
oleh: widodo
Kumasukkan ke dalam tas, secarik pembungkus dari kertas putih yang salah satu sisinya direkatkan, amplop. Adakalanya amplop dibiarkan terbuka tanpa direkatkan lem. Amplop yang berisi, isi yang berarti. Amplop yang membuat penasaran, apa isinya? Mungkin surat, namun nyatanya lembaran kertas yang bisa dibelanjakanlah yang lebih sering diharapkan.
Suatu sore yang belum gelap, ku terawang amplop di bawah sinar mentari, benarlah ada isinya. Berapa? Kutahan penasaranku hingga usai shalat maghrib, kuambil gunting, kukira-kira mana bagian yang digunting agar isinya tak sampai teriris. Aha, didalamnya 1 lembar kertas bergambar “Dwi Proklamator”. Alhamdulillah, semoga ini rezeki.
Melukiskan perasaanya ini begitu sulit, begitukah setiap ada amplop yang sengaja diberikan dan diterima. Campur aduk antara sungkan, enggan, dan malu-malu untuk diterima sehingga seringkali si pemberi memasukkannya ke dalam saku baju atau kantong tas dengan sedikit memaksa.
Paling asyik, dag dig dug tentu saat akan membuka amplopnya. Diintap-intip, diterawang, atau dikipas-kipaskan.
Kadang ada rasa mengharap juga, meski bukan harus, saya pikir ini wajar saja. Saat purna sebuah agenda kegiatan, kepanitiaan, pemateri, sering ada saja yang menyodorkan amplop dan beberapa berkas untuk ditanda tangani sebagai tanda terima.
Adakalanya teman-teman pramuka atau suatu organisasi mengundang untuk bercerita, usai acara dan hendak pulang panitia sedikit menahan saya untuk sekadar menyodorkan selembar amplop. Adalah benar, kadang saya menolaknya, mengapa? Saya khawatir nanti dianggap pasang tariff, saya khawatir mereka tak mengundang saya lagi karena kalau sampai mereka berasumsi bahwa saya mesti dibayar. Teman-teman, saya memang butuh uang, tetapi dengan di undang saja untuk membagi sedikit yang saya punya itupun sudah senang, lebih lagi sebagai sangu saya buat ke akhirat nanti.
Senangnya saat kembali ke kos, tak hanya mengantongi selembar amplop (yang pasti ada isinya), plus nasi kotak yang oleh teman dari Tegal menyebutnya sega “Tok”. Merasa, kadang seperti Bapak pulang kerja atau habis dari luar kota, dan anak-anak minta oleh-oleh.
Teman-teman yang bukan pramuka, namun betapa hormatnya mereka kepada sosok pramuka. Dengan tak sungkan menawarkan “Pak, motorku wae sing digawa, aku ora nyandi-nyandi!” atau “Pak pan nyandi, opo tak ter aring ngendi”. Hem, trenyuh saya, terharu saya, betapa mereka bisa mengerti kesulitan saya.
Tahukah Anda , bahwa saya mesti ngirit, agar bisa beli buku, buku yang akhir-akhir ini mengikuti gejolak krisis sehingga semakin mahal. Saya mesti hemat, agar selamat dalam berkhidmat setiap harinya. Menahan diri untuk makan 1 kali sehari saja meski belum tentu puasa, atau membohongi diri sendiri bahwa lambung dan usus sebenarnya sudah berdemo dan melilit panas (hahaha…itu dulu, sekarang? Tetep..hehe). Ataukah ketika awal kuliah saya di S1 dulu, setiap makan berpedoman pada PMDK (prinsip makan dua kali). Menahan kesenangan pribadi yang biasa dinikmati mahasiswa pada umumnya, nanti demi bisa mengadakan sesuatu yang lebih penting.
Adalah suatu harapan, setumpuk kesulitan ini dapat “terbayar” dengan kebaikan dan nikmat dari Alloh yang semakin melimpah suatu saat. Berakit-rakit dahulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian. Sesungguhnya di dalam kesulitan, ada kemudahan. Amplop-amplop itu menjadi saksi bisu dalam hidup, saksi dalam perjuangan, saksi dalam menahan rasa sakit dan lapar.
Dan, hari ini Minggu-15 Maret 2009, saat amplop kesekian kalinya telah dibuka lagi. Isinya kuintip pelan-pelan dan 2 lembaran “I Gusti Ngurah Rai” itu masih di sana, belum buat jajan, tapi suatu saat pasti habis juga.
