'Kedamaian dan kebahagiaan akan diraih dengan keyakinan dan disiplin diri"
Menyongsong tahun ajaran baru, 2023/2024 sejumlah agenda telah disusun, saat Kurikulum Merdeka memasuki tahun kedua di sekolah kami, SMA Negeri 13 Semarang. Tak ada yang lebih istimewa selain persiapan menyambut murid baru. Wajah pemuda pemudi harapan bangsa yang penuh dengan cita-cita.
Saya pun sebagai pendidik bersemangat, sebagai guru dan fasilitator program guru penggerak apalagi sebagai calon guru penggerak jalur rekognisi. IKM sedang m
enjadi isu besar, topik yang ramai dibahas, disebarluaskan dengan banyak pola, melalui workshop, lokakarya, in house training, dan berbagai pola lainnya.
Tentu saja yang paling menantang adalah mempraktikkan pola pembelajaran ala kurikulum merdeka. Pendekatan yang berpihak pada murid, bagaimana guru menjadi penuntun yang membersamai murid sepenuh hati. Meski harus diakui, tiap ada berbeda potensi, minat, bakat, dan problematika fisik-psikisnya. Kalau hari ini, kita berbicara tentang bagaimana mengatur murid dengan sejumlah aturan sekolah yang diberi judul tata tertib, tampaknya sudah tidak relevan. Relevan atau tidak, dapat dilihat dari; pertama, apakah ada unsur hukuman dalam tata tertib, kedua, apakah tata tertib ini disusun oleh pihak sekolah (satu pihak saja) tanpa memerhatikan aspirasi murid.
Bolehlah saya ingin idealis dengan peran saya sebagai fasilitator, CGP rekognisi, pembina pramuka, dan guru. Ketika program PGP ini bergulir, lalu memelajari sejumlah modul, melihat aksi nyata guru di berbagai sekolah, mengikuti workshop, pikiran dan batin saya seperti disadarkan dari mimpi yang lama. Maka, kalau dulu mengajar itu transfer ilmu, maunya mengatur murid dengan aturan sekolah, maunya menghukum murid yang melanggar, maunya di dengar dan dipatuhi. Kini, saya yakin bahwa kesediaan guru mau menampung aspirasi murid adalah pembuka keran komunikasi yang produktif. Bukan saja berdampak jangka pendek, ini akan mengendap dalam jangka panjang, hingga murid-murid ini pun menapaki kedewasaan dan suatu saat menjadi orangtua juga seperti kami. Inilah yang kemudian disebut berpihak bagi murid untuk masa depan yang lebih indah.
Singkatnya, dimulailah apa yang disebut keyakinan kelas, atau kesepakatan kelas. Meski murid sedang liburan, akhir Juni hingga pertengahan Juli ini, ada sejumlah diklat yang saya ikuti. Sehingga perlu mencermati juga dalam manajemen kegiatan. Aksi Nyata membuat keyakinan kelas bersama murid, saya lakukan bersama-sama adik-adik pramuka, sehingga ini bukan di dalam satu rombel, ini adalah para pengurus pramuka di sekolah kami. Kegiatan kami awali dengan menjaring harapan positif (sesuatu yang ingin diraih) dan harapan negatif (sesuatu yang tak ingin terjadi). Mereka lebih kurang 15 orang menuliskan harapannya pada kertas pos-it lalu menempelkan pada kertas plano. Kami baca bergantian, saling memberikan komentar, ada muka sedih, senang, kecewa, wajah yang tertunduk seperti hendak menangis, kemarahan yang terpendam. Itu semua membutuhkan penguatan, itulah tugas kita, guru si penuntun.
Keyakinan kelas hampir serupa dengan kontrak belajar. Penekanannya, keyakinan kelas cenderung menghilangkan kalimat negatif atau kalimat yang berupa larangan. Keyakinan kelas lebih menekankan pada kalimat-kalimat positif yang bersifat universal. Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan positif. Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
Secara sederhana, merumuskan keyakinan kelas yang kami tempuh adalah sebagai berikut:
1. Murid menulis keyakinan yang mereka inginkan (bersumber dari pengamatan, pikiran, dan perasaan).
Guru mengajak murid menuliskan keyakinan atau pertanyaan universal yang mereka inginkan selama proses pembelajaran satu semester ke depan. Hal ini penting untuk menampung keinginan siswa agar lebih semangat dalam belajar.
2. Guru dan murid menjabarkan keyakinan yang telah ditulis. Setelah mendengar dan mencatat aspirasi murid, proses merumuskan keyakinan kelas dapat dilanjutkan dengan mengulas keyakinan kelas.
3. Guru dan siswa memilah keyakinan yang paling penting. Tahap selanjutnya adalah memilah keyakinan kelas yang penting. Akan kita temukan beberapa kata yang mirip, kita dapat memilih yang paling familiar.
4. Menegaskan keyakinan kelas menjadi kalimat positif. Kemudian, proses merumuskan keyakinan kelas lanjut ke tahap mengubah keyakinan kelas yang telah ada menjadi kalimat positif.
5. Mengecek dan menyepakati keyakinan kelas.Tahap terakhir adalah mengecek kembali keyakinan kelas dan menyepakatinya. Tujuannya menghila ngkan kerancuan dan keraguan, yang selanjutnya seluruh pihak di kelas (siswa serta guru) dapat menegakkan keyakinan kelas dengan penuh kesungguhan.
Singkatnya, terbitlah keyakinan dan komitmen kami sebagai pengurus pramuka di SMA Negeri 13 Semarang. Kata kunci dalam keyakinan kami adalah: kesediaan berbagi dan mengingatkan, kerelaan menjalankan tugas, kebersamaan dalam penuntasan kewajiban, dan saling membahagiakan.
Pada hari Selasa, 11 Juli saya berkesempatan mendesiminasikan 2 topik penting dihadapan rekan sejawat kami, yaitu 1) Platform Merdeka Mengajar, 2) Menyusun Keyakinan Kelas menyambut tahun ajaran baru yang mencerahkan. Kegiatan ini kami rekan dengan durasi hampir 2 jam, sebagian untuk mendiskusikan PMM, dan sebagian lagi tentang Keyakinan Kelas. Meski belum sampai simulasi
bersama guru, paling tidak kami sajikan proses membuat keyakinan kelas yang dimulai dengan adik-adik pramuka. Video dan photo yang dipaparkan selama sesi diskusi tentu untuk menguatkan pesan tahapan-tahapan menyusun keyakinan kelas. Akhirnya semua berharap bahwa tahun ajaran baru, wali kelas dan guru dapat menerapkan pembelajaran berpihak pada murid, dimulai dari menyusun keyakinan kelas.
"serulah dirimu untuk berbuat baik, lakukan terus seperti memberi air, memupuk, membersihkan gulma, maka kebaikan itu akan kembali padamu jua"



