Sabtu, Juni 27, 2009

Pelajaran Menuju Mushola (Ketringan Bogorejo Blora)

Kamis usai, 4 Juni 2009, usai mengajak anak-anak bermain dan bersama mereka pula menyusun sejumlah agenda acara pada pertemuan mendatang.

Jam menunjukkan 12:17 WIB di dusun Ketringan Nglengkir Kabupaten Blora. Saya bergegas keluar sekolah menyusuri jalan di belakang sekolah yang menanjak, bermaksud menemukan mushola yang sempat diberitahukan Pak Purnomo.

Tak berselang lama, ada bangunan yang lebih mirip rumah biasa, dindingnya dari papan kayu bercat putih, dibelakangnya terdapat gentong besar yang biasanya difungsikan sebagai penampung air untuk berwudhu. Saya tengok ke dalam, ada 4-5 orang yang sedang khusyuk memanjatkan syukur dan bertafakur. Sayangnya, saya agak kurang beruntung, gentong besar itu tak berisi air selain udara kosong.

Beberapa rumah sempat saya datangi, “Pak, badhe nderek wudhu saget Pak?” Bapaknya yang sedang sibuk menatah kayu tampaknya agak heran melihat saya, itu kelihatan dari mimik mukanya yang sedikit bengong. “Wudhu nopo Mas?” tanyanya, “Wudhu Pak, kula badhe sholat”, “oh, wundhu, ten wingking mushola wonten Mas” tambahnya. Ternyata kata “wudhu” itu ditambahi huruf n (wundhu) itu lebih jelas maknanya daripada “wudhu”. Segera menyampaikan ucapan terima kasih dan pamit, saya tak ingin berdebat karena memang gentong itu kosong, barangkali air di rumah si Bapak ini sedang habis. Saya segera bergegas mencari rumah lain, Alhamdulillah bertemu dengan seorang Ibu yang agak heran pula melihat saya di situ, barangkali merasa aneh saja melihat orang bersepatu di daerah yang agak terpencil dan sumuk ini.

Si Ibu dengan lembutnya, dengan bahasa kromonya menawarkan saya untuk berwudhu ke kulah/kolah (bak besar penampung air). Pikir saya, pasti tempatnya banyak air, ternyata tidak juga, airnya juga sedikit sekali, namun ada gentong kecil yang masih terisi air yang cukup sekadar untuk berwudhu. Usai melepas sepatu dan kaos kaki, belum mulai saya membasuh apapun si ibu menawarkan sandal. Tawaran itu tidak saya tolak meskipun si ibu sempat bilang “nyuwun sewu, sandal nipun sampun risak!”, menurut saya sandal jepit itu masih bagus dan bersih. Rendah hati sekali si ibu ini.

Usai wudhu, maksud saya sih segera ke mushola itu. Belum keluar dari rumah itu, sudah dicegat si ibu “niki jadah nipun!” (maksudnya sajadah). Pesan si ibu agar sandal dan sajadah di tinggal saja di mushola karena si ibu juga nanti hendak ke sana. Mushola itu memang sudah berumur agak tua, namun kokoh dan yang pasti benar-benar bersih, ini menunjukkan bahwa mushola ini “hidup”. Usai sholat, niat saya segera ke sekolahan, tentu tak lupa melewati rumah si ibu tadi sekadar untuk mengucapkan terima kasih.

Saya sungguh bersyukur, masih menemukan orang-orang yang bersedia membantu orang lain meskipun dalam keterbatasan yang amat sangat, atau lebih tepatnya sangat sederhana sekali (SSS). Hari ini saya belajar lagi, belajar menghargai hidup, belajar mencintai sesama.

Rabu, Juni 24, 2009

Kanvas Batinku

Kanvas Batinku
Karya: Sandra Noryz



Berbalut selembar angin
sungai kehidupan itu masih saja terpengkur
dalam delta-delta harapan
masih krista-krista malam
menghujaniku sejuta pertanyaan
sementara perhatianku sibuk merabai
siluet abu-abu yang lalu lalang di depanmu
misteri waktu, betapapun rumitnya
tak mampu mewakili selangit kaligrafiku
mungkin butuh hatimu
sebagai pengganti kanvasku
sementara tintaku habis terburu keegoisan semu
.

Selasa, Juni 23, 2009

TERJAGA dalam MALAM



keluarga Pak Yanto (Pak Dwi Yanto S, Bu Umi Hanik, Mina)


Masih di Blora,
saya adalah yang terakhir terjaga menjelang tengah malam ini. Sebelumnya menyempatkan mengetik beberapa bahan penyerta, dokumen laporan kegiatan hari itu. Rasa kantuk mulai menggerayapi mata, pegal dan capek seharian menjamah alas Blora bersama anak-anak. Kembali lagi saya menyerah, komputer segera di shutdown, dan beranjak ke pembaringan.

Belum sempat memejamkan mata, HP berdering ada beberapa sms yang terlambat masuk. Agak lirih bunyi ketukan pintu, memanggil si empunya rumah, “Pak Yanto, Pak wonten perlu!”. Bu Hanik (istri Pak Yanto) yang tanggap segera menyahut dan mendatangi suara, membuka pintu dan tak lama Pak Yanto menyusul. Singkatnya, tamu ini melaporkan bahwa ada maling yang tertangkap dan Pak Yanto diminta datang ke tempat penangkapan di luar kawasan desa Nglengkir.

Ada rembugan sebentar, lalu si tamu pamit untuk mengambil motor. Sambil menunggu penjemputnya, saya bergegas keluar, sebab sesungguhnya dari tadi [maaf] saya menguping. Tak sungkan-sungkan seperti biasanya, Pak Yanto dan Bu Hanik bercerita. “Ini biasa terjadi dik Wid”, Pak Yanto mengawali pembicaraan. Pak Yanto itu sudah biasa menghadapi hal-hal yang demikian, dibangunkan malam-malam atau dini hari sudah menjadi kesibukan yang mesti dilakukan meski sering tak terduga. Terlepas dari jabatan di desa sebagai Ketua LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), memang simpati dan empati sosial keluarga ini begitu tinggi.

Padahal hal-hal yang dilaporkan macam-macam, dan terkadang sangat rumit. Mulai dari kasus pencurian, perkelahian, tawuran, penjarahan hutan, dan sebagainya sudah jamak dihadapi. Kekhawatiran juga ada, terlebih menyangkut permasalahan perkelahian atau tawuran, bisa jadi nyawa taruhannya. Meski bukan lurah/kepala desa, masalah-masalah sosial kemasyarakatan hampir selalu dialamatkan ke rumah Pak Yanto untuk mendapatkan penyelesaian. Seolah-olah, kalau keluarga ini belum turun atau belum angkat bicara rasanya kurang afdhol.

Pemimpin nonformal dengan karismanya masih mengakar disini. Berbagai persoalan di kampung adakalanya dirembug lewat obrolan angkringan atau ala ngopi di warung antara tetua desa, kades, ketua LMDH, dan ketua karang taruna. Berada di dekat masyarakat Samin yang sensitif kita mesti tahu diri atau “empan papan”. Rasa penghargaan mereka terhadap pendidik/guru masih begitu tingginya, masih memuliakan.

Beginilah kehidupan bersosial, pengorbanan kepentingan diri pribadi demi kepentingan komunitas, sosial, dan khalayak. Jika tak diiringi keikhlasan, tentu semuanya hanya sia-sia. Bagi saya sendiri, pengorbanan tanpa pamrih menjadi usaha unutk mencicil tabungan di surga, membangun rumah di surga.

Akhirnya Si Pesakitan telah diserahkn ke pihak yang berwajib tanpa ada perlawanan, tanpa ada percekcokan. Jam 2 pagi dini hari ini Pak Yanto bisa kembali pulang ke peraduan, melanjutkan mimpi ditidurnya yang sempat terpotong. Mimpi untuk ikut menyejahterakan masyarakat Nglengkir Blora. Semoga dalam kesulitan selalu ada kemudahan…amin.

Jumat dini hari, 5 Juni’09

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!