Pagi menjelang acara hari ini yang cukup padat, jam 6 pagi saya sudah siap membelah dinginnya semarang dan salatiga, tinggal menunggu jemputan saja.
Sambil duduk-duduk di teras kos, sesekali saya pandangi jam di tangan. Belum saya berkedip, tak sengaja tatapan saya tertuju pada benda hitam kecokelatan yang bergerak di dekat pot euphorbia, aha…kecoak.
Terkesiap dan refleks saja segera mengambil obat serangga di bawah ranjang. Bismillah, semprotan tadi mungkin akan segera mengakhiri hidupnya. Saya bukan pencabut nyawa, namun geram juga melihat kecoak lalu lalang membawa kotoran dan bibit penyakit.
Saya tunggu hingga obat itu bekerja, melemaskan ototnya, mematikan syaraf geraknya. Seperti orang yang mabuk karena salah obat atau malah teller meminum beberapa teguk miras. Kecoak lari sana sini tak karuan, wira wiri kaya wong edan.
Akhirnya ia menyerah, berhenti dan meregang nyawa, sakaratul maut. Saya ada akal lagi, kecoak saya taruh di sekitar jalan tempat lalu lalangnya semut, betul saja tak lama kemudian semut-semut tertarik dan segera mengerubutinya. Saya bayangkan kalau seekor kecoak itu besarnya 50 atau malah 100 kali dari ukuran si semut. 1 ekor semut datang, 1 temannya datang lagi, begitu seterusnya. Pada gigitan pertama, tak di sangka 2 semut itu tingkahnya sama dengan kecoak tatkala pertama kali menerima semprotan obat serangga. Semut terhuyung, kelimpungan, berjalan maju mundur, ia hilang kesadaran. Pikir saya, semut kan juga serangga, dan ia telah menikmati obat serangga itu juga ketika menggigit kecoak.
Semut-semut lain tak menyerah, mereka semakin banyak berdatangan. Sekitar 15 ekor semut sudah cukup untuk mengamankan kecoak ke “rumah” mereka entah di bawah pot-pot bunga itu atau dimana. Hal yang pasti, tak butuh waktu lama untuk mengangkut buruan besar pagi itu.Mereka (para semut) telah memiliki cadangan makanan bagi khalayak warganya di dalam sarangnya, dan akan segera menikmati tangkapan hari ini.
Teman-teman, rasa kemanusiaan kita kadang dipertaruhkan ketika menghadapi hal-hal diluar kebiasaan. Kita tak ingin menyakiti, namun sesuatu itu membawa wabah yang bisa menyakiti, maka dilema ini mesti kita putuskan sendiri. Toh, kita mesti siap juga dengan resikonya.
Betapa hebatnya semut itu, 15-an semut mengangkut benda yang begitu besarnya, kuat sekali mereka ini. Subhanalloh, lebih luar biasa lagi betapa hebatnya yang telha menciptakan semut-semut itu.
Semarang/Wonogiri, 9 Juni 2009, Selasa Pon.
Sambil duduk-duduk di teras kos, sesekali saya pandangi jam di tangan. Belum saya berkedip, tak sengaja tatapan saya tertuju pada benda hitam kecokelatan yang bergerak di dekat pot euphorbia, aha…kecoak.
Terkesiap dan refleks saja segera mengambil obat serangga di bawah ranjang. Bismillah, semprotan tadi mungkin akan segera mengakhiri hidupnya. Saya bukan pencabut nyawa, namun geram juga melihat kecoak lalu lalang membawa kotoran dan bibit penyakit.
Saya tunggu hingga obat itu bekerja, melemaskan ototnya, mematikan syaraf geraknya. Seperti orang yang mabuk karena salah obat atau malah teller meminum beberapa teguk miras. Kecoak lari sana sini tak karuan, wira wiri kaya wong edan.
Akhirnya ia menyerah, berhenti dan meregang nyawa, sakaratul maut. Saya ada akal lagi, kecoak saya taruh di sekitar jalan tempat lalu lalangnya semut, betul saja tak lama kemudian semut-semut tertarik dan segera mengerubutinya. Saya bayangkan kalau seekor kecoak itu besarnya 50 atau malah 100 kali dari ukuran si semut. 1 ekor semut datang, 1 temannya datang lagi, begitu seterusnya. Pada gigitan pertama, tak di sangka 2 semut itu tingkahnya sama dengan kecoak tatkala pertama kali menerima semprotan obat serangga. Semut terhuyung, kelimpungan, berjalan maju mundur, ia hilang kesadaran. Pikir saya, semut kan juga serangga, dan ia telah menikmati obat serangga itu juga ketika menggigit kecoak.
Semut-semut lain tak menyerah, mereka semakin banyak berdatangan. Sekitar 15 ekor semut sudah cukup untuk mengamankan kecoak ke “rumah” mereka entah di bawah pot-pot bunga itu atau dimana. Hal yang pasti, tak butuh waktu lama untuk mengangkut buruan besar pagi itu.Mereka (para semut) telah memiliki cadangan makanan bagi khalayak warganya di dalam sarangnya, dan akan segera menikmati tangkapan hari ini.
Teman-teman, rasa kemanusiaan kita kadang dipertaruhkan ketika menghadapi hal-hal diluar kebiasaan. Kita tak ingin menyakiti, namun sesuatu itu membawa wabah yang bisa menyakiti, maka dilema ini mesti kita putuskan sendiri. Toh, kita mesti siap juga dengan resikonya.
Betapa hebatnya semut itu, 15-an semut mengangkut benda yang begitu besarnya, kuat sekali mereka ini. Subhanalloh, lebih luar biasa lagi betapa hebatnya yang telha menciptakan semut-semut itu.
Semarang/Wonogiri, 9 Juni 2009, Selasa Pon.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar