SALAH PAHAM
By Kang Wid
Karena suatu hal yang sepele, kita dan teman menjadi salah paham, misskomunikasi. Dampak berikutnya adalah retaknya hubungan dan tercerai-berainya persahabatan, bahkan bagi pasangan yang telah terikat dalam pernikahan menjadi bubar.
Gara-gara yang sepele, namun seharian kita marah-marahan dengan teman se-kos, se-kontrakan, atau keluarga serumah.
Kali ini kita bicara soal dampak negatif teknologi, semisal telepon seluler. Kenyataan ini menunjukkan bahwa teknologi ada dampak negatifnya, bukan soal alatnya, tetapi bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya.
Kita dimudahkan dengan HP, namun tak jarang barang ini pun membelenggu karena mungkin sebagian dari kita menganggapnya sempurna untuk menyampaikan berita, ide, masalah, curhat, dan seabrek persoalan.
Belum lagi soal HP yang berdering ditengah malam atau pagi dini hari. Saat orang ingin beristirahat, namun kesannya masih ada gangguan. Gangguan atau bukan ini kembali pada prinsip diri kita. Bagi saya, siapapun pada jam apapun, selama masih bisa, maka SMS atau panggilan tak bernomor pun (private number) akan coba diterima dengan kelapangan hati. Semua demi apa? Inilah hidup untuk memberi pelayanan dan penghargaan. Sekalipun mereka iseng melakukannya, menggoda, atau apalah maksudnya. Bahkan, tindakan saya yang demikian ini pun tak luput dari kritik, bahwa saya “ada maunya”
Kadang atau seringnya, ada teman coba menelpon kita, nada dering sudah ada, tapi ketika di terima dan waktu bergulir beberapa detik lalu kontak terputus secara tiba-tiba. Lalu munculah praduga macam-macam, ada yang menyebut kita tidak suka dihubungi olehnya, bencilah, atau tak suka diganggu. “Kalau ndak mau di telpon, ngomong aja, nggak usah dimatiin gitu!”, itu SMS yang kadang saya terima.
Ada kawan mencoba menghubungi kita, tetapi tidak nyambung-nyambung. Lalu, teman kita ini mencoba untuk menghubungi teman lainnya ternyata bisa dengan mudahnya kontak masuk. Tuduhannya sekarang, kita dianggap mematikan HP, supaya tak ada yang mengganggu, supaya tak ada menghubungi dan praduga lain sebagainya, sekali lagi muncul lagi kiriman SMS “kalau nggak suka, ngomong aja, nggak usah pakai dinonaktifkan begitu!”.
Teman kita mencoba mengirim SMS kepada kita atau siapalah. Statusnya pending alias ditunda belum diterima. Atau statusnya terkirim, tetapi mengapa tak segera mendapat balasan. Anggapan yang muncul kemudian, kita dianggap sudah bosan, atau malas berkomunikasi dengannya. Kita dianggap tak mau membalas bahkan tidak mau berteman lagi.
Atau kata kita, kita tidak pernah menelepon dia, seakan-akan dia yang harus selalu menghubungi saya dulu. Lalu kita dianggap pelit, medit bin koret. Kita dianggap hanya mencari untungnya saja, mencari untungnya sendiri dari pertemanan ini.
Wahai teman-temanku, adakalnya kita tak segera membalas SMS atau menjawab panggilan, bisa jadi pas tidak punya pulsa, atau sedang repot-repotnya mengerjakan sesuatu. Misalnya, ada yang menelpon, tapi kita sedang mengikuti seminar, mengisi acara pelatihan, sedang sholat, dan sebagainya. Dalam keadaan seperti itu, mau tidak mau, kita tak bisa menjawab telepon atau membalas SMS dengan segera.
Adakalanya panggilan terputus, karena bisa jadi koneksi sinyal memang sedang low atau rendah, atau lose/hilang, atau ada roaming dan sebagainya. Dengan murahnya biaya menelepon atau ber-sms, ibaratnya seperti orang menunggu diantrian ketika membeli karcis kereta api menjelang mudik. Harus menunggu dulu, hingga tiba giliran kita setelah giliran orang lain, sampai kepadatan dan keruwetan terurai.
So what? Maka alangkah bijaknya jika kita meneguhkan komitmen, meski agak ekstra usaha namun itu mesti diusahakan. Dengan memiliki HP plus kartu selulernya, ada komitmen yang perlu dijaga, ada resiko yang mesti ditanggung. Sering dijumpai, sesama teman marahan karena sms-nya tak segera mendapat jawaban, setelah bertemu alasannya karena tak punya pulsa. Singkatnya, dengan punya HP, tentu sebaiknya bersiap sedia untuk terisi pulsa yang cukup, bukan pulsa yang banyak. Sebenarnya yang sering aneh itu, banyak dijumpai HP pulsanya selalu aktif/on dan penuh, namun kalau urusan beli buku nanti dululah…hehe.
Tulisan saya tentang hal ihwal berkomunikasi via telepon seluler masih ada yang belum tersampaikan, tentang etika komunikasi dan sebagainya. Carut marutnya tata bahasa dalam tulisan ini menunjukkan saya mesti belajar dan belajar lagi bagaimana menyusun artikel lepas. Akhirnya, agar bahasanya tidak nggedabyah, ya cukup sekian dulu.
Memory Blora, pagi 6:59, 4 Juni, diteruskan di Semarang 6 Juni 2009.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar