
by wid
Ada banyak dari kita (mahasiswa) yang tinggal di kos-kosan. Mengisi hari-hari di kos, kampus, perpustakaan, nyambi kerja, dan wahana kehidupan lainnya.
Tahukah, kadang kami bosan tinggal di kos. Menahan kesenangan hidup bagi mereka yang mengirit karena sangu dari Simbok yang amat sangat terbatas sekali atau memang pola hidup sederhana. Mencoba mengatur strategi bahwa tidak setiap hari tidak hanya bertemu buku-buku dan tumpukan jurnal yang mesti dianalisis dan dipelajari.
Mengatur rencana agar tidak setiap hari menu makannya nasi rames, gorengan 2, plus es teh (paling banter tambah telur ceplok), ya 3500 rupiah. Mengagendakan setiap akhir pekan bisa makan dengan lauk daging ayam atau bandeng presto. Juga sering menahan diri dengan minum air putih saja daripada minum es jeruk favorit [alibinya biar tetap sehat]. Lebih tenteram lagi kalau makan ada yang mbayari…hehe ngarep-arep, atau ikut suatu acara nonprofit (seminar, diskusi, rapat) namun dapat makan gratis. Pengin juga sekali-kali dalam sebulan bisa makan kue bandung atau semangkuk Bakso Ragil Wonogiri dari bumbung uang sendiri. Tahukah anda, berapa kali seorang mahasiswa adakalanya menyedu mie instan sekali dalam sehari untuk memenuhi hajat perut ini. Dan berapa kali harus titip teman ke warung membelikan nasi rames tanpa lauk khusus (mendoan goreng, ayam goreng, pindang, dll), karena kadang agak malu juga kalau ke warung cuma njajan nasi 1500 perak.
Mengatur rencana agar paling tidak setiap bulan bisa beli 3 buku, jadi harus menyisihkan duit, ngirit lagi. Melatih diri dalam bahasa dan bertutur untuk meloby tukang photocopy agar memberi korting 1000 atau 500 rupiah. Menutup rapat kantong celana agar beberapa kali bisa ke warnet agar beberapa kali dalam sebulan bisa mencari bahan tugas dan mengecek email dan blog. Syukur…syukur ada teman yang menawari ngenet gratis di warnetnya.
Menahan diri untuk tidak mandi terlalu sering bahkan hanya 1 kali sehari. Bukan jorok atau malas, tak lain agar tak memboroskan sabun dan shampo. Menahan diri untuk mengatur waktu nyuci baju agar tak memboroskan detergen, plus hemat air (karena pramuka mesti hemat air…hehe). Menahan diri agar tak sering-sering menyemir sepatu, agar hemat semir. Tentu anda tahu, karena pasti semua butuh duit untuk beli.
Berapa kali seorang mahasiswa membiarkan sepatu jebat alias butut, mengejek sandal sendiri yang alasnya sudah megap-megap, atau celana kolor mulai semriwing karena tak ada celana baru. Terkadang menyibukkan diri untuk ndondomi sendiri (menjahit tangan) celana dalam, seprei, dan kaos singlet. Menahan rasa malu tetap memakai kaos oblong, kaos olahraga SMA masa 5 tahun lalu sebagai pakaian harian di kos, yang kini hampir menjadi kain lap. Dan agak menyedihkan, kaos kesayangan rela menjadi kain pel karena sobek menganga di bagian punggungnya.
Betapa mesti rela untuk tetap memakai sarung 9 tahun lalu, yang jahitannya mulai goyah dan warnanya pudar, untuk menutup aurat ini tatkala shalat. Tahukah, banyak mahasiswa yang mungkin rela melakukannya bertahun-tahun.
Mereka yang melakukannya tidaklah menangis depan anda, mereka menahan dalam batin dan mengelus dada di tempat sepi atau di kamar kosnyada dalam setiap doanya. Mereka tidak menceritakan pada Mak-Bapak, agar keduanya tak sedih atau trenyuh betapa buah hatinya begitu prihatin. Meski sang ibu setiap melihat anaknya pulang ke rumah sebulan sekali selalu komentar “kowe kok katon kuru, gering!”, hanya jawaban penggoda buat yang bertanya “kuru? Kurukan daging Mak…hehe, nang kono kan ra ono sing ngurusi…hehe”. Bagaimanapun orangtua -apalagi Ibu- tetap peka dengan kondisi anaknya. Tatkala nun jauh di sana si anak sakit, tiba-tiba HP butut berdering, mereka tahu ada yang tak beres. Orangtua ingin anaknya tercukupi, namun hatipun ini tak tega, biarlah kami tahan.
Alhamdulillah bagi mereka yang mengikuti Rasullulah dan yang berjiwa pramuka, membiasakan diri untuk sederhana dan bersahaja tanpa memaksakan diri untuk menuntut pemenuhan kesenangannya. Berpramuka tak perlu ada agenda khusus untuk berekreasi ke tempat wisata, sebab dengan berpramuka, sudah refreshing tersendiri, bisa bermain, belajar, dan berkarya. Meski mengikuti berpramuka relative tak lagi murah, itu sih masih bisa disiasati.
Cerita ini belum berakhir…
by:widodo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar