Rabu, Juni 04, 2008

“GELOMBANG CINTA”, ANTARA BAHAYA DAN KEINDAHAN

Saya tak habis pikir -paling tidak sepanjang satu tahun ini- begitu banyak orang memburu Gelombang Cinta. Tentu, bukan gelombang yang menggambarkan bergejolaknya perasaan atau batin yang kasmaran kepada lawan jenis atau gelombang air samudra yang penuh cinta, tetapi tepatnya adalah tanaman gelombang cinta. Orang Jawa [Tengah] lebih akrab menyebutnya sebagai bunga gelombang cinta. Setahu penulis, gelombang cinta ini termasuk dalam jenis anthurium, termasuk golongannya juga tanaman Jenmani. Lalu fenomena public interest ini, sesungguhnya menunjukkan gelagat apa?

Sejatinya ada pertanyaan besar, dimana letak kemenarikan gelombang cinta hingga orang-orang berlomba memilikinya? Daun hijau tua yang hanya beberapa helai saja bisa dihargai hingga milyaran. Sebagai contoh, ada orang yang rela tanaman bunga ini di tukar dengan mobil sedan mewah keluaran terbaru. Sederhananya, kalau satu bunga dihargai satu juta, padahal ada 10 helai daun. Berarti, satu helai dihargai seratus ribu, luar biasa! Itu pun belum memerhatikan segi manfaat lainnya.

Beberapa tahun ini, tampaknya perhatian seni oleh orang Indonesia –khususnya di pulau Jawa- tertuju pada tanaman bunga. Kini, ketika yang sedang tren adalah gelombang cinta, atau sejenis itu, rasa kepemilikan ini semakin menjadi-jadi. Tidak hanya orang berduit, bahkan sampai orang-orang yang secara ekonomi di bawah standar juga ikut menjadi penikmat bunga yang satu ini.

Wah, betapa anehnya. Ketika, tanaman ini dulunya tak begitu menjanjikan secara estetis (mungkin karena belum tahu), pun tidak menjanjikan secara manfaat lain termasuk secara ekonomis. Kini, perlombaan untuk memilikinya semakin menggila. Di tengah kondisi sosial-ekonomi Indonesia yang relatif masih miskin dan belum stabil, kebutuhan akan kepemilikian barang berharga berwujud tanaman hias menjadi fenomena. Prasangka baiknya, bahwa bangsa ini makin sensitif dengan kebutuhan akan rasa indah, atau oleh Maslow (1970) dikatakan kebutuhan ini sudah mencapai pada derajat kebutuhan cinta-mencintai (pengakuan). Kebutuhan akan pemenuhan hasrat meng”indah”kan diri ini bisa jadi juga karena bangsa ini kokoh sebagai follower atau sekadar ikut-ikutan. Kalau tentangganya membeli motor baru, maka ia juga membeli motor baru. Bila tetangga membeli mobil baru, ia tak mau kalah. Jadi, semakin muncul persaingan yang sifatnya sangat konsumtif, bukankah ini berbahaya!

Gelombang cinta dan sejenisnya menjadi primadona baru dalam budaya kita. Hal ini seakan meneguhkan bahwa bangsa ini semakin kapitalistik, namun juga tidak pragmatis. Demi gengsi dan prestis, orang semakin tidak perduli akan kemiskinan. Jika rasa lapar harus dibayar dengan cukup memiliki bunga ini, maka kita semua boleh saja ikut-ikutan. Namun, tatkala perut masih keroncongan dan genting rumah masih bocor di sana-sini, akankah kita lebih mementingkan gelombang cinta yang mahal namun kurang bermanfaat. Seandainya, gelombang cinta bisa lebih bermanfaat untuk pengobatan penyakit, tentu akan semakin banyak orang yang berniat memilikinya.

Kepemilikan gelombang cinta bukanlah suatu keterjerumusan belaka tatkala kebutuhan yang lain tidak tercukupi. Makan, rasa aman, dan kesehatan telah relatif terpenuhi, makin terbukalah untuk memiliki barang-barang sekunder yang mungkin jauh dari manfaat. Sayangnya, bukankah sering diberitakan berbagai kasus pencurian di berbagai daerah ketika gelombang cinta memberikan nilai jual. Artinya, gelombang cinta menimbulkan rasa tidak aman alias membahayakan.

Nah, dengan demikian rasa kebutuhan rasa indah ini harus dibayar mahal dengan kemalingan atau perampokan. Orang hidup bertetangga, sedang ia memiliki tanaman berharga ini, hendak keluar rumah selalu dengan hati was-was dan gelisah kalau-kalau gelombang cinta menjadi sasaran pencuri. Kekhawatiran ini mendorong orang menjadi kehilangan kepercayaan terhadap orang lain, dan bukan tak mungkin tetangga terdekat diprasangkai negatif. Pikiran yang sensitif itu jelas berdampak pada perpecahan hubungan batin masyarakat, dan konflik antar warga akan mengorbankan kerukunan masyarakat. Contoh lain, seorang Ibu memarahi anaknya -hanya- karena secara tak sengaja mematahkan satu helai daun gelombang cinta, bukankah ini ironis karena keluarga menjadi korban!

Meski demikian kita tak perlu sinis, gelagat itu juga bisa bermakna lain. Ada nilai pencerdasan, artinya bangsa ini semakin cerdas untuk cepat merespon perubahan. Bahwa tidak semata-mata uang, makanan, dan seks saja yang dipenuhi dari hari kehari, nilai-nilai keindahan mulai mendapat tempat di hati (aksentuasi). Hal demikian juga mendorong kreativitas untuk memanfaatkan peluang bisnis dan memberi nilai ekonomis, sehingga menambah penghasilan.

Boleh ditegaskan kembali, telah muncul spirit baru dalam kolaborasi ekonomi-keindahan. Booming Gelombang cinta telah memberi jawaban bahwa keindahan alamiah sukar dinikmati orang secara estetis saja karena adanya kemungkinan berbagai pertimbangan lainnya seperti kegunaan atau pengetahuan. Sebagai contoh dalam suatu pekarangan tumbuh sekelompok pohon bambu, pemiliknya yang melihat pohon itu setiap hari mungkin tidak menikmati keindahannya. Hal-hal yang mungkin berkembang dalam pikirannya ialah kegunaannya untuk membuat kurungan ayam, atau rebungnya untuk dimasak sayur lodeh, batangnya kalau sudah tua untuk ditebang dan dijual di pasar. Tetapi, bagi seorang seniman akan menuangkan pohon bambu dalam karya seninya untuk dinikmati keindahannya, misalnya menjadi lukisan.

Patut dikemukakan, mengutip ulasan The Liang Gie (2004 bahwa setiap orang -sebagaimana teori keindahan subjektif- boleh perasaan dan tanggapan akan keindahannya masing-masing, keindahan dirasakan bergantung kepada si pengamat, sehingga “indah bagimu, belum tentu bagiku”. Sehingga tak perlu tersenyum kecut bila ada orang yang memiliki gelombang cinta dengan harga yang luar biasa mahalnya.

Namun, bunga tetaplah bunga. Gelombang cinta adalah tanaman ciptaan Tuhan yang barangkali memang ditujukan untuk memancing perhatian manusia akan kepekaannya terhadap hal-hal kecil disekelilingnya. Pada masanya nanti -seiring berjalannya waktu- tren ini akan digantikan oleh tren lain dan hilang dari perhatian orang. Sekarang, selagi masih menggejala, akan lebih “indah” lagi bila gelombang cinta lebih dicari lagi manfaat yang melebihi rasa indah itu sendiri, yaitu dapatkah menjadi obat bagi pelbagai wabah penyakit di sekitar kita. Bahkan dalam pikiran imajiner, Gelombang cinta dapat menjadi obat flu burung, AIDS, atau mungkin mengobati perut yang lapar. Inilah tantangan ilmuwan bangsa ini, harus ada eksperimen-eksperimen dan penelitian untuk mengkaji kandungan berbagai tanaman bunga yang relatif baru dikenal, karena tidak menutup kemungkinan bisa bermanfaat dalam usaha mengobati berbagai penyakit yang semakin kompleks.

Selasa, Juni 03, 2008

KARTINI, DULU dan SEKARANG

Telah diketahui oleh semua orang Indonesia yang melek berita, bahwa Hari Kartini jatuh pada tanggal 21 April. Berbagai acara menyambut Hari Kartini, makin gencar diadakan dengan berbagai model. Harapannya, “Kartinian” bukan sekadar seremonial belaka guna menunjukkan bahwa Inilah acara untuk menghormati jasa-jasa Kartini.

Pelembagaannya merupakan aksentuasi apresiasi masyarakat atas jasa-jasa Kartini yang melakukan “pemberontakan kultur” untuk mengangkat citra wanita Indonesia dari alam kegelapan ke alam ke terang benderang. Karenanya pemberontakan budaya ini melahirkan kesadaran sejarah untuk menumpas hegemoni kultural, yang mensubordinasikan wanita pada pelbagai tatanan hidup selama berabad-abad termasuk dalam hal edukasi. Bahwa perempuan bukan sekadar sosok “Si Betina” yang berperan manut (patuh), masak, macak (berhias), meteng (hamil), dan manak (melahirkan).

Teranglah bahwa ada pergeseran paradigma emansipasi Kartini dengan “Kartini-Kartini” masa kini. R.A. Kartini dahulu adalah subordinasi terhadap persoalan kultural dan edukasi yang berada disekitar mereka, sedangkan Kartini masa kini ingin mengambil peran lebih. Semoga tidak! Dengan alibi bahwa pekerjaan tidak berjenis kelamin, lalu bisa-bisa para wanita menolak pekerjaan rumah.

Kiranya tepat bila dalam wacana religi-kultural soal gender lebih mendasarkan kepada gender equity. Soal gender dalam berbagai ranah pria-wanita harus ditempatkan pada proporsinya masing-masing. Pemberian hak-kewajiban kepada semua pihak harus memerhatikan landasan religi, termasuk pembagian kekuasan publik. Kemudian, bukan berarti kita akan berkutat soal poligami dan keberkuasaan laki-laki. Semoga!

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!