Kamis, Juni 04, 2009

Review "Cooperative Learning; Teori, Riset, dan Praktik"

Rata Penuh
Buku II : Cooperative Learning; Teori, Riset, dan Praktik
Judul asli : Cooperative Learning: theory, research and practice (London:
Allymand Bacon, 2005)
Pengarang : Robert E. Slavin
Penerjemah : Nurulita Yusron
Penyunting : Dr. Zubaedi
Penerbit : Nusa Media
Tebal buku : x, 348 halaman
Tahun terbit : Januari, 2008.


Sudah banyak penelitian terapan tentang Cooperative Learning yang dilaksanakan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, terutama oleh mahasiswa. Beberapa diantaranya dikaji dalam penelitian untuk skripsi.

Kelemahan: Cooperative Learning membutuhkan komponen khusus, yaitu guru yang benar-benar “spesial” (kreatif), sebab ia akan mengontrol dan mengarahkan sistem belajar dalam kelompok-kelompok belajar siswa di kelas untuk memecahkan suatu permasalahan.

Cooperative Learning berpotensi hanya mengaktifkan beberapa orang saja dalam suatu kelompok, sementara yang lain pasif mengunggu jawaban dari teman-temannya. Siswa yang kurang mampu dalam “kecerdasan kognitif” dapat terabaikan.

Ruang kelas yang memadai menjadi salah satu prasayarat utama yang tidak dapat ditawar-tawar lagi keberadaannya. Ruang yang luas, kedap suara, media presentasi yang cukup/representatif, penataan meja dan kursi yang membangkitkan semangat belajar dan berinteraksi. Di sinilah tampak kesenjangan dengan keadaan sekolah-sekolah kita (di Indonesia), berani kita katakan bahwa bangunan sekolah banyak yang kurang memadai, sebagian sekolah yang kurang memenuhi unsur “safety” bagaimana mungkin dapat memenuhi kepentingan aktivitas belajar yang memadai. Mau membaca buku saja sudah tidak tenang, bagaimana siswa akan berinteraksi dengan siswa dan guru? Ya to...

Cooperative Learning harus diperkenalkan kepada siswa sejak dini, atau melalui pendidikan bagi para calon guru di lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK) secara komprehensif. Sebab, salah satu pilar pendidikan adalah learning to live together, maka sejak dini harus dibiasakan (habituasi). Kenyataan pada praksis pendidikan kita di LPTK, perkuliahan kurang memberikan bekal tentang beragam metode pembelajaran yang dapat diterapkan bahkan dimodifikasi oleh para calon guru. Sedangkan perpustakaan minim sekali menampilkan beragam buku yang menjanjikan dalam revolusi model dan metode pembelajaran. Calon guru harus memahami bagaimana cara belajar yang benar bukan hanya cara mengajar yang benar.

Saat ini, Cooperative Learning telah dijalankan di berbagai macam sekolah dan institusi pendidikan di seluruh dunia, yang meliputi jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Hal yang tidak terbantahkan adalah bahwa Cooperative Learning telah meningkatkan prestasi belajar peserta didik dalam pendidkan formal, non formal, bahkan jika diterapkan dalam pendidikan keluarga dapat juga berpengaruh besar. Tentu saja dalam ranah keluarga, Cooperative Learning mendorong berkembangnya kerjasama dan sistem sosial berafeksi yang lebih dekat antar anggota keluarga.

Cooperative Learning bisa disbeut sebagai sebuah model, metode, maupun pendekatan dalam pembelajaran. Penggunaannya bukan hanya terbatas pada mata pelajaran tertentu, misalnya matematika saja, namun juga dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Syaratnya adalah perlu ketersediaan waktu dan kecekatan guru untuk mengkombinasikannya dengan berbagai metode pembelajaran lainnya.

Cooperative Learning dapat diterapkan untuk semua jenis kelas siswa; kelas khusus anak berbakat, kelas pendidkan laur biasa (pendidikan khusus), kelas dengan siswa berkecerdasan rata-rata, dan siswa dengan kondisi heterogen. Di tengah berkembangnya semangat multikultural dalam ranah pendidikan Indonesia, Cooperative Learning sangat kondusif “memanjakan” siswa dari latar belakang agama, etnis, budaya, termasuk latar belakang akademik yang berbeda-beda.

Kembali ditegaskan bahwa tujuan inti Cooperative Learning adalah memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya dapat menjadi anggota sistem sosial yang bahagia dan bermanfaat.

Menariknya, buku Cooperative Learning ini bukan semata-mata membicarakan teorinya saja, tetapi ada serangkaian contoh pelaksanaan pembelajaran dengan didukung oleh metode kooperatif ini. Di dalam wahana Cooperative Learning ini tidak hanya disajikan satu metode, namun ada beragam metode pembelajaran dengan beragam konsep aplikasinya. Dalam buku ini, juga diberikan hal yang bersifat praktis yang tersusun dalam petunjuk bertahap yang telah dengan sukses digunakan oleh ribuan guru dalam setiap tingkatan kelas dan dalam berbagai subjek belajar. Jadi, yang jelas berbeda antara buku ini dengan buku “pembelajaran kooperatif” lainnya adalah di sini membicarakan mengenai teori, penelitian dan pedoman praktis mengenai pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam kursus-kursus pendidikan dan lokakarya.

Hal yang menarik lagi adalah pembelajaran kooperatif telah menjadi alat stimulasi yang sangat baik, baik untuk siswa maupun guru. Mengapa? Karena tidak hanya melibatkan siswa dalam aktivitasnya, tetapi juga guru sebagai fasilitator pembelajaran. Akan lebih jelas bila anda membaca bab perbab dari buku ini untuk membuktikannya.

Kurikulum di Supercamp adalah kombinasi dari beberapa unsur, dikembangkan dari suatu filsafat bahwa belajar dapat dan harus menyenangkan. Dengan demikian, kita sebagai pendidik khususnya harus berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, tentu saja usaha ini lebih konkrit lagi dengan menggunakan metode belajar dan membelajarkan yang kreatif dan membangkitkan semangat siswa.

Senin, Juni 01, 2009

CBSA…Pramuka


Olh Kak Wid/


Menggerakkan roda organisasi itu tak semata bicara berprosesnya komponen organisasi itu. Tak selalu bicara bahwa sistem keorganisasian itu seperti yang dipaparkan dalam teori manajemen maupun teori kepemimpinan dan organisasi.

Gerakan pramuka, apalagi pada Racana berpangkalan di Perguruan Tinggi, wahana berkegiatan para mahasiswa untuk berpramuka sebagai sebuah organisasi yang sangat kompleks. Unnes memiliki karakteristik dimana setiap fakultas memiliki sub organisasi yang disebut gugus latih. Racana bukan tempat biasa karena didalamnya ada proses yang luar biasa, melibatkan pikiran, cipta, rasa, karsa, jiwa, raga, harta, tahta, dan wanita…serta pria tentunya…hehe.

Bahwa uang adalah faktor penting dalam bergeraknya lembaga ini, tetapi uang tentu bukan segala-galanya. Bukan juga, seperti semboyan yang tertulis di dinding sebuah markas militer/tentara di Solo, yang setiap saya pulang ke Wonogiri mesti bus yang saya tumpangi melewatinya. Di dinding itu tertulis “Logistik tidak akan memenangkan perang, tetapi tanpa logistik maka perang tidak dapat dimenangkan”. Ada faktor X yang sedemikian rupa juga memberikan corak, memberikan warna, membuat goresan tak terlupa. Mengapa faktor "X"? bagi saya karena "X" menunjukkan hal yang misterius, bisa juga hal yang mungkin dilarang atau berbahaya, atau apalah Anda mengartikannya.

Kali ini, salah satu faktor X itu yang ikut bergerak dalam kegiatan-kegiatan di pramuka (pramukanya mahasiswa) adalah cinta. Cinta antara lawan jenis, puteri-putera. Sebuah hal yang jarang saya bicarakan (bukan berarti tak butuh). Sebuah kodrat dan fitrah yang menjadi hak setiap orang, tinggal kita mengelolanya bagaimana.

Namun cinta yang berkembang, yang saya istilahkan Cinta Bersemi Sesama Anggota Pramuka (CBSA) ini selalu dinamis. Kisah yang hampir pasti selalu melingkupi dan menghiasi perjalanan anggota pramuka di Racana, di kampus, bahkan dimana saja. Cinta yang menjadi godaan para pramuka, cinta yang mempererat atau bahkan memutuskan rasa.

Ia telah menjadi motor organisasi ini, penggerak mereka para anggota Gerakan Pramuka, sebut saja bagi pramuka mahasiswa. Adakalanya, Pramuka mahasiswa yang bersemangat berkegiatan karena ada si “dia”, si jantung hati. Karena si dia, maka kegiatan apa saja yang dipasrahkan menjadi tanggung jawabnya dikerjakan dengan bersemangat 45. Ada yang jadi rajin datang ke sanggar, demi mengerjakan tugas kepengurusan, namun ada pula yang datang demi bertemu si dia pujaan pramuka..haha.

Namun, seringnya, konflik itu muncul. Persaingan antar pramuka muncul juga. Misal si Wid suka sama si Nisa (dalam arti: perempuan), ternyata kak Dodo juga suka sama nisa. Rasa yang sama meski tarafnya berbeda berkembang menjadi bibit persaingan bahkan permusuhan. Upaya mencari simpati dilakukan demi mendapatkan, sehingga tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya dilerwakake, alias disia-siakan, dilupakan, dinomor sekiankan (mungkin diberi nomor ukuran sepatu).

Ada pula yang CBSA pramuka di racana yang bertepuk sebelah tangan, lalu enggan bahkan sungkan datang ke sanggar pramuka. Semangat menurun drastis, diundang kegiatan sudah aras-arasen (agak males), seperti dunia ini sedetik lagi kiamat.

Ketika CBSA tak bertepuk sebelah tangan, alias gayung pun bersambut, setali tiga uang, bla bla…ada saja polahnya. Ada yang minta dijemput kalau ada undangan pertemuan maupun rapat. Kalau tak dijemput malah tak jadi datang. Ada yang kemudian tak hadir karena alasan mengantarkan si dia belanja, padahal si dia ini sebenarnya juga anggota racana sesama pengurus.

Maka muncullah sebutan Tukang Ojek di racana…hehe (syukur kalau ada yang tersinggung). Ada yang tak ingin diplotkan menjdi panita bidang tertentu, karena sang kekasih pramuka tidak berada di bidang yang sama. Ada pula yang tak mau didelegasikan karena si Dia-nya tak diikutkan dalam peserta delegasi. Ada yang dalam rapat berargumen -yang terkadang tidak realistis- demi membela ide Sang Idola.

Maka, kemudian saya wanti-wanti, berpesan dengan sungguh amat sangat sekali kepada kakak-kakak yang berkiprah di organisasi apa saja, bahwa kita itu punya harapan pribadi, keinginan pribadi yang berhak dipenuhi, namun ketika sudah masuk dalam kancah kolektif dan komunal, masuk dalam sebuah organisasi, keinginan pribadi bahkan ambisi mesti diredam. Dahulukan kepentingan organisasi, atau paling tidak keduanya seiring sejalan tanpa timpang sebelah. Secara “kemanusiaan” saya tak menolak CBSA yang sehat jasmani-rohani, tetapi jika CBSA Pramuka ini menjadi nomor 1 dan ingkar terhadap tujuan bersama, maka pergilah jauh-jauh dari komunitas ini (wah mungkin bahasa saya terlalu ekstrim).

Saya pernah merasakan bagaimana ada suka, merasa ada CBSA, namun Kakak-kakakku telah menjadi saksi bahwa saya tak melupakan Racana, tak melupakan tanggung jawab saya. Meskipun, rasa itu kemudian dipendam hingga tidak kentara, rasa yang di-puasa-kan. Pada suatu masa, saya begitu bersyukur, menyaksikan mereka yang CBSA menyeriusinya dengan memadukan rasa dan mengucapkan janji dalam ikatan yang suci, pernikahan. Membangun mahligai bercorak tunas kelapa di kedua sisinya, untuk “mencetak” siaga siaga baru yang berkualitas, mewujudkan kemaslahatan umat dan menghindari kemudhorotan…ya ya ya.

Tulisan ini masih belum mengupas tuntas, dan barangkali belum tajam-terpercaya, masih ada ide yang belum tertumpah dari kepala ini, namun jika terlalu panjang juga tak bagus jadinya. Tulisan yang lahir dari sebuah perhatian mungkin terkesan lebih bisa diserap-terhayati daripada sekadar diomongkan seperti sering saya kabarkan di seantero jagat dunia persilatan pramuka ini. Tulisan yang saya seriusi untuk ditulis atas permintaan secara guyonan dari seorang Kakak pramuka.


Terima kasih, ditunggu respon dan komentarnya.



Kak Widodo/Minggu, 31 Mei’09/Semarang/kapan kita kemana sama siapa?

Minggu, Mei 31, 2009

TOPI yang TOP, Saatnya Engkau Pergi


By wid-caem-buh


Sejak SMP dulu, saya sudah sering pakai topi, jadi kemana-mana ya pakai topi. Pergi jauh atau dekat, topi menjadi teman. Memakai topi telah menjadi kebiasaan. Topi kuning dari almamater Unnes, topi harian, hingga topi pramuka. Beberapa topi yang saya miliki sudah saya berikan pada orang-rang di rumah (Wonogiri) terutama Pakde saya, dan salah satu topi kuning Unnes menjadi penutup kepala saat ke sawah.

Jadi ingat ketika masih berseragam biru-putih, bertopi biru, kelas III SMP. Mungkin karena seringnya topi itu dipakai, bagian pojok topi benang kainnya terurai, anggap saja bodhol. Ada seorang teman (ya seorang teman sesama pramuka), tampaknya tak tega melihat saya pakai topi yang bodhol. Dia secara sembunyi-sembunyi mengambil topi itu (tentu saya kelimpungan mencarinya), dan esoknya Dia mengembalikannya namun sisi yang bodhol itu tak ada lagi, sudah dijahit sedemikian rapinya. Betapa berkesan hari itu, betapa senangnya memiliki teman yang sedemikian baiknya.

Kali ini (27 Mei) saya berkunjung ke Blora, melakukan perjalanan ke sana yang kesekian kalinya, membawa satu rencana besar, dan banyak rencana terinci. Dalam tulisan ini, soal peristiwa di Blora tak diceritakan. Justru, menjelang sampai di Blora menjadi pecutan kecut namun penuh hikmah.

Mengawali perjalanan dari Unnes Sekaran, menumpang bus Minas menuju Pasar Kambing Candi Baru, diteruskan ke Penggaron lalu langsung ke Blora yang sebelumnya melewati Demak dan Purwodadi. Cuaca siang itu benar-benar cerah malah tepatnya sungguh panas, suhu Semarang benar-benar sedang naik-naiknya sampai sumuk dan gembrobyos.

Segera menaiki bus, berharap setelah duduk bisa sedikit bersantai. Topi saya lepas dengan harapan angin sembribit memanja bisa segera mengeringkan keringat di kulit kepala. Seperti para penumpang bus pada umumnya, rasa kantuk menyerang dan tak tertahankan. Sesekali terbangun, lalu tidur lagi, itupun sebenarnya tidur untuk mengusir kepenatan perjalanan panjang. Tidur-tidur yang sekonyong-konyong terbangun karena bus serasa menghentak karena ban bus melewati jalan berlubang Purwodadi-Blora, itulah sensasi naik bus, bokong ini serasa makin tepos terkikis gesekan jok tempat duduk.

Mendekati kawasan Blora Kota, bersiap untuk turun di terminal Gagak Rimang, topi yang tadi saya letakkan didekat tas sudah raib tak berbekas. Aduh kemana ini, saya cari ke bawah jok, ke kursi-kursi di belakang, tak disangka ternyata penumpangnya tinggal 5 orang saja. Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, topi itu hilang, saya sudah mencarinya di seantero kursi dan bawah jok.

Topi cokelat ini memang sudah beberapa kali hampir saja hilang, namun selalu dapat kembali dengan berbagai cara yang unik dan aneh. Bahkan pernah suatu kali usai kuliah, saya bermaksud memakai topi lagi yang saya taruh kursi kuliah. Eh, topinya sudah tak ada. Teman-teman di belakang tempat duduk kutanya satu persatu, hasilnya nihil. Batin saya, ya sudahlah kalau memang hilang mau bagaimana lagi. Namun, esok harinya ada seorang Ukhti yang malu-malu sambil senyum-senyum menyerahkan topi itu ke saya kembali. “Oalah kowe to, lha mbok umpetke, walah kok jail nemen” begitu celetuk saya (tentu saya juga sambil senyum juga, gemes rasanya).

Tapi, kali ini nampaknya nasib topi itu lain dari yang sudah-sudah. Nampaknya kami sudah tak berjodoh lagi, putus sampai di sini. Rasa kehilangan saya rasakan, dan itu mungkin wajar. Apalagi, kesan bersamanya begitu mendalam. 5,5 (lima setengah) tahun topi itu menemani perjalanan saya, sudah merambah Jakarta, Bandung, Jogja, Kabupaten/kota di Jawa Tengah dan terakhir di Blora itu.

Topi yang cukup menolong melindungi kepala dan rambut ini, topi yang telah menjadi saksi bisu perjuangan selama kuliah hingga lulus, mendampingi dalam detik-detik yang menentukan, mendampingi suka-duka berdinamika karya. Topi yang telah meninggalkan kesan yang dialamatkan kepada saya, kesan yang berbekas di hati kawan-kawan saya, bahwa ciri khas si Widodo karena topinya itu, Widodo itu yang bertopi cokelat itu. Topi yang warnanya semakin pudar.

Kesan lain yang begitu syahdu, si topi adalah pemberian seorang teman. Teman dari Pekalongan sekitar awal 2004 silam. Topi yang diserahkan bersama dengan sebuah kemeja cokelat bergaris hitam menjadi sebuah pemberian berharga yang favorit saya kenakan. Pemberian yang tak pernah disebutkan dengan maksud apa, namun saat itu memang menjelang 7 April tanggal kelahiran saya. Tinggal kemeja itu yang bisa saya “amankan”.

Topi yang katanya telah sejiwa dengan pemiliknya, diberi bordir nama pemiliknya bukan dengan kata-kata, namun dituliskan dalam wujud not balok nada. Alhamdulillah topi itu pernah disematkan di kepala ini, dengan cara beginilah Tuhan membantu saya. Terima kasih kepada kawanku di sana yang telah mempercayakan sebuah benda yang begitu berharga. Tetapi, sungguh maafkan daku ini yang tak bisa menjaganya.

Meski topi tersayang itu telah tak ada padaku, sebuah harapan masih ada di sanubari. Semoga topi sederhana itu berada di tangan orang yang membutuhkan. Mungkin saya akan dapat ganti yang lebih baik, benarlah hari ini menjelang kegiatan badminton sore ini 31 Mei, seorang sahabat memberikan sebuah topi berwarna putih. Sebuah kepercayaan baru buat saya, akan saya jaga sebaik-baiknya. Topi…oh topi. Sedetik dimata, selamanya dijiwa.

Salam pramuka!

Widodo/30-31 Mei’09/memory Blora 27 Mei’09.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!