Sabtu, Maret 28, 2009

Penelitian Pengembangan Teknologi Pembelajaran (follow up)

Penelitian dalam bidang teknologi pembelajaran sifatnya eklektif, yaitu memilih yang paling sesuai dari berbagai metode yang ada. Penelitian yang paling tepat saat ini yaitu penelitian pengembangan.

Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan.

Penelitian pengembangan ini paling tidak berfokus pada 3 hal utama, yaitu: pengembangan model, pengembangan produk dan pengembangan sistem. Atau setidak-tidaknya adalah penilaian terhadap kebutuhan, hasil dan program pembelajaran/pendidikan.

a.Penelitian Pengembangan model:
¤Penelitian ini menekankan pada usaha pengembangan suatu gagasan maupun teori yang menghasilkan model tertentu. Misalnya penelitian yang ditujuan untuk menentukan model pembelajaran yang tepat bagi anak-anak jalanan.
¤Penelitian pengembangan program pembelajaran (instructional program development), meliputi pengembangan suatu mata pelajaran, perencanaan kurikulum tahunan, perencanaan pengajaran yang bersifat jangka panjang.

b.Penelitian pengembangan berorientasi produk: Kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah.

Bagian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran lengkap tentang karakteristik produk yang diharapkan dari kegiatan pengembangan. Karakteristik produk mencakup semua identitas penting yang dapat digunakan untuk membedakan satu produk dengan produk lain-nya.

Produk yang dimaksud dapat berupa kurikulum, modul, paket pembelajaran, buku teks, alat evaluasi, atau produk lain yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah pelatihan, pembelajaran, atau pendidikan. Setiap produk memiliki spesifikasi yang berbeda dengan produk lainnya, misalnya kurikulum bahasa Inggris memiliki spesifikasi yang berbeda jika dibandingkan dengan kurikulum bidang studi lainnya, meskipun di dalamnya dapat ditemukan komponen yang sama.

Salah satu penelitian yang relevan adalah penelitian pengembangan produksi media (media product development)

c.Penelitian dan pengembangan sistem
System yang dimaksud menyentuh ranah system pembelajaran, system pendidikan, system organisasi belajar, system manajemen kurikulum, dan system manajemen sumber daya manusia.
Teknologi pendidikan/pembelajaran harus dipandang juga sebagai suatu system. Sehingga, terdapat komponen-komponen atau subsistem di dalamnya yang memiliki hubungan fungsional. Sehingga paling tidak, dalam penelitian ke-TP-an harus menyentuh aras 5 kawasan Teknologi Pendidikan.

Rabu, Maret 25, 2009

Senyum lain dalam Pemilu




by wido

Menjelang pemilu seperti juga tahun ini, ada saja yang ngomong kampanye bikin macet, kampanye bikin anak-anak telat ke sekolah, kampanye bikin suasana jadi rusuh, kampanye Cuma tebar janji, apalagi pasti usai kampanye terbuka (rapat besar) sampah bertebaran.

Itulah efek kampanye dan pemilu bagi sebagian orang. Di sisi lain, nikmat tersendiri dialami juga oleh sebagian orang. Mereka yang biasanya orderan sablon sepi, kini panen telah tiba, inilah rejeki buat mereka. Di samping menimbulkan kengerian akan konflik, Pemilu membuat orang-orang tersenyum dan rakyat sekali lagi bisa tertawa. Beratus juta kertas suara mesti dilipat secara manual, tentu menciptakan lapangan kerja dadakan, walhasil ada pendapatan uang. Ya, rejeki pada pemilu begitu tersebar kemana-mana. Dari mulai pembuatan atribut partai, atribut caleg berkampanye, iklan-iklan media, pedagang asongan, dan lahan rejeki lainnya.

Begitu keluar dari rumah, menyisiri jalan, dapat disaksikan begitu banyak orang tersenyum. Gambar para calon legislative memenuhi jalan, baliho yang tersebar dan besar, tentu besarnya sesuai isi kantong para caleg dan partainya. Gambar mereka tak ada yang menyiratkan kesedihan, semua sumeh alias murah senyum. Kita pun, jadi tak tahu apakah para caleg ini tetap menjaga senyumnya kepada tetangga mereka sendiri.

Jika pada bulan-bulan sebelumnya, sebagian rakyat Indonesia lebih mengharap jatah BLT. Bulan-bulan ini, ada berbagai macam limpahan bantuan ini dan itu. Bantuan pembangunan masjid, pengerasan jalan, sembako gratis, voucher pulsa gratis, mengadakan acara social keagamaan dengan disponsori para caleg, dan hal-hal yang serba gratis. Jadi, pemilu tak selalu penuh ketegangan dan janji palsu. Lewat pemilu, ada keluarga miskin yang dapat bertahan hidup, meski “nutrisi” itu hanya sementara. Maka patut kita bertanya, seandainya bantuan dan perilaku menolong itu selalu dilakukan tidak hanya pada bulan-bulan pemilu, maka berapa juta yang dikatakan miskin terentaskan dari kemiskinan?

Rakyat kita ini terbiasa dengan kegelisahan, kekhawatiran, kemiskinan, dan penderitaan. Sehingga ada panggung kampanye gratis dengan lantunan lagu-lagu dari artis atau grup band ternama ibukota menjadi hiburan tersendiri. Kita makin bisa tersenyum, belanja pakaian akan lebih irit karena partai-partai berbagi kaos gratis.

Bagi sebagian orang, “efek senyum bahagia” ini tidak akan berterusan setelah pemilu. Caleg DPRD yang berjumlah lebih dari 1,5 juta, padahal hanya ribuan kursi yang siap diduduki. Tidak ayal pasti ada korban, bukan hanya kekalahan. Stres, frustasi, depresi, hingga gila akan terjadi. Dan para kandidat itu tidak lagi tersenyum seperti gambar mereka dalam baliho dan spanduk, mereka menjadi tersenyum atau tertawa sendiri.

Selasa, Maret 24, 2009

Kurikulum dan Sekolah Tak Berguna?



by widodo

Para sahabat di dimanapun berada, terutama orangtua dan pendidik (guru/dosen). Pernahkah anda bertanya, anak-anak yang seharian belajar di sekolah, saat mereka pulang apakah anak-anak ini menggunakan pengetahuannya itu untuk digunakan dalam kegiatannya di rumah? Apakah mereka pulang dengan wajah kecapekan dan mengeluh?

Anak yang di sekolah belajar tentang pelestarian alam dan lingkungan, apakah di rumah sudah mencoba merawat tanaman bunga di rumah?

Anak-anak di sekolah belajar sikap dan perilaku sosial, apa di rumah juga senang membantu ibunya, atau lebih suka menyerahkan pekerjaannya kepada pembantu?

Anak-anak yang pintar mengerjakan soal-soal hitungan matematika, apakah menggunakan kecakapannya itu untuk mengatur pengeluaran keuangannya dalam seminggu?

Di sekolah Mereka yang diajarkan bagaimana sholat, benarkah mereka mengerjakannya di rumah?

Mereka diajarkan hidup hemat, benarkah lebih memilih membeli media play stations daripada membeli buku? Dan mau menabung?

Jika di sekolah, guru agama dan guru PKnPs mengajarkan kejujuran, lalu mengapa demam korupsi terjadi begitu menggelora di negeri ini?

Jika belum melakukan apa yang mesti dilakukan, mengapa bisa begitu?

Teman-teman pendidik di sekolah, keberhasilan dan kegagalan kita dalam mengajar dan membelajarkan terlihat ketika anak didik di luar sekolah melakukan atau tidak apa yang telah mereka pelajari.

Siapa bilang kurikulum (jika dalam arti kumpulan materi pelajaran) tidaklah padat? Jika padat, apakah tidak membebani pelajar-pelajar itu? Bukankah belajar itu akan lebih baik jika belajar dari yang sederhana dan tampak kecil, lalu beranjak kepada yang sulit, kompleks, dan besar.

Kita akan selalu prihatin selama belajar anak di sekolah tidak berdampak pada sikap dan perilaku anak di rumah, di arena bermain, di kancah-kancah pergaulan yang lebih luas. Bukankah memprihatinkan, saat kita merasa menikmati nasi di meja makan dengan lahap, namun lupa bahwa petani (mbah-mbah di kampung-kampung) masih sulit mencari air, masih bingung mendapatkan pupuk, masih rendah harga jual gabahnya. Bukankah sebagian dari anak-anak kita masih sering meninggalkan piringnya bersisa nasi, mereka mungkin tahu tapi belum mengerti bahwa betapa sulitnya mendapat sebulir gabah, menunggu 3 bulan supaya menguning.

Ragukan pernyataan ini: jika pengelola sekolah merasa telah dapat menunjukkan peningkatan skor-skor hasil belajar yang tinggi, maka sekolah hanya pencetak manusia berilmu, namun tak berpendidikan. Jika guru merasa berhasil meluluskan mereka dari “jeratan” Ujian Nasional, maka tahan dulu rasa senang, sebab kelulusan itu bukan bukti berkembangnya kecerdasan emosional dan spiritual.

Mungkinkah sekolah tak perlu ada???

namun...saya sendiri produk sekolah, produk kurikulum, produk pendidikan, produk...
.

Senin, Maret 23, 2009

Hak-Kewajiban yang Sederhana




Saat seorang guru telah menugaskan siswanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, maka jangan lupakan bahwa tugas itu perlu mendapat apresiasi, apapun hasilnya.

Jika anak telah mengerjakan tesnya, maka kewajiban guru untuk memberikan nilai sesuai dengan unjuk kerja anak itu. Dan saya melakukannya, setiap memberi pekerjaan sebagai tugas bagi mahasiswa, saya mematri niat bahwa pekerjaan mereka akan saya koreksi dan saya beri nilai sesuai kapasitas pekerjaan itu [pun ditambah nilai “kemanusiaan”].


Itulah hak mereka, hak siswa, hak mahasiswa, dan barangkali hak setiap orang untuk mendapatkan penilaian dari pemberi tugas dan pengamat. Demikianlah saya menginginkan hal sama, bahwa dosen saya akan memberikan hak saya, yaitu nilai dari sebuah pekerjaan tugas yang telah saya buat dengan segenap daya. Bahwa saya telah mengusahakan dengan segenap usaha dan daya, mengorbankan istirahat yang mesti diperoleh, makan siang dan malam, bahkan mengorbankan kesenangan, harta, tahta dan wanita (hehehe… barangkali 3 hal yang terakhir disebutkan terlalu berlebihan).

Betapa kecewa ketika dosen tak memberikan nilai sebagaimana yang diharapkan, namun saya juga sadar diri bahwa pekerjaan belum tentu sesuai dengan standar nilai pekerjaan dari sang dosen.

Betapa merasa tak enak hati, bila ada teman yang sering terlambat datang kuliah, tugas meniru sana-sini, mengumpulkan tugas hingga ditolak dosen karena telat menyerahkannya, atau presentasi tugasnya jauh dari harapan, tapi justru mendapatkan nilai A, sedangkan kami yang mengusahakan dengan segala kepositifan justru kurang dari itu, bukan A atau AB namun paling maksimal adalah nilai B atau BC. Maka sejak itu, dalam pikiran dan hati begitu terpacu bahwa saya ingin bisa tetap adil bagi orang-orang di sekitar kita.

Setiap tugas yang kurang diapreasi, atau tak dihargai sebagaimana haknya, maka tunggulah bahwa motivasi anak akan menurun drastis dan tak akan percaya pada diri sendiri. Koreksilah pekerjaan mereka, dan katakan “salah” dibagian apanya, katakan “bagus” dibagian apanya, katakan “perlu ditambah dan diperbaiki” pada bagian apanya, katakan “luar biasa” bahwa itu hal yang cemerlang. Ada yang legawa menerima apapun haknya, namun tak sedikit yang menolak atau tak puas terhadap penilaian kepada mereka, hal demikian adalah wajar.

Begitu senangnya ketika seorang profesor menerima pendapat mahasiswa meski itu ide yang berbeda. Begitu gondok ketika sang profesor selalu mengatakan salah terhadap setiap jawaban mahasiswanya. Saya lebih kecewa lagi terhadap diri saya sendiri bila tak mampu menerima perubahan hidup ini, maka saya belajar.

Di sini, saya mengkritik diri sendiri.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!