Sabtu, April 04, 2009

Belajar Nglemu dengan Wayang (part 1)




Belajar Nglemu dengan Wayang (part 1)
dening: widodo

Jumat malam -3 Maret’09- menjadi salah satu hari yang mempesona bagi saya, malam Sabtu itu Unnes menggelar perhelatan wayang kulit sedalu natas. Ketertarikan saya begitu tahu sang dalang adalah Ki Anom Suroto yang menyertakan puteranya Ki Bayu Aji. Dalang dari tlatah Solo yang begitu piawai memainkan sanggit lakon wayang tanpa merusak cerita aslinya.

Meski bukan pemerhati serius soal wayang, tapi wayang menjadi salah satu bagian dari cinta saya pada kehidupan ini. Tak asing lagi saya soal wayang, sebab sejak SMP hingga SMA, pada malam-malam tertentu di keluarga kami –khususnya saya- mendengarkan siaran radio memutar acara wayang. Wayang yang disiarkan secara langsung dari tempat acara atau rekaman.

Ki Anom Suroto adalah satu dari beberapa dalang yang saya kagumi. Dalang yang tetap menjaga pakem pewayangan, itulah yang saya salut. Tak banyak embel-embel tambahan dalam mendalang. Beberapa dalang saat ini sering menggunakan atribut atau variasi dalam mendalam, seperti: sinden nembang sambil berdiri dan bergeal-geol, membuat wayang tokoh-tokoh dunia yang diplesetkan seperti karikatur, atau menambah variasi alat musik semisal organ/keyboard dan terompet.

Beberapa lakon wayang membekas dalam hati dan ingatan saya. Simpulan dari setiap lakon wayang bahwa ada perjuangan antara dua sisi yaitu baik dan buruk untuk menuntut apa yang menjadi hak masing-masing, yang diwakili Kurawa dan Pandawa.

Dalam adegan wayang, kurawa memulainya dengan rapat membahas cara menyingkirkan pandawa dengan segala cara dan tipu daya. Patih sangkuni sebagai salah satu tokoh sentral di astina yang selalu saja ada akalnya untuk memberangus Pandawa. Mencari sekian puluh hingga mungkin ribuan alasan muslihat untuk membenarkan rencananya. Dialah sang “Tumbak Cucukan”, tukang adu domba, di depan tidak berani mengungkapkan namun dibelakang mengungkit-ungkit. Sengkuni yang selalu menjadi Joker untuk membatalkan setiap perjanjian dengan Pandawa, bak “orang yahudi” yang selalu ingkar janji.

Pada akhirnya memang tipu muslihat Kurawa tidak akan berhasil, kebaikan mengalahkan kejahatan. Meski terkadang Pandawa juga kalang kabut, harus ada yang dikorbankan namun semua sementara saja. “Lakon menange keri” (jagoan menang di akhir).

Tokoh-tokoh Pandawa yang sregep ngelmu, sebagai pihak yang teraniaya pada pungkasannya mendapat lindungan Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!