Jumat, Mei 29, 2009

7 Hari Terlalu Indah Dilupakan dalam Kawah Candradimuka

(memory akhir KMD Unnes 2,3,9,10,15,16,17 Mei 2009)

7 hari yang begitu melelahkan namun mengesankan, paripurna sudah. 7 hari melayani dan mencoba terus melayani. 7 hari membalas SMS peserta, menjawab telepon mereka yang bingung akan tugas-tugas. 7 hari mematut raut wajah ini dengan senyum, senyum insan, senyum pelatih. 7 hari melihat perubahan, dari yang belum berhasduk menjadi berhasduk, dari yang awam tentang pramuka, hingga lincah menaksir tinggi tiang listrik..he he he. 7 hari menikmati nasi rames plus telur. 7 hari melihat mereka datang jam 7.15 pagi. 7 hari menjawab izin peserta dengan berbagai alasannya. 7 hari merangkai kata penuh makna (meski aku bukan pujangga). 7 hari mencoba membangkitkan semangat.

Minggu 10 Mei 2009, pagi sekitar pukul 8. Seseorang masuk ruangan itu, dengan takzim mengucapkan salam “assalamu’alaikum”. Segera menjawab dan menyilakannya masuk, saya benar masih ingat nama depannya dan ia mahasiswa “Perancis”. Memintanya menunggu sebentar karena saya sedang menyiapkan beberap lembar presensi peserta dan kesiapan pelaksanaan jadwal hari itu.

Itu adalah hari ketiga pelaksanaan Kursus Mahir Dasar (KMD) di Unnes. Wajahnya memang agak pucat, nafas yang masih agak memburu karena harus menaiki tangga gedung C6. Duduk di kursi yang tepat lurus di depan saya di batasi beberapa kursi, saya lirik sebentar tampaknya raut mukanya benar-benar pucat dan tangan memegangi kening seolah menahan rasa. “Kak, apa sedang sakit?”. Tak ada jawaban, pikir saya mungkin tak begitu mendengarkan suara saya. Saya kembali melanjutkan mengetik beberapa ide.

Sungguh tak menduga, ia pingsan, itu pun saya ketahui ketika seorang panitia menawarkan sega krempyeng untuk sarapan. “Kak Wid, ia semalam juga pingsan di kos temannya, terus pagi ini perutnya masih kosong”. Tak ada sahutan, pingsan. Ramai seketika itu, panitia berhambur, namun saya masih tak bergerak bangkit dari kursi. Meski dilematis antara menolong ataukah tidak, saya yakin akan bisa banyak membantu, tapi memegangnya pun tak berani, pikir saya “dia bukan muhrim saya”.

Hanya pertanyaan dan saran kepada panitia coba saya utarakan untuk mengorek keadaannya yang terbaring di tikar, Kak Ringsung (pemimpin kursus) turun tangan. Saya hanya mendekat mencoba menyarankan ini dan itu. Kondisi sedikit membaik ketika seorang kakak (teman kuliahnya) masuk mencoba memberi pertolongan. Alhamdulillah Ia sadar, dan ketika air teh itu sudah diteguknya itu berarti ia telah sadar. Bukan dengan maksud berbasa-basi, sedikit mendekat, saya pandangi wajahnya dan “tawarkan” sunggingan senyum padanya, hanya itu.

Kakak-kakak, kejadian pagi itu menjadi tambahan sejarah dan cerita berkesan selama KMD, minimal bagi saya. Mencoba mengenal dan menggugah 207 orang peserta, diantaranya 165 orang puteri dan 42 orang putera. Sebagian besar adalah mahasiswa yang mencoba belajar bagaimana menjadi Pembina yang berkualitas.

Kami para pelatih hanya mencoba melayani mereka sebaik-baiknya, itu pun sebagai semboyan saya. Bermaksud memberatkan? tentu tidak, meski ada tugas-tugas yang mesti diselesaikan para peserta dengan tepat waktu dan tepat mutu. Kami tak ingin memanjakan mereka. KMD ini adalah kawah Candradimuka. Sebagai percontohan bagi KMD yang direncanakan tahun depan bagi seluruh mahasiswa kependdikan di Unnes. Standar kelulusan kursus mesti dinaikkan grade-nya.

Dan kini, kalau toh ada 2 peserta yang belum bisa menerima sertifikatnya, mereka telah menerima haknya sebagai seorang Pembina. Memperkuat barisan pengayom dan pelindung peserta didik di berbagai satuan kepramukaan.

Di dalam wahana selama 7 hari ini, memang sedikit yang bisa kami berikan. Namun, percayalah bahwa saya sendiri sebagai pelatih tetap belajar dan berusaha belajar untuk ikhlas. Ada plus minus dari sekian hal yang coba kami berikan, itupun barangkali lebih banyak kurangnya.

Saatnya membacakan hasil kerja keras mereka, dag dig dug bukan hanya hak para peserta saja, tim pelatih juga tegang membahas kelulusan peserta. Peserta dianggap memiliki antusiasme tinggi, tertib mengerjakan tugas dan catatan. Dan cukup mencengangkan ketika mengetahui hasil postest meningkat drastis dibandingkan pretest-nya. Saya geleng-geleng senyum tak henti-henti, apalagi saya wali kelas D. Tim pelatih menangkap pesan yang sama, bahwa KMD ini adalah salah satu kursus yang berkualitas, salah KMD terbaik yang terselenggara 2 tahun terakhir ini. Ya itulah penilaian yang diberikan, paling tidak selama saya bergabung dengan Lemdikacab Cakrabaswara selama lebih kurang 1,5 tahun ini.

Kini mereka berdiri bukan sebagai peserta KMD, kita adalah mitra sesama Pembina. Mereka pantas ditahbiskan menjadi Pembina. Setelah berjibaku dengan beberap tugas dari pelatih, berselimut malam yang dingin dan tetesan hujan, lumpur yang menggumpal di sepatu, perkemahan yang becek. Itulah kakak-kakak, sebuah penghayatan. Suatu saat ketika sudah aktif di gugusdepan menjadi Pembina/pembantu Pembina, maka kakak memiliki cerita bahwa berkemah dalam kondisi seperti itu sulit (padahal itu bagi orang dewasa, bagaimana jika bagi peserta didik berumur 7-17 tahun). Merasakan pahit getirnya adalah pelajaran berharga. Tak ada yang dipermudah maupun dipersulit.

Lali karo aku ora popo, tetapi hal-hal barangkali sebagai hal baik yang saya sampaikan semoga berkesan dan dapat diamalkan. Kecintaan saya kepada pramuka hingga kini tak berhenti, ini adalah sangu membangun rumah di surga…amin.

Witing Tresno iku jalaran seko kulino. Moga-moga ada CBSA Pramuka diantara kakak-kakak, CBSA tetap dalam kaidah syar’i agama.

Itulah pesan saya… “kalau kau suka hati tepuk tangan; tukang tahu tukang tempe toel toel; ketika aku masih ngantuk, ku tak tahu apa itu getuk; makan telo gosong sama-sama kulite; dan jagung arab tongkole gedhi…; sedetik di mata, selamanya di jiwa. Salam pramuka!

Sebuah tulisan yang tak kohesif dan koherensif.
Widodo/19-5-2009/Semarang, Selasa Pahing.

Kamis, Mei 28, 2009

Menuju Gagak Rimang Blora (part 2)



Oleh mas wid

Hari itu nampaknya untuk jadwal tidur agak lebih malam padahal seharian belum leren, tapi tak apalah ini adalah sebuah moment yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Usai ditraktir sate di Jepon, kami meluncur ke arah timur Blora, tepat di depan kantor kecamatan Jiken motor Pak Dwi berhenti. Di sana kami sudah disambut si empunya rumah, seorang kakek dan nenek yang kira-kira berusia 80an tahun. Ramah sekali, lebih seringnya sang kakek berbahasa Indonesia sangat fasih.

Obrolan itu terasa begitu mengena dan menjurus pada garapan si kakek sekarang. Eyang soewarso, begitulah panggilan saya kepadanya. Cerita begitu saja mengalir menganak sungai. Dari jaman perjuangan Peta hingga pemilihan presiden tahun 2009.

Di ruang tamu itu, tertata rapi puluhan atau mungkin ratusan buku. Wayang, gambar Bung Karno, photo Mbah Warso kala masih paruh baya terpajang rapi di dinding. Bahkan ada kertas berbingkai rapi bertuliskan huruf Kanji Jepang yang memuat ijazah sekolah Jepang tahun 1943, itulah ijazah Pak Soewarso.

Beberapa manuskrip pilihan berbahasa Jepang, Inggris, Sansekerta, hingga berbahasa Jawa Kuno. Juga ditunjukkan serta Centini, dan beberapa manuskrip asli bertuliskan Jawa kuno, hingga Al Qur’an berhuruf jawa. Kata Pak Warso, Qur’an ini baru sebagian diterjemahkan olehnya.

Tampaknya Pak Warso sering kedatangan tamu penting, terbukti di buku tamunya ada banyak nama terpampang mengisi lembaran buku itu. Diantaranya terpampang nama seorang professor dari UI Jakarta, UGM, dosen Undip, mahasiswa, hingga para pemerhati lainnya. Saya berkesempatan mengisi buku kehormatan itu, maka saya tuliskan nama dan saya goreskan tanda tangan.

Tak berhenti di situ, saya memohon izin untuk mengambil gambar, karena malam itu kamera digital saya bawa. Saya potret beberapa bagian dari ruangan itu. Dengan bersemangat, pak warso melanjutkan ceritanya. Hingga ia akhirnya menyinggung soal keberadaan supriyadi ketika saya mencoba menggelitik dengan sebuah pertanyaan tentang pejuang peta itu. Menurutnya supriyadi telah wafat ketika berada di ssebuah lembah dalam kejaran pasukan belanda. Sehingga beberapa waktu kemarin ketika, ada seseornag yang mengaku sebagai supriyadi, ia menyangsikan kebenarannya.

Dikatakan oleh Eyang Warso, akhirnya ia mendatangi orang yang mengaku sebagai supriyadi tersebut. Ia “tantang” orang itu untuk berdialog berbahasa Jepang, ia lontarkan pertanyaan dalam bahasa Jepang, ia tantang untuk menulis dalam Huruf Jepang. Apa yang terjadi? Pihak yang ditantang tak dapat menjawab, tak dapat menuliskan, tak dapat mengungkapkan sebagai permintaan Pak Warso. Apa pasal sehingga mbah warso ‘mennatang” dalam Bahasa Jepang? Sebab kala itu, setiap pasukan peta mampu berbahasa jepang, menulis kanji jepang. Sehingga jika ada eks prajurit peta apalagi seorang supriyadi tidak mampu melakukannya, maka jelas itu sangat pantas diragukan.

Tawaran menarik datang kepada saya, tawaran bagi tidak sembarang orang. Saya mungkin agak beruntung karena saya adalah teman Pak Dwi, sedangkan eyang warso sendiri adalah ayah dari pak dwi. “ayo mas saya tunjukkan beberapa pusaka dan keris di kamar khusus saya, seklaian tadi masnya bawa kamera”. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya langusng mengiayakan. Di kamar itu ada puluhan barang pusaka sebagian besar adaah keris, ada wayang keramat, patung logam, tombak, keris, pring petuk (bambu yang bertemu kedua cabang bukunya), serta beberapa artefak. Barang-barang yang katanya masih menyimpan kekuatan magis. Di ruangan tersebut rasanya memang berbeda, rasa yang tidak biasanya. Di samping tumah juga ada semacam pondok kecil yang disbeut sebagai tempat uji nyali (biasanya 3 malam tidur di sana). Bagi pendatang yang berani boleh mencobanya. Ruangan yang dilengkapi bantal, buku, koran, hingga telepon yang siap digunakan kapanpun. Diajaknya saya keruangan itu, kami bertiga mengobrol sekitar setengah jam di sana. Dan sungguh tak terduga saya ditawari untuk mencoba ruangan itu, uji nyali.

Menurut ceritanya, banyak orang penting yang datang menemui beliau, dari yang mencari bahan tugas sampai Profesor untuk penelitian, bahkan ada yang minta “petunjuk” dan doa terkait pemilihan legislatif atau pilkada.

Rembugan malam itu seperti ingin diakhiri, namun kelelahan menggerayapi, dan ketika Pak Dwi mengajak pamitan, saya mengiyakan. Malam itu tentu tak terlupakan, saya belajar banyak hal.

Ke Semarang aku kan kembali…walau apapun yang kan terjadi, terima kasih semoga bermanfaat.

Senin, Mei 25, 2009

TAKUT KEHILANGAN

(oleh si Wid)


Sayatan dimulai dari kulit sekitar ulu hati memanjang lurus turun hingga diatas pusar, lalu menyambung secara horizontal, jadilah berbentuk T terbalik. 20 Mei 2009 masih pagi benar, dingin itu tidak menghalangi saya menyegerakan diri berangkat ke Solo. Di ranjang, tergeletak seorang ibu, 45 tahunan usianya. Berjuang dengan operasi pembedahan, bukan operasinya yang dihadapi, namun berjuang antara hidup-mati.

Saya hubungi teman-teman untuk memohon doa mereka, agar si ibu dapat menghadapi operasi, agar operasi berjalan lancar. Agar diberi kesembuhan, agar diberikan keputusan terbaik dari Alloh. Sedapat mungkin berbekal pulsa di HP, saya kirim SMS ke teman-teman, dari teman lama hingga orang-orang yang baru saya kenal. Alhamdulillah respon teman-teman begitu luar biasanya, disanalah ketenangan saya rasakan.

Berikutnya, apa yang saya rasakan? Kengerian, kekhawatiran. Tak biasanya saya sekhawatir itu. Semakin berdebar jantung ini. Saya takut akan sebuah kehilangan, kehilangan besar dalam hidup ini. Mengangkat kista sebesar kepalan tanganku, dan kanker yang ternyata menggerogoti tubuh perempuan ini. Sebelumnya, sakit yang tak tertahankan ketika tiba masanya haid. Inikah deritanya para seorang perempuan. Rasa sakit hingga polahnya bak sedang kesurupan.

Setelah menjalani pembedahan lebih kurang 3,5 jam, si perempuan dibawa masuk ke kamar perawatan inapnya. Ketika obat bius sudah menurun daya kerjanya, yang kemudian dirasakan adalah sakit, perih yang amat sangat. Kesadaran yang hampir pulih, Alhamdulillah si perempuan bisa mengenali orang-orang di sekitarnya, anggota keluarga, kerabat yang dengan setia menunggu.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi Solo menjadi saksi dari sebuah hari yang menentukan. Perjalanan wanita itu hingga menjalani momentum yang sungguh rumit. Setelah menahan sakit sekitar 1 tahun dan berupa mengobati dengan berbagai cara, ia menyerah dan operasi adalah jalan terakhir untuk menuntaskan rasa sakit itu. Keputusan itu yang menjadi usaha selain doa yang terus dipanjatkan.

Malam pertama usai operasi adalah masa kritis kedua (kritis pertama saat operasi). Sakit, panas, dan perih tak bisa mengantarkan tidur. Keluarga dan saudaranya bergantian berjaga, memberikan sentuhan dengan mengipasi tubuhnya yang terbalut selimut. Menjelang dini hari mata ini semakin terasa pedas, rasa kantuk tak tertahankan, dan akhirnya aku terkapar juga.

Hari kedua usai operasi, rasa sakit yang luar biasa masih amat terasa. Tangan si perempuan itu berulang-ulang mengelus perutnya. Coba kutanya “sakit endi dioperasi karo nglahirke?”, “lara bar operasi” begitu jawabnya. Jika rasa sakit habis operasi melebihi rasa ketika melahirkan, sungguh tak terbayangkan betapa sakitnya.

Saya tak dapat berbuat banyak, hanya berdoa, ikut mendampingi, menunggui, dan menghibur dengan canda-canda. Soal biaya pengobatan, memang lumayan banyak biaya yang mesti dikeluarkan. Belum lagi, kini mesti menjalani kemoterapi selama beberapa minggu, dalam satu kali kemo saja menghabiskan sekitar Rp 3jutaan. Beruntung sekali keluarga kami, biaya pengobatan termasuk biaya operasi itu hampir seluruhnya ditanggung anak pertama keluarga ini. Tak kurang juga dukungan anggota keluarga dan sanak saudara. Mereka menunggui, mendampingi, dan merawat sebelum di operasi hingga usai operasi. Kerabat jauh di Jakarta juga pulang untuk memberikan dukungan.

Aku sangat bersyukur si ibu ini berangsur sembuh, dan saya lebih bersyukur lagi bahwa saudara-saudara dan kerabat dekat tak melupakan kami. Lebih-lebih para tetangga, warga se-RT/RW, se-dusun menjenguk si ibu. Alhamdulillah, kami yang tak ingin melupakan tetangga kami, mereka pun ternyata dekat dihati dengan kami. Terima kasih.

Tibalah saatnya, setelah 5 hari usai operasi, dengan kondisi yang makin membaik, si ibu dapat dibawa pulang ke rumah. Dan malamnya, rumah kembali ramai dengan canda kerabat dan saudara, tetangga yang kembali menjenguk. Siapakah si perempuan yang menjalani operasi itu? Ibu saya sendiri, bu Sajiyem.

Dalam doa, saya berkata ‘kasih sayang ibu begitu besar, dan saya belum mampu membalas’, saya tak ingin lebih merepotkan lagi, saya ingin lebih bermanfaat. “satu yang pasti, ya Alloh aku memohon “berikan kekuatan keimanan dan kekuatan lahir-batin, berikan kesempatan, dan kesabaran agar aku bisa benar-benar menjadi insan yang berguna, menjadi insan yang memberi bukan meminta”.

Terima kasih ya Alloh, terima kasih buat Bapak, Kakangku, Mbokde, Pakde, Paklik, Bulik, genduk kabeh, sedulur, para kerabat, saudara, tetangga yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih buat teman-teman dimana berada siapapun juga dan kakak-kakak di Gerakan Pramuka atas bantuannya. Jika kita memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya, maka janan khwatirkan apa yang Anda akan dapatkan. Semoga semuanya mendapat balasan yang terbaik dari Alloh.



Widodo/25 Mei’09

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!