Selasa, Juni 23, 2009

TERJAGA dalam MALAM



keluarga Pak Yanto (Pak Dwi Yanto S, Bu Umi Hanik, Mina)


Masih di Blora,
saya adalah yang terakhir terjaga menjelang tengah malam ini. Sebelumnya menyempatkan mengetik beberapa bahan penyerta, dokumen laporan kegiatan hari itu. Rasa kantuk mulai menggerayapi mata, pegal dan capek seharian menjamah alas Blora bersama anak-anak. Kembali lagi saya menyerah, komputer segera di shutdown, dan beranjak ke pembaringan.

Belum sempat memejamkan mata, HP berdering ada beberapa sms yang terlambat masuk. Agak lirih bunyi ketukan pintu, memanggil si empunya rumah, “Pak Yanto, Pak wonten perlu!”. Bu Hanik (istri Pak Yanto) yang tanggap segera menyahut dan mendatangi suara, membuka pintu dan tak lama Pak Yanto menyusul. Singkatnya, tamu ini melaporkan bahwa ada maling yang tertangkap dan Pak Yanto diminta datang ke tempat penangkapan di luar kawasan desa Nglengkir.

Ada rembugan sebentar, lalu si tamu pamit untuk mengambil motor. Sambil menunggu penjemputnya, saya bergegas keluar, sebab sesungguhnya dari tadi [maaf] saya menguping. Tak sungkan-sungkan seperti biasanya, Pak Yanto dan Bu Hanik bercerita. “Ini biasa terjadi dik Wid”, Pak Yanto mengawali pembicaraan. Pak Yanto itu sudah biasa menghadapi hal-hal yang demikian, dibangunkan malam-malam atau dini hari sudah menjadi kesibukan yang mesti dilakukan meski sering tak terduga. Terlepas dari jabatan di desa sebagai Ketua LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), memang simpati dan empati sosial keluarga ini begitu tinggi.

Padahal hal-hal yang dilaporkan macam-macam, dan terkadang sangat rumit. Mulai dari kasus pencurian, perkelahian, tawuran, penjarahan hutan, dan sebagainya sudah jamak dihadapi. Kekhawatiran juga ada, terlebih menyangkut permasalahan perkelahian atau tawuran, bisa jadi nyawa taruhannya. Meski bukan lurah/kepala desa, masalah-masalah sosial kemasyarakatan hampir selalu dialamatkan ke rumah Pak Yanto untuk mendapatkan penyelesaian. Seolah-olah, kalau keluarga ini belum turun atau belum angkat bicara rasanya kurang afdhol.

Pemimpin nonformal dengan karismanya masih mengakar disini. Berbagai persoalan di kampung adakalanya dirembug lewat obrolan angkringan atau ala ngopi di warung antara tetua desa, kades, ketua LMDH, dan ketua karang taruna. Berada di dekat masyarakat Samin yang sensitif kita mesti tahu diri atau “empan papan”. Rasa penghargaan mereka terhadap pendidik/guru masih begitu tingginya, masih memuliakan.

Beginilah kehidupan bersosial, pengorbanan kepentingan diri pribadi demi kepentingan komunitas, sosial, dan khalayak. Jika tak diiringi keikhlasan, tentu semuanya hanya sia-sia. Bagi saya sendiri, pengorbanan tanpa pamrih menjadi usaha unutk mencicil tabungan di surga, membangun rumah di surga.

Akhirnya Si Pesakitan telah diserahkn ke pihak yang berwajib tanpa ada perlawanan, tanpa ada percekcokan. Jam 2 pagi dini hari ini Pak Yanto bisa kembali pulang ke peraduan, melanjutkan mimpi ditidurnya yang sempat terpotong. Mimpi untuk ikut menyejahterakan masyarakat Nglengkir Blora. Semoga dalam kesulitan selalu ada kemudahan…amin.

Jumat dini hari, 5 Juni’09

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!