giliran kita setelah giliran orang lain, sampai kepadatan dan keruwetan terurai.

So what? Maka alangkah bijaknya jika kita meneguhkan komitmen, meski agak ekstra usaha namun itu mesti diusahakan. Dengan memiliki HP plus kartu selulernya, ada komitmen yang perlu dijaga, ada resiko yang mesti ditanggung. Sering dijumpai, sesama teman marahan karena sms-nya tak segera mendapat jawaban, setelah bertemu alasannya karena tak punya pulsa. Singkatnya, dengan punya HP, tentu sebaiknya bersiap sedia untuk terisi pulsa yang cukup, bukan pulsa yang banyak. Sebenarnya yang sering aneh itu, banyak dijumpai HP pulsanya selalu aktif/on dan penuh, namun kalau urusan beli buku nanti dululah…hehe.

Tulisan saya tentang hal ihwal berkomunikasi via telepon seluler masih ada yang belum tersampaikan, tentang etika komunikasi dan sebagainya. Carut marutnya tata bahasa dalam tulisan ini menunjukkan saya mesti belajar dan belajar lagi bagaimana menyusun artikel lepas. Akhirnya, agar bahasanya tidak nggedabyah, ya cukup sekian dulu.



Memory Blora, pagi 6:59, 4 Juni, diteruskan di Semarang 6 Juni 2009.

Saling Sindir (Eufimisme) Capres Kian Menghangat

Oleh: S a n d r a N o r y z

Berbicara tentang politik Indonesia sekarang sedang menggeliat menyongsong pesta demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan 8 Juli mendatang. Berbagai logistic tengah dipersiapkan oleh masing-masing capres, KPU, maupun pihak pendukung atau tim sukses. Ini bisa menjadi “ladang empuk” bagi stasiun televisi dengan menampilkan acara “Debat Capres Final” 2/0709. Sambil menyelam minum air, peribahasa yang tepat untuk mengapresiasi hal tersebut dengan begitu rakyat juga akan mendapatkan pendidikan politik sehingga dapat mereduksi golput yang pada pilkada bulan April lalu menjadi primadona rakyat. Melalui acara Debat Capres ini, rakyat akan mendapatkan gambaran tentang figur pemimpin yang benar-benar cocok untuk kondisi Indonesia sekarang ini. Bagaimana tidak, selama beberapa dekade pemerintahan terguncang karena stabilitas ekonomi yang kurang baik sehingga berdampak bagi rakyat kecil berupa krisis ekonomi yang mencapai puncaknya pada tahun 1999 dengan istilah kerennya “krismon” sampai penyanyi cilik Chikita Meydi menyanyikan lagu :

“krismon” krisis moneter

Tanya mama apa artinya

Itulah sepenggal lirik masa yang paling menyedihkan yang pernah bangsa indonesia alami.

Dengan menengok sejarah masa lalu yang suram, maka rakyat berharap pada pilres kali ini mendapatkan pemimpin yang dapat merubah nasib rakyat dan membawa negara indonesia kearah yang lebih baik.

Ironisnya detik-detik menjelang pesta demokrasi aura persaingan begitu kuat menyelimuti ketiga capres tersebut diantaranya: 1) Mengawati, 2) Susilo Bambang Yudhoyono, dan 3) Yusuf Kalla. Mereka tampil dengan karakter yang kuat, visi misi yang jelas berbeda. Dan yang lebih parahnya lagi nuansa eufimisme mengiringi perdebatan mereka. Belum-belum JK sudah menyerang SBY pada sesi awal yaitu saat penyampaian visi misi (durasi 7 menit) dengan kalimat “Pilpres 1 putaran 4 triliun, berarti demokrasi dipandang dengan uang, padahal demokrasi berdasar pada program dan figur”. Jika begitu maka akan muncul motto “lanjutkan pemilu tanpa pilres demi menghemat 25 triliun” celoteh JK tanpa dipersilahkan. Sikap seperti ini kurang pantas jika dipandang dari segi etika atau kesopanan. Masa capres tidak mengerti tentang tata cara berdebat yang baik? Berbeda dengan respon dari SBY yang hanya tersenyum hambar. Lain lagi dengan MEGA, yang hanya diam tetapi sekali berbicara tidak dapat direm dan perkataannya bagai sengatan lebah, istilah jawanya “nyelekit”

Kharisma ketiga capres yang diumbar di atas panggung mampu membius para penonton. Dilihat dari cara berdiri, berbicara, maupun cara bertepuk tangan saja sudah berbeda. Apalagi gaya memimpinnya? Pantas saja JK selingkuh dengan Wiranto karena berbeda pendapat atau persepsi dengan SBY. Sampai-sampai motto yang dipakai lima tahun lalu “Bersama Kita Bisa” tenggelam begitu saja dan berganti dengan “ Lebih Cepat Lebih Baik” dari JK, dan “Lanjutkan “ dari SBY. Dari sini indikasi eufimisme muncul. Entah dengan motto itu JK bermaksud mengkritik kinerja SBY yang terkesan lambat dan berhati-hati atau bagaimana? Biar rakyat yang menulai (maaf No. 2 dan 3 sangat mendominasi) karena eufimisme yang ditampilkan sangat unik, jika diibaratkan ini adalah pasangan suami istri yang bercerai karena berbeda prinsip lalu saling menyerang satu sama lain. Tetapi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, eufimisme merupakan bumbu yang sedap dalam dunia politik, sehingga dapat memicu ketiga capres untuk lebih...lebih...lebih...dan lebih baik lagi karena Indonesia menunggu pemimpin yang bisa membuatnya bernafas lega.

Baik buruknya nanti yang terpilih, dukungan 100% tetap diarahkan ke pemerintahan!!!

Mari Mengabdi Untuk Negeri”

_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES, 2 Juli 2009, pukul 23.00 WIB

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!