Jumat, Mei 01, 2009

REVIEW BUKU “Super Accelerated Learning”

Buku I : “Super Accelerated Learning”
(Revolusi Belajar Cepat Abad 21 Berdasarkan Riset Terbaru para Ilmuwan)
Pengarang : Colin Rose, dkk.
Editor : Chandra Kurniawan
Penerbit : Jabal
Tebal buku : viii, 184 halaman
Tahun terbit : Februari, 2007
Genre : Pembelajaran (Pendidikan)


Saya kembali terhenyak, mengapa? Sebab sedemikian baru kajian buku ini untuk orang awam Indonesia. Kupasan yang berbicara tentang “keajaiban” otak, dengan cukup gamblang memberikan gambaran yang tidak ringkas, namun tidak juga terlalu padat.
Zaman ini dikenal sebagai zaman informasi dan teknologi komunikasi yang demikian beringas menyentuh setiap sendi sosio-psikologis kemanusiaan. Zaman dimana informasi yang beragam jenis hadir bukan hanya dalam hitungan jam atau menit, tetapi sudah dalam sepersekian detik. Ketika seseorang tidak dapat belajar dengan cepat, mencoba mengerti dengan cekatan, dan tidak kreatif, ia hanya akan menjadi sosok “tubuh bernyawa” yang tertinggal (kuper/gaptek).

Adalah yang pasti dari buku ini adalah bagaimana diungkap dan dikomunikasikannya secara padu, hasil penelitian Howard Gardner tentang Multiple Intelligences, Colin Rose dan Malcolm Nicholl tentang Accelerated Learning, Bobby DePorter tentang Quantum Learning, Marian Diamond tentang otak, Jordan E. Ayan tentang kreativitas, dan kajian hebat John C. Maxwell tentang motivasi.

Dengan ukuran saya sebagai orang awam, membaca buku ini tak cukup hanya sekali. Dengan keberanian untuk mengkaji, saya yakin anda akan memperoleh pencerahan dan kiat praktis agar bisa memiliki keterampilan-keterampilan itu dengan sempurna, seperti:
1.Pengetahuan relatif lengkap seputar kemampuan otak;
2.Kerangka berpikir untuk meraih kesuksesan;
3.Meningkatkan daya ingat dengan cara sederhana, bahkan oleh orang ‘culun’ sekalipun;
4.Menulis dengan metode quantum-nya DePorter
5.Membaca cepat dengan pemahaman tinggi;
6.Berkomuniaksi dengan efektif;
7.Keterampilan bekerjasama dengan orang lain dan kelompok;
8.Memiliki kreativitas orang jenius;
9.Mengelola waktu hingga batas maksimal.

Sepanjang membaca buku ini, secara pribadi dapat disarikan intinya; penulis mengajak kita tentang bagaimana mengaktifkan otak untuk kepentingan hidup manusia. Memang sepintas mirip dengan apa yang dikemukakan DePorter dengan Quantum Learningnya tetapi tentu tidak semua karena yang dimasukkan hanya tentang bagaimana mencoba menulis dan menjadi penulis yang handal.

Beberapa bagian yang cukup menarik yang dikemukakan oleh Colin (Sang Penulis) adalah tentang “ingatan”. Perlu diungkap bahwa ingatan merupakan proses biologis yakni informasi diberi kode dan dipanggil kembali. Selama ini anggapan saya bahwa ingatan adalah suatu wahana khusus penyimpan data di otak, ternyata itu tidaklah benar. Bahwa ingatan merupakan reaksi rumit sekaligus unik diseluruh bagian otak. Ia dinamis, berkembang, dan mungkin tidak akan mati ketika empunya pun telah menjadi mayat. Sebab, tentu kita boleh percaya, suatu saat kelak. Ingatan-ingatan itulah yang akan menggugah kita dalam alam penghidupan lain, yang disebut gerbang akhirat (Padang Masyhar tempat penimbangan amal perbuatan).

Pada bagian mengingat dan melupakan dalam buku ini (halaman 32) dikatakan bahwa kita mengingat informasi yang membantu kita untuk tetap hidup, sesuatu yang menarik minat kita, sesuatu yang kita latih, sesuatu yang berarti, serta sesuatu-sesuatu yang lain. Kenyataannya dalam keseharian kita memanng demikian, sering kita ingat hanya pada apa yang menguntungkan kita. Bahkan ada pemeo “ada uang abang disayang, tak ada uang abang kutendang”. Hal yang nampak sepele itu mengingatkan kita bahwa sering kita hanya mau ingat dengan hal yang pragmatis dan benar-benar mendatangkan keuntungan finansial bagi kita, dan itu salah.

Menariknya lagi, buku ini mengantarkan kita pada pemahaman bahwa ada banyak jenis kecerdasan dalam diri manusia. Selama ini seringkali kita hanya mengklaim bahwa kecerdasan hakiki adalah kecerdasan intelektual/kepintaran otak dalam mengingat saja, padahal ada banyak kecerdasan yang luar biasa bila digunakan dalam hal bermanfaat. Sebagai contoh, kecerdasan musikal. Kecerdasan ini menggariskan tentang bagaimana orang memiliki kemampuan menciptakan dan menafsirkan musik, bukan hanya mendengar musik. Musikus yang telah mendunia adalah contohnya, seperti Mozart, Bethoven, Eric Clapton, Elvis Presley, dan lainnya. Dengan sedikit sentuhan tangan pada gitar, atau dengan mengumpat kata yang kelihatannya tak perlu dapat mengilhami lahirnya sebuah lagu yang menyenangkan. Pentingnya adalah kita harus mampu menggali mana-mana kecerdasan yang paling menonjol dalam diri kita, sehingga dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih beradab. Dalam buku ini, multiple intelligences disajikan mulai halaman 20.

Bagian lain yang menggelitik pemikiran saya adalah pada bagian “Manajemen Waktu”. Mengapa? Seringnya saya mengabaikan kebermanfaatan waktu, hingga banyak waktu terbuang percuma untuk hal yang sia-sia. Disinilah (dalam buku) ditegaskan bahwa pembelajaran yang dipercepat (super learning) tidak mungkin dilepaskan dari manajemen waktu yang efektif dan efisien. Dicontohkan, betapa waktu telah mengubah nasib seseorang. Alexander Graham Bell yang secara kebetulan menciptakan telepon dalam waktu yang bersamaan dengan Gray lebih berhasil dalam hidupnya ketika ia lebih cepat dua jam mendaftarkan hak paten ”telepon”, padahal Gray hendak melakukan hal yang sama. Pada akhirnya Bell lebih dikenal, dan memang terkenal sebagai pencipta telepon.

Seorang Filsof Prancis, Blaise Pascal, mengatakan “hal terakhir yang diketahui oleh seseorang adalah apa yang harus ia tempatkan pertama kali”.

Artinya, orang sering lalai untuk menentukan mana-mana yang harus didahulukan untuk diperbuat. Sering membuang kesempatan dari sekian waktu yang sedikit adalah kebiasaan yang sering terjadi diantara kita. Maka, patut sekarang kita belajar dari suatu tips dari Ivy Lee, ”Buatlah catatan dari hal-hal yang akan anda lakukan dan merupakan hal terpenting untuk saat ini, kemudian berikan nomor berdasarkan urutan kepentingan bagi anda dan kehidupan anda”. “Setelah selesai masukkan kertas itu kedalam saku baju anda, dan besok pagi lakukan dari hal pertama (nomor pertama lalu seterusnya), lakukan benar-benar pernomor sampai tuntas baru beranjaklah ke nomor berikutnya”. Semoga anda sukses!

Kelebihan buku ini adalah, seperti telah dikemukakan di awal tadi, bahwa teori belajar yang dituliskan di sini adalah hasil penelitian yang sudah cukup alam dilakukan oleh pakar belajar dan pendidik, jadi telah teruji dan lebih praktis untuk dibuktikan. Langkah-langkah bagaimana membangkitkan potensi anda pun lebih konkrit untuk dikerjakan, misalnya tentang bagaimana kita berlatih menajamkan ingatan kita.
Pastinya, isi tulisan dalam buku ini mendorong pengembangan kemampuan otak, yang berikutnya mengembangkan kemampuan kita masing-masing untuk berbuat dan bertindak demi kesuksesan dengan sejumlah langkah jitu tapi sederhana dimulai dari sekitar kita.

Lebih bagus lagi, kita ditolong untuk mengurusi diri kita sendiri, tetapi mengembangkan simpati dan empati terhadap orang lain. Bahwa leaning live together adalah hal mendasar dan mesti dipenuhi. Tidak ada sukses pribadi.
Kupasan kecerdasan dengan beragam jenisnya disajikan secara gamblang berikut contoh tokoh yang memiliki kemenonjolan kecerdasaran-kecerdasaan tersebut, tentunya tidak menutup kemungkinan kita bisa lebih dari mereka jika kita bisa menggali kemampuan dan kecerdasan kita.

Penampilan turut menentukan, dan ini dibuktikan dengan baik dalam penyajian buku ini. Gambar, grafik, dan tulis disajikan sedemikian rupa saling mendukung dan menguatkan. Tidak ada gambar yang tidak “berbunyi”, di sini begitu tampak maknanya. Ada sajian teks cukup padat berisi ditambah masih adanya semacam indeks penguat berupa gambar atau kata kecil untuk lebih mudah kita ingat. Di sinilah kemudahan mempelajari dan memahami isi buku ini.

Kekurangan: Dalam buku ini dikatakan, sebagiamana penelitian-penelitian pendukung buku ini dilaksanakan bahwa pendidikan yang semakin tinggi akan semakin menentukan kesuksesan. Kenyataannya tidaklah demikian, banyak orang yang berhasil dengan bekal tidak lebih dari ijazah SD bahkan lebih rendah dari itu. Apalgi jika kita sedikit ekstrim dengan mengatakan bahwa faktor nasib adalah penentu 50% dari keberhasilan hidup, ini hanya misalnya. Bangsa Indonesia ini, pendidikan tinggi yang diimbangi dengan kepribadian “Ketimuran” yang bermartabat akan lebih menjanjikan kepuasan spiritual dan material, di samping faktor nasib.

Di katakan pada halaman 19, faktor genetik bukanlah penentu kepintaran atau bodohnya seseorang. Kenyataannya, memang masih banyak orang tua yang berbakat dan berhasil dalam bidangnya dapat “menghasilkan” anak yang memiliki kelebihan dan bakat yang hampir sama. Contohlah misalnya seorang yang menjadi komponis dan musikus (Erwin Gutawa), ternyata memiliki anak seorang penyanyi yang berbakat (Gita Gutawa). Artinya, bahwa bakat dan faktor keturunan masih berperanan penting bagi seseorang untuk berhasil, sebab bakat adalah bagian dari potensi yang perlu dikembangkan. Manusia adalah makhluk dinamis, jadi “jika manusia diam saja seperti besi teronggok, maka menguaplah ia seperti air”.

Multiple Intelligences telah memantapkan pandangan tentang beragamnya bentuk kecerdasan manusia, namun masih kurang jika tidak ditambah paling tidak dua (2) bentuk kecerdasan lagi, yitu “kecerdasan emosial dan kecerdasan spiritual”. 8 kecerdasaan yang ada masih membutakan diri orang untuk berbuat bagi sesamanaya, sebab potensi individualitasnya masih besar. Bagaimana ia menahan marah, berempat, dan bersimpati serta berkorban bagi orang lain adalah implementasi kecerdasaan spiritual. Bahkan mungkin seorang yang mestinya digaji karena pekerjaannya, ia menolak uang itu karena telah merasa puas dengan pengabdiannya itu. Inilah yang Orang Jawa menyebutnya ”marem” atau kepuasan spiritual.

Ditegaskan lebih tajam dalam buku ini bahwa ingatan kita perlu dilatih, namun tidak dikatakan bahwa ada faktor yang satu ini yang sebagai pendukung. Apa itu? Yaitu, nutrisi makanan. Tentu saja nutrisi ini adalah sesuatu yang bergizi bagi otak, dan ini bisa dipenuhi pada orang-orang yang berkecukupan secara ekonomi. Nah, dengan angka kemiskinan yang tinggi (18%), tentu anak-anak kita belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi otaknya, sehingga ada kemungkinan ingatan ini akan tergganggu atau mungkin tidak optimal.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!