
Nggak mungkin banjir bisa teratasi kalau cara pikir otak kita masih sama saja. Setiap kampanye dan pidato berkoar soal penataan lingkungan dan hidup yang sehat akan muspro, sebab sudah terbukti bahwa ada saja yang menjilat omongannya sendiri, membuang bungkus permen, bungkus rokok sak karepe dewe.
Omongan guru hanya dongengan basi bagi anak-anak, kalau ia keluar kelas sambil membuang ludahnya setelah mengajar. Pembina pramuka hanya banyak-banyak berbuih mulut belaka jika snack lumpia yang baru disajikan, bungkusnya dilempar di pojok ruangan.
Kita terlampau bermimpi untuk bisa menciptakan taman indah dalam sanubari anak-anak kita, jika impian itu sebagai pemanis setiap obrolan makan siang belaka.
Ya, pikiran sampah lagi dan sampah lagi. Kita sering berbangga bila anak-anak yang rajin belajar untuk mencapai kelulusan dalam studinya di sekolah atau indeks prestasi A yang mengagumkan, tapi tak peduli jika anak Anda lalu sesekali sibuk merawat taman di depan kelas, menyiram tanaman bunga di halaman rumah, atau mereka yang sedang asyik mengorek sampah got agar aliran air mengalir sampai jauh.
Apalah sulitnya jika bungkus permen itu di buang di bak sampah? Adakah kesulitan ketika kita harus menyapu halaman rumah kita sendiri atau mengurus bunga-bunga di halaman rumah? Apalagi tangan kita yang masih lengkap, lebih penting lagi otak kita yang merasa sehat, kaki yang kuat mengayun melangkah sesuka kita.
Tak salahlah bila, ada ide menempatkan bak atau tempat sampah di sembarang tempat guna bersaing dengan pembuang sampah di sembarang tempat. Meski pikiran agak terganggu juga dengan ide ini, bagaimana bisa bak sampah di sembarang tempat, [mungkin] justru bak sampah dapat menjadi sampah dan terkesan kurang gawean. Tapi itulah ide gila wujud keprihatinan saya.
Tatkala dulu [dan sebagian sekarang] kritikan bahwa guru-guru kita tidak inovatif, tidak kreatif, maka saat ini telah semakin banyak lahir guru-guru yang pintar dan beragam metode pembelajaran untuk memudahkan asupan materi pelajaran sulit ke dalam otak. Namun yang pasti, guru-guru kita [banyak] yang belum mampu menjadi teladan untuk sebuah perilaku terpuji. Rasa sayang dan senyum sebagai kepositifan pembangkit motivasi bagi anak hanya tercermin pada sosok selebritas. Keterlibatan dalam aktivitas ektrakurikuler menjadikan guru sebagai idola karena ituah profil guru gaul [saat ini]. Lalu yang kita butuhkan sekarang guru kreatif dan teladan dalam soal kecil, mengelola sampah.
Kepekaan anak terhadap lingkungan semakin dikebiri bahkan hingga sekolah-sekolah di kampung pelosok. Tugas jadwal piket anak untuk membersihkan ruangannya sendiri mulai digantikan oleh petugas cleaning services. Taman bunga yang diserahkan penggarapannya kepada tukang kebun sekolah. Bagaimana kepala sekolah dengan harapannya bahwa anak didiknya menjauhi rokok, namun guru-guru masih santai berlalu lalang dan merokok untuk mendampingi gurauan mereka saat jam-jam istirahat sekolah. Bagaimana orangtua dapat berharap berkurangnya resiko pencemaran udara, bila anak-anak mereka yang seusia anak SMP sudah diberi kewenangan besar untuk menunggangi motor ke sekolah mereka.
Hem, lupakanlah ide menaruh bak sampah disembarang tempat, itu ide gila!

