Sabtu, Mei 02, 2009

mELAWAN kANTUK



Kalau ada garapan yang mesti dikejar supaya segera selesai, mau tak mau saat malam mesti lembur nggarap. Tidak perempuan atau lelaki, kalau ada sedang kepepet mesti jadi terburu segera merampungkan. Akibatnya, tidur tidak lagi tengah malam, namun dini hari (jam 1, 2, atau 3 pagi bahkan tidak tidur sampai pagi fajar).

Mengetik beribu atau beratus ribu kata-kata supaya menjadi bermakna seringnya mengorbankan penat, capek, pegel, dan kantuk yang sudah menarik kelopak mata supaya tertutup segera. saya sendiri berapa kali harus melawan kantuk yang menerjang, sampai-sampai tergeletak terkapar tak berdaya di depan komputer dan tahu-tahu sudah jam 3 pagi...astaghfirullah mateng aku durung rampung ki... alhamdulillah wis dibuat tidur..hehe

Perasaan ini benar-benar plong jika sudah tuntas, tiba saatnya mencetak alias ngeprint garapan. Karena tak punya printer, walhasil ke rental adalah jalan utamanya. Kalau nyanggong pakai printer kancane dhewe kalau sedikit yang diprint tidak masalah, tapi kalau banyak wah kasihan.

Dengan semangat membara menyerahkan pekerjaan yang telah tercetak itu, harapannya bisa diterima, kalau dikoreksi ya...tidak fatal. Demikian itu rasanya cukup sebagai "bayaran" atas lemburan semalam.

Mengeluh adalah hal yang sulit dikesampingkan tatkala berbagai masalah menghadang, sebaik-baiknya mengeluh adalah keluhan kepada Illahi Robbi, kepada-Nyalah semua persoalan dipasrahkan.

Jumat, Mei 01, 2009

REVIEW BUKU “Super Accelerated Learning”

Buku I : “Super Accelerated Learning”
(Revolusi Belajar Cepat Abad 21 Berdasarkan Riset Terbaru para Ilmuwan)
Pengarang : Colin Rose, dkk.
Editor : Chandra Kurniawan
Penerbit : Jabal
Tebal buku : viii, 184 halaman
Tahun terbit : Februari, 2007
Genre : Pembelajaran (Pendidikan)


Saya kembali terhenyak, mengapa? Sebab sedemikian baru kajian buku ini untuk orang awam Indonesia. Kupasan yang berbicara tentang “keajaiban” otak, dengan cukup gamblang memberikan gambaran yang tidak ringkas, namun tidak juga terlalu padat.
Zaman ini dikenal sebagai zaman informasi dan teknologi komunikasi yang demikian beringas menyentuh setiap sendi sosio-psikologis kemanusiaan. Zaman dimana informasi yang beragam jenis hadir bukan hanya dalam hitungan jam atau menit, tetapi sudah dalam sepersekian detik. Ketika seseorang tidak dapat belajar dengan cepat, mencoba mengerti dengan cekatan, dan tidak kreatif, ia hanya akan menjadi sosok “tubuh bernyawa” yang tertinggal (kuper/gaptek).

Adalah yang pasti dari buku ini adalah bagaimana diungkap dan dikomunikasikannya secara padu, hasil penelitian Howard Gardner tentang Multiple Intelligences, Colin Rose dan Malcolm Nicholl tentang Accelerated Learning, Bobby DePorter tentang Quantum Learning, Marian Diamond tentang otak, Jordan E. Ayan tentang kreativitas, dan kajian hebat John C. Maxwell tentang motivasi.

Dengan ukuran saya sebagai orang awam, membaca buku ini tak cukup hanya sekali. Dengan keberanian untuk mengkaji, saya yakin anda akan memperoleh pencerahan dan kiat praktis agar bisa memiliki keterampilan-keterampilan itu dengan sempurna, seperti:
1.Pengetahuan relatif lengkap seputar kemampuan otak;
2.Kerangka berpikir untuk meraih kesuksesan;
3.Meningkatkan daya ingat dengan cara sederhana, bahkan oleh orang ‘culun’ sekalipun;
4.Menulis dengan metode quantum-nya DePorter
5.Membaca cepat dengan pemahaman tinggi;
6.Berkomuniaksi dengan efektif;
7.Keterampilan bekerjasama dengan orang lain dan kelompok;
8.Memiliki kreativitas orang jenius;
9.Mengelola waktu hingga batas maksimal.

Sepanjang membaca buku ini, secara pribadi dapat disarikan intinya; penulis mengajak kita tentang bagaimana mengaktifkan otak untuk kepentingan hidup manusia. Memang sepintas mirip dengan apa yang dikemukakan DePorter dengan Quantum Learningnya tetapi tentu tidak semua karena yang dimasukkan hanya tentang bagaimana mencoba menulis dan menjadi penulis yang handal.

Beberapa bagian yang cukup menarik yang dikemukakan oleh Colin (Sang Penulis) adalah tentang “ingatan”. Perlu diungkap bahwa ingatan merupakan proses biologis yakni informasi diberi kode dan dipanggil kembali. Selama ini anggapan saya bahwa ingatan adalah suatu wahana khusus penyimpan data di otak, ternyata itu tidaklah benar. Bahwa ingatan merupakan reaksi rumit sekaligus unik diseluruh bagian otak. Ia dinamis, berkembang, dan mungkin tidak akan mati ketika empunya pun telah menjadi mayat. Sebab, tentu kita boleh percaya, suatu saat kelak. Ingatan-ingatan itulah yang akan menggugah kita dalam alam penghidupan lain, yang disebut gerbang akhirat (Padang Masyhar tempat penimbangan amal perbuatan).

Pada bagian mengingat dan melupakan dalam buku ini (halaman 32) dikatakan bahwa kita mengingat informasi yang membantu kita untuk tetap hidup, sesuatu yang menarik minat kita, sesuatu yang kita latih, sesuatu yang berarti, serta sesuatu-sesuatu yang lain. Kenyataannya dalam keseharian kita memanng demikian, sering kita ingat hanya pada apa yang menguntungkan kita. Bahkan ada pemeo “ada uang abang disayang, tak ada uang abang kutendang”. Hal yang nampak sepele itu mengingatkan kita bahwa sering kita hanya mau ingat dengan hal yang pragmatis dan benar-benar mendatangkan keuntungan finansial bagi kita, dan itu salah.

Menariknya lagi, buku ini mengantarkan kita pada pemahaman bahwa ada banyak jenis kecerdasan dalam diri manusia. Selama ini seringkali kita hanya mengklaim bahwa kecerdasan hakiki adalah kecerdasan intelektual/kepintaran otak dalam mengingat saja, padahal ada banyak kecerdasan yang luar biasa bila digunakan dalam hal bermanfaat. Sebagai contoh, kecerdasan musikal. Kecerdasan ini menggariskan tentang bagaimana orang memiliki kemampuan menciptakan dan menafsirkan musik, bukan hanya mendengar musik. Musikus yang telah mendunia adalah contohnya, seperti Mozart, Bethoven, Eric Clapton, Elvis Presley, dan lainnya. Dengan sedikit sentuhan tangan pada gitar, atau dengan mengumpat kata yang kelihatannya tak perlu dapat mengilhami lahirnya sebuah lagu yang menyenangkan. Pentingnya adalah kita harus mampu menggali mana-mana kecerdasan yang paling menonjol dalam diri kita, sehingga dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih beradab. Dalam buku ini, multiple intelligences disajikan mulai halaman 20.

Bagian lain yang menggelitik pemikiran saya adalah pada bagian “Manajemen Waktu”. Mengapa? Seringnya saya mengabaikan kebermanfaatan waktu, hingga banyak waktu terbuang percuma untuk hal yang sia-sia. Disinilah (dalam buku) ditegaskan bahwa pembelajaran yang dipercepat (super learning) tidak mungkin dilepaskan dari manajemen waktu yang efektif dan efisien. Dicontohkan, betapa waktu telah mengubah nasib seseorang. Alexander Graham Bell yang secara kebetulan menciptakan telepon dalam waktu yang bersamaan dengan Gray lebih berhasil dalam hidupnya ketika ia lebih cepat dua jam mendaftarkan hak paten ”telepon”, padahal Gray hendak melakukan hal yang sama. Pada akhirnya Bell lebih dikenal, dan memang terkenal sebagai pencipta telepon.

Seorang Filsof Prancis, Blaise Pascal, mengatakan “hal terakhir yang diketahui oleh seseorang adalah apa yang harus ia tempatkan pertama kali”.

Artinya, orang sering lalai untuk menentukan mana-mana yang harus didahulukan untuk diperbuat. Sering membuang kesempatan dari sekian waktu yang sedikit adalah kebiasaan yang sering terjadi diantara kita. Maka, patut sekarang kita belajar dari suatu tips dari Ivy Lee, ”Buatlah catatan dari hal-hal yang akan anda lakukan dan merupakan hal terpenting untuk saat ini, kemudian berikan nomor berdasarkan urutan kepentingan bagi anda dan kehidupan anda”. “Setelah selesai masukkan kertas itu kedalam saku baju anda, dan besok pagi lakukan dari hal pertama (nomor pertama lalu seterusnya), lakukan benar-benar pernomor sampai tuntas baru beranjaklah ke nomor berikutnya”. Semoga anda sukses!

Kelebihan buku ini adalah, seperti telah dikemukakan di awal tadi, bahwa teori belajar yang dituliskan di sini adalah hasil penelitian yang sudah cukup alam dilakukan oleh pakar belajar dan pendidik, jadi telah teruji dan lebih praktis untuk dibuktikan. Langkah-langkah bagaimana membangkitkan potensi anda pun lebih konkrit untuk dikerjakan, misalnya tentang bagaimana kita berlatih menajamkan ingatan kita.
Pastinya, isi tulisan dalam buku ini mendorong pengembangan kemampuan otak, yang berikutnya mengembangkan kemampuan kita masing-masing untuk berbuat dan bertindak demi kesuksesan dengan sejumlah langkah jitu tapi sederhana dimulai dari sekitar kita.

Lebih bagus lagi, kita ditolong untuk mengurusi diri kita sendiri, tetapi mengembangkan simpati dan empati terhadap orang lain. Bahwa leaning live together adalah hal mendasar dan mesti dipenuhi. Tidak ada sukses pribadi.
Kupasan kecerdasan dengan beragam jenisnya disajikan secara gamblang berikut contoh tokoh yang memiliki kemenonjolan kecerdasaran-kecerdasaan tersebut, tentunya tidak menutup kemungkinan kita bisa lebih dari mereka jika kita bisa menggali kemampuan dan kecerdasan kita.

Penampilan turut menentukan, dan ini dibuktikan dengan baik dalam penyajian buku ini. Gambar, grafik, dan tulis disajikan sedemikian rupa saling mendukung dan menguatkan. Tidak ada gambar yang tidak “berbunyi”, di sini begitu tampak maknanya. Ada sajian teks cukup padat berisi ditambah masih adanya semacam indeks penguat berupa gambar atau kata kecil untuk lebih mudah kita ingat. Di sinilah kemudahan mempelajari dan memahami isi buku ini.

Kekurangan: Dalam buku ini dikatakan, sebagiamana penelitian-penelitian pendukung buku ini dilaksanakan bahwa pendidikan yang semakin tinggi akan semakin menentukan kesuksesan. Kenyataannya tidaklah demikian, banyak orang yang berhasil dengan bekal tidak lebih dari ijazah SD bahkan lebih rendah dari itu. Apalgi jika kita sedikit ekstrim dengan mengatakan bahwa faktor nasib adalah penentu 50% dari keberhasilan hidup, ini hanya misalnya. Bangsa Indonesia ini, pendidikan tinggi yang diimbangi dengan kepribadian “Ketimuran” yang bermartabat akan lebih menjanjikan kepuasan spiritual dan material, di samping faktor nasib.

Di katakan pada halaman 19, faktor genetik bukanlah penentu kepintaran atau bodohnya seseorang. Kenyataannya, memang masih banyak orang tua yang berbakat dan berhasil dalam bidangnya dapat “menghasilkan” anak yang memiliki kelebihan dan bakat yang hampir sama. Contohlah misalnya seorang yang menjadi komponis dan musikus (Erwin Gutawa), ternyata memiliki anak seorang penyanyi yang berbakat (Gita Gutawa). Artinya, bahwa bakat dan faktor keturunan masih berperanan penting bagi seseorang untuk berhasil, sebab bakat adalah bagian dari potensi yang perlu dikembangkan. Manusia adalah makhluk dinamis, jadi “jika manusia diam saja seperti besi teronggok, maka menguaplah ia seperti air”.

Multiple Intelligences telah memantapkan pandangan tentang beragamnya bentuk kecerdasan manusia, namun masih kurang jika tidak ditambah paling tidak dua (2) bentuk kecerdasan lagi, yitu “kecerdasan emosial dan kecerdasan spiritual”. 8 kecerdasaan yang ada masih membutakan diri orang untuk berbuat bagi sesamanaya, sebab potensi individualitasnya masih besar. Bagaimana ia menahan marah, berempat, dan bersimpati serta berkorban bagi orang lain adalah implementasi kecerdasaan spiritual. Bahkan mungkin seorang yang mestinya digaji karena pekerjaannya, ia menolak uang itu karena telah merasa puas dengan pengabdiannya itu. Inilah yang Orang Jawa menyebutnya ”marem” atau kepuasan spiritual.

Ditegaskan lebih tajam dalam buku ini bahwa ingatan kita perlu dilatih, namun tidak dikatakan bahwa ada faktor yang satu ini yang sebagai pendukung. Apa itu? Yaitu, nutrisi makanan. Tentu saja nutrisi ini adalah sesuatu yang bergizi bagi otak, dan ini bisa dipenuhi pada orang-orang yang berkecukupan secara ekonomi. Nah, dengan angka kemiskinan yang tinggi (18%), tentu anak-anak kita belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi otaknya, sehingga ada kemungkinan ingatan ini akan tergganggu atau mungkin tidak optimal.

Rabu, April 29, 2009

Kok Mabok Bae, Aja Kaya Kuwe’!


By widodo


Kamis-Jumat, 23-24 April 2009, 00.43. Based of True Story alias pengalaman. Pernahkah anda menjumpai orang mabuk? Bagaimana gelagatnya? Saya yakin anda pernah menjumpainya. Orang pintar yang bodoh itulah julukan yang pantas. Pantas bagi siapa? Bagi mahasiswa yang mabuk miras.

Mereka yang mengaku menjadi mahasiswa, kaum intelektual. Segudang dan setinggi langit cita-cita, yang katanya demi memenuhi hasrat “pumpung masing muda”, mabok dululah, katanya mencicipi nikmatnya dunia, mengobati rasa penasaran sebelum tua.

Orang mabok miras, barangkali menjadi orang yang “apa adanya”. Perasaan dirinya sendiri terhadap orang lain, uneg-uneg yang tidak pernah dikatakan bila dalam keadaan sadar, saat mabok semua diomongkan. Alangkah prihatinnya, karena mereka yang mabok ini rawan terhadap penyakit hati-sosial, yaitu fitnah. Di samping uneg-uneg yang tercurah, omongan cabul, jorok, hingga tuduhan fitnah pada orang lain juga tertumpah, memicu sakit hari. Sekalipun kawan karib juga menjadi lawan, menjadi tertuduh, menjadi musuh duel, menjadi subjek makian.

Mereka menjadi sentimental dan mudah sensitif, hal-hal sepele bisa menjadi sepolo (besar). Hal sepele menjadi masalah besar, satu rumah di amuk, satu kos dicaci-maki. Tuduhan yang tak penting tapi menyakitkan pun mengalir (makanya kesabaran kita diuji). Itulah bahayanya, mereka yang berteman menjadi renggang, karena apa? Karena mabok, karena tidak sadar, semua terasa halal. Namun jika pengaruh miras telah hilang, seolah-olah mereka lupa apa yang dikatakan, hilang ingatan apa yang dilakukan ketika masih mabok. Benarkah mereka lupa, atau hanya pura-pura lupa.

Orang mabok/mabuk seringnya menjadi angas, galak, beringas, dan buas sesungguhnya orang yang paling lemah. Dengan satu gerakan saja mereka terjungkal jatuh, dengan satu dorongan mereka akan geloyoran menubruk sana sini. Seandainya kepala mereka itu dicemplungkan ke dalam bak, barangkali mereka sudah mengira di dalam kolam, tak bisa berenang dan habislah mereka.

Prihatin saya prihatin, mengapa begini. Jauh-jauh orangtua yang penuh kasih sayang menguliahkan, memberi fasilitas motor, mengirimi uang bulanan via ATM tanpa henti, membelikan HP dan laptop trend terbaru. Apakah membayar kepercayaan itu dengan mabok. Para orangtua yang lebih banyak tak tahu apa yang diperbuat anaknya, jarak beratus kilometer tentu sulit mengawasinya. Sehingga, mereka yang berhati baja, yang teguh komitmen, yang menyisihkan kesenangan hidup untuk sementara, itulah yang telah mencicil membalas kebaikan dan kasih sayang ibu-bapak.

Teman-teman…jangan sia-siakan hidup. Salam pramuka!

.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!