
Adakalanya, teman itu ibarat uang, susah dicari tapi mudah dibuang padahal kita tak menyadarinya!
Meski kadang, kita hanya jadi tempat “pelarian”, tapi jangan sia-siakan orang-orang yang telah dekat…
Bagaimanakah Anda rasa Anda tatkala sebuah sms atau calling tak terduga kepada Anda? HP yang berdering tanpa identitas jelas. Heran? marah? Bête? Senyum? Benci? Muak? Lalu membalasnya dengan bersemangat ataukah balik Tanya “siapa sih elu?”, mendiamkannya? atau malah menghapusnya? Itulah yang Anda rasakan, dan ini sedikit cerita dari saya.
Ada yang ngguyokke, entah berapa kali saya beroleh teman dari proses yang tak disengaja.
Dengan SMS (short message service) masuk tanpa dinyana, kita dapat nomor hp baru plus kenalan baru. Pernah suatu kali, sekitar tahun 2006, ada sms masuk yang intinya yang bersangkutan minta saran bagaimana agar usahanya dalam bisnis kertas lancar. Ia mengaku bernama Mas Sulhadi dari kudus. Dengan filosofi bahwa saya tak ingin memutus harapan mereka yang datang pada saya, maka sms atau telpon itu tetap saya jawab. Kali ini saya hanya dapat menyarankan kepada Mas Sulhadi supaya sabar dan tawakal.
Begitulah saya kenal lewat sms, dan beberapa kali pula Mas Sulhadi menghubungi saya. Ia minta saran dan pendapat, serta pastinya menanyakan kabar saya. Menariknya, Ia sejak awal memanggil saya dengan sebutan Syech, wah wah sejak kapan saya mlebu pesantren (memang ndak pernah) atau keturunan Alim Ulama. Saya jadi ketawa sendiri dalam hati.
Hingga komunikasi itu mandeg karena suatu ketika Mas Sulhadi sms saya “Syech, kapan ada pengajIan lagi, saya ingin ikut pengajIan syech lagi?”, ketika menerima sms itu saya melongo, benar-benar bengong. Akhirnya saya beranikan diri, “barangkali selama ini, saya bukan orang yang panjenengan maksudkan, saya widodo (padahal sejak sms pertama kali saya tuliskan–widodo-). Saya lupa persisnya tanggal bulan berapa sms terakhir, yang pasti sejak saya tegaskan bahwa saya bukan syech, maka sejak itu komunikasi mandeg total.
Suatu senja usai Ashar, ada lagi seseorang yang ujug-ujug makbedunduk meng-sms saya, “bahwa Ia kesulitan dalam urusan pertemanan, “maukah Anda menjadi teman saya?” dr Yani. “oh tentu saja Mbak Yani, saya widodo”. Ia berasal dari Kudus, bekerja sebagai penjahit berusIa muda belIa (23 tahun). Obrolan lewat sms itu berlanjut, namun tak sampai ada kontak telepon. Mbak Yani beberapa kali juga mengisahkan hubungan asmaranya yang pasang surut. Pernah Ia cerita, Ia sedang suka seorang prIa, namun Mbak Yani ragu apakah lelaki itu orang baik. Pernah pula Ia cerita, suka seseorang, namun lelaki itu adalah pacar teman kerjanya, tapi nampaknya si lelaki sering melirik dirinya juga (Wah, saya seperti biro konsultasi jodoh plus teman curhat).
Komunikasi lewat sms itu tak selalu berjalan mulus, jika saya tidak segera membalas sms Mbak Yani buru-buru nyebut saya tidak mau berteman dengan orang yang bukan anak kulIahan dan hanya penjahit. Saya mencoba mendinginkan suasana, bahwa saya sedang ini dan itu dan belum sempat membalasnya, kalau saya pilih-pilih teman atas dasar pendidikan rendah-tinggi, tentu saya sudah menolak menjawab sms itu sejak sms pertama(bisa saja langsung membalas “Anda salah sambung, atau apalah”), kenyataannya saya tak melakukannya.
Dan akhirnya, komunikasi itu berhenti ketika Ia mengaku bahwa nama aslinya bukan Yani tapi Riyanti. Ia ingin mengetes, apakah anak kulIahan mau berteman dengannya. Saya memang agak mengernyitkan dahi, wah lha kok begini!?. Sms itu masih berjalan, hingga akhirnya berhenti ketika Ia masih saja berulang-ulang mengungkit tentang status pendidikan saya dan dirinya. Saya katakan “tolonglah mbak, sebaiknya kembangkan sikap positif dalam diri Mbak, sudha berapa kali Mbak mengungkit-ungkit soal itu, bahwa saya masih mau membalas sms itu sampai kapanpun”. Sejak itu sms itu pun paripuna, namun lebaran kemarin 3 Oktober saya kirimi ucapan Idul Fitri. Alhamdulillah sms saya dijawab (Terima kasih mbak Yani, eh mbak Riyanti).
Sekitar 2006, ada lagi yang mengirimi sms, ngakunya sih namanya Tatik dari Kediri (dan sebenarnya Mbak Tatik dari Rembang, sama-sama wisudawan 2007) . Ia kulIah sambil bekerja dan sms pertamanya kurang lebih “maukah Anda menjadi teman saya - tatik)”. Akhirnya komunikasi kami jalan vIa sms, bahkan suatu ketika Ia menelepon saya, obrolan yang cukup lama hampir satu jam (ya baru kali itu saya dapat bel hampir 1 jam lamanya). Lama-lama Ia ngaku juga setelah melihat saya. Lho, kok sudah melihat dan bertemu saya? Ya bisa sebab, dIa mahasiswa Unnes dari prodi Sastra Jawa FBS. Ia juga tahu saya aktif di pramuka, dan sesekali memerhatikan saya, wah lha kok kak Widodo itu kalau di UKM Pramuka Unnes jebule galak dan tegas temen. Ia bilang takut sama saya…haha (nyakot po?!!).
Akhirnya, pada awal 2008, sempat juga janjian bertemu setelah saya pulang dari kampus. Menjelang maghrib itu, saya disuguhi buah klengkeng, wah enak tenan ini. Ini perjumpaan pertama kali, jadi sungkan juga menikmati klengkeng suguhan sore itu (batin saya : rejeki ini..haha). Dan terakhir Ia meminta tolong dicarikan Pembina pramuka di tempat Ia mengajar (kalau tidak salah MTs negeri 2 semarang). Maka, segara saya hubungi teman-teman di racana yang berminat membantu, dan dapatlah saya 2 orang Pembina. Dan komunikasi itu berjalan hingga kini, meski jarang.
Lha, sms keblasuk atau mblasuk makin lama semakin aneh. 2008 pertengahan, lagi-lagi ada sms miscall masuk berkali-kali. Miscall saya jawab juga, dengan miscall, eh lha kok terus saya di sms “kok miscall, miscall sih, salah sambung?” . We e’ e’ e’…, saya yang pertama dimiscall kok aku sing diarani menghubungi dulu…(dadi ngguyu dewe). Lha terus akhirnya dapat temen lagi, sekarang yang ini namanya Nani.
Nani dari Brebes (Jatibarang) kuliah di LP3I tegal. Nah dia ini yang paling sering sms saya (eh tidak sering, seminggu sekali), dia yang sering ngebel alias menelepon. Suaranya masih bening dan khas Mbrebes (eh Brebes). Begitulah ukhti muda yang baru semester 2 ini (perFebruari 2009). Katanya, Ia seneng juga kalau dengan suara saya..haha. Kalau sms kadang tidak pAndang waktu, bisa tengah malam, atau pagi sekali. Salutnya, Nani kuliah plus sambil kerja, tapi saya tak tau kerja apa (dia tak mau ngaku).
Kalau ngobrol kepada para ukhti-ukhti (termasuk Mamak saya sendiri), mesti saya yang kurang bahan obrolan. Palign sering malah saya minta “hayo mau tanya apa lagi, mau ngobrol apa lagi?”. Si Nani juga kalau sms atau nelpon, coba mengerti juga karena mesti tanya “nggak ngganggu kan Mas?”.
Suatu sore dia nelpon, bertanya tentang seseorang yang bernama Ali. “Ali siapa lengkapnya, dari mana?” tanya saya. “dari Tegal, Bagus Ali atau Tubagus Ali, pokoknya panggilannya Ali, pernah ketemu waktu aku ngantar kakak ke pengajian”. Oh, ada itu Ali, Tubagus Ali Masykur, orang Tegal memang kenal bahkan satu kos, Ali mahasiswa Ekonomi (Manajemen), sekarng orangnya dirumah, nanti saya akan beritahu dia kalau ada teman dari Brebes (desanya Nani berbatasan dengan desanya Ali) yang menanyakannya. Kesimpulannya, insyaAlloh saya tidak salah bahwa yang dimaksud adalah Tubagus Ali Masykur teman satu kos di Semarang.
Sejak akhir Februari ini, [maaf] teleponnya tak saya jawab, apa pasal? Suatu ketika saya tanya nama lengkapnya. Ia tak mau mengaku, terpaksa saya menyampaikan, kalau tdak mau terus terang ya telepon ataupun sms darinya tak saya jawab. Sudah beberapa kali Ia mencoba menghubungi (hingga minggu ini, 15 Maret), pun kudiamkan. Kutunggu keterusteranganmu… (jawab via sms saja).
Para pembaca budiman, satu lagi yang berkesan bagi saya. Dai dari Brebes, ada cerita yang agak panjang dan ingin saya sampaikan, sebenarnya telah disiapkan sedemikian rupa. Namun, terpaksa ditunda dikemas dalam tulisan ini, mengingat ada kesalahpahaman antara saya dan Dai. mohon dimaafkan ya...Dai. dan kini tulisan ini saya tambahi Alhamdulillah 17 Maret'09 kami sudah baikan lagi...makasih ya Dai...terima kasih.
Makna Dibalik Semua
Teman-teman, tahukah sudah berkali-kali kuterima pesan via sms/phone/miscall, yang dikenal hingga tak kenal sIapa pengirimnya. Ada yang sekadar “menjahili”, menggoda dengan cAnda, serius, atau main-main saja. Entah berapa kali phone masuk, sudah mengobrol panjang lebar namun ternyata identitas penelepon “private number/no number” (yang ini tetap kita hargai juga). Lalu, bagaimana jika Anda jadi saya.
Kali lain di pertengahan 2007, ada pula yang berkirim sms “saya berterima kasih kepada mas wid, namun saya benar-benar kecewa pada Anda”, saya berusaha menahan diri dengan sms seperti ini. Tetap kubalas dengan segenap permohonan maaf, pada bagian manakah aku mengecewakannya?
Teman, sahabat, kakak-kakak dimanapun berada....kali ini tulisan ini terkesan lebih ringan. Hari saya belajar: Siapapun yang berkirim sms atau menelepon Anda, maka terimalah dengan lapang hati, meski Anda tak mengenalnya (meski salah sambung), hari itu satu lagi kita telah membuat orang lain senang dan merasa diperhatikan. Tak ingin melepaskan seorang teman satu pun, sebab “teman itu ibarat uang, sulit dicari tapi sering lebih mudah dibuang”. Dengan sms, awalnya miscall atau calling salah sambung, terkadang telah membantu kita.
Saya telah membuktikannya “berawal dari sms guyonan buat seorang teman lama (dulu teman kuliah), menjadikan kami begitu dekat, dalam hubungan yang memotivasi dan mencerahkan”. Senang jika ada teman mendoakan kita melalui sms-nya, dan itu yang dilakukan Dai dan beberapa kawan.
Dalam setiap jawaban sms bagi orang yang belum mengenal, saya tuliskan >widodo. Sehingga saya masih bingung, mengapa mereka tak pernah mengaku siapa nama lengkapnya? Apakah Anda tak meyakini kebaikan nama Anda sendiri…hem.
Barangkali, nanti teman-teman yang kulino baca tulisan di blog ini akan banyak berkomentar, saya senang menerimanya dan berusaha mengerti. Komunikasi dengan bentuk apapun berusaha dijawab, saya tak ingin mengecewakan Anda. Terima kasih buat teman-teman studi yang telah beriuran mengongkosi Hp saya, dan senior-senior saya dikampus yang tanpa terduga mengirim pulsa.
Saya tunggu dengan lapang dada, silakan coba kirimkan sms atau kontak telepon bahkan miscall saja, saya telah terbiasa menerimanya.
oleh: widodo
