Sabtu, Maret 21, 2009

ehem....wuzzz....wuzzz

part 1

WIDODO-sabtu, 3 Oktober 2009


Bagaimana menjadi diri ini percaya diri, orang menyebutnya PD?

Beberapa kali saya bertanya pada diri sendiri untuk menemukan jawabnya, namun hidup terus, saya mesti mengerjakan hal yang lain, dan mengalir hidup sehingga saya lupa belum menjawab soal itu.

Tapi saya sekarang sudah PD, lalu saya bertanya lagi, bagaimana bisa kamu/widodo PD padahal kamu berkekurangan? Sedikit orang sepertimu mau “mengusir” kekuranganmu?

Ehems sudahlah, tidak selalu melihat sesuatu itu hitam-putih, ada makna, itulah yang terpenting.


Pernahkah kamu/widodo grogi? Minder? Ya…dan ketika itu terjadi, saya berkata “lupakanlah itu, kamu widodo merasa sebagai siapa, Nabi Muhammad? saya hanya seorang widodo, saya akan mengerjakan dari apa yang saya punyai, saya akan melakukan sesuai kemampuan saya”.

Maka ketika berbicara dihadapan orang banyak, saya usir hal yang melemahkan itu untuk sementara, sebab ia memang tidak akan bisa lari dari saya begitu saja. Lalu, saya fokus pada apa yang akan saya sampaikan saat itu, diselingi humor menertawakan diri sendiri.

Jika terkadang anda bicara pada diri sendiri atau kepada orang lain, “betapa bodohnya saya, saya tidak bisa disejajarkan dengan Anda”, maka saya justru mencurigai anda “kalau anda merasa unggul daripada orang lain dalam beberapa hal, maka saya khawatir anda dalam diri anda mengatakan “saya unggul,anda tak pantas berdiri sejajar dengan saya”.

Jika memang anda sekarang sedang miskin, lalu anda diajak pergi oleh seorang yang kaya. Anda menolak dan mengatakan, “oh maaf saya tidak ikut, saya malu karena anda orang kaya saya orang miskin, saya tak pantas pergi dengan anda”.

Saya jadi khawatir, jika anda sudah kaya, anda juga akan membatin kepada orang miskin dengan perkataan yang sama ketika anda masih miskin”.


Jika anda ingin menilai apa yang dikerjakan orang lain, atau menilai orang lain karena faktor kaya miskin dsb, maka cobalah Posisikan diri anda menjadi orang yang berkekurangan. Jadi, missal anda ingin menilai betapa rendahnya derajat orang miskin sehingga anda malu berkawan dengan mereka. Maka, coba pikirkan dan rasakan dalam hati, posisikan diri anda sebagai orang miskin yang dinilai”…lalu lihat apa yang terjadi….


Kamis, Maret 19, 2009

Permintaan Sederhana Sedulur dan Tetangga



oleh widodo




Saya pulang ke rumah di Wonogiri, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Setiap di rumah bertemu sedulur dan tetangga, coba saya cermati perkembangan yang ada di kampung. Apakah telah tiba masa panen, masa menanam, masa menabur benih dan memupuk? Apa ada sedulur dan tetangga yang sakit? Apa ada ini dan ada itu?. Apalagi ketemu Mbah Kati (nenek saya dari keluarga Pak Ciptowiyono), kalau ketemu saya itu senengnya bukan main, Mbah yang satu ini cilik menthik, tapi jam 3 pagi sudah bangun dan masak air. Orangtua yang permintaannya sepele, bertemu cucu “eh, Kang Dodo muleh to!”.

Satu hal yang tidak begitu berubah, pandangan orang-orang di kampung pada citra diri mahasiswa. Jadi kalau bertemu mahasiswa, mesti anggapan mereka bahwa mahasiswa itu pasti pinter segala-galanya. Bahkan seorang calon guru, dianggap bisa mengobati seperti halnya dokter. Apalagi kala KKN di Demak dulu, dikiranya calon guru juga ahli memberantas wereng dan hama tanaman.


Adakalanya mereka tanya, pertanyaan ketika isu-isu di kancah sosial kemasyarakatan begitu fenomenal. Saat kenaikan BBM, ada yang Tanya “mau pemerintah itu bagaimana to, wong lagi susah kok rego bensin mundak, rego lengo gas mundak?. Saat pemilihan gubernur Jateng “calone sing kuat iku sopo to mas?”. Saat menjelang pemilu “lha calon legislatifnya gombal kabeh, ngapusi, mereka kepilih tapi keadaan rakyat kan tidak berubah, iya kan Mas?” dan seterusnya.

Menariknya obrolan dengan para sedulur dan tetangga, mereka itu minta sembako harganya murah, harga BBM turun, biaya sekolah anak jangan naik, pupuk jangan langka. Siapapun presidennya, yang penting kita bisa makan. Lha itu kan sederhana saja, sangat sederhana. Bukan minta kaya atau bergelimang harta, hanya makan cukup dan minyak tanah jangan langka.

Kesederhanaan permintaan itu tentu mengindikasikan bahwa orang jawa di kampung-kampung itu masih “nrimah mawi pasrah” dan “nrimo ing pandum”, atau lebih tepatnya pakai filosofi “yang penting cukup, bukan kaya”. Saya jadi ketawa dengan mereka, “iya, ya, yang penting cukup, cukup buat beli mobil, buat mbangun rumah, cukup beli sawah hektaran…ha ha ha”. Atau cukup punya satu istri (satu di Semarang, satu di Brebes, satu di Wonogiri, satu di Solo, atau satu di Cilacap, nah jadinya kan empat istri…hehe). Nah, yang terakhir ini tadi 100% murni guyon.

oleh: widodo

Rabu, Maret 18, 2009

KMD, antara Kewajiban dan Pilihan



oleh widodo
.

Suatu ketika saya ditanya, apa manfaat menjadi pramuka? Jawabannya: Lihat saya, sudahkah anda melihat kebaikan-kebaikan yang saya lakukan? Jika sudah, berarti nilai-nilai kepramukaan telah saya jalankan. Namun jika tidak, berarti saya belum bisa menjalankan nilai-nilai kepramukaan itu dalam polah tindak. Jadi, jika ada yang salah, bukan kepramukaan yang salah, namun orangnya.

Kepramukaan bukanlah kepatuhan kewajiban seperti Zaman Hitler, dimana si anak buah yang dituduh bersalah harus rela meneguk racun (jika ingin disebut mati secara terhormat), atau dilucuti pakaiannya dan diarak keliling kota. Lalu mengapa, kini berpramuka justru menjurus menjadi tradisi pembelengguan membuat pilihan.

Tidak hanya di sekolah-sekolah menengah, peserta didik harus aktif di kepramukaan saat kelas VII SMP atau kelas X SMA. Di perguruan tinggi sekaliber Unnes (sebagai LPTK) juga mewajibkan mahasiswa kependidikan untuk mengikuti OKPT bahkan KMD (Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar).

Hal yang patut diapresiasi karena mahasiswa lebih berdayaguna tatkala mencermati sekolah praktikan PPL ingin mahasiswa praktikan tidak hanya datang mengajar lalu pulang, tetapi mesti aktif dalam kegiatan pengembangan diri siswa dan ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah memang tak jarang meminta Mahasiswa Praktikan PPL untuk menjadi Pembina Pramuka. Padahal, para mahasiswa ini sebagian besar tidak aktif dalam kegiatan pramuka di Unnes. Sehingga penyiapan calon Pembina ini memang mesti dilakukan, salah satunya dengan KMD.

Lahirnya kebijakan mewajibkan KMD sebagai upaya penyiapan SDM Pramuka calon Pembina patut dihargai. Mereka akan lebih siap ketika nantinya benar-benar menjadi guru, memiliki kelebihan lain selain kompetensi profesional. Namun, kebijakan ini terkesan mendadak. Dari 3000 lebih mahasiswa yang wajib mengikuti KMD, hanya sekitar 2% yang telah mengikuti KMD. Selebihnya, aktif berorganisasi intrakampus ataupun ekstrakampus, bahkan lebih banyak lagi yang tidak aktif berorganisasi, padahal ada 8 BEM fakultas dan sekurang-kurangnya 45 UKM.

Mahasiswa aktivis UKM/organisasi selain UKM Pramuka tentu punya “ideologi”, punya semangat dan pola kerja sendiri. Sehingga, kebijakan ini dapat berakibat munculnya sikap antipati kepada pramuka atau UKM Pramuka. Mahasiswa yang hanya terbiasa kuliah seperti kejatuhan durian runtuh (bukan daging buahnya, tetapi kulit berdurinya), “Bagaimana bisa kami dipaksa jadi pramuka?” (itu ungkapan sederhananya). Bila, alasannya adalah ketika PPL mesti menjadi Pembina, hanya 1-2 orang saja yang diperankan sebagai Pembina pramuka. Praktikan lainnya dapat aktif dalam membina ektrakurikuler lainnya, PMR, KIR, Paskibra, Pecinta Alam, Rohis, dan sebagainya.
Mewajibkan KMD tidaklah salah bila momentumnya tepat. Peserta yang “belum tahu apa-apa” dan tidak mengenal kepramukaan bisa saja menjadi Pembina karbitan, karena dalam satu minggu sudah dapat menyandang status Pembina pramuka.

Ke depan, kebijakan ini perlu dibenahi, KMD sebelum menempuh PPL dapat diikuti jika mahasiswa telah mengikuti proses pendadaran atau semacam penyiapan berwujud latihan-latihan rutin, KMD menjadi titik kulminasinya. KMD dapat pula dilaksanakan ketika lulusan keguruan mengikuti pendidikan profesi.

Secara fasilitasi tempat, memang Unnes adalah penyelenggara KMD. Sedangkan secara organisatoris teknis, KMD menjadi tanggung jawab Lembaga Pendidikan Kader Gerakan Pramuka Kota Semarang (Lemdikacab/Pusdikcab). Para Pelatih Pembina dari Pusdikcab adalah pelatih profesional yang berasal dari berbagai unsur profesi, seperti dosen, guru dan mantan guru, pegawai pemerintahan, maupun profesional di bidang lainnya. Selama KMD, peserta dibekali kecakapan teknik kepramukaan, membina, manajerial, sosial, dan kepribadian. KMD adalah suatu Diklat yang memiliki syarat kelulusan. Jadi, dengan membayar biayanya bukan berarti pasti lulus.

Seandainya boleh memilih, mengikuti KMD adalah pilihan, bukan kewajiban.


Widodo: (Ketua Racana Wijaya 14.111 Unnes 2005,
Pelatih Pembina Pramuka Lemdikacab Kota Semarang, 0815 4857 5997)

BEL-SMS Mblasuk-Keblasuk yang Mengesankan




Adakalanya, teman itu ibarat uang, susah dicari tapi mudah dibuang padahal kita tak menyadarinya!
Meski kadang, kita hanya jadi tempat “pelarian”, tapi jangan sia-siakan orang-orang yang telah dekat…

Bagaimanakah Anda rasa Anda tatkala sebuah sms atau calling tak terduga kepada Anda? HP yang berdering tanpa identitas jelas. Heran? marah? Bête? Senyum? Benci? Muak? Lalu membalasnya dengan bersemangat ataukah balik Tanya “siapa sih elu?”, mendiamkannya? atau malah menghapusnya? Itulah yang Anda rasakan, dan ini sedikit cerita dari saya.

Ada yang ngguyokke, entah berapa kali saya beroleh teman dari proses yang tak disengaja.

Dengan SMS (short message service) masuk tanpa dinyana, kita dapat nomor hp baru plus kenalan baru. Pernah suatu kali, sekitar tahun 2006, ada sms masuk yang intinya yang bersangkutan minta saran bagaimana agar usahanya dalam bisnis kertas lancar. Ia mengaku bernama Mas Sulhadi dari kudus. Dengan filosofi bahwa saya tak ingin memutus harapan mereka yang datang pada saya, maka sms atau telpon itu tetap saya jawab. Kali ini saya hanya dapat menyarankan kepada Mas Sulhadi supaya sabar dan tawakal.

Begitulah saya kenal lewat sms, dan beberapa kali pula Mas Sulhadi menghubungi saya. Ia minta saran dan pendapat, serta pastinya menanyakan kabar saya. Menariknya, Ia sejak awal memanggil saya dengan sebutan Syech, wah wah sejak kapan saya mlebu pesantren (memang ndak pernah) atau keturunan Alim Ulama. Saya jadi ketawa sendiri dalam hati.

Hingga komunikasi itu mandeg karena suatu ketika Mas Sulhadi sms saya “Syech, kapan ada pengajIan lagi, saya ingin ikut pengajIan syech lagi?”, ketika menerima sms itu saya melongo, benar-benar bengong. Akhirnya saya beranikan diri, “barangkali selama ini, saya bukan orang yang panjenengan maksudkan, saya widodo (padahal sejak sms pertama kali saya tuliskan–widodo-). Saya lupa persisnya tanggal bulan berapa sms terakhir, yang pasti sejak saya tegaskan bahwa saya bukan syech, maka sejak itu komunikasi mandeg total.

Suatu senja usai Ashar, ada lagi seseorang yang ujug-ujug makbedunduk meng-sms saya, “bahwa Ia kesulitan dalam urusan pertemanan, “maukah Anda menjadi teman saya?” dr Yani. “oh tentu saja Mbak Yani, saya widodo”. Ia berasal dari Kudus, bekerja sebagai penjahit berusIa muda belIa (23 tahun). Obrolan lewat sms itu berlanjut, namun tak sampai ada kontak telepon. Mbak Yani beberapa kali juga mengisahkan hubungan asmaranya yang pasang surut. Pernah Ia cerita, Ia sedang suka seorang prIa, namun Mbak Yani ragu apakah lelaki itu orang baik. Pernah pula Ia cerita, suka seseorang, namun lelaki itu adalah pacar teman kerjanya, tapi nampaknya si lelaki sering melirik dirinya juga (Wah, saya seperti biro konsultasi jodoh plus teman curhat).

Komunikasi lewat sms itu tak selalu berjalan mulus, jika saya tidak segera membalas sms Mbak Yani buru-buru nyebut saya tidak mau berteman dengan orang yang bukan anak kulIahan dan hanya penjahit. Saya mencoba mendinginkan suasana, bahwa saya sedang ini dan itu dan belum sempat membalasnya, kalau saya pilih-pilih teman atas dasar pendidikan rendah-tinggi, tentu saya sudah menolak menjawab sms itu sejak sms pertama(bisa saja langsung membalas “Anda salah sambung, atau apalah”), kenyataannya saya tak melakukannya.

Dan akhirnya, komunikasi itu berhenti ketika Ia mengaku bahwa nama aslinya bukan Yani tapi Riyanti. Ia ingin mengetes, apakah anak kulIahan mau berteman dengannya. Saya memang agak mengernyitkan dahi, wah lha kok begini!?. Sms itu masih berjalan, hingga akhirnya berhenti ketika Ia masih saja berulang-ulang mengungkit tentang status pendidikan saya dan dirinya. Saya katakan “tolonglah mbak, sebaiknya kembangkan sikap positif dalam diri Mbak, sudha berapa kali Mbak mengungkit-ungkit soal itu, bahwa saya masih mau membalas sms itu sampai kapanpun”. Sejak itu sms itu pun paripuna, namun lebaran kemarin 3 Oktober saya kirimi ucapan Idul Fitri. Alhamdulillah sms saya dijawab (Terima kasih mbak Yani, eh mbak Riyanti).

Sekitar 2006, ada lagi yang mengirimi sms, ngakunya sih namanya Tatik dari Kediri (dan sebenarnya Mbak Tatik dari Rembang, sama-sama wisudawan 2007) . Ia kulIah sambil bekerja dan sms pertamanya kurang lebih “maukah Anda menjadi teman saya - tatik)”. Akhirnya komunikasi kami jalan vIa sms, bahkan suatu ketika Ia menelepon saya, obrolan yang cukup lama hampir satu jam (ya baru kali itu saya dapat bel hampir 1 jam lamanya). Lama-lama Ia ngaku juga setelah melihat saya. Lho, kok sudah melihat dan bertemu saya? Ya bisa sebab, dIa mahasiswa Unnes dari prodi Sastra Jawa FBS. Ia juga tahu saya aktif di pramuka, dan sesekali memerhatikan saya, wah lha kok kak Widodo itu kalau di UKM Pramuka Unnes jebule galak dan tegas temen. Ia bilang takut sama saya…haha (nyakot po?!!).

Akhirnya, pada awal 2008, sempat juga janjian bertemu setelah saya pulang dari kampus. Menjelang maghrib itu, saya disuguhi buah klengkeng, wah enak tenan ini. Ini perjumpaan pertama kali, jadi sungkan juga menikmati klengkeng suguhan sore itu (batin saya : rejeki ini..haha). Dan terakhir Ia meminta tolong dicarikan Pembina pramuka di tempat Ia mengajar (kalau tidak salah MTs negeri 2 semarang). Maka, segara saya hubungi teman-teman di racana yang berminat membantu, dan dapatlah saya 2 orang Pembina. Dan komunikasi itu berjalan hingga kini, meski jarang.

Lha, sms keblasuk atau mblasuk makin lama semakin aneh. 2008 pertengahan, lagi-lagi ada sms miscall masuk berkali-kali. Miscall saya jawab juga, dengan miscall, eh lha kok terus saya di sms “kok miscall, miscall sih, salah sambung?” . We e’ e’ e’…, saya yang pertama dimiscall kok aku sing diarani menghubungi dulu…(dadi ngguyu dewe). Lha terus akhirnya dapat temen lagi, sekarang yang ini namanya Nani.

Nani dari Brebes (Jatibarang) kuliah di LP3I tegal. Nah dia ini yang paling sering sms saya (eh tidak sering, seminggu sekali), dia yang sering ngebel alias menelepon. Suaranya masih bening dan khas Mbrebes (eh Brebes). Begitulah ukhti muda yang baru semester 2 ini (perFebruari 2009). Katanya, Ia seneng juga kalau dengan suara saya..haha. Kalau sms kadang tidak pAndang waktu, bisa tengah malam, atau pagi sekali. Salutnya, Nani kuliah plus sambil kerja, tapi saya tak tau kerja apa (dia tak mau ngaku).

Kalau ngobrol kepada para ukhti-ukhti (termasuk Mamak saya sendiri), mesti saya yang kurang bahan obrolan. Palign sering malah saya minta “hayo mau tanya apa lagi, mau ngobrol apa lagi?”. Si Nani juga kalau sms atau nelpon, coba mengerti juga karena mesti tanya “nggak ngganggu kan Mas?”.

Suatu sore dia nelpon, bertanya tentang seseorang yang bernama Ali. “Ali siapa lengkapnya, dari mana?” tanya saya. “dari Tegal, Bagus Ali atau Tubagus Ali, pokoknya panggilannya Ali, pernah ketemu waktu aku ngantar kakak ke pengajian”. Oh, ada itu Ali, Tubagus Ali Masykur, orang Tegal memang kenal bahkan satu kos, Ali mahasiswa Ekonomi (Manajemen), sekarng orangnya dirumah, nanti saya akan beritahu dia kalau ada teman dari Brebes (desanya Nani berbatasan dengan desanya Ali) yang menanyakannya. Kesimpulannya, insyaAlloh saya tidak salah bahwa yang dimaksud adalah Tubagus Ali Masykur teman satu kos di Semarang.

Sejak akhir Februari ini, [maaf] teleponnya tak saya jawab, apa pasal? Suatu ketika saya tanya nama lengkapnya. Ia tak mau mengaku, terpaksa saya menyampaikan, kalau tdak mau terus terang ya telepon ataupun sms darinya tak saya jawab. Sudah beberapa kali Ia mencoba menghubungi (hingga minggu ini, 15 Maret), pun kudiamkan. Kutunggu keterusteranganmu… (jawab via sms saja).

Para pembaca budiman, satu lagi yang berkesan bagi saya. Dai dari Brebes, ada cerita yang agak panjang dan ingin saya sampaikan, sebenarnya telah disiapkan sedemikian rupa. Namun, terpaksa ditunda dikemas dalam tulisan ini, mengingat ada kesalahpahaman antara saya dan Dai. mohon dimaafkan ya...Dai. dan kini tulisan ini saya tambahi Alhamdulillah 17 Maret'09 kami sudah baikan lagi...makasih ya Dai...terima kasih.

Makna Dibalik Semua
Teman-teman, tahukah sudah berkali-kali kuterima pesan via sms/phone/miscall, yang dikenal hingga tak kenal sIapa pengirimnya. Ada yang sekadar “menjahili”, menggoda dengan cAnda, serius, atau main-main saja. Entah berapa kali phone masuk, sudah mengobrol panjang lebar namun ternyata identitas penelepon “private number/no number” (yang ini tetap kita hargai juga). Lalu, bagaimana jika Anda jadi saya.

Kali lain di pertengahan 2007, ada pula yang berkirim sms “saya berterima kasih kepada mas wid, namun saya benar-benar kecewa pada Anda”, saya berusaha menahan diri dengan sms seperti ini. Tetap kubalas dengan segenap permohonan maaf, pada bagian manakah aku mengecewakannya?

Teman, sahabat, kakak-kakak dimanapun berada....kali ini tulisan ini terkesan lebih ringan. Hari saya belajar: Siapapun yang berkirim sms atau menelepon Anda, maka terimalah dengan lapang hati, meski Anda tak mengenalnya (meski salah sambung), hari itu satu lagi kita telah membuat orang lain senang dan merasa diperhatikan. Tak ingin melepaskan seorang teman satu pun, sebab “teman itu ibarat uang, sulit dicari tapi sering lebih mudah dibuang”. Dengan sms, awalnya miscall atau calling salah sambung, terkadang telah membantu kita.

Saya telah membuktikannya “berawal dari sms guyonan buat seorang teman lama (dulu teman kuliah), menjadikan kami begitu dekat, dalam hubungan yang memotivasi dan mencerahkan”. Senang jika ada teman mendoakan kita melalui sms-nya, dan itu yang dilakukan Dai dan beberapa kawan.

Dalam setiap jawaban sms bagi orang yang belum mengenal, saya tuliskan >widodo. Sehingga saya masih bingung, mengapa mereka tak pernah mengaku siapa nama lengkapnya? Apakah Anda tak meyakini kebaikan nama Anda sendiri…hem.

Barangkali, nanti teman-teman yang kulino baca tulisan di blog ini akan banyak berkomentar, saya senang menerimanya dan berusaha mengerti. Komunikasi dengan bentuk apapun berusaha dijawab, saya tak ingin mengecewakan Anda. Terima kasih buat teman-teman studi yang telah beriuran mengongkosi Hp saya, dan senior-senior saya dikampus yang tanpa terduga mengirim pulsa.

Saya tunggu dengan lapang dada, silakan coba kirimkan sms atau kontak telepon bahkan miscall saja, saya telah terbiasa menerimanya.


oleh: widodo

Selasa, Maret 17, 2009

"Lapar" untuk "Hidup"


by wid


Ada banyak dari kita (mahasiswa) yang tinggal di kos-kosan. Mengisi hari-hari di kos, kampus, perpustakaan, nyambi kerja, dan wahana kehidupan lainnya.

Tahukah, kadang kami bosan tinggal di kos. Menahan kesenangan hidup bagi mereka yang mengirit karena sangu dari Simbok yang amat sangat terbatas sekali atau memang pola hidup sederhana. Mencoba mengatur strategi bahwa tidak setiap hari tidak hanya bertemu buku-buku dan tumpukan jurnal yang mesti dianalisis dan dipelajari.

Mengatur rencana agar tidak setiap hari menu makannya nasi rames, gorengan 2, plus es teh (paling banter tambah telur ceplok), ya 3500 rupiah. Mengagendakan setiap akhir pekan bisa makan dengan lauk daging ayam atau bandeng presto. Juga sering menahan diri dengan minum air putih saja daripada minum es jeruk favorit [alibinya biar tetap sehat]. Lebih tenteram lagi kalau makan ada yang mbayari…hehe ngarep-arep, atau ikut suatu acara nonprofit (seminar, diskusi, rapat) namun dapat makan gratis. Pengin juga sekali-kali dalam sebulan bisa makan kue bandung atau semangkuk Bakso Ragil Wonogiri dari bumbung uang sendiri. Tahukah anda, berapa kali seorang mahasiswa adakalanya menyedu mie instan sekali dalam sehari untuk memenuhi hajat perut ini. Dan berapa kali harus titip teman ke warung membelikan nasi rames tanpa lauk khusus (mendoan goreng, ayam goreng, pindang, dll), karena kadang agak malu juga kalau ke warung cuma njajan nasi 1500 perak.

Mengatur rencana agar paling tidak setiap bulan bisa beli 3 buku, jadi harus menyisihkan duit, ngirit lagi. Melatih diri dalam bahasa dan bertutur untuk meloby tukang photocopy agar memberi korting 1000 atau 500 rupiah. Menutup rapat kantong celana agar beberapa kali bisa ke warnet agar beberapa kali dalam sebulan bisa mencari bahan tugas dan mengecek email dan blog. Syukur…syukur ada teman yang menawari ngenet gratis di warnetnya.

Menahan diri untuk tidak mandi terlalu sering bahkan hanya 1 kali sehari. Bukan jorok atau malas, tak lain agar tak memboroskan sabun dan shampo. Menahan diri untuk mengatur waktu nyuci baju agar tak memboroskan detergen, plus hemat air (karena pramuka mesti hemat air…hehe). Menahan diri agar tak sering-sering menyemir sepatu, agar hemat semir. Tentu anda tahu, karena pasti semua butuh duit untuk beli.

Berapa kali seorang mahasiswa membiarkan sepatu jebat alias butut, mengejek sandal sendiri yang alasnya sudah megap-megap, atau celana kolor mulai semriwing karena tak ada celana baru. Terkadang menyibukkan diri untuk ndondomi sendiri (menjahit tangan) celana dalam, seprei, dan kaos singlet. Menahan rasa malu tetap memakai kaos oblong, kaos olahraga SMA masa 5 tahun lalu sebagai pakaian harian di kos, yang kini hampir menjadi kain lap. Dan agak menyedihkan, kaos kesayangan rela menjadi kain pel karena sobek menganga di bagian punggungnya.

Betapa mesti rela untuk tetap memakai sarung 9 tahun lalu, yang jahitannya mulai goyah dan warnanya pudar, untuk menutup aurat ini tatkala shalat. Tahukah, banyak mahasiswa yang mungkin rela melakukannya bertahun-tahun.

Mereka yang melakukannya tidaklah menangis depan anda, mereka menahan dalam batin dan mengelus dada di tempat sepi atau di kamar kosnyada dalam setiap doanya. Mereka tidak menceritakan pada Mak-Bapak, agar keduanya tak sedih atau trenyuh betapa buah hatinya begitu prihatin. Meski sang ibu setiap melihat anaknya pulang ke rumah sebulan sekali selalu komentar “kowe kok katon kuru, gering!”, hanya jawaban penggoda buat yang bertanya “kuru? Kurukan daging Mak…hehe, nang kono kan ra ono sing ngurusi…hehe”. Bagaimanapun orangtua -apalagi Ibu- tetap peka dengan kondisi anaknya. Tatkala nun jauh di sana si anak sakit, tiba-tiba HP butut berdering, mereka tahu ada yang tak beres. Orangtua ingin anaknya tercukupi, namun hatipun ini tak tega, biarlah kami tahan.

Alhamdulillah bagi mereka yang mengikuti Rasullulah dan yang berjiwa pramuka, membiasakan diri untuk sederhana dan bersahaja tanpa memaksakan diri untuk menuntut pemenuhan kesenangannya. Berpramuka tak perlu ada agenda khusus untuk berekreasi ke tempat wisata, sebab dengan berpramuka, sudah refreshing tersendiri, bisa bermain, belajar, dan berkarya. Meski mengikuti berpramuka relative tak lagi murah, itu sih masih bisa disiasati.

Cerita ini belum berakhir…

by:widodo

Amplop-amplop itu sebagai Saksi


oleh: widodo

Kumasukkan ke dalam tas, secarik pembungkus dari kertas putih yang salah satu sisinya direkatkan, amplop. Adakalanya amplop dibiarkan terbuka tanpa direkatkan lem. Amplop yang berisi, isi yang berarti. Amplop yang membuat penasaran, apa isinya? Mungkin surat, namun nyatanya lembaran kertas yang bisa dibelanjakanlah yang lebih sering diharapkan.

Suatu sore yang belum gelap, ku terawang amplop di bawah sinar mentari, benarlah ada isinya. Berapa? Kutahan penasaranku hingga usai shalat maghrib, kuambil gunting, kukira-kira mana bagian yang digunting agar isinya tak sampai teriris. Aha, didalamnya 1 lembar kertas bergambar “Dwi Proklamator”. Alhamdulillah, semoga ini rezeki.

Melukiskan perasaanya ini begitu sulit, begitukah setiap ada amplop yang sengaja diberikan dan diterima. Campur aduk antara sungkan, enggan, dan malu-malu untuk diterima sehingga seringkali si pemberi memasukkannya ke dalam saku baju atau kantong tas dengan sedikit memaksa.

Paling asyik, dag dig dug tentu saat akan membuka amplopnya. Diintap-intip, diterawang, atau dikipas-kipaskan.

Kadang ada rasa mengharap juga, meski bukan harus, saya pikir ini wajar saja. Saat purna sebuah agenda kegiatan, kepanitiaan, pemateri, sering ada saja yang menyodorkan amplop dan beberapa berkas untuk ditanda tangani sebagai tanda terima.

Adakalanya teman-teman pramuka atau suatu organisasi mengundang untuk bercerita, usai acara dan hendak pulang panitia sedikit menahan saya untuk sekadar menyodorkan selembar amplop. Adalah benar, kadang saya menolaknya, mengapa? Saya khawatir nanti dianggap pasang tariff, saya khawatir mereka tak mengundang saya lagi karena kalau sampai mereka berasumsi bahwa saya mesti dibayar. Teman-teman, saya memang butuh uang, tetapi dengan di undang saja untuk membagi sedikit yang saya punya itupun sudah senang, lebih lagi sebagai sangu saya buat ke akhirat nanti.

Senangnya saat kembali ke kos, tak hanya mengantongi selembar amplop (yang pasti ada isinya), plus nasi kotak yang oleh teman dari Tegal menyebutnya sega “Tok”. Merasa, kadang seperti Bapak pulang kerja atau habis dari luar kota, dan anak-anak minta oleh-oleh.

Teman-teman yang bukan pramuka, namun betapa hormatnya mereka kepada sosok pramuka. Dengan tak sungkan menawarkan “Pak, motorku wae sing digawa, aku ora nyandi-nyandi!” atau “Pak pan nyandi, opo tak ter aring ngendi”. Hem, trenyuh saya, terharu saya, betapa mereka bisa mengerti kesulitan saya.

Tahukah Anda , bahwa saya mesti ngirit, agar bisa beli buku, buku yang akhir-akhir ini mengikuti gejolak krisis sehingga semakin mahal. Saya mesti hemat, agar selamat dalam berkhidmat setiap harinya. Menahan diri untuk makan 1 kali sehari saja meski belum tentu puasa, atau membohongi diri sendiri bahwa lambung dan usus sebenarnya sudah berdemo dan melilit panas (hahaha…itu dulu, sekarang? Tetep..hehe). Ataukah ketika awal kuliah saya di S1 dulu, setiap makan berpedoman pada PMDK (prinsip makan dua kali). Menahan kesenangan pribadi yang biasa dinikmati mahasiswa pada umumnya, nanti demi bisa mengadakan sesuatu yang lebih penting.

Adalah suatu harapan, setumpuk kesulitan ini dapat “terbayar” dengan kebaikan dan nikmat dari Alloh yang semakin melimpah suatu saat. Berakit-rakit dahulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian. Sesungguhnya di dalam kesulitan, ada kemudahan. Amplop-amplop itu menjadi saksi bisu dalam hidup, saksi dalam perjuangan, saksi dalam menahan rasa sakit dan lapar.

Dan, hari ini Minggu-15 Maret 2009, saat amplop kesekian kalinya telah dibuka lagi. Isinya kuintip pelan-pelan dan 2 lembaran “I Gusti Ngurah Rai” itu masih di sana, belum buat jajan, tapi suatu saat pasti habis juga.

Senin, Maret 16, 2009

Sedikit Kisah tentang Polah Mahasiswa; part 1


oleh: Kak Widodo

Tengoklah, pincingkan sedikit kelopak mata unutk melihat apa yang terjadi pada teman-teman kita dan anak-anak Anda, bagaimana mereka menghabiskan waktunya dalam keseharian di sana, di kampusnya, di kos-kosan mereka.

Saksikan bahwa modus dan gaya pacaran mahasiswa begitu berbeda. Virus cinta memang bisa menyerang siapa saja. Dulu ketika kunjungan si cowok cukup pada malam minggu ke kos ceweknya, lalu sekadar makan malam. Kini tak lagi selalu begitu, si cewek yang diajak [atau malah yang mengajak] ke kos cowoknya [pacarnya]. Menghabiskan malam-malam di dalam kamar, menutup rapat pintu kamar, lalu kalau sudah demikian bagaimana kelanjutannya? Silakan menduga. Berapa kali saya sampai jengah ketika harus melaporkan teman 1 kos sendiri kepada Pak Kos bahwa ada teman yang ngamar dengan sang pacar, nginep di kosan bersama.

Waktu kunjung kos -cowok ke kos cewek dan sebaliknya- sekitar 4 tahun lalu masih dibatasi sampai jam 9 malam, kini jam-jam itu seperti kehabisan daya batre. Sehingga terlewatilah masa kunjung menjadi jam 21.30 atau jam 22.00 bahkan tengah malam. Di manakah fungsi kendali sosial dari masyarakat, punggawa RT RW atau lurah apalagi tokoh agama. Setiap shalat jumat, masjid juga dipenuhi khalayak, namun mengapa setiap malam juga sebagian jamaah itu pindah ke kos-kos bermesum. Berapa kalikah Anda melihat, kalau mahasiswa cewek boncengan dengan sang pacar seperti manjat pohon kelapa.

Kalau anda sebagai orangtua setiap minggu atau sewaktu-waktu mentransfer uang ke ATM si anak tersayang, pernahkah anda bertanya bagaimana peruntukan uang itu? Seberapa sering menanyakannya? Ataukah anda percaya begitu saja? Tak jarang terjadi, uang hanya untuk memenuhi Hp dengan pulsa guna komunikasi berjam-jam dengan sang doi belaka. Seberapa persenkah uang itu untuk kepentingan pengerjaan tugas kuliah daripada untuk menghabiskan tariff chatting, atau komunikasi di kancah friendster hingga larut malam atau pagi buta.

Apakah sebagai orangtua telah merasa puas tatkala anak-anaknya telah mencapai Indeks prestasi (IP) yang terpuji mendekati IP 4, ataukah merasa senang bahwa ketika mereka pulang ke rumah sudah diantar sang pacar. Kadang agak bingung juga menyaksikan bahwa sang pacar seringnya hanya menjadi tukang ojek atau teman shopping.

Mahasiswa yang dengan alasan lembur, lalu setiap bangun tidur mesti melewati di atas angka jam 7. Sibuk menumpuk pakaian kotornya di pojok kamar, lalu dengan alasan sibuk akhirnya cukup ke jasa laundry. Pernah beberapa kali ngguyoni kawan ketika ia sedang mencuci motor sang pacar ”lho sekarang pacar jadi tukang cuci motor to…hehe?”, atau ketika seorang teman sedang mencuci pakaiannya padahal saat itu sang pacar juga berkunjung di kos –komentar saya ”lho, kalau punya pacar tapi masih nyuci baju sendiri, nyetrika sendiri, terus pacarmu nggo opo?!”. Ya, pengungkapan saya barangkali terlalu kasar, namun batin ini serasa gondok.

Siapa bilang kalau hanya kos cowok yang lebih jorok daripada kos cewek? Tidak selalu, berapa kali membuktikan di kos putri bahwa tisu, sepatu, sampah, sandal, bak, ember, daun-daun, gelas, dan piring berserakan tak karuan di depan kamar pada calon ilmuwan, calon guru, calon pemimpin.

Apakah selalu bahwa yang doyan blue film (untuk menyebut secara halus film porno) adalah para mahasiswa lelaki? Tidak juga. Berapa kali saya berwawancara atau bahkan pengakuan mereka sendiri bahwa mahasiswa perempuan juga sama saja, bahkan bisa lebih dari itu.

Banyak pergeseran dan peri pergaulan di kampus-kampus, maka sebaiknya tak menyangsikan jika ada pernyataan bahwa mahasiswa perempuan di Semarang 80% diantaranya berpacaran dan sudah tidak perawan lagi.

Tahukah anda, apa yang dapat saya lakukan? setidak-tidaknya saya tak melakukan apa yang mereka lakukan.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!