Rabu, Maret 25, 2009

Senyum lain dalam Pemilu




by wido

Menjelang pemilu seperti juga tahun ini, ada saja yang ngomong kampanye bikin macet, kampanye bikin anak-anak telat ke sekolah, kampanye bikin suasana jadi rusuh, kampanye Cuma tebar janji, apalagi pasti usai kampanye terbuka (rapat besar) sampah bertebaran.

Itulah efek kampanye dan pemilu bagi sebagian orang. Di sisi lain, nikmat tersendiri dialami juga oleh sebagian orang. Mereka yang biasanya orderan sablon sepi, kini panen telah tiba, inilah rejeki buat mereka. Di samping menimbulkan kengerian akan konflik, Pemilu membuat orang-orang tersenyum dan rakyat sekali lagi bisa tertawa. Beratus juta kertas suara mesti dilipat secara manual, tentu menciptakan lapangan kerja dadakan, walhasil ada pendapatan uang. Ya, rejeki pada pemilu begitu tersebar kemana-mana. Dari mulai pembuatan atribut partai, atribut caleg berkampanye, iklan-iklan media, pedagang asongan, dan lahan rejeki lainnya.

Begitu keluar dari rumah, menyisiri jalan, dapat disaksikan begitu banyak orang tersenyum. Gambar para calon legislative memenuhi jalan, baliho yang tersebar dan besar, tentu besarnya sesuai isi kantong para caleg dan partainya. Gambar mereka tak ada yang menyiratkan kesedihan, semua sumeh alias murah senyum. Kita pun, jadi tak tahu apakah para caleg ini tetap menjaga senyumnya kepada tetangga mereka sendiri.

Jika pada bulan-bulan sebelumnya, sebagian rakyat Indonesia lebih mengharap jatah BLT. Bulan-bulan ini, ada berbagai macam limpahan bantuan ini dan itu. Bantuan pembangunan masjid, pengerasan jalan, sembako gratis, voucher pulsa gratis, mengadakan acara social keagamaan dengan disponsori para caleg, dan hal-hal yang serba gratis. Jadi, pemilu tak selalu penuh ketegangan dan janji palsu. Lewat pemilu, ada keluarga miskin yang dapat bertahan hidup, meski “nutrisi” itu hanya sementara. Maka patut kita bertanya, seandainya bantuan dan perilaku menolong itu selalu dilakukan tidak hanya pada bulan-bulan pemilu, maka berapa juta yang dikatakan miskin terentaskan dari kemiskinan?

Rakyat kita ini terbiasa dengan kegelisahan, kekhawatiran, kemiskinan, dan penderitaan. Sehingga ada panggung kampanye gratis dengan lantunan lagu-lagu dari artis atau grup band ternama ibukota menjadi hiburan tersendiri. Kita makin bisa tersenyum, belanja pakaian akan lebih irit karena partai-partai berbagi kaos gratis.

Bagi sebagian orang, “efek senyum bahagia” ini tidak akan berterusan setelah pemilu. Caleg DPRD yang berjumlah lebih dari 1,5 juta, padahal hanya ribuan kursi yang siap diduduki. Tidak ayal pasti ada korban, bukan hanya kekalahan. Stres, frustasi, depresi, hingga gila akan terjadi. Dan para kandidat itu tidak lagi tersenyum seperti gambar mereka dalam baliho dan spanduk, mereka menjadi tersenyum atau tertawa sendiri.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!