Kamis, Mei 28, 2009

Menuju Gagak Rimang Blora (part 2)



Oleh mas wid

Hari itu nampaknya untuk jadwal tidur agak lebih malam padahal seharian belum leren, tapi tak apalah ini adalah sebuah moment yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Usai ditraktir sate di Jepon, kami meluncur ke arah timur Blora, tepat di depan kantor kecamatan Jiken motor Pak Dwi berhenti. Di sana kami sudah disambut si empunya rumah, seorang kakek dan nenek yang kira-kira berusia 80an tahun. Ramah sekali, lebih seringnya sang kakek berbahasa Indonesia sangat fasih.

Obrolan itu terasa begitu mengena dan menjurus pada garapan si kakek sekarang. Eyang soewarso, begitulah panggilan saya kepadanya. Cerita begitu saja mengalir menganak sungai. Dari jaman perjuangan Peta hingga pemilihan presiden tahun 2009.

Di ruang tamu itu, tertata rapi puluhan atau mungkin ratusan buku. Wayang, gambar Bung Karno, photo Mbah Warso kala masih paruh baya terpajang rapi di dinding. Bahkan ada kertas berbingkai rapi bertuliskan huruf Kanji Jepang yang memuat ijazah sekolah Jepang tahun 1943, itulah ijazah Pak Soewarso.

Beberapa manuskrip pilihan berbahasa Jepang, Inggris, Sansekerta, hingga berbahasa Jawa Kuno. Juga ditunjukkan serta Centini, dan beberapa manuskrip asli bertuliskan Jawa kuno, hingga Al Qur’an berhuruf jawa. Kata Pak Warso, Qur’an ini baru sebagian diterjemahkan olehnya.

Tampaknya Pak Warso sering kedatangan tamu penting, terbukti di buku tamunya ada banyak nama terpampang mengisi lembaran buku itu. Diantaranya terpampang nama seorang professor dari UI Jakarta, UGM, dosen Undip, mahasiswa, hingga para pemerhati lainnya. Saya berkesempatan mengisi buku kehormatan itu, maka saya tuliskan nama dan saya goreskan tanda tangan.

Tak berhenti di situ, saya memohon izin untuk mengambil gambar, karena malam itu kamera digital saya bawa. Saya potret beberapa bagian dari ruangan itu. Dengan bersemangat, pak warso melanjutkan ceritanya. Hingga ia akhirnya menyinggung soal keberadaan supriyadi ketika saya mencoba menggelitik dengan sebuah pertanyaan tentang pejuang peta itu. Menurutnya supriyadi telah wafat ketika berada di ssebuah lembah dalam kejaran pasukan belanda. Sehingga beberapa waktu kemarin ketika, ada seseornag yang mengaku sebagai supriyadi, ia menyangsikan kebenarannya.

Dikatakan oleh Eyang Warso, akhirnya ia mendatangi orang yang mengaku sebagai supriyadi tersebut. Ia “tantang” orang itu untuk berdialog berbahasa Jepang, ia lontarkan pertanyaan dalam bahasa Jepang, ia tantang untuk menulis dalam Huruf Jepang. Apa yang terjadi? Pihak yang ditantang tak dapat menjawab, tak dapat menuliskan, tak dapat mengungkapkan sebagai permintaan Pak Warso. Apa pasal sehingga mbah warso ‘mennatang” dalam Bahasa Jepang? Sebab kala itu, setiap pasukan peta mampu berbahasa jepang, menulis kanji jepang. Sehingga jika ada eks prajurit peta apalagi seorang supriyadi tidak mampu melakukannya, maka jelas itu sangat pantas diragukan.

Tawaran menarik datang kepada saya, tawaran bagi tidak sembarang orang. Saya mungkin agak beruntung karena saya adalah teman Pak Dwi, sedangkan eyang warso sendiri adalah ayah dari pak dwi. “ayo mas saya tunjukkan beberapa pusaka dan keris di kamar khusus saya, seklaian tadi masnya bawa kamera”. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya langusng mengiayakan. Di kamar itu ada puluhan barang pusaka sebagian besar adaah keris, ada wayang keramat, patung logam, tombak, keris, pring petuk (bambu yang bertemu kedua cabang bukunya), serta beberapa artefak. Barang-barang yang katanya masih menyimpan kekuatan magis. Di ruangan tersebut rasanya memang berbeda, rasa yang tidak biasanya. Di samping tumah juga ada semacam pondok kecil yang disbeut sebagai tempat uji nyali (biasanya 3 malam tidur di sana). Bagi pendatang yang berani boleh mencobanya. Ruangan yang dilengkapi bantal, buku, koran, hingga telepon yang siap digunakan kapanpun. Diajaknya saya keruangan itu, kami bertiga mengobrol sekitar setengah jam di sana. Dan sungguh tak terduga saya ditawari untuk mencoba ruangan itu, uji nyali.

Menurut ceritanya, banyak orang penting yang datang menemui beliau, dari yang mencari bahan tugas sampai Profesor untuk penelitian, bahkan ada yang minta “petunjuk” dan doa terkait pemilihan legislatif atau pilkada.

Rembugan malam itu seperti ingin diakhiri, namun kelelahan menggerayapi, dan ketika Pak Dwi mengajak pamitan, saya mengiyakan. Malam itu tentu tak terlupakan, saya belajar banyak hal.

Ke Semarang aku kan kembali…walau apapun yang kan terjadi, terima kasih semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!