Sabtu, April 04, 2009

Belajar Nglemu dengan Wayang (part 1)




Belajar Nglemu dengan Wayang (part 1)
dening: widodo

Jumat malam -3 Maret’09- menjadi salah satu hari yang mempesona bagi saya, malam Sabtu itu Unnes menggelar perhelatan wayang kulit sedalu natas. Ketertarikan saya begitu tahu sang dalang adalah Ki Anom Suroto yang menyertakan puteranya Ki Bayu Aji. Dalang dari tlatah Solo yang begitu piawai memainkan sanggit lakon wayang tanpa merusak cerita aslinya.

Meski bukan pemerhati serius soal wayang, tapi wayang menjadi salah satu bagian dari cinta saya pada kehidupan ini. Tak asing lagi saya soal wayang, sebab sejak SMP hingga SMA, pada malam-malam tertentu di keluarga kami –khususnya saya- mendengarkan siaran radio memutar acara wayang. Wayang yang disiarkan secara langsung dari tempat acara atau rekaman.

Ki Anom Suroto adalah satu dari beberapa dalang yang saya kagumi. Dalang yang tetap menjaga pakem pewayangan, itulah yang saya salut. Tak banyak embel-embel tambahan dalam mendalang. Beberapa dalang saat ini sering menggunakan atribut atau variasi dalam mendalam, seperti: sinden nembang sambil berdiri dan bergeal-geol, membuat wayang tokoh-tokoh dunia yang diplesetkan seperti karikatur, atau menambah variasi alat musik semisal organ/keyboard dan terompet.

Beberapa lakon wayang membekas dalam hati dan ingatan saya. Simpulan dari setiap lakon wayang bahwa ada perjuangan antara dua sisi yaitu baik dan buruk untuk menuntut apa yang menjadi hak masing-masing, yang diwakili Kurawa dan Pandawa.

Dalam adegan wayang, kurawa memulainya dengan rapat membahas cara menyingkirkan pandawa dengan segala cara dan tipu daya. Patih sangkuni sebagai salah satu tokoh sentral di astina yang selalu saja ada akalnya untuk memberangus Pandawa. Mencari sekian puluh hingga mungkin ribuan alasan muslihat untuk membenarkan rencananya. Dialah sang “Tumbak Cucukan”, tukang adu domba, di depan tidak berani mengungkapkan namun dibelakang mengungkit-ungkit. Sengkuni yang selalu menjadi Joker untuk membatalkan setiap perjanjian dengan Pandawa, bak “orang yahudi” yang selalu ingkar janji.

Pada akhirnya memang tipu muslihat Kurawa tidak akan berhasil, kebaikan mengalahkan kejahatan. Meski terkadang Pandawa juga kalang kabut, harus ada yang dikorbankan namun semua sementara saja. “Lakon menange keri” (jagoan menang di akhir).

Tokoh-tokoh Pandawa yang sregep ngelmu, sebagai pihak yang teraniaya pada pungkasannya mendapat lindungan Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

Rabu, April 01, 2009

Book Review "Quantum Learning"




Buku III : Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, diterjemahkan dari Quantum Learning: Unleashing The Genius In You
Pengarang : Bobbi DePorter and Mike Hernacky
Penerjemah : Alwiyah Abdurrahman
Editor : Sari Meutia
Penerbit : Kaifa Bandung (Buku Asli Dell Publishing, New York, 1992)
Tebal buku : xxiv, 356 halaman
Tahun terbit : 1999 (buku asli 1992 )


Inti buku ini adalah mengajarkan tentang belajar bagaimana belajar, bukan belajar tentang “apa”?

Mengajarkan bagaimana membaca dan menulis secara lebih baik dan produktif. Setiap orang mungkin dapat menjadi pembaca yang cepat-dan tepat sasaran, di samping menjadi penulis yang menghasilkan sejumlah bahasan yang mencerahkan banyak orang.

Menariknya, dari sekian buku yang ada. Saya temukan bahwa ada beragam gaya belajar yang dimiliki dan mencirikan tiap orang. Dengan sebuah tes kecil yang juga disajikan dalam buku ini, kita akan tahu kita ini termasuk memiliki gaya belajar yang mana.

Sekali lagi oleh DePorter ditegaskan tentang jenis-jenis kecerdasan yang sedemikian kompleks, setidaknya ada 8 jenis kecerdasan (multiple intelligences). Pada sekolah-sekolah kita lebih sering dikatakan tentang kecerdasan tunggal yaitu intelektual. Namun dari buku ini dengan jelas dikatakan berbagai jenis kecerdasan dalam diri manusia, persoalannya adalah mana yang lebih dominan kita miliki. Kesadaran akan potensi kecerdasan yang kita miliki akan berpengaruh dalam pengambilan langkah perlakuan bagaimana kita mengembangkan kecerdasan tersebut. Pada akhirnya, dengan mengembangkan potensi dan kecerdasan

Kelebihan: DePorter menulis buku yang cukup praktis seperti halnya cooperative learning. Kepraktisannya akan kita rasakan ketika kita menenmukan kiat-kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses yang menghemat waktu kita, mempertajam pemahaman dan daya ingat kita. Sekali lagi, saya begitu tertarik karena teori yang dikatakan dalam buku ini bukan hanya teori belaka, namun dibangun dari fakta, penelitian, dan pengalaman nyata, yaitu Supercamp. Sehingga, tidak perlu diragukan lagu untuk digunakan dalam lapangan persekolahan Indonesia. Tentu saja perlu banyak dilakukan percobaan dan eksperimen lanjutan guna mendukung pelaksanaan Quantum Learning yang sesuai dengan situasi dan kondisi aspek pendukung pembelajaran sekolah-sekolah di Indonesia.

Quantum Learning dapat mendorong inovasi metode pembelajaran yang menyenangkan, terutama bagi para guru maupun pembelajar dari kalangan wanita. Mengapa? Karena penyusun dan penemu teori Quantum Learning adalah seorang perempuan.

Penyajian buku ini lebih kreatif dari banyak buku pembelajaran yang ada, dengan penempatan grafis, gambar, tabel, dan tulisan yang menarik perhatian pembeca. Ini artinya, dengan memperhatikan tulisan dan sajiannya, maka kita akan tertarik untuk membaca dan memahami, lalu menerapkannya.

Sayangnya, dari segi penyajian sendiri, aspek warna sebagai pendukung penulisan buku tidak diberikan secara proporsional. Belum tampak ada beda antara gambar berwarna dengan warna tulisan, sehingga rangsangan untuk memerhatikan sajian buku belum begitu maksimal.


Dengan memerhatikan konsep quantum, betapa seluruh pribadi adalah penting (akal, fisik, dan emosi/pribadi).

Pada praksis pendidikan kita –untuk saat ini- kita harus semakin berhati-hati dalam mempersiapkan lingkungan sehingga semua siswa merasa penting, aman dan nyaman. Biasanya kita tidak memerhatikan seni, musik, dan tanaman. Maka sudah saatnyalah sejak sekarang ketika aspek tersebut (seni, tanaman, dan musik) dimasukkan sebagai komponen pembelajaran yang penting. Ruang belajar harus disetting sedemikian rupa agar aktivitas belajar dapat berjalan sesuai tujuan.

Sering kita jumpai ruang kelas di sekolah-sekolah kita minim dengan variasi. Hanya cat tembok kuning atau satu warna yang menghiasai, lalu jendela sebagai pelengkapnya. Ada lemari tempat buku, kursi, meja, papan tulis, dan meja guru, sampai di situ “titik”. Ini menandakan bahwa kita kurang kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Oleh karena itu, selagi masih ada waktu, harus ada revolusi suasana dalam menciptakan pembelajaran Pakem (aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), dengan dimulai dari penciptaan ruang belajar yang bermusik, warna-warna dengan beragam karya siswa yang dipajang.

Sering kita jumpai anak-anak yang dimasukkan ke suatu sekolah lalu berlanjut ke sekolah yang jenjangnya lebih tinggi tanpa belajar tentang bagaimana cara belajar yang efektif (learning how to learn). Dapat dibayangkan, seperti mendorong anak ke kolam renang tanpa mengajarinya dahulu cara berenang. Ia mungkin saja selamat, tetapi sebagai orang tua, apakah anda mau mengambil resiko tersebut?

Salah satu dari kesulitan dalam menerapkan isi buku ini adalah bagaimana mendapatkan buku ini, terutama bagi sekolah-sekolah pedesaan dengan pendekatan pembelajaran yang konvensional. Mereka lebih dulu mementingkan “yang penting dapat sekolah”, namun belum mementingkan bagaimana berhasil dalam belajar. Saat ini, guru belum terkondisikan untuk banyak membaca buku, sehingga kalau begitu bagaimana mereka akan mencoba metode dalam buku ini. Sangat mudah dijumpai di sekolah-sekolah, pada jam istirahat berapa banyak guru yang mau aktif datang ke perpustakaan sekadar mengetahui bagaimana siswa mereka antusias dalam mempelajari isi-isi buku.

Pelajaran lain yang patut dicobakan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah kita adalah bahwa “keberhasilan-keberhasilan meskipun kecil harus dirayakan. Pertanyaannya adalah bagaimana merayakannya dengan keterbatasan sosial-ekonomi di Indonesia saat ini. Belum lagi, agama membatasi cara-cara orang merayakan suatu keberhasilan dalam pencapaian usaha alias kita tak boleh berfoya-foya.

ANALISIS TEORI BELAJAR (a)Teori Behavioristik BF. Skinner (b) Teori Robert Gagne

by widodo

1.Teori Behavioristik BF. Skinner

Praktisnya dalam suatu pembelajaran di kelas, kehendak teori “Skinner” adalah perlunya memberikan tugas-tugas kepada siswa secara simultan dan semakin-lama akan semakin sulit/rumit/kompleks. Pemberian resitasi kepada siswa/anak akan meningkatkan penguatan basis pengetahuan dan bertahannya suatu kerangka tingkah laku yang khas, artinya akan membentuk pribadi anak.

Tugas yang diberikan dari yang sederhana menuju ke hal-hal yang semakin kompleks. Meski percobaan teori belajar umumnya menggunakan model hewan, namun ada kecenderungan bahwa manusia itu cerdas dan lebih kuat dalam menangkap pesan.

Dalam menghadapi beragamnya tingkah laku dan sikap anak, Skinner tidak menganjurkan adanya hukuman/punishment kepada anak. Hal ini dilakukan karena dengan hukuman, anak mengalami penguatan negatif. Misalnya, kemalasan belajar anak, jika kemudian guru menghukumnya dengan menjemurnya di tengah lapangan selama berjam-jam, maka efeknya tidak akan baik. Bisa jadi, anak akan makin malas atau bisa juga menjadi takut, tapi takut kepada gurunya, bukan takut kepada pengulangan terhadap kesalahan yang sama.

Skinner sudah menyadari bahwa penguatan dapat terjadi melalui penguatan alami, guru tak perlu memerintahkan suatu kerangka tingkah laku kepada anak demi membentuk kebiasaan-kebiasaan baik. Dengan makin berkembangnya struktur kognitif dan afektif anak, maka lambat-laun anak akan menyadari kebutuhannya, termasuk kebutuhan belajar. Namun penguatan alami ini tidak akan berhasil jika penguatan berkondisi tidak dilakukan dari luar diri anak (eksternal). Bagaimana mungkin akan berbuat baik, atau melakukan tugasnya, apabila guru tidak menunjukkan jalan atau cara sederhana guna memecahkan masalah. Inilah pentingnya pengenalan suatu masalah kepada anak.

Ada beberapa Kelebihan toeri Skinner terlatak pada sumbangsihnya untuk pembelajaran. Pertama, usaha untuk mencari kondisi dan tingkah laku yang merupakan perwujudan dari keadaan seperti “tidak termotivasi” merupakan suatu langkah yang penting dalam upaya menemukan cara-cara tindakan yang tepat. Guru yang menghadapi kelas anak/siswanya dalam keadaan yang tidak menyenangkan, maka guru harus mengusahakan cara-cara kreatif untuk menciptakan kelas yang happy. Artinya, guru harus berusaha kreatif. Demikian pula, ketika kelas telah berkondisi senang dan anak aktif belajar, guru pun tidak tinggal diam. Ia harus aktif untuk tidak terlalu membiarkan anak dalam kesenangan belajar. Jadi, anak ibarat mesin mobil, maka kecepatan lajunya harus diperhatikan, ada saatnya mengerem, maka ada saatnya pula untuk meng-gas lajunya.

Kedua, pengamatan yang dilakukannya terhadap kelas-kelas sekarang ini mengungkapkan banyak penggunaan penguatan yang tidak konsisten dan tidak kontingensial dan ini menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah disiplin kelas. Untuk mengatasi masalah ini, langkah yang penting ialah melakukan kepuasan terhadap situasi interaktif dalam pengertian-pengertian stimulus diskriminatif, respon, dan penguatan. Jadi, perilaku anak yang mengejala positif demi kelas yang progresif harus diupayakan untuk paling tidak mempertahankan kondisi “baik” tersebut. Seperti lampu merah-hijau-kuning pada rambu lalu lintas. Rambu itu untuk mengatur pergerakan kendaraan di jalan umum, ketika kondisi pengendara dan pejalan kaki telah tertib, bukan berarti rambu itu dihilangkan. Justru, rambu itu dipakemkan untuk terus dilaksanakan, agar dapat meminimalisasi kondisi penuruan respon berkondisi tersebut. Di dalam pembelajaran, pemberian motivasi belajar kepada anak dengan memberikan bonus nilai kepada anak-anak yang aktif bertanya juga tetap dilakukan/dipertahankan, meskipun sekarang kondisi sebagian besar anak telah bersikap aktif dalam proses belajar mengajar.

Ketiga, material belajar berprogram juga digunakan dengan baik, dapat memberikan layanan terhadap adanya perbedaan perseorangan di antara siswa di kelas. Tampaknya keuntungan teori ini akan terus dinikmati, karena kecenderungan besar menunjukkan bahwa perbedaan karakter anak, jika tidak diperhatikan oleh guru, maka akan muncul gejala perilaku negatif di kelas. Siswa yang berbeda dalam banyak hal, misalnya dalam hal karakter, kebiasaan, bakat, minat, dan kreativitas, apabila tidak diberikan porsi secara individual akan berakibat hilangnya kemampuan dan karakter anak itu sendiri. Guru memang bukan orang yang membentuk karakter, namun perannya dalam pembentukan karakter sangat besar. Tantangan dari teori ini –khususnya pada kelas-kelas belajar di Indonesia- adalah adanya pembelajaran individu, bukan klasikal.

Manfaat dari beberapa unit pendek pembelajaran berprograma tentang keterampilan spesifik ada dua macam. Disiapkannya remidial yang ditujukan untuk lemahan-kelemahan khusus tertentu. Seringkali siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung karena tidak memiliki keterampilan khusus tertentu. Kelau kelemahan itu dibiarkan, hal ini akan memperparah masalah. Dalam hal ini, anak akan sulit menganalisis hal-hal yang rumit bila hal-hal yang sederhana tidak bisa ia identifikasi. Manfaat kedua yaitu material pembelajaran seperti itu dapat membantu guru dalam individualisasi pembelajaran. Siswa-siswa yang masuk sekolah tidak memiliki keterampilan-keterampilan esensial tertentu atau mereka mengalami kesulitan mengikuti suatu pokok bahasan dalam pengajaran yang mula-mula bisa diberikan material tersebut sementara guru membantu siswa-siswa lain yang mengalami kesulitan lain.

Kelemahan Teori Behavioristik Skinner juga berkaitan dengan kelebihannya tadi. Bahwa teknologi untuk melakukan analisis ekperimen mental terhadap perilaku manusia yang rumit itu tidak bisa lengkap. Sekumpulan siswa merespon dengan baik dalam situasi yang terstruktur dengan tujuan serta langkah-langkah yang harus ditempuh disebutkan secara khusus dan jelas. Tetapi, siswa lain memperoleh penguatan oleh adanya kesempatan untuk melakukan sendiri discovery dan eksplorasi pikiran tanpa pengarahan dari guru atau orang lain. Prosedur untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan ini dan yang lainnya dalam keragaman penguatan potensial yang ada masih perlu dikembangkan.

Ketika guru mengadakan pembelajaran di kelas, akan sulit menentukan mana siswa yang perlu mendapat penguatan berkondisi atau dengan sengaja dibentuk, mana pula yang perlu diberi kesempatan melakukan penguatan alami. Jika hal itu sulit dilakukan, maka guru akan kesulitan dalam memberikan stimulus kepada anak. Apakah faktor kecerdasan/intelegensi berpengaruh terhadap penentuan kedua penguatan ini, tampaknya belum ada penelitian eksperimen yang represntatif dilakukan sejauh ini.

Kelemahan lain adalah meskipun siswa sering merespon suatu stimulus. Kemudian banyaknya atau seringnya respon anak menjadi ukuran bahwa anak berhasil belajar, hal itu hanya terjadi pada peristiwa-peristiwa sederhana, misalnya anak yang diminta untuk menyebutkan barang-barang yang dibawa ke sekolah atau diminta menghitung jumlah uang yang dibawanya, anak dapat dengan mudah untuk menyebutkannya. Namun, ketika tahap belajar dilanjutkan kepada sesuatu yang lebih kompleks, misalnya anak diminta menghitung besarnya keuntungan suatu perusahaan (pada pelajaran ekonomi), anak menghadapi kesulitan, padahal respon anak sangat baik pada banyak hal yang sederhana.

2.Teori Neo-Behavioristik Robert Gagne

Asas-asas belajar Robert Gagne merupakan hasil dari pencariannya terhadap faktor-faktor yang berpengaruh pada hakikat belajar yang kompleks yang terjadi pada diri orang. Teori Gagne.

Dalam kaitannya dengan pertumbuhan-kesiapan belajar, pola pertumbuhan tertentu harus terjadi sebelum belajar ada manfaatnya. Misalnya, menyarankan hendaknya membaca tidak diajarkan kepada anak sebelum mencapai usia tertentu, misalnya 6 atau 7 tahun. Model ini tampaknya mengilhami pembelajaran sistem pendidikan Indonesia. Sehingga kemudian dikenal adanya play group, taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA/SMK dan seterusnya.

Sumbangan penting teori Gagne adalah adanya model belajar kumulatif. Bahwa belajar kumulatif sifatnya. Artinya, banyak keterampilan yang dipelajari memberikan sumbangan bagi belajar keterampilan yang lebih dan semakin rumit. Sebagai contoh, keterampilan membaca dan menulis pada anak-anak kelas rendah sekolah dasar. Keterampilan ini menyumbang keterampilan yang lebih kompleks, misalnya setelah membaca, ia menulis karangan atau prosa. Tentu anak tidak perlu belajar ualang untuk membaca sekali lagi ketika belajar membuat karangan. Justru, membaca dipadukan dengan keterampilan yang baru.

Salah satu kekhasan teori Gagne adalah ketika Gagne menyusun penjelasan proses belajar dimulai dengan mempelajari kekompleksan dan keragaman yang merupakan ciri belajar pada orang dan mengembangkan sistem yang mencoba menjelaskan adanya keragaman itu.

Dari teori Gagne, sesuatu hal sebagai penyikapan positif atas teorinya adalah pentingnya perencanaan pembelajaran di kelas agar dapat efektif dan efisien. Keterampilan-keterampilan yang akan dipelajari siswa dirancang dalam bentuk tujuan performansi dan ragam belajar yang ada ditemukan. Jadi, penting sekali bagi guru untuk membuat kerangka administratif suatu dokumen persiapan mengajar agar siswa dapat menguasai sejumlah kompetensi yang berguna. Hal inilah yang mengilhami pemberlakuan kurikulum di Indonesia, dimana guru harus membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini dilakukan agar proses belajar-mengajar dapat terlaksana secara sistematis dan terprogram. Dengan proses yang demikian, maka diharapkan tujuan pembelajaran akan tercapai sebagaimana rumusan yang telah ditetapkan. Selain itu, guru dapat menemukan langkah antisipatif ketika menghadapi kendala dalam pembelajaran.

Teori ini dapat mengoperasionalisasikan konsep belajar kumulatif dan memberikan mekanisme untuk merancang pembelajaran dari sederhana ke kompleks. Konsep hierarki belajar telah menjadi komponen kurikulum baku dalam berbagai bidang ajaran. Di samping itu, teori ini memberikan kerangka kerja yang kohesif untuk pengembangan temuan tentang hakikat belajar manusia. Teori ini juga memberikan mekanisme untuk melaksanakan konsep-konsep yang ditemukan oleh teori pengolah informasi.

Kelemahan, teori ini dikembangkan untuk menjelaskan luasnya proses psikologi yang diketahui dalam penelitian terdahulu mengenai belajar dan untuk menentukan secara tepat urutan acara-acara pembelajaran untuk proses-proses yang telah diketahui. Dengan demikian, teori ini lebih praktis bagi tim perancang dan pengembang kurikulum untuk melaksanakannnya daripada bagi guru kelas untuk menggunakannya. Apalagi, tidak jarang guru merasa siap mengajar meskipun tanpa membuat persiapan tertulis (membuat RPP) karena berasumsi bahwa ia telah menguasai kelas dan menguasai materi pelajaran. Agaknya kelamahan ini bisa disikapi secara positif jika memperhatikan bahwa semangat kurikulum yang diberlakukan di Indonesia saat ini adalah kurikulum operasional yang disusun oleh setiap satuan pendidikan. Guru diberi peran yang besar untuk menyusun, mengembangkan, mengevaluasi dan menilai kurikulum yang ada di sekolahnya.

Atas berbagai pandangannya, Gagne dikelompokkan sebagai bagian kelompok Psikologi Neo-Behavioristik. Karakteristik yang sangat membedakan teori Gagne dari teori belajar lain, yaitu:
a.Dia menyampaikan variasi kategori belajar (secara variatif disebut kategori belajar, hasil belajar, atau yang sekarang disebut kemahiran intelektual). Dalam penjelajahan pemikiran selanjutnya, Gagne merumuskan kategori belajar yang menyatakan tentang apa yang dipelajari oleh pembelajar dalam melaksanakan pembelajaran terancang/berprograma/sistematis.
b.Dia mengakui pentingnya memperhatikan fungsi proses mental internal yang mengatur belajar seseorang.

Sumber Pustaka


Anni, Chatarina Tri, et.al. 2006. Psikologi Belajar (Edisi Revisi). Semarang: UPT MKK Unnes.

Darsono, Max. et.al. 2001. Belajar dan Pembelajaran (cetakan kedua). Semarang: IKIP Semarang Press.

Gredler, Margaret E. Bell. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Translated by Prof. Dr. Munandir, M.A. dari buku Learning and Instruction, Theory Into Practice. 1986. Jakarta: CV. Rajawali.

Munib, Achmad. et.al. 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Cetakan ketiga 2006: Edisi Revisi. Semarang: UPT MKK Unnes.

Selasa, Maret 31, 2009

Kearifan yang Hilang


by wid

(tulisan ini dibuat setahun yang lalu pasca Pilkada Jateng ...)


Suatu ketika, sekumpulan anggota masyarakat mengikuti suatu kajian keagamaan. Tentu berbagai wejangan dan siraman rohani disampaikan oleh rohaniwan. Terdengar teriakan maling di ujung gang di kompleks perumahan itu, “maling, maling!”. Sontak warga yang pulang dari sebuah majelis rohani itu berlari mengejar tersangka maling. Tersangka diburu, dikejar, dan tertangkaplah ia. Maling ditelanjangi, lalu seorang warga menyiramkan bensin, dan disulutlah si tertuduh dengan api. Habis sudah.

Hal tersebut bukan sekadar cerita sebuah novel fiksi. Sebuah fakta yang tak dapat disangkal, bahwa masyarakat kita ini sangat peka terhadap ketersinggungan sosial yang dianggap penyakit sosial, semisal mencuri. Sekalipun orang telah mendapat masukan nilai-nilai agama, tampaknya belum terjadi internalisasi dalam diri pribadi kita. Tetapi, memang kita tak dapat menggeneralisasi bahwa semua anggota masyarakat kita demikian.

Perilaku masyarakat yang cenderung tidak membangun tersebut paling tidak disebabkan beberapa hal. Pertama, gagalnya sistem pendidikan pada Tri pusat pendidikan. Mendidik itu mengolah hati, mengajar mengolah pikir, dan melatih adalah mengolah tangan. Kegagalan itu terjadi terutama karena pelaksanaan pendidikan di sekolah lebih berfungsi mengajar. Sehingga banyak orang pintar dan tajam analisisnya, namun rendah kepribadiannya. Integritas warga bangsa ini meluntur, karena pendidikan gagal memberikan asupan membangun integritas diri pada peserta didik. Sekali lagi, sulit untuk tidak menuduh ujian nasional sebagai biang keladi dari dikejarnya aspek kognitif semata ini. Skor yang sesuai standar nasional yang diharap dicapai, namun soal perilaku peserta didik seolah dianggap sudah baik semua.

Hukum yang tidak adil. Ada pemeo “maling ayam dicuri, koruptor kelas kakap diberi fasilitas”. Ketidak pastian dan legitimasi penegakan hukum yang rendah menyebabkan rakyat tak percaya dengan langkah yang diterapkan penegak hukum. Bahkan, sudah rahasia umum, bila melaporkan kehilanagan ayam, bisas jadi malah kehilangan sapi. Akhirnya, keadilan itu harus dibayar dengan cara anarkisme, pembakaran, yang diberi label “demi efek jera”. Sudah hilangkah kearifan di negeri ini, tentu tidak, karena masih banyak orang baik. Apalagi berbagai kasus tertangkapnya orang-orang yang mestinya menjadi profil baik negeri ini, hal turut menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum. Persidangan menjadi seperti dagelan yang menjadi perhatian bukan karena akan menjadi shock therapy, namun guyonan yang tak ada habisnya. Akhir-akhir ini, dialog telepon pejabat dengan tersangka korupsi penyuapan menjadi konsumsi publik namun tak lebih menjadi ring tone ponsel. Tak terlalu disalahkan, akhirnya ketika keadilan hukum diragukan. Masyarakat berimprofisasi dengan menghakimi dengan cara yang cepat dan mudah.

Kemiskinan. Karena urusan perut sulit dipenuhi, padahal sulit menemukan cara yang halal untuk memenuhinya, lalu dipilihlah cara mencuri dan mengambil hak orang lain. Padahal yang mencuri dan kecurian juga sama-sama membutuhkan. Anehnya adalah, mengapa pelaku penghakiman sendiri oleh masyarakat itu tidak dilakukan oleh yang diambil haknya, tetapi oleh warga tetangga yang “beraninya main keroyok”.

Ketika hasil pilkada tidak menjadikan kubu caloin tertentu sebagai terpilih dicailah kambing hitam bahwa ada kecurangan yang dilakukan pihak lain. Mulai dari pengelembungan suara, money politik, kampanye kotor, dan sebagainya. Anehnya, calon yang digadang-gadang tenang-tenang saja dirumah meskipun kalah. Justru pendukungnya yang ramai dijalan atau didepan kantor pemerintah menuntut pilkada diulang atau menuntut calonya yang menjadi pemenang. Tindakan anarkis pun terjadi karena kubu pasangan lain merasa tidk terima dengan tindakah kubu lain. Percekcokan, demonstrasi damai pun menjadi anarkis brutal, dan merusak berbagai fasiitas umum, bahkan sampai timbul korban jiwa. Nah, pertanyaan adalah apakah sekelompok orang pendukung ini benar-benar akan menikmati hasil positifnya ketika pasangannya menjadi pemimpin daerah itu? Atau hanya menjadi tameng pasangan yang dibela dengan jiwa-raga.

Keraguan terhadap kepemimpinan daerah semakin menjadi-jadi, buktinya tingkat golput semakin menjadi-jadi. Jawa tengah saja mencapai lebih kurang 45% orang yang berhak memilih justru golput. Seakan mereka tak perduli siapapun yang memimpin, karena siapa saja yang memimpin tak aka nada banyak perubahan. Tingkat kejenuhan ini dapat berdampak negatif, ketika pemerintah memiliki program pembangunan. Masyarakat menjadi tak terima alias menolak berbagai kebijakan. Korelasinya dengan kebebasan pers, jika dulu guru tak ada yang berdemo, kini bukan hal asing lagi jika kita temukan guru yang berdemo menuntut nasib gajinya ketimbang mengurusi tanggung jawab mendidik di sekolah.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!