
By widodo
Kamis-Jumat, 23-24 April 2009, 00.43. Based of True Story alias pengalaman. Pernahkah anda menjumpai orang mabuk? Bagaimana gelagatnya? Saya yakin anda pernah menjumpainya. Orang pintar yang bodoh itulah julukan yang pantas. Pantas bagi siapa? Bagi mahasiswa yang mabuk miras.
Mereka yang mengaku menjadi mahasiswa, kaum intelektual. Segudang dan setinggi langit cita-cita, yang katanya demi memenuhi hasrat “pumpung masing muda”, mabok dululah, katanya mencicipi nikmatnya dunia, mengobati rasa penasaran sebelum tua.
Orang mabok miras, barangkali menjadi orang yang “apa adanya”. Perasaan dirinya sendiri terhadap orang lain, uneg-uneg yang tidak pernah dikatakan bila dalam keadaan sadar, saat mabok semua diomongkan. Alangkah prihatinnya, karena mereka yang mabok ini rawan terhadap penyakit hati-sosial, yaitu fitnah. Di samping uneg-uneg yang tercurah, omongan cabul, jorok, hingga tuduhan fitnah pada orang lain juga tertumpah, memicu sakit hari. Sekalipun kawan karib juga menjadi lawan, menjadi tertuduh, menjadi musuh duel, menjadi subjek makian.
Mereka menjadi sentimental dan mudah sensitif, hal-hal sepele bisa menjadi sepolo (besar). Hal sepele menjadi masalah besar, satu rumah di amuk, satu kos dicaci-maki. Tuduhan yang tak penting tapi menyakitkan pun mengalir (makanya kesabaran kita diuji). Itulah bahayanya, mereka yang berteman menjadi renggang, karena apa? Karena mabok, karena tidak sadar, semua terasa halal. Namun jika pengaruh miras telah hilang, seolah-olah mereka lupa apa yang dikatakan, hilang ingatan apa yang dilakukan ketika masih mabok. Benarkah mereka lupa, atau hanya pura-pura lupa.
Orang mabok/mabuk seringnya menjadi angas, galak, beringas, dan buas sesungguhnya orang yang paling lemah. Dengan satu gerakan saja mereka terjungkal jatuh, dengan satu dorongan mereka akan geloyoran menubruk sana sini. Seandainya kepala mereka itu dicemplungkan ke dalam bak, barangkali mereka sudah mengira di dalam kolam, tak bisa berenang dan habislah mereka.
Prihatin saya prihatin, mengapa begini. Jauh-jauh orangtua yang penuh kasih sayang menguliahkan, memberi fasilitas motor, mengirimi uang bulanan via ATM tanpa henti, membelikan HP dan laptop trend terbaru. Apakah membayar kepercayaan itu dengan mabok. Para orangtua yang lebih banyak tak tahu apa yang diperbuat anaknya, jarak beratus kilometer tentu sulit mengawasinya. Sehingga, mereka yang berhati baja, yang teguh komitmen, yang menyisihkan kesenangan hidup untuk sementara, itulah yang telah mencicil membalas kebaikan dan kasih sayang ibu-bapak.
Teman-teman…jangan sia-siakan hidup. Salam pramuka!
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar