
Saat seorang guru telah menugaskan siswanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, maka jangan lupakan bahwa tugas itu perlu mendapat apresiasi, apapun hasilnya.
Jika anak telah mengerjakan tesnya, maka kewajiban guru untuk memberikan nilai sesuai dengan unjuk kerja anak itu. Dan saya melakukannya, setiap memberi pekerjaan sebagai tugas bagi mahasiswa, saya mematri niat bahwa pekerjaan mereka akan saya koreksi dan saya beri nilai sesuai kapasitas pekerjaan itu [pun ditambah nilai “kemanusiaan”].
Itulah hak mereka, hak siswa, hak mahasiswa, dan barangkali hak setiap orang untuk mendapatkan penilaian dari pemberi tugas dan pengamat. Demikianlah saya menginginkan hal sama, bahwa dosen saya akan memberikan hak saya, yaitu nilai dari sebuah pekerjaan tugas yang telah saya buat dengan segenap daya. Bahwa saya telah mengusahakan dengan segenap usaha dan daya, mengorbankan istirahat yang mesti diperoleh, makan siang dan malam, bahkan mengorbankan kesenangan, harta, tahta dan wanita (hehehe… barangkali 3 hal yang terakhir disebutkan terlalu berlebihan).
Betapa kecewa ketika dosen tak memberikan nilai sebagaimana yang diharapkan, namun saya juga sadar diri bahwa pekerjaan belum tentu sesuai dengan standar nilai pekerjaan dari sang dosen.
Betapa merasa tak enak hati, bila ada teman yang sering terlambat datang kuliah, tugas meniru sana-sini, mengumpulkan tugas hingga ditolak dosen karena telat menyerahkannya, atau presentasi tugasnya jauh dari harapan, tapi justru mendapatkan nilai A, sedangkan kami yang mengusahakan dengan segala kepositifan justru kurang dari itu, bukan A atau AB namun paling maksimal adalah nilai B atau BC. Maka sejak itu, dalam pikiran dan hati begitu terpacu bahwa saya ingin bisa tetap adil bagi orang-orang di sekitar kita.
Setiap tugas yang kurang diapreasi, atau tak dihargai sebagaimana haknya, maka tunggulah bahwa motivasi anak akan menurun drastis dan tak akan percaya pada diri sendiri. Koreksilah pekerjaan mereka, dan katakan “salah” dibagian apanya, katakan “bagus” dibagian apanya, katakan “perlu ditambah dan diperbaiki” pada bagian apanya, katakan “luar biasa” bahwa itu hal yang cemerlang. Ada yang legawa menerima apapun haknya, namun tak sedikit yang menolak atau tak puas terhadap penilaian kepada mereka, hal demikian adalah wajar.
Begitu senangnya ketika seorang profesor menerima pendapat mahasiswa meski itu ide yang berbeda. Begitu gondok ketika sang profesor selalu mengatakan salah terhadap setiap jawaban mahasiswanya. Saya lebih kecewa lagi terhadap diri saya sendiri bila tak mampu menerima perubahan hidup ini, maka saya belajar.
Di sini, saya mengkritik diri sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar