Oleh : Widodo
Bicara kondisi kenyataan belajar-mengajar saat pada awalnya akan membicarakan perbandingan antara harapan dan realita. Proses belajar mengajar sangat berkaitan dengan kurikulum. Apalagi saat ini sudah berlaku kurikulum operasional di masing-msing sekolah yang dikenal kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Adalah fakta bahwa saat ini ruang-ruang kelas belumlah merupakan lingkungan pembelajaran yang ideal. Di ruang kelas ini kiranya sangatlah sulit bagi guru dan siswa untuk senantiasa berfokus penuh pada tugasnya masing-masing. Guru, misalnya, hampir selalu kekurangan sumber: ruang, buku, peralatan, dan lebih penting lagi adalah waktu untuk memenuhi kebutuhan siswa yang berjumlah banyak. Guru masih terlalu mendominasi proses pembelajaran (teacher centered), belum child centered.
Salah satu yang pasti dari pelaksanaan pembelajaraan saat ini adalah digunakannya teknologi informais dan komunikasi secara lebih luas. Teknologi informais dan komunikasi ini digunakan sebagai media pembelajaran atau juga sebagai sumber belajar. Lazim kita kenal internet untuk kepentingan pembelajaran, sehingga guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar (demikian yang sering terjadi), atau hanya buku teks saja yang digunakan sebagai bahan pelajaran.
Saya pikir kondisi pembelajaran pada sekolah-sekolah (di Indonesia) saat ini dapat digambarkan antara Harapan dengan Realita berikut:
Harapan Belajar-Mengajar yang Ideal:
1.Bersifat individual (mempertimbangkan kecepatan siswa yang tidak sama)
2.Guru sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek pendidikan
3.Pembelajaran dilakukan di dalam dan di luar kelas
4.Metode mengajar bervariasi, pola PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) digalakkan terkait contextual teaching learning
5.Pembelajaran berdasar pada kompetensi dasar yang harus di capai. Ada program remedial dan pengayaan
6.Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan pembelajaran berkualitas
7.Ujian menggunakan berbagai teknik (performance test, objective test, dll) dan metode penilaian portofolio
Realita di Lapangan (masih terjadi)
1.Pola klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran masih dominan terjadi daripada kemandirian belajar
2.Tidak semua guru telah berperan sebagai fasilitator belajar, masih sering ditemukan bahwa guru sebagai pusat pembelajaran
3.Masih dominannya pembelajaran yang cenderung dilakukan di kelas saja, siswa jarang diajak.
4. Metode mengajar cenderung kurang bervariasi, masih dominannya pengajaran kovensional yaitu ceramah (meski kita akui ceramah cukup efektif untuk karakteristik belajar tertentu)memanfaatkan lingkungan luar kelas
5.Masih dominannya pembelajaran mengejar target penyampaian materi, yang penting materi pelajaran selesai diberikan. Pengayaan diberikan terutama bagi siswa yang akan mengikuti ujian nasional
6.Sudah mulai digalakkannya pemanfaatan TIK untuk mendukung pembelajaran, meskipun belum optimal. Berkembangnya sumber belajar selain guru, seperti e-book, e-library, dsb.
7.Pada awal KTSP dikenalkan teknik (performance test, objective test, dll) dan metode penilaian portofolio, tetapi setelah beberapa waktu KTSP berjalan, guru lebih sering kembali pada pola evaluasi/ujian menggunakan teknik paper and pencil test
(catatan: tidak semua kondisi persekolahan seperti itu, tidak dapat digeneralisasi mutlak)
Pada tahun 2007 begitu mengemuka suatu program Depdiknas dalam bidang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, yaitu dengan lahirnya Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). Jardiknas ini memfasilitasi pertukaran informasi, dan bank data tentang informasi pendidikan di Indonesia, termasuk informasi kelembagaan pendidikan. Apa yang dikenal sekarang sebagai e-learning dan system pengelolaan pembelajaran-belajar begitu menjamur dan berkembang.
Dari hal itu, saya tidak dapat membantah bahwa saat ini teknologi informasi dan komunikasi telah kemajuan pesat. Kemajuan ini terlihat dari upaya mengembangan dan inovasi terhadap produk maupun proses pemanfaatannya sehingga TIK menjadi trend setter. Institusi pendidikan hingga keluarga semkain tak asing lagi dengan pemanfaatan TIK modern dan canggih. Laptop, LCD projector, sampai dengan pemanfaatan internet untuk pembelajaran bukan hal asing lagi.
Dampak Nyata Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhadap Paradigma Pembelajaran
Dampak kemajuan Teknologi informasi dan Komunikasi tersebut terhadap perubahan paradigma pembelajaran dewasa ini, diantaranya adalah:
1.Model pembelajaran campuran yang baru mulai muncul. Pembelajaran tatap muka dan aktivitas belajar online, video, multimedia dan sarana telekomunikasi menunjang berbagai proses pembelajaran, kadangkala dalam bentuk kombinasi dan kadangkala dalam bentuk yang lebih terintegrasi.
2.Pendidikan jarak jauh sekarang disajikan dalam dua cara yaitu synchronous mode di mana peserta menggunakan TIK untuk berkomunikasi pada waktu yang bersamaan dan asynchronous mode di mana para peserta belajar secara mandiri pada waktu yang berbeda kapan saja mereka online (anytime-anywhere learning). Dalam kenyataannya pertemuan tatap muka atau interaksi (synchronous) masih diperlukan untuk menunjang belajar mandiri dan asynchronous agar belajar dapat lebih efektif. TIK memfasilitasi interaksi tingkat tinggi antara siswa, guru, dan materi pembelajaran berbasis komputer. Komunikasi dapat dinamis dan bervariasi sesuai keinginan siswa dan guru, dan ia dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti e-mail, mailing list, chating, bulletin board, dan teleconference.
3.Kelas online cenderung untuk menjadi lebih sukses jika TIK dikombinasikan dengan suatu ilmu pendidikan yang tepat. Kancah pendidikan dari pembelajaran online masih sangat muda. Saat banyak institusi yang menawarkan kursus online, pemahaman mendalam tentang isu pedagogis yang berhubungan dengan pendidikan online masih belum diselidiki secara mendalam. Banyak kursus online yang hanya halaman web dikombinasikan dengan e-mail dan ruangan chatting tanpa landasan pedagogis. Pengalaman-pengalaman sukses menunjukkan bahwa telah ada suatu penurunan dari aktivitas dipandu guru seperti halnya penurunan jumlah pembelajaran tatap muka dan bergerak ke arah aktivitas yang berbentuk proyek dan belajar mandiri.
4.Corak interaktif sumber belajar memungkinkan siswa untuk terus meningkatkan keterlibatannya dengan pengembangan isi dan dengan demikian berperan dalam suatu situasi belajar yang lebih otentik. Sebagai contoh, para siswa dapat mengakses perpustakaan maya di seluruh dunia. Dengan demikian mereka mempunyai akses ke sejumlah besar informasi dan sumber belajar yang luas yang tidak dapat dicapai dalam seting pembelajaran yang tunggal. Sejauh yang terkait dengan guru, sejumlah besar sumber belajar yang diletakkan di Internet telah membantu guru dalam menghadapi tantangan mengajar sehari-hari. Para guru dapat saling betukar rencangan pembelajaran, teknik pedagogis, dan strategi yang berhubungan dengan isu-isu dan permasalahan umum.
5.TIK membantu memecahkan isolasi profesional yang banyak diderita para guru. Dengan TIK, mereka dapat dengan mudah berhubungan dengan para profesional lain, rekan kerja, penasihat, universitas dan pusat keahlian, dan dengan sumber belajar. Para guru kini menerbitkan bahan belajar yang mereka kembangkan di Internet dan berbagi pengalaman mengajar mereka dengan guru lainnya.
Dampak kemajuan TIK yang paling jelas adalah pola pembelajaran tidak semata didasarkan kepada interaksi guru kelas dengan murid, melainkan ada guru media yang berinteraksi dengan murid melalui media. Peranan guru akan mengalami perubahan. Guru kelas tidak lagi memegang kendali penuh di dalam kelasnya. Mereka tidak lagi menjadi penyaji pelajaran, tidak membuat bahan dan tidak menentukan nilai kemajuan belajar anak, melainkan tetap di tuntut untuk memberikan bimbingan anak untuk belajar (fasilitator dan motivator).
Mutu Pembelajaran Ketika Teknologi Informasi dan Komunikasi Digunakan sebagai Alat
Lebih jauh lagi, guru yang menggunakan TIK dalam pembelajarannya hendaknya tidak hanya menyadari tentang seberapa baik ia percaya atas materi pembelajarannya tetapi juga percaya atas kemampuan dasar TIK yang (hanya) sebagai alat bantu. Sekali lagi perlu saya tegaskan, bahwa TIK tidak akan mamapu menggantikan peran guru sepenuhnya, apalagi menyangkut peran pedagogis-psikologis. Meskipun dengan adanya TIK, ruang-ruang kelas dengan dinamika sosial pembelajaran yang demikian dapat direkonstruksi menjadi lingkungan pembelajaran yang mendukung belajar bermutu.
Untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu pembelajaran, maka ada 3 (tiga) hal yang harus diwujudkan, yaitu:
1.Siswa dan guru harus memiliki akses ke teknologi informasi dan komunikasi digital dan internet di dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru.
2.Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural siswa dan guru, dan
3.Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.
Bentuk Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi di dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran
Aplikasi teknologi informasi dan komunikasi di dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran tampak nyata dengan kehadiran E-Education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia, apalagi Departemen Pendidikan Nasional terlihat gencar mengupayakannya baru pada awal tahun 2007 dengan kelahiran Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). E-education sebagai istilah penggunaan IT di bidang Pendidikan.
Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi sementara “miskin” masalah. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses Digital Library yang pusatnya di Inggris, Australia, AS, Belanda, dan Negara lainnya, tanpa harus ke sana. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet.
Pola pelaksanaan pembelajaran di lingkungan belajar virtual yang sudah berjalan di Indonesia adalah (1) Pembelajaran Multimedia Interaktif; (2) Pendidikan dengan Modus Belajar Jarak Jauh (Distance Learning); (3) Pembelajaran dengan Modul Digital; (4) E-Learning; dan (5) Televisi dan radio-edukasi dengan Program Edukasi (tv-edukasi), program ini telah dirintis oleh Depdiknas bekerjasama dengan TVRI, TV-edukasi dan TV-Ku (Semarang).
Kondisi Indonesia dalam konteks lingkungan belajar virtual
Apakah Indonesia mampu memanfaatkan dan mengembangkan virtual learning environmental?
Saya sangat yakin kita mampu, namun harus realistis bahwa perencanaan, pengadaan, dan pendayagunaannya tidaklah mudah. Ada beberapa kondisi nyata yang patut dicermati, yaitu:
1)Infrastruktur listrik dan telepon belum bisa dinikmati seluruh masyarakat. Hal ini karena pemerintah belum memeratakan pembangunan, ada kawasan-kawasan wilayah di negeri ini yang belum tersentuh secara adil. Dari sisi masyarakat, kita tidak bisa memungkiri bahwa sebagian dari masyarakat kita untuk makan saja susah, bagaimana akan bisa mengadakan sarana teknologi canggih? Mungkin fasilitas computer makin menggejala kepemilikannya, namun untuk pemasangan jaringan internet masih cukup mahal. Dari sisi pengadaan, diperlukan modal awal yang relatif mahal untuk komputer multimedia dan jaringan internet yang memungkinkan para penguna bisa diskusi (chating dan surving).
2)Belum semua guru mampu mendayagunakan internet, bahkan computer. Sehingga bagaimana mungkin dapat mengembangkan pembelajaran berbasis virtual internet. Oleh karena itu perlu pelatihan berkelanjutan. Belum lagi soal, adanya “penyakit” guru, yaitu tidak mau menerima perubahan. Banyak guru yang sudah cukup puas dengan penggunaan media pembelajaran seadanya di sekolah serta metode belajar monoton. Sebagai hal yang cukup baru (di Indonesia) notabene pengajar masih kurang familiar, sehingga dirasa lebih merepotkan dan mendorong mereka kembali ke cara konvensional (buku teks).
3)Untuk materi yang memiliki muatan nilai-nilai moral fundamental, e-learning masih kalah dengan kehadiran guru yang sekaligus menjadi teladan atas nilai moral yang diajarkan
Pemanfaatan Internet apalagi untuk pendidikan di Indonesia masih seumur jagung. Sebenarnya pemanfatan Internet untuk e-Learning di Indonesia dapat ditingkatkan kalau fasilitas yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang berupa infrastruktur maupun fasilitas yang bersifat kebijakan.
Namun harus juga diakui bahwa ketersediaan telepon dan listrik di daerah-daerah tertentu di Indonesia memang masih terbatas dan karenanya menghambat bertambahnya pengguna Internet. Bahkan ada saudara-saudara kita yang belum menikmati insfrastruktur dasar seperti listrik dan jalan, Lha wong bagi yang sudah menikmati adanya listrik saja masih sering mengalami adanya listrik byar-pet (atau pemadaman bergilir).
Belum lagi tentang belum tersosialisasinya aturan/hukum dunia maya (cyberlaws) kepada masyarakat luas, sehingga hal ini juga menghambat bertambahnya investor dibidang IT Internet ini.
Kini pemerintah telah berupaya untuk memanfaatkan dan memaksimumkan tersedianya informasi teknologi dengan membentuk Kantor Menteri Negara Informasi dan Teknologi. Di tiap Departemen bahkan ada unit yang menangani teknologi informasi ini. Di Depdiknas misalnya ada Pustekkom atau Pusat Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan; di tiap Universitas ada Pusat Komputer, dan masih banyak contoh yang lain.
Perlu kita camkan, bahwa ketika pendidik meminta dengan tegas atas penggunaan TIK hanya sebagai pengganti praktek pembelajaran yang ada, mereka tidak dapat berperan untuk memecahkan permasalahan di bidang pendidikan yang saat ini mereka temui!
