Senin, Mei 18, 2009

Menuju Gagak Rimang Blora (part 1)

Menuju Gagak Rimang Blora (part 1)
Oleh mas wid


Ketika gagasan di kepala ini sudah membumbung sampai ke ubun-ubun, ingin rasanya di letuskan seperti halnya keinginan terpendam Gunung Slamet berniat membuncahkan lahar. Maka tulisan ini hadir sebagai pelampiasannya.

Dan kali ini, sungguh bersyukur sekali mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah jejatian, Blora. 30 April ini, Kamis, pagi meneguhkan itikad untuk segera menuntaskan kewajiban wiyata tahun ini. Ke Blora saya menuju, membawa sejumlah gagasan yang hendak ditawarkan.

Perjalanan Semarang-Demak-Purwodadi- lalu Blora. Penggantian aspal menjadi cor semen belum juga tuntas. Meksi masih pagi, debu berterbangan menyesakkan nafas. Menegangkan urat nadi, keringat itu benar-benar seperti aliran air Bengawan Solo musim hujan. Inilah hidup.

Pertama kali ke Blora menjadi sebuah kenangan. Bertanya sana sini mencari arah perjalanan dan mencari tumpangan yang paling efisien. Dan dengan sedikit memaksakan diri, dari Semarang harus naik bus kecil ke Demak, lalu berganti bus lagi menuju Purwodadi. Problem kemacetan di sepanjang jalan sekitar Sayung Demak hingga berbulan-bulan belum juga tuntas. Perjalanan bertambah lama, dan saya sempat turun di daerah Purwodadi yang di pusat jalan itu ada Tugu Adipura, lambang kebersihan kota. Lapar benar, haus benar. Teringat membawa kamera, maka tak saya sia-siakan segera jepret sana sini, sampai si ibu penjual minuman juga minta diphoto, pikir saya tak apalah ini buat menyenangkan hati.

Dan ketika bus arah Blora hadir ditempat itu, segera saya berlari mengejar untuk sedapat-dapatnya kemudian memejamkan mata beberapa saat. Lapar itu sulit diajak kompromi, sehingga ketika bapak penjual salak menyodorkan dagangannya, saya tak dapat menolaknya.

Alhamdulillah sekitar jam 14 tibalah di terminal Gagak Rimang Blora, belum sempat menghirup udara Blora dalam-dalam, tukang ojek sudah menyerbu menawarkan tumpangan. Dengan halus saya menolak, “maaf mas, badhe dipun petuk”. Alhamdulillah setelah menerima bel dari Pak Dwi, lalu tempat yang tuju pertama tentu mushola, terminal yang begitu sepi namun musholanya tetap hidup.

Tak berapa lama Pak Dwi datang langsung mengajak ke rumah seorang rekannya (Pak Putut), ngajak ngopi. Benarlah, siang-siang saya bersama bapak-bapak itu ngopi di warung langganan mereka. Kebetulan sekali Pak Putut menawari makan, Kepala Ikan Manyung. Kepala ikan yang besar, rasanya pedas, namun nikmat benar, baru pertama kali ini mencicipinya.

Berikutnya ke tempat adik kandung Pak Dwi, lalu meluncur ke wisma Pak Dwi di Nglengkir Bogorejo. Berkenalan dengan istri dan anak-anaknya, lalu tak berapa lama langsung diajak ke sekolah tempat Pak Dwi mengajar. Jalan yang berliku, berlurah, berbukit, dan naik hingga berkilometer terlewati terus menanjak. Sekolah itu di puncak bukit, di puncak gunung, ya boleh percaya boleh tidak, sekolah itu paling puncak, lebih tinggi dari bukit itu sendiri.

Dalam perjalanan ke sekolah itulah, Pak Dwi tak henti-henti menceritakan programnya di sana, program pendidikan lingkungan bagi anak-anak, warga Nglengkir, hingga masyarakat Samin, luar biasa. Sungguh tak saya duga, anak-anak di daerah tersebut telah berkiprah untuk menjaga kelestarian hutan tempat itu bahkan sebelum bantuan pemerintah datang. Untuk menjadi guru ditempat seperti itu tentu harus mengorbankan kesenangannya, mengorbankan tenaga, dan pikiran yang begitu berat. Bayangkan, di puncak bukit dimana dari pusat Kecamatan Bogorejo berjarak 19 km lebih dan jalannya naik kebukit berkelok-kelok. Maka, cukup wajar bila ada seorang ibu guru minta pindah tempat mengajar.

Hampir maghrib kami meluncur turun kembali ke rumah Pak Dwi, usai mandi dan shalat, pak dwi langsung mengajak keluar berkeliling. Ternyata ke daerah Jepon, dimana kami berhenti di depna warung sate yang katanya terkenal se-Blora. Entah berapa porsi sate yang kami nikmati, belum habis satu porsi sudah datang berpuluh satu di piring kami, hem seperti tamu agung saja saya ini, malam itu saya kekenyangan.

To be continued…

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!