
by widodo
Para sahabat di dimanapun berada, terutama orangtua dan pendidik (guru/dosen). Pernahkah anda bertanya, anak-anak yang seharian belajar di sekolah, saat mereka pulang apakah anak-anak ini menggunakan pengetahuannya itu untuk digunakan dalam kegiatannya di rumah? Apakah mereka pulang dengan wajah kecapekan dan mengeluh?
Anak yang di sekolah belajar tentang pelestarian alam dan lingkungan, apakah di rumah sudah mencoba merawat tanaman bunga di rumah?
Anak-anak di sekolah belajar sikap dan perilaku sosial, apa di rumah juga senang membantu ibunya, atau lebih suka menyerahkan pekerjaannya kepada pembantu?
Anak-anak yang pintar mengerjakan soal-soal hitungan matematika, apakah menggunakan kecakapannya itu untuk mengatur pengeluaran keuangannya dalam seminggu?
Di sekolah Mereka yang diajarkan bagaimana sholat, benarkah mereka mengerjakannya di rumah?
Mereka diajarkan hidup hemat, benarkah lebih memilih membeli media play stations daripada membeli buku? Dan mau menabung?
Jika di sekolah, guru agama dan guru PKnPs mengajarkan kejujuran, lalu mengapa demam korupsi terjadi begitu menggelora di negeri ini?
Jika belum melakukan apa yang mesti dilakukan, mengapa bisa begitu?
Teman-teman pendidik di sekolah, keberhasilan dan kegagalan kita dalam mengajar dan membelajarkan terlihat ketika anak didik di luar sekolah melakukan atau tidak apa yang telah mereka pelajari.
Siapa bilang kurikulum (jika dalam arti kumpulan materi pelajaran) tidaklah padat? Jika padat, apakah tidak membebani pelajar-pelajar itu? Bukankah belajar itu akan lebih baik jika belajar dari yang sederhana dan tampak kecil, lalu beranjak kepada yang sulit, kompleks, dan besar.
Kita akan selalu prihatin selama belajar anak di sekolah tidak berdampak pada sikap dan perilaku anak di rumah, di arena bermain, di kancah-kancah pergaulan yang lebih luas. Bukankah memprihatinkan, saat kita merasa menikmati nasi di meja makan dengan lahap, namun lupa bahwa petani (mbah-mbah di kampung-kampung) masih sulit mencari air, masih bingung mendapatkan pupuk, masih rendah harga jual gabahnya. Bukankah sebagian dari anak-anak kita masih sering meninggalkan piringnya bersisa nasi, mereka mungkin tahu tapi belum mengerti bahwa betapa sulitnya mendapat sebulir gabah, menunggu 3 bulan supaya menguning.
Ragukan pernyataan ini: jika pengelola sekolah merasa telah dapat menunjukkan peningkatan skor-skor hasil belajar yang tinggi, maka sekolah hanya pencetak manusia berilmu, namun tak berpendidikan. Jika guru merasa berhasil meluluskan mereka dari “jeratan” Ujian Nasional, maka tahan dulu rasa senang, sebab kelulusan itu bukan bukti berkembangnya kecerdasan emosional dan spiritual.
Mungkinkah sekolah tak perlu ada???
namun...saya sendiri produk sekolah, produk kurikulum, produk pendidikan, produk...
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar