
Olh Kak Wid/
Menggerakkan roda organisasi itu tak semata bicara berprosesnya komponen organisasi itu. Tak selalu bicara bahwa sistem keorganisasian itu seperti yang dipaparkan dalam teori manajemen maupun teori kepemimpinan dan organisasi.
Gerakan pramuka, apalagi pada Racana berpangkalan di Perguruan Tinggi, wahana berkegiatan para mahasiswa untuk berpramuka sebagai sebuah organisasi yang sangat kompleks. Unnes memiliki karakteristik dimana setiap fakultas memiliki sub organisasi yang disebut gugus latih. Racana bukan tempat biasa karena didalamnya ada proses yang luar biasa, melibatkan pikiran, cipta, rasa, karsa, jiwa, raga, harta, tahta, dan wanita…serta pria tentunya…hehe.
Bahwa uang adalah faktor penting dalam bergeraknya lembaga ini, tetapi uang tentu bukan segala-galanya. Bukan juga, seperti semboyan yang tertulis di dinding sebuah markas militer/tentara di Solo, yang setiap saya pulang ke Wonogiri mesti bus yang saya tumpangi melewatinya. Di dinding itu tertulis “Logistik tidak akan memenangkan perang, tetapi tanpa logistik maka perang tidak dapat dimenangkan”. Ada faktor X yang sedemikian rupa juga memberikan corak, memberikan warna, membuat goresan tak terlupa. Mengapa faktor "X"? bagi saya karena "X" menunjukkan hal yang misterius, bisa juga hal yang mungkin dilarang atau berbahaya, atau apalah Anda mengartikannya.
Kali ini, salah satu faktor X itu yang ikut bergerak dalam kegiatan-kegiatan di pramuka (pramukanya mahasiswa) adalah cinta. Cinta antara lawan jenis, puteri-putera. Sebuah hal yang jarang saya bicarakan (bukan berarti tak butuh). Sebuah kodrat dan fitrah yang menjadi hak setiap orang, tinggal kita mengelolanya bagaimana.
Namun cinta yang berkembang, yang saya istilahkan Cinta Bersemi Sesama Anggota Pramuka (CBSA) ini selalu dinamis. Kisah yang hampir pasti selalu melingkupi dan menghiasi perjalanan anggota pramuka di Racana, di kampus, bahkan dimana saja. Cinta yang menjadi godaan para pramuka, cinta yang mempererat atau bahkan memutuskan rasa.
Ia telah menjadi motor organisasi ini, penggerak mereka para anggota Gerakan Pramuka, sebut saja bagi pramuka mahasiswa. Adakalanya, Pramuka mahasiswa yang bersemangat berkegiatan karena ada si “dia”, si jantung hati. Karena si dia, maka kegiatan apa saja yang dipasrahkan menjadi tanggung jawabnya dikerjakan dengan bersemangat 45. Ada yang jadi rajin datang ke sanggar, demi mengerjakan tugas kepengurusan, namun ada pula yang datang demi bertemu si dia pujaan pramuka..haha.
Namun, seringnya, konflik itu muncul. Persaingan antar pramuka muncul juga. Misal si Wid suka sama si Nisa (dalam arti: perempuan), ternyata kak Dodo juga suka sama nisa. Rasa yang sama meski tarafnya berbeda berkembang menjadi bibit persaingan bahkan permusuhan. Upaya mencari simpati dilakukan demi mendapatkan, sehingga tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya dilerwakake, alias disia-siakan, dilupakan, dinomor sekiankan (mungkin diberi nomor ukuran sepatu).
Ada pula yang CBSA pramuka di racana yang bertepuk sebelah tangan, lalu enggan bahkan sungkan datang ke sanggar pramuka. Semangat menurun drastis, diundang kegiatan sudah aras-arasen (agak males), seperti dunia ini sedetik lagi kiamat.
Ketika CBSA tak bertepuk sebelah tangan, alias gayung pun bersambut, setali tiga uang, bla bla…ada saja polahnya. Ada yang minta dijemput kalau ada undangan pertemuan maupun rapat. Kalau tak dijemput malah tak jadi datang. Ada yang kemudian tak hadir karena alasan mengantarkan si dia belanja, padahal si dia ini sebenarnya juga anggota racana sesama pengurus.
Maka muncullah sebutan Tukang Ojek di racana…hehe (syukur kalau ada yang tersinggung). Ada yang tak ingin diplotkan menjdi panita bidang tertentu, karena sang kekasih pramuka tidak berada di bidang yang sama. Ada pula yang tak mau didelegasikan karena si Dia-nya tak diikutkan dalam peserta delegasi. Ada yang dalam rapat berargumen -yang terkadang tidak realistis- demi membela ide Sang Idola.
Maka, kemudian saya wanti-wanti, berpesan dengan sungguh amat sangat sekali kepada kakak-kakak yang berkiprah di organisasi apa saja, bahwa kita itu punya harapan pribadi, keinginan pribadi yang berhak dipenuhi, namun ketika sudah masuk dalam kancah kolektif dan komunal, masuk dalam sebuah organisasi, keinginan pribadi bahkan ambisi mesti diredam. Dahulukan kepentingan organisasi, atau paling tidak keduanya seiring sejalan tanpa timpang sebelah. Secara “kemanusiaan” saya tak menolak CBSA yang sehat jasmani-rohani, tetapi jika CBSA Pramuka ini menjadi nomor 1 dan ingkar terhadap tujuan bersama, maka pergilah jauh-jauh dari komunitas ini (wah mungkin bahasa saya terlalu ekstrim).
Saya pernah merasakan bagaimana ada suka, merasa ada CBSA, namun Kakak-kakakku telah menjadi saksi bahwa saya tak melupakan Racana, tak melupakan tanggung jawab saya. Meskipun, rasa itu kemudian dipendam hingga tidak kentara, rasa yang di-puasa-kan. Pada suatu masa, saya begitu bersyukur, menyaksikan mereka yang CBSA menyeriusinya dengan memadukan rasa dan mengucapkan janji dalam ikatan yang suci, pernikahan. Membangun mahligai bercorak tunas kelapa di kedua sisinya, untuk “mencetak” siaga siaga baru yang berkualitas, mewujudkan kemaslahatan umat dan menghindari kemudhorotan…ya ya ya.
Tulisan ini masih belum mengupas tuntas, dan barangkali belum tajam-terpercaya, masih ada ide yang belum tertumpah dari kepala ini, namun jika terlalu panjang juga tak bagus jadinya. Tulisan yang lahir dari sebuah perhatian mungkin terkesan lebih bisa diserap-terhayati daripada sekadar diomongkan seperti sering saya kabarkan di seantero jagat dunia persilatan pramuka ini. Tulisan yang saya seriusi untuk ditulis atas permintaan secara guyonan dari seorang Kakak pramuka.
Terima kasih, ditunggu respon dan komentarnya.
Kak Widodo/Minggu, 31 Mei’09/Semarang/kapan kita kemana sama siapa?

1 komentar:
begitu miris ketika CBSA menjadi sebuah alasan menjadi tidak profesional...disorientasi yang berkepanjangan di racana....ato di organisasi manapun ....ketika niat itu beralih maka kitapun tak akan mendapatkan apa-apa...padahal pelajaran diri untuk semakin berkembang lebih penting...sehingga bisa saling mendukung dan melengkapi....
orang dewasa kudu lebih dewasa....bagaimana menempatkan kerja, rasa dan pikiran...bukan kebalikannya....jayalah racana wijaya....
Posting Komentar