SAKAL *)
Goresan tinta emas untuk sang bunda
Karya: Sandra Noryz
Ada yang disembunyikan detak jam
ketika jemari tangan bergetaran
menuliskan sebuah catatan
ada yang berderai
seperti jiwa yang bersitahan
meredam amuk badai dalam gerimis
yang menyeret luka telanjang
ke ujung utara paling sunyi
“IA KESUMAT DI PENGHUJUNG TAHUN YANG BARU!”
(* Kupersembahkan sebagai penghormatan terakhir untuk ibunda)
.
Rabu, Juni 17, 2009
SAKAL *)
Labels:
Karya "Nyastra" or Sastra
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
MATINYA KECOAK (8/6'09)
Pagi menjelang acara hari ini yang cukup padat, jam 6 pagi saya sudah siap membelah dinginnya semarang dan salatiga, tinggal menunggu jemputan saja.
Sambil duduk-duduk di teras kos, sesekali saya pandangi jam di tangan. Belum saya berkedip, tak sengaja tatapan saya tertuju pada benda hitam kecokelatan yang bergerak di dekat pot euphorbia, aha…kecoak.
Terkesiap dan refleks saja segera mengambil obat serangga di bawah ranjang. Bismillah, semprotan tadi mungkin akan segera mengakhiri hidupnya. Saya bukan pencabut nyawa, namun geram juga melihat kecoak lalu lalang membawa kotoran dan bibit penyakit.
Saya tunggu hingga obat itu bekerja, melemaskan ototnya, mematikan syaraf geraknya. Seperti orang yang mabuk karena salah obat atau malah teller meminum beberapa teguk miras. Kecoak lari sana sini tak karuan, wira wiri kaya wong edan.
Akhirnya ia menyerah, berhenti dan meregang nyawa, sakaratul maut. Saya ada akal lagi, kecoak saya taruh di sekitar jalan tempat lalu lalangnya semut, betul saja tak lama kemudian semut-semut tertarik dan segera mengerubutinya. Saya bayangkan kalau seekor kecoak itu besarnya 50 atau malah 100 kali dari ukuran si semut. 1 ekor semut datang, 1 temannya datang lagi, begitu seterusnya. Pada gigitan pertama, tak di sangka 2 semut itu tingkahnya sama dengan kecoak tatkala pertama kali menerima semprotan obat serangga. Semut terhuyung, kelimpungan, berjalan maju mundur, ia hilang kesadaran. Pikir saya, semut kan juga serangga, dan ia telah menikmati obat serangga itu juga ketika menggigit kecoak.
Semut-semut lain tak menyerah, mereka semakin banyak berdatangan. Sekitar 15 ekor semut sudah cukup untuk mengamankan kecoak ke “rumah” mereka entah di bawah pot-pot bunga itu atau dimana. Hal yang pasti, tak butuh waktu lama untuk mengangkut buruan besar pagi itu.Mereka (para semut) telah memiliki cadangan makanan bagi khalayak warganya di dalam sarangnya, dan akan segera menikmati tangkapan hari ini.
Teman-teman, rasa kemanusiaan kita kadang dipertaruhkan ketika menghadapi hal-hal diluar kebiasaan. Kita tak ingin menyakiti, namun sesuatu itu membawa wabah yang bisa menyakiti, maka dilema ini mesti kita putuskan sendiri. Toh, kita mesti siap juga dengan resikonya.
Betapa hebatnya semut itu, 15-an semut mengangkut benda yang begitu besarnya, kuat sekali mereka ini. Subhanalloh, lebih luar biasa lagi betapa hebatnya yang telha menciptakan semut-semut itu.
Semarang/Wonogiri, 9 Juni 2009, Selasa Pon.
Sambil duduk-duduk di teras kos, sesekali saya pandangi jam di tangan. Belum saya berkedip, tak sengaja tatapan saya tertuju pada benda hitam kecokelatan yang bergerak di dekat pot euphorbia, aha…kecoak.
Terkesiap dan refleks saja segera mengambil obat serangga di bawah ranjang. Bismillah, semprotan tadi mungkin akan segera mengakhiri hidupnya. Saya bukan pencabut nyawa, namun geram juga melihat kecoak lalu lalang membawa kotoran dan bibit penyakit.
Saya tunggu hingga obat itu bekerja, melemaskan ototnya, mematikan syaraf geraknya. Seperti orang yang mabuk karena salah obat atau malah teller meminum beberapa teguk miras. Kecoak lari sana sini tak karuan, wira wiri kaya wong edan.
Akhirnya ia menyerah, berhenti dan meregang nyawa, sakaratul maut. Saya ada akal lagi, kecoak saya taruh di sekitar jalan tempat lalu lalangnya semut, betul saja tak lama kemudian semut-semut tertarik dan segera mengerubutinya. Saya bayangkan kalau seekor kecoak itu besarnya 50 atau malah 100 kali dari ukuran si semut. 1 ekor semut datang, 1 temannya datang lagi, begitu seterusnya. Pada gigitan pertama, tak di sangka 2 semut itu tingkahnya sama dengan kecoak tatkala pertama kali menerima semprotan obat serangga. Semut terhuyung, kelimpungan, berjalan maju mundur, ia hilang kesadaran. Pikir saya, semut kan juga serangga, dan ia telah menikmati obat serangga itu juga ketika menggigit kecoak.
Semut-semut lain tak menyerah, mereka semakin banyak berdatangan. Sekitar 15 ekor semut sudah cukup untuk mengamankan kecoak ke “rumah” mereka entah di bawah pot-pot bunga itu atau dimana. Hal yang pasti, tak butuh waktu lama untuk mengangkut buruan besar pagi itu.Mereka (para semut) telah memiliki cadangan makanan bagi khalayak warganya di dalam sarangnya, dan akan segera menikmati tangkapan hari ini.
Teman-teman, rasa kemanusiaan kita kadang dipertaruhkan ketika menghadapi hal-hal diluar kebiasaan. Kita tak ingin menyakiti, namun sesuatu itu membawa wabah yang bisa menyakiti, maka dilema ini mesti kita putuskan sendiri. Toh, kita mesti siap juga dengan resikonya.
Betapa hebatnya semut itu, 15-an semut mengangkut benda yang begitu besarnya, kuat sekali mereka ini. Subhanalloh, lebih luar biasa lagi betapa hebatnya yang telha menciptakan semut-semut itu.
Semarang/Wonogiri, 9 Juni 2009, Selasa Pon.
Labels:
refleksi
Rindu pendidikan bermartabat&Merdeka. Kepramukaan adalah jalanku, sepanjang hayat. Kelahiran Wonogiri, 7 April 1984. SDN 56 Pangkal Pinang, SMPN 2 Jatipurno Wonogiri, SMAN 1 Jatisrono Wonogiri, S1 Kurtekdik Unnes, S2 Kurikulum&Teknologi Pembelajaran 2010, S3 Manajemen Kependidikan 2025. Sebaik-baiknya insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya;. per Oktober 2022 guru SMA N 13 Semarang menikah dengan Sri Edy Nugroho Wati (7 Nov 2010). Putra kami:Darma Brotosejati (22 Des/2011; Damaris Amrina Rosyada (5 Agust2015); Jannur Damarjati (18 Mar2018).
Langganan:
Komentar (Atom)
DARI MASA KE MASA
DOAKU
Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.
Atur Pembuka

Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!