

oleh ka'widodo
Jika besok tak pernah datang, begitulah kira-kira artinya. Pagi ini judul yang sama sebagai lagu yang dilantunkan Ronan Keating diudarakan radio Sonora semarang. Maka saya berandai-andai, memprediksi diri. Menjadi ingat pula “bekerjalah dengan tekun seolah-olah umurmu 1000 tahun lagi, dan beribadahlah seolah-olah engkau akan mati esok”. Mencoba dipikir lagi, hari ini perlu melakukan banyak. Ada banyak janji yang belum tertunaikan, ada segunung rindu yang belum terobati, ada setinggi langit mimpi yang belum nyata, setumpuk utang di warung yang belum tersahurkan.
Begitu pendek umur ini, yang kita tak tahu hingga kapan bisa menikmati semerbak bunga di taman, padi menguning di sawah Bapak. Jika tomorrow never comes, berarti hari ini adalah hari tersibuk di dunia. Mesti menyelesaikan semampu dan sekuat diri ini. Jika di HP ini ada 387 nomor telepon, semua nomor ini dihubungi untuk setidak-tidaknya mengatakan “maafkan saya, doakan saya!”
Jika ibu telah menahan kesenangannya selama 9 bulan lebih demi buah hatimu ini, bagaimana caranya supaya hari ibu bisa disenangkan, meski mustahil dapat mengembalikan pengorbanan yang dilakukannya. Jika hingga hari ini, Bapak telah menghabiskan 1 miliar rupiah untuk mencukupi kesenangan diri ini, maka bagaimana membalasnya hanya dalam 1 hari.
If tomorrow never comes, harini ini mesti mengabari orang-orang special untuk sekadar berpamitan, dan mungkin berlama-lama sedikit membabarkan keluh kesah. Menjadi ingat bahwa diriku tak pernah mengatakan “aku sayang padamu”.
Mungkin hari ini akan menjadi penyelasalan yang panjang, mengapa dulu tidak begini dan mengapa tidak begitu? If tomorrow never comes, hari-hari kemarin cemas, gelisah, dan sedih masih bisa ditutupi dengan senyum di bibir, maka hari ini akan menjadi masa harap-harap cemas yang tak bisa ditutupi.
If tomorrow never comes, saya mesti pasrah pada Illahi.
If tomorrow never comes, saya ingin khusnul khotimah.
Not tomorrow never die.
.
