Senin, Mei 25, 2009

TAKUT KEHILANGAN

(oleh si Wid)


Sayatan dimulai dari kulit sekitar ulu hati memanjang lurus turun hingga diatas pusar, lalu menyambung secara horizontal, jadilah berbentuk T terbalik. 20 Mei 2009 masih pagi benar, dingin itu tidak menghalangi saya menyegerakan diri berangkat ke Solo. Di ranjang, tergeletak seorang ibu, 45 tahunan usianya. Berjuang dengan operasi pembedahan, bukan operasinya yang dihadapi, namun berjuang antara hidup-mati.

Saya hubungi teman-teman untuk memohon doa mereka, agar si ibu dapat menghadapi operasi, agar operasi berjalan lancar. Agar diberi kesembuhan, agar diberikan keputusan terbaik dari Alloh. Sedapat mungkin berbekal pulsa di HP, saya kirim SMS ke teman-teman, dari teman lama hingga orang-orang yang baru saya kenal. Alhamdulillah respon teman-teman begitu luar biasanya, disanalah ketenangan saya rasakan.

Berikutnya, apa yang saya rasakan? Kengerian, kekhawatiran. Tak biasanya saya sekhawatir itu. Semakin berdebar jantung ini. Saya takut akan sebuah kehilangan, kehilangan besar dalam hidup ini. Mengangkat kista sebesar kepalan tanganku, dan kanker yang ternyata menggerogoti tubuh perempuan ini. Sebelumnya, sakit yang tak tertahankan ketika tiba masanya haid. Inikah deritanya para seorang perempuan. Rasa sakit hingga polahnya bak sedang kesurupan.

Setelah menjalani pembedahan lebih kurang 3,5 jam, si perempuan dibawa masuk ke kamar perawatan inapnya. Ketika obat bius sudah menurun daya kerjanya, yang kemudian dirasakan adalah sakit, perih yang amat sangat. Kesadaran yang hampir pulih, Alhamdulillah si perempuan bisa mengenali orang-orang di sekitarnya, anggota keluarga, kerabat yang dengan setia menunggu.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi Solo menjadi saksi dari sebuah hari yang menentukan. Perjalanan wanita itu hingga menjalani momentum yang sungguh rumit. Setelah menahan sakit sekitar 1 tahun dan berupa mengobati dengan berbagai cara, ia menyerah dan operasi adalah jalan terakhir untuk menuntaskan rasa sakit itu. Keputusan itu yang menjadi usaha selain doa yang terus dipanjatkan.

Malam pertama usai operasi adalah masa kritis kedua (kritis pertama saat operasi). Sakit, panas, dan perih tak bisa mengantarkan tidur. Keluarga dan saudaranya bergantian berjaga, memberikan sentuhan dengan mengipasi tubuhnya yang terbalut selimut. Menjelang dini hari mata ini semakin terasa pedas, rasa kantuk tak tertahankan, dan akhirnya aku terkapar juga.

Hari kedua usai operasi, rasa sakit yang luar biasa masih amat terasa. Tangan si perempuan itu berulang-ulang mengelus perutnya. Coba kutanya “sakit endi dioperasi karo nglahirke?”, “lara bar operasi” begitu jawabnya. Jika rasa sakit habis operasi melebihi rasa ketika melahirkan, sungguh tak terbayangkan betapa sakitnya.

Saya tak dapat berbuat banyak, hanya berdoa, ikut mendampingi, menunggui, dan menghibur dengan canda-canda. Soal biaya pengobatan, memang lumayan banyak biaya yang mesti dikeluarkan. Belum lagi, kini mesti menjalani kemoterapi selama beberapa minggu, dalam satu kali kemo saja menghabiskan sekitar Rp 3jutaan. Beruntung sekali keluarga kami, biaya pengobatan termasuk biaya operasi itu hampir seluruhnya ditanggung anak pertama keluarga ini. Tak kurang juga dukungan anggota keluarga dan sanak saudara. Mereka menunggui, mendampingi, dan merawat sebelum di operasi hingga usai operasi. Kerabat jauh di Jakarta juga pulang untuk memberikan dukungan.

Aku sangat bersyukur si ibu ini berangsur sembuh, dan saya lebih bersyukur lagi bahwa saudara-saudara dan kerabat dekat tak melupakan kami. Lebih-lebih para tetangga, warga se-RT/RW, se-dusun menjenguk si ibu. Alhamdulillah, kami yang tak ingin melupakan tetangga kami, mereka pun ternyata dekat dihati dengan kami. Terima kasih.

Tibalah saatnya, setelah 5 hari usai operasi, dengan kondisi yang makin membaik, si ibu dapat dibawa pulang ke rumah. Dan malamnya, rumah kembali ramai dengan canda kerabat dan saudara, tetangga yang kembali menjenguk. Siapakah si perempuan yang menjalani operasi itu? Ibu saya sendiri, bu Sajiyem.

Dalam doa, saya berkata ‘kasih sayang ibu begitu besar, dan saya belum mampu membalas’, saya tak ingin lebih merepotkan lagi, saya ingin lebih bermanfaat. “satu yang pasti, ya Alloh aku memohon “berikan kekuatan keimanan dan kekuatan lahir-batin, berikan kesempatan, dan kesabaran agar aku bisa benar-benar menjadi insan yang berguna, menjadi insan yang memberi bukan meminta”.

Terima kasih ya Alloh, terima kasih buat Bapak, Kakangku, Mbokde, Pakde, Paklik, Bulik, genduk kabeh, sedulur, para kerabat, saudara, tetangga yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih buat teman-teman dimana berada siapapun juga dan kakak-kakak di Gerakan Pramuka atas bantuannya. Jika kita memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya, maka janan khwatirkan apa yang Anda akan dapatkan. Semoga semuanya mendapat balasan yang terbaik dari Alloh.



Widodo/25 Mei’09

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!