Oleh: S a n d r a N o r y z
Berbicara tentang politik Indonesia sekarang sedang menggeliat menyongsong pesta demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan 8 Juli mendatang. Berbagai logistic tengah dipersiapkan oleh masing-masing capres, KPU, maupun pihak pendukung atau tim sukses. Ini bisa menjadi “ladang empuk” bagi stasiun televisi dengan menampilkan acara “Debat Capres Final” 2/0709. Sambil menyelam minum air, peribahasa yang tepat untuk mengapresiasi hal tersebut dengan begitu rakyat juga akan mendapatkan pendidikan politik sehingga dapat mereduksi golput yang pada pilkada bulan April lalu menjadi primadona rakyat. Melalui acara Debat Capres ini, rakyat akan mendapatkan gambaran tentang figur pemimpin yang benar-benar cocok untuk kondisi Indonesia sekarang ini. Bagaimana tidak, selama beberapa dekade pemerintahan terguncang karena stabilitas ekonomi yang kurang baik sehingga berdampak bagi rakyat kecil berupa krisis ekonomi yang mencapai puncaknya pada tahun 1999 dengan istilah kerennya “krismon” sampai penyanyi cilik Chikita Meydi menyanyikan lagu :
“krismon” krisis moneter
Tanya mama apa artinya
Itulah sepenggal lirik masa yang paling menyedihkan yang pernah bangsa indonesia alami.
Dengan menengok sejarah masa lalu yang suram, maka rakyat berharap pada pilres kali ini mendapatkan pemimpin yang dapat merubah nasib rakyat dan membawa negara indonesia kearah yang lebih baik.
Ironisnya detik-detik menjelang pesta demokrasi aura persaingan begitu kuat menyelimuti ketiga capres tersebut diantaranya: 1) Mengawati, 2) Susilo Bambang Yudhoyono, dan 3) Yusuf Kalla. Mereka tampil dengan karakter yang kuat, visi misi yang jelas berbeda. Dan yang lebih parahnya lagi nuansa eufimisme mengiringi perdebatan mereka. Belum-belum JK sudah menyerang SBY pada sesi awal yaitu saat penyampaian visi misi (durasi 7 menit) dengan kalimat “Pilpres 1 putaran 4 triliun, berarti demokrasi dipandang dengan uang, padahal demokrasi berdasar pada program dan figur”. Jika begitu maka akan muncul motto “lanjutkan pemilu tanpa pilres demi menghemat 25 triliun” celoteh JK tanpa dipersilahkan. Sikap seperti ini kurang pantas jika dipandang dari segi etika atau kesopanan. Masa capres tidak mengerti tentang tata cara berdebat yang baik? Berbeda dengan respon dari SBY yang hanya tersenyum hambar. Lain lagi dengan MEGA, yang hanya diam tetapi sekali berbicara tidak dapat direm dan perkataannya bagai sengatan lebah, istilah jawanya “nyelekit”
Kharisma ketiga capres yang diumbar di atas panggung mampu membius para penonton. Dilihat dari cara berdiri, berbicara, maupun cara bertepuk tangan saja sudah berbeda. Apalagi gaya memimpinnya? Pantas saja JK selingkuh dengan Wiranto karena berbeda pendapat atau persepsi dengan SBY. Sampai-sampai motto yang dipakai lima tahun lalu “Bersama Kita Bisa” tenggelam begitu saja dan berganti dengan “ Lebih Cepat Lebih Baik” dari JK, dan “Lanjutkan “ dari SBY. Dari sini indikasi eufimisme muncul. Entah dengan motto itu JK bermaksud mengkritik kinerja SBY yang terkesan lambat dan berhati-hati atau bagaimana? Biar rakyat yang menulai (maaf No. 2 dan 3 sangat mendominasi) karena eufimisme yang ditampilkan sangat unik, jika diibaratkan ini adalah pasangan suami istri yang bercerai karena berbeda prinsip lalu saling menyerang satu sama lain. Tetapi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, eufimisme merupakan bumbu yang sedap dalam dunia politik, sehingga dapat memicu ketiga capres untuk lebih...lebih...lebih...dan lebih baik lagi karena Indonesia menunggu pemimpin yang bisa membuatnya bernafas lega.
Baik buruknya nanti yang terpilih, dukungan 100% tetap diarahkan ke pemerintahan!!!
“Mari Mengabdi Untuk Negeri”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar