Rabu, April 15, 2009

Menyumpal Otak dengan Sampah


Nggak mungkin banjir bisa teratasi kalau cara pikir otak kita masih sama saja. Setiap kampanye dan pidato berkoar soal penataan lingkungan dan hidup yang sehat akan muspro, sebab sudah terbukti bahwa ada saja yang menjilat omongannya sendiri, membuang bungkus permen, bungkus rokok sak karepe dewe.

Omongan guru hanya dongengan basi bagi anak-anak, kalau ia keluar kelas sambil membuang ludahnya setelah mengajar. Pembina pramuka hanya banyak-banyak berbuih mulut belaka jika snack lumpia yang baru disajikan, bungkusnya dilempar di pojok ruangan.

Kita terlampau bermimpi untuk bisa menciptakan taman indah dalam sanubari anak-anak kita, jika impian itu sebagai pemanis setiap obrolan makan siang belaka.

Ya, pikiran sampah lagi dan sampah lagi. Kita sering berbangga bila anak-anak yang rajin belajar untuk mencapai kelulusan dalam studinya di sekolah atau indeks prestasi A yang mengagumkan, tapi tak peduli jika anak Anda lalu sesekali sibuk merawat taman di depan kelas, menyiram tanaman bunga di halaman rumah, atau mereka yang sedang asyik mengorek sampah got agar aliran air mengalir sampai jauh.

Apalah sulitnya jika bungkus permen itu di buang di bak sampah? Adakah kesulitan ketika kita harus menyapu halaman rumah kita sendiri atau mengurus bunga-bunga di halaman rumah? Apalagi tangan kita yang masih lengkap, lebih penting lagi otak kita yang merasa sehat, kaki yang kuat mengayun melangkah sesuka kita.

Tak salahlah bila, ada ide menempatkan bak atau tempat sampah di sembarang tempat guna bersaing dengan pembuang sampah di sembarang tempat. Meski pikiran agak terganggu juga dengan ide ini, bagaimana bisa bak sampah di sembarang tempat, [mungkin] justru bak sampah dapat menjadi sampah dan terkesan kurang gawean. Tapi itulah ide gila wujud keprihatinan saya.

Tatkala dulu [dan sebagian sekarang] kritikan bahwa guru-guru kita tidak inovatif, tidak kreatif, maka saat ini telah semakin banyak lahir guru-guru yang pintar dan beragam metode pembelajaran untuk memudahkan asupan materi pelajaran sulit ke dalam otak. Namun yang pasti, guru-guru kita [banyak] yang belum mampu menjadi teladan untuk sebuah perilaku terpuji. Rasa sayang dan senyum sebagai kepositifan pembangkit motivasi bagi anak hanya tercermin pada sosok selebritas. Keterlibatan dalam aktivitas ektrakurikuler menjadikan guru sebagai idola karena ituah profil guru gaul [saat ini]. Lalu yang kita butuhkan sekarang guru kreatif dan teladan dalam soal kecil, mengelola sampah.

Kepekaan anak terhadap lingkungan semakin dikebiri bahkan hingga sekolah-sekolah di kampung pelosok. Tugas jadwal piket anak untuk membersihkan ruangannya sendiri mulai digantikan oleh petugas cleaning services. Taman bunga yang diserahkan penggarapannya kepada tukang kebun sekolah. Bagaimana kepala sekolah dengan harapannya bahwa anak didiknya menjauhi rokok, namun guru-guru masih santai berlalu lalang dan merokok untuk mendampingi gurauan mereka saat jam-jam istirahat sekolah. Bagaimana orangtua dapat berharap berkurangnya resiko pencemaran udara, bila anak-anak mereka yang seusia anak SMP sudah diberi kewenangan besar untuk menunggangi motor ke sekolah mereka.

Hem, lupakanlah ide menaruh bak sampah disembarang tempat, itu ide gila!

Minggu, April 12, 2009

Sinau saka Wayang (part 2)




Sinau saka Wayang (part 2)
dening widodo


Dan malam itu Ki Anom Suroto mengambil judul Bima Maneges. Tak tahu persis apa arti etimologisnya. Dimana Bima (Werkudara/Brotoseno) setelah memperoleh pelajaran dari Dewa Ruci mantap untuk mengambil peran diri dalam peri kehidupan selanjutnya.

Ada yang berbeda malam itu. Cukup banyak mahasiswa Unnes yang hadir. Pagelaran ini diadakan guna menyambut Dirgahayu Unnes ke-44. Pada awal pementasan sekitar jam 21.30 ruang auditorium utama penuh dengan penonton, bahkan ketika naik ke balkon, ternyata hampir penuh ruangannya.

Selain masyarakat desa Sekaran Gunungpati, mahasiswa Unnes juga hadir disana dengan motif yang tentu saja berbeda; ada mahasiswa yang memang cinta seni pedalangan (wayang) sehingga hadir disini untuk belajar membabar jati diri. Tak sedikit yang datang demi mencari kesibukan malam bersama sang teman atau sang pacar (daripada tidak ngapa-ngapain).

Beberapa yang hadir bengong saja karena tidak mudheng dengan apa yang dikatakan si dalang yang memainkan beberapa tokoh wayang. Apalagi bahasa yang digunakan notabene kromo inggil (jawa halus), meski sebagian ada juga ngoko (seperti Werkudara dalam berbahasa). Jadi, kedatangan penontonnya pun sebagian tidak lebih dari pengobat kesibukan dan bukan untuk belajar. Maka sangat mahfum jika ada komentar di sana sini “opo to kuwi, ora genah, ora mudheng!”.

Bagi saya, malam itu cukup terganggu dengan suara soundsystem yang kurang jelas memperdengarkan suara dalang, ada gema di sana-sini. Sehingga lafal apa yang diucapkan menjadi kabur. Inilah resikonya menggelar wayang di dalam ruangan yang belum ada peredam suaranya. Maka, lain kali jika ingin mengadakan pagelaran sejenis sebaiknya di lapangan terbuka atau di dalam ruang yang representatif. Meski demikian, saya tetap bertahan untuk terus mencerna apa yang dikatakan tokoh wayang (melalui sang dalang).

Sekitar jam 1 dini hari Sabtu, penonton berangsur-angsur pamit undur diri keperaduannya masing-masing. Bisa jadi karena perhelatan malam itu kurang menghibur (serasa asing di telinga) atau soal kepahaman dalam mencerna pelajaran dalang. Di alam imajinasi mahasiswa mungkin ada acara dangdutan atau band-band-nan ditengah-tengah acara pagelaran wayang, tentu itu agak mustahil terjadi jika dalangnya adalah Ki Anom Suroto.

Menonton pagelaran wayang lebih cantik dan syahdu bila tak sekadar menunggu limbukan (saat limbuk dan biyung/ibu menyapa hadirin) atau goro-goro (hiburan sebagai pelengkap tontonan), akan lebih baik jika mengaji dari sekian percakapan bermutu untuk menjadi teladan (tuntunan).

Dan saya tidak beranjak dari tempat duduk meski pantat ini sudah panas seperti habis dari perjalanan jauh dengan sepeda motor. Tetap bertahan dengan keteguhan hati hingga pungkas paripurna yaitu saat Gunungan tegak ditancapkan tanda pagelaran The End. Kembali ke kos pagi itu, mendapat sangu yang luar biasa. Pelajaran bagi saya, untuk tidak hanya berilmu tetapi ngelmu dan ngamalke. Selanjutnya, ngolah rasa, olah jiwa, olah pikir, lan olah raga.

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!