Rabu, April 01, 2009

Book Review "Quantum Learning"




Buku III : Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, diterjemahkan dari Quantum Learning: Unleashing The Genius In You
Pengarang : Bobbi DePorter and Mike Hernacky
Penerjemah : Alwiyah Abdurrahman
Editor : Sari Meutia
Penerbit : Kaifa Bandung (Buku Asli Dell Publishing, New York, 1992)
Tebal buku : xxiv, 356 halaman
Tahun terbit : 1999 (buku asli 1992 )


Inti buku ini adalah mengajarkan tentang belajar bagaimana belajar, bukan belajar tentang “apa”?

Mengajarkan bagaimana membaca dan menulis secara lebih baik dan produktif. Setiap orang mungkin dapat menjadi pembaca yang cepat-dan tepat sasaran, di samping menjadi penulis yang menghasilkan sejumlah bahasan yang mencerahkan banyak orang.

Menariknya, dari sekian buku yang ada. Saya temukan bahwa ada beragam gaya belajar yang dimiliki dan mencirikan tiap orang. Dengan sebuah tes kecil yang juga disajikan dalam buku ini, kita akan tahu kita ini termasuk memiliki gaya belajar yang mana.

Sekali lagi oleh DePorter ditegaskan tentang jenis-jenis kecerdasan yang sedemikian kompleks, setidaknya ada 8 jenis kecerdasan (multiple intelligences). Pada sekolah-sekolah kita lebih sering dikatakan tentang kecerdasan tunggal yaitu intelektual. Namun dari buku ini dengan jelas dikatakan berbagai jenis kecerdasan dalam diri manusia, persoalannya adalah mana yang lebih dominan kita miliki. Kesadaran akan potensi kecerdasan yang kita miliki akan berpengaruh dalam pengambilan langkah perlakuan bagaimana kita mengembangkan kecerdasan tersebut. Pada akhirnya, dengan mengembangkan potensi dan kecerdasan

Kelebihan: DePorter menulis buku yang cukup praktis seperti halnya cooperative learning. Kepraktisannya akan kita rasakan ketika kita menenmukan kiat-kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses yang menghemat waktu kita, mempertajam pemahaman dan daya ingat kita. Sekali lagi, saya begitu tertarik karena teori yang dikatakan dalam buku ini bukan hanya teori belaka, namun dibangun dari fakta, penelitian, dan pengalaman nyata, yaitu Supercamp. Sehingga, tidak perlu diragukan lagu untuk digunakan dalam lapangan persekolahan Indonesia. Tentu saja perlu banyak dilakukan percobaan dan eksperimen lanjutan guna mendukung pelaksanaan Quantum Learning yang sesuai dengan situasi dan kondisi aspek pendukung pembelajaran sekolah-sekolah di Indonesia.

Quantum Learning dapat mendorong inovasi metode pembelajaran yang menyenangkan, terutama bagi para guru maupun pembelajar dari kalangan wanita. Mengapa? Karena penyusun dan penemu teori Quantum Learning adalah seorang perempuan.

Penyajian buku ini lebih kreatif dari banyak buku pembelajaran yang ada, dengan penempatan grafis, gambar, tabel, dan tulisan yang menarik perhatian pembeca. Ini artinya, dengan memperhatikan tulisan dan sajiannya, maka kita akan tertarik untuk membaca dan memahami, lalu menerapkannya.

Sayangnya, dari segi penyajian sendiri, aspek warna sebagai pendukung penulisan buku tidak diberikan secara proporsional. Belum tampak ada beda antara gambar berwarna dengan warna tulisan, sehingga rangsangan untuk memerhatikan sajian buku belum begitu maksimal.


Dengan memerhatikan konsep quantum, betapa seluruh pribadi adalah penting (akal, fisik, dan emosi/pribadi).

Pada praksis pendidikan kita –untuk saat ini- kita harus semakin berhati-hati dalam mempersiapkan lingkungan sehingga semua siswa merasa penting, aman dan nyaman. Biasanya kita tidak memerhatikan seni, musik, dan tanaman. Maka sudah saatnyalah sejak sekarang ketika aspek tersebut (seni, tanaman, dan musik) dimasukkan sebagai komponen pembelajaran yang penting. Ruang belajar harus disetting sedemikian rupa agar aktivitas belajar dapat berjalan sesuai tujuan.

Sering kita jumpai ruang kelas di sekolah-sekolah kita minim dengan variasi. Hanya cat tembok kuning atau satu warna yang menghiasai, lalu jendela sebagai pelengkapnya. Ada lemari tempat buku, kursi, meja, papan tulis, dan meja guru, sampai di situ “titik”. Ini menandakan bahwa kita kurang kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Oleh karena itu, selagi masih ada waktu, harus ada revolusi suasana dalam menciptakan pembelajaran Pakem (aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), dengan dimulai dari penciptaan ruang belajar yang bermusik, warna-warna dengan beragam karya siswa yang dipajang.

Sering kita jumpai anak-anak yang dimasukkan ke suatu sekolah lalu berlanjut ke sekolah yang jenjangnya lebih tinggi tanpa belajar tentang bagaimana cara belajar yang efektif (learning how to learn). Dapat dibayangkan, seperti mendorong anak ke kolam renang tanpa mengajarinya dahulu cara berenang. Ia mungkin saja selamat, tetapi sebagai orang tua, apakah anda mau mengambil resiko tersebut?

Salah satu dari kesulitan dalam menerapkan isi buku ini adalah bagaimana mendapatkan buku ini, terutama bagi sekolah-sekolah pedesaan dengan pendekatan pembelajaran yang konvensional. Mereka lebih dulu mementingkan “yang penting dapat sekolah”, namun belum mementingkan bagaimana berhasil dalam belajar. Saat ini, guru belum terkondisikan untuk banyak membaca buku, sehingga kalau begitu bagaimana mereka akan mencoba metode dalam buku ini. Sangat mudah dijumpai di sekolah-sekolah, pada jam istirahat berapa banyak guru yang mau aktif datang ke perpustakaan sekadar mengetahui bagaimana siswa mereka antusias dalam mempelajari isi-isi buku.

Pelajaran lain yang patut dicobakan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah kita adalah bahwa “keberhasilan-keberhasilan meskipun kecil harus dirayakan. Pertanyaannya adalah bagaimana merayakannya dengan keterbatasan sosial-ekonomi di Indonesia saat ini. Belum lagi, agama membatasi cara-cara orang merayakan suatu keberhasilan dalam pencapaian usaha alias kita tak boleh berfoya-foya.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!