by wid2
Rabu, 8 April 2009, kembali lagi saya mendapat kesempatan dari Gusti Ingkang Akaryo Jagat lan Murbeng Dumadi untuk pulang kampung, dari Semarang saya meluncur menuju Wonogiri, demi agenda besar 9 April, Pemilu Legislatif.
Di dusun Jambul, tempat keluarga kami bermukim. Pemilu tahun ini berbeda, sistem memilih dengan contreng atau centang.
Orang-orang masih pada bingung juga, mbah-mbah itu sudah kabur pandangan matanya, sebelum mencontreng soal tulisan agak dikesampingkan, yang penting gambarnya siapa, syukur-syukur yang kenal itulah yang dipilih. Problem besarnya juga soal cara contreng, banyak yang tak mengerti apa yang dicontreng, berapa kali contreng, sampai yang tanya apa boleh dicoblos? Pencontrengan dengan bolpoint juga kurang jelas terlihat pada kertas suara, sehingga kata Adik saya yang jadi saksi, beberapa kali ditemukan surat suara sempat dianggap tidak sah karena tidak dicontreng. Setelah diteliti lagi, ternyata goresan tinta kurang jelas, apalagi anggota PPS sebagian besar adalah orang-orang sepuh perangkat dusun, seperti ketua RT, RW, dan Kadus. Mungkin, kali lain diganti spidol permanent.
Tahukah Anda, jadi mahasiswa itu ada untungnya juga. Kalau di kampung, warga atau tetangga itu juga tanya-tanya seputar banyak hal. Dari prediksi soal-soal politik hingga ekonomi atau kejadian-kejadian yang fenomenal. Mulai dari siapa calon presiden yang pantas dipilih, tentang partai yang bisa diharapkan, sampai ada yang mengobrolkan sikap antipatinya pada tokoh tertentu atau partai tertentu.
Nah, kita yang jadi mungkin lebih berwawasan, apalagi yang baca tulis, analisis hingga sintesis, untuk bisa dimintai saran pendapat juga akan lebih baik telah berpengalaman atau paling tidak punya wawasan. Sehingga, jika ditanya akan mengerti dan seyogianya mampu memberikan jawaban yang tidak menyesatkan, kalau tidak tahu tentu jangan sok tahu.
Maka, benarlah pepatah Jawa “yen sira awor wong pinter ojo katon anggonmu bodo. Yen siro awor wong bodho, ojo katon anggonmu pinter!”. Jadi, sebagai insan cendekia atau noncendekia tentu kita tak boleh keminter dan bodoh-bodoh amat. Srawung atau bergaul semestinya demikian itu, mungkin kita bisa diterima dimana saja. Tentu Anda mengerti, sebaik-baiknya manusia ialah mereka yang bermanfaat.
Sabtu, April 11, 2009
DARI BINGUNG SOAL PEMILU HINGGA PENCERAHAN
Labels:
refleksi
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
Langganan:
Komentar (Atom)
DARI MASA KE MASA
DOAKU
Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Atur Pembuka

Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!