Sabtu, Juli 04, 2009

Gontai

Gontai
by: Sandra Noryz

bumi sedang berlari
berjihad dari mati
berjuta nafas terlihat menggali-gali ayat suci
tanpa penghuni derak laa ilaaha illallaah
mencuat tak berperi
meraih mimpi, lari…
keringat-keringat berceceran
layaknya si DINA yang sedang mengais bumi
mencari setitik hidup
ini hidup serupa peluh
berdarah menghidupkan jiwa luruh
ini hidup serupa cermin
buatku dirikan lorong-lorong batin
sebelum pulang,
mau aku menyisakan sejuta kenangan
sebagai tanda aku pernah dicipta TUHAN
Tuhan, peluklah kami orang-orang kedinginan
sejukkan kami orang-orang yang hina dina
jauhkan kami dari kematian budaya
.

Minggu, Juni 28, 2009

MENUNGGU DENGAN KEJENGKELAN WAKTU?

.by wid

Saya telah mengalami bagaimana rasanya ditunggu dan mengalami bagaimana rasanya menunggu. Kata orang, pekerjaan yang paling menjemukan plus membosankan adalah menunggu.

Meski saya bukan orang yang sibuk dalam mengerjakan pelbagai aktivitas. Tetapi, saya mencoba agar kegiatan yang dilakukan bisa runtut dan disiplin. Terutama dalam soal disiplin waktu, sering suatu acara pribadi maupun kehadiran bersama teman perlu melakukan perjanjian waktu terlebih dahulu.

Misalnya, ada acara pelatihan di kampus tertentu dimana saya diminta menjadi salah satu pemateri pada sesi pagi hari. Maka, perlu diperkirakan, kapan kita bangun tidur, bersiap diri, jam keberangkatan, jam sampai di tempat acara, hingga menit-menit pengecekan paparan di powerpoint. Harapannya, berbagai usaha penyiapan ini akan memaksimalkan pencapain tujuan dari kehadiran saya di sana. Harapan lain, tentu ketika persiapan lancar, maka saat memberikan paparan juga berjalan lancar.

Penyiapan diri pada waku-waktu yang diperhitungkan akan memudahkan dalam mengikuti acara, apalagi acara yang kita lakukan berurutan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa kali saya mesti menunggu pembicara pada sesi sebelumnya yang sudah usai jatah waktunya tetapi menerabas ke waktu-waktu yang dimiliki pembicara lainnya.

Beberapa kali menunggu angkutan kota yang tak segera datang padahal kita hanya punya beberapa menit lagi dari perjanjian waktu yang kita miliki sebelum dimulainya acara. Beberapa kali menunggu di dalam angkutan yang kata supirnya “menunggu sampai semua kursi terisi penuh”. Rasanya jengkel sekali, apalagi sang sopir seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dialami oleh penumpangnya. Di saat seperti inilah kita dapat juga belajar bagaimana ekspresi orang-orang yang sedang resah karena berbagai kepentingan.

Sering juga menunggu seorang teman yang tidak segera datang, padahal katanya akan datang sesuai jam dan berangkat bersama. Tapi juga agak dilematis, saya yang takut terlambat ingin rasanya meninggalkan teman supaya bisa tepat waktu, namun di sisi lain, dengan kendaraan apa saya ke tempat kegiatan itu jika tidak dengan menumpang motor teman. Kadang saya mengeluh, betapa sulit menjalani hari hari berkegiatan tanpa ada fasilitas pendukung seperti kendaraan bermotor. Beginilah rasa prihatinnya yang mesti dijalani.

Dulu, bebrapa kali saya menjadi penyelenggara acara-acara, seperti seminar, workshop, dan pelatihan-pelatihan. Kalau tidak panitia yang menunggu pembicara hadir, atau menunggu sang pembuka acaranya, maka kadang terjadi juga dimana pembuka dan pembicara sudah siap namun panitia masih mengalami sejumlah kendala sehingga acara belum bisa dimulai.

Kali ini saya menunggu teman saya datang, teman yang akan mengantar ke tempat lomba dimana saya menjadi jurinya. Jam sudah berlalu dari waktu yang disepakati, saya mencoba mengusir kegundahan hati saya dengan mengecek beberapa perlengkapan di tas. Belum cukup membantu rasanya, saya jadi benar-benar khawatir, takut terlambat.

Sebuah janji amat sangat penting sekali bagi saya. Mencoba memegang teguh komitmen, bahwa saya harus disiplin kerja dan disiplin waktu.

Setiap hal yang disepakati dengan saya, dan ternyata dilanggar oleh begitu membekas. Saya berusaha mempercayai orang-orang yang berinteraksi dengan saya, kadang kepercayaan itu dirusak dengan keterlambatan, keterlambatan yang diselingi berbagai alasan yang tidak perlu. Maka sebelum kami membuat janji, adakalanya perlu mengingatkan bahwa kita mesti tepat waktu, syukur bisa tepat mutu.

Kembali saya masih menunggu dengan harap-harap cemas, kecemasan keterlambatan yang merembet pada ketakutan saya akan hilangnya kepercayaan orang-orang yang telah memberi mandat kepercayaan kepada saya. Rasa jengkel, sebel, khawatir menjadi satu, barangkali obatnya adalah sabar dan istighfar.

Jadi ingat teori atribusi dalam pembelajaran. Jika peserta didik melakukan kesalahan atau hal yang kurang, maka jangan terburu memberikan vonis bersalah, namun bertanyalah, galilah mengapa bisa begini dan mengapa begitu? Intinya setiap tindakan dan kejadian ada latar belakang, kita mesti menerimanya dengan besar hati jika fakta itu memang tidak disengaja atau memang ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita mesti tahu diri, bahwa hal tersebut bisa juga terjadi pada diri kita. Bahwa bisa saja saya suatu masa terlambat sekalipun punya komitmen.

Bunyi klakson itu membangunkan lamunan saya, saya bisa tersenyum juga, sang teman akhirnya datang juga. Benarlah, dia menyampaikan sejumlah alasan. Saya mesti mengerti, gumam saya “tak mengapa, itu bisa terjadi pada siapa saja!”.

Hari ini saya belajar lagi...wassalam.


Wonogiri, Selasa Pon, 9 Juni 2009.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!