
By wid-caem-buh
Sejak SMP dulu, saya sudah sering pakai topi, jadi kemana-mana ya pakai topi. Pergi jauh atau dekat, topi menjadi teman. Memakai topi telah menjadi kebiasaan. Topi kuning dari almamater Unnes, topi harian, hingga topi pramuka. Beberapa topi yang saya miliki sudah saya berikan pada orang-rang di rumah (Wonogiri) terutama Pakde saya, dan salah satu topi kuning Unnes menjadi penutup kepala saat ke sawah.
Jadi ingat ketika masih berseragam biru-putih, bertopi biru, kelas III SMP. Mungkin karena seringnya topi itu dipakai, bagian pojok topi benang kainnya terurai, anggap saja bodhol. Ada seorang teman (ya seorang teman sesama pramuka), tampaknya tak tega melihat saya pakai topi yang bodhol. Dia secara sembunyi-sembunyi mengambil topi itu (tentu saya kelimpungan mencarinya), dan esoknya Dia mengembalikannya namun sisi yang bodhol itu tak ada lagi, sudah dijahit sedemikian rapinya. Betapa berkesan hari itu, betapa senangnya memiliki teman yang sedemikian baiknya.
Kali ini (27 Mei) saya berkunjung ke Blora, melakukan perjalanan ke sana yang kesekian kalinya, membawa satu rencana besar, dan banyak rencana terinci. Dalam tulisan ini, soal peristiwa di Blora tak diceritakan. Justru, menjelang sampai di Blora menjadi pecutan kecut namun penuh hikmah.
Mengawali perjalanan dari Unnes Sekaran, menumpang bus Minas menuju Pasar Kambing Candi Baru, diteruskan ke Penggaron lalu langsung ke Blora yang sebelumnya melewati Demak dan Purwodadi. Cuaca siang itu benar-benar cerah malah tepatnya sungguh panas, suhu Semarang benar-benar sedang naik-naiknya sampai sumuk dan gembrobyos.
Segera menaiki bus, berharap setelah duduk bisa sedikit bersantai. Topi saya lepas dengan harapan angin sembribit memanja bisa segera mengeringkan keringat di kulit kepala. Seperti para penumpang bus pada umumnya, rasa kantuk menyerang dan tak tertahankan. Sesekali terbangun, lalu tidur lagi, itupun sebenarnya tidur untuk mengusir kepenatan perjalanan panjang. Tidur-tidur yang sekonyong-konyong terbangun karena bus serasa menghentak karena ban bus melewati jalan berlubang Purwodadi-Blora, itulah sensasi naik bus, bokong ini serasa makin tepos terkikis gesekan jok tempat duduk.
Mendekati kawasan Blora Kota, bersiap untuk turun di terminal Gagak Rimang, topi yang tadi saya letakkan didekat tas sudah raib tak berbekas. Aduh kemana ini, saya cari ke bawah jok, ke kursi-kursi di belakang, tak disangka ternyata penumpangnya tinggal 5 orang saja. Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, topi itu hilang, saya sudah mencarinya di seantero kursi dan bawah jok.
Topi cokelat ini memang sudah beberapa kali hampir saja hilang, namun selalu dapat kembali dengan berbagai cara yang unik dan aneh. Bahkan pernah suatu kali usai kuliah, saya bermaksud memakai topi lagi yang saya taruh kursi kuliah. Eh, topinya sudah tak ada. Teman-teman di belakang tempat duduk kutanya satu persatu, hasilnya nihil. Batin saya, ya sudahlah kalau memang hilang mau bagaimana lagi. Namun, esok harinya ada seorang Ukhti yang malu-malu sambil senyum-senyum menyerahkan topi itu ke saya kembali. “Oalah kowe to, lha mbok umpetke, walah kok jail nemen” begitu celetuk saya (tentu saya juga sambil senyum juga, gemes rasanya).
Tapi, kali ini nampaknya nasib topi itu lain dari yang sudah-sudah. Nampaknya kami sudah tak berjodoh lagi, putus sampai di sini. Rasa kehilangan saya rasakan, dan itu mungkin wajar. Apalagi, kesan bersamanya begitu mendalam. 5,5 (lima setengah) tahun topi itu menemani perjalanan saya, sudah merambah Jakarta, Bandung, Jogja, Kabupaten/kota di Jawa Tengah dan terakhir di Blora itu.
Topi yang cukup menolong melindungi kepala dan rambut ini, topi yang telah menjadi saksi bisu perjuangan selama kuliah hingga lulus, mendampingi dalam detik-detik yang menentukan, mendampingi suka-duka berdinamika karya. Topi yang telah meninggalkan kesan yang dialamatkan kepada saya, kesan yang berbekas di hati kawan-kawan saya, bahwa ciri khas si Widodo karena topinya itu, Widodo itu yang bertopi cokelat itu. Topi yang warnanya semakin pudar.
Kesan lain yang begitu syahdu, si topi adalah pemberian seorang teman. Teman dari Pekalongan sekitar awal 2004 silam. Topi yang diserahkan bersama dengan sebuah kemeja cokelat bergaris hitam menjadi sebuah pemberian berharga yang favorit saya kenakan. Pemberian yang tak pernah disebutkan dengan maksud apa, namun saat itu memang menjelang 7 April tanggal kelahiran saya. Tinggal kemeja itu yang bisa saya “amankan”.
Topi yang katanya telah sejiwa dengan pemiliknya, diberi bordir nama pemiliknya bukan dengan kata-kata, namun dituliskan dalam wujud not balok nada. Alhamdulillah topi itu pernah disematkan di kepala ini, dengan cara beginilah Tuhan membantu saya. Terima kasih kepada kawanku di sana yang telah mempercayakan sebuah benda yang begitu berharga. Tetapi, sungguh maafkan daku ini yang tak bisa menjaganya.
Meski topi tersayang itu telah tak ada padaku, sebuah harapan masih ada di sanubari. Semoga topi sederhana itu berada di tangan orang yang membutuhkan. Mungkin saya akan dapat ganti yang lebih baik, benarlah hari ini menjelang kegiatan badminton sore ini 31 Mei, seorang sahabat memberikan sebuah topi berwarna putih. Sebuah kepercayaan baru buat saya, akan saya jaga sebaik-baiknya. Topi…oh topi. Sedetik dimata, selamanya dijiwa.
Salam pramuka!
Widodo/30-31 Mei’09/memory Blora 27 Mei’09.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar