Beberapa model pembelajaran dalam rumpun model pemrosesan informasi adalah model pembelajaran induktif, ceramah, problem solving, model pembelajaran modul dan sebagainya.
1)Lecture
Model ini efisien untuk tujuan sejumlah besar informasi dalam waktu yang singkat dan memudahkan siswa memperoleh materi yang jelas dan sederhana dibandingkan dengan menyajikan dalam bentuk teks. Strategi ini dapat berwujud kegiatan pembelajaran deduktif. Model ini biasanya berlaku untuk siswa dengan jumlah yang banyak (kelas besar).
Hal yang perlu diperhatikan guru adalah identifkasi kebutuhan pebelajar, kemampuan yang dimiliki, dihubungkan dengan materi baru yang akan dipelajari. Menyusun garis besar materi dalam suatu struktur yang jelas. Penyampaian hendaknya bervariasi dalam arti multimetode dan multimedia. Jadi, model ini perlu memadukan beberapa metode pembelajaran. Penyimpulan dan tindak lanjut setelah memperoleh balikan dari peserta didik. Ketertiban siswa juga tetap dijaga, guru harus peka terhadap siswa yang kurang perhatian atau konsentrasi pelajaran.
2)Model induktif
Model ini dimulai dengan pemberian berbagai kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha mensintesis, menemukan, atau menyimpulkan pinsip dasar dari pelajaran tersebut. Model ini juga dikenal sebagai discovery atau Socratic.
Model ini tepat digunakan apabila: (1) Siswa telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut, (2) yang akan diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara prbadi, sikap, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan, (3) Guru mempunyai keterampilan mendengarkan yang baik, fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, terampil mengulang pertanyaan, dan sabar, dan (4) Waktu yang tersedia cukup panjang.
3)Problem solving/pemecahan masalah
Dengan model ini, seseorang diharapkan memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka harus mampu memecahkan masalah, menemukan (discovery) sesuatu untuk dirinya sendiri, dan berkutat dengan pelbagai gagasan. Pendekatan pembelajaran yang digunakan disebut belajar generatif (generatif learning). Asumsinya adalah bahwa semua kegiatan belajar adalah menemukan. Apabila guru menyampaikan informasi kepada siswa, siswa harus melakukan operasi mental agar informasi itu dapat mereka miliki. Strategi belajar generatif mengajarkan siswa tentang cara-cara mengoperasikan mental ketika menghadapi informasi baru. Misalnya, siswa diajarkan tentang teknik bertanya, meringkas, membuat analogi tentang materi yang telah dipelajari, dan membuat ulasan atas ceramah yang telah didengarkan.
Model ini merupakan penerapan teori kontruksivistik dan teori pengolahan informasi. Dari kedua teori tersebut menunjukkan “kata kunci” penting yang mesti menjadi perhatian dalam pembelajaran, yaitu pemecahan masalah (problem solving). Masalah merupakan kesenjangan antara harapan dengan realita, dan pastinya masalah bukanlah yang ada diangan-angan tetapi nyata terjadi.
Tujuannya ialah mengembangkan keterampilan siswa dalam menganalisa masalah abstrak yang kompleks. Untuk maksud ini, dilakukan pemantauan tehadap berpikirnya siswa untuk melihat apakah di situ termasuk lima kegiatan umum yang dilakukan pemecah masalah yang ahli sebagaimana dilihat oleh Voss, dkk. Tersebut. Kelima kegiatan itu (terlihat dalam dua atau lebih dari siasat yang dilakukan ahli) adalah: (1) melakukan analisa historis atas masalah; (2) menemukan kendala yang terdapat dalam konteks masalah; (3) mengubah masalah yang dikemukakan menjadi anak-anak masalah; (4) menyusun pemecahan yang ditujukan kepada tiap anak masalah dan (5) menilai pemecahan, dengan memberikan dasar logis bagi pemecahan itu dan menyebutkan implikasinya.
4)Model Pembelajaran Modul
Sistem pembelajaran modul merupakan model pembelajaran mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Kerangka yang dimaksud adalah modul. Modul ini sebagai suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sitematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru maupun peserta didik. Sebuah modul adalah pernyataan satuan pembelajaran dengan tujuan-tujuan, pretes aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi-kompetensi yang belum dikuasai dari hasil pretes, dan mengevaluasi kompetensinya untuk mengukur keberhasilan belajar. Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, tenaga, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.
Dengan pembelajaran modul ini, peserta didik mendapat kesempatan lebih banyak untuk “mengolah informasi” dan belajar sendiri, membaca uraian, dan petunjuk di dalam lembaran kegiatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan serta melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam setiap tugas. Karena itu setiap peserta didik dalam batas-batas tertentu dapat maju sesuai dengan irama kecepatan dan kemampuan masing-masing.
1)Lecture
Model ini efisien untuk tujuan sejumlah besar informasi dalam waktu yang singkat dan memudahkan siswa memperoleh materi yang jelas dan sederhana dibandingkan dengan menyajikan dalam bentuk teks. Strategi ini dapat berwujud kegiatan pembelajaran deduktif. Model ini biasanya berlaku untuk siswa dengan jumlah yang banyak (kelas besar).
Hal yang perlu diperhatikan guru adalah identifkasi kebutuhan pebelajar, kemampuan yang dimiliki, dihubungkan dengan materi baru yang akan dipelajari. Menyusun garis besar materi dalam suatu struktur yang jelas. Penyampaian hendaknya bervariasi dalam arti multimetode dan multimedia. Jadi, model ini perlu memadukan beberapa metode pembelajaran. Penyimpulan dan tindak lanjut setelah memperoleh balikan dari peserta didik. Ketertiban siswa juga tetap dijaga, guru harus peka terhadap siswa yang kurang perhatian atau konsentrasi pelajaran.
2)Model induktif
Model ini dimulai dengan pemberian berbagai kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha mensintesis, menemukan, atau menyimpulkan pinsip dasar dari pelajaran tersebut. Model ini juga dikenal sebagai discovery atau Socratic.
Model ini tepat digunakan apabila: (1) Siswa telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut, (2) yang akan diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara prbadi, sikap, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan, (3) Guru mempunyai keterampilan mendengarkan yang baik, fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, terampil mengulang pertanyaan, dan sabar, dan (4) Waktu yang tersedia cukup panjang.
3)Problem solving/pemecahan masalah
Dengan model ini, seseorang diharapkan memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka harus mampu memecahkan masalah, menemukan (discovery) sesuatu untuk dirinya sendiri, dan berkutat dengan pelbagai gagasan. Pendekatan pembelajaran yang digunakan disebut belajar generatif (generatif learning). Asumsinya adalah bahwa semua kegiatan belajar adalah menemukan. Apabila guru menyampaikan informasi kepada siswa, siswa harus melakukan operasi mental agar informasi itu dapat mereka miliki. Strategi belajar generatif mengajarkan siswa tentang cara-cara mengoperasikan mental ketika menghadapi informasi baru. Misalnya, siswa diajarkan tentang teknik bertanya, meringkas, membuat analogi tentang materi yang telah dipelajari, dan membuat ulasan atas ceramah yang telah didengarkan.
Model ini merupakan penerapan teori kontruksivistik dan teori pengolahan informasi. Dari kedua teori tersebut menunjukkan “kata kunci” penting yang mesti menjadi perhatian dalam pembelajaran, yaitu pemecahan masalah (problem solving). Masalah merupakan kesenjangan antara harapan dengan realita, dan pastinya masalah bukanlah yang ada diangan-angan tetapi nyata terjadi.
Tujuannya ialah mengembangkan keterampilan siswa dalam menganalisa masalah abstrak yang kompleks. Untuk maksud ini, dilakukan pemantauan tehadap berpikirnya siswa untuk melihat apakah di situ termasuk lima kegiatan umum yang dilakukan pemecah masalah yang ahli sebagaimana dilihat oleh Voss, dkk. Tersebut. Kelima kegiatan itu (terlihat dalam dua atau lebih dari siasat yang dilakukan ahli) adalah: (1) melakukan analisa historis atas masalah; (2) menemukan kendala yang terdapat dalam konteks masalah; (3) mengubah masalah yang dikemukakan menjadi anak-anak masalah; (4) menyusun pemecahan yang ditujukan kepada tiap anak masalah dan (5) menilai pemecahan, dengan memberikan dasar logis bagi pemecahan itu dan menyebutkan implikasinya.
4)Model Pembelajaran Modul
Sistem pembelajaran modul merupakan model pembelajaran mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Kerangka yang dimaksud adalah modul. Modul ini sebagai suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sitematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru maupun peserta didik. Sebuah modul adalah pernyataan satuan pembelajaran dengan tujuan-tujuan, pretes aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi-kompetensi yang belum dikuasai dari hasil pretes, dan mengevaluasi kompetensinya untuk mengukur keberhasilan belajar. Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, tenaga, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.
Dengan pembelajaran modul ini, peserta didik mendapat kesempatan lebih banyak untuk “mengolah informasi” dan belajar sendiri, membaca uraian, dan petunjuk di dalam lembaran kegiatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan serta melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam setiap tugas. Karena itu setiap peserta didik dalam batas-batas tertentu dapat maju sesuai dengan irama kecepatan dan kemampuan masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar