Jumat, Maret 13, 2009

Senin dan Kisah Sepatu Kakak-Adik


oleh: widodo



Senin 9 Maret 2009, saya berpikir berulang-ulang sebelum akhirnya memutuskan pulang ke kampung di Wonogiri. Ada sejumlah hal yang menjadi bahan pertimbangan, jika saya tak pulang, maka kapan lagi sebab Minggu 15 Maret rencana ada technical meeting peserta KMD di Unnes (500an orang), di sana mesti memberikan wawasan tentang KMD bagi mahasiswa calon peserta. Pun saya mesti merampung proposal dan izin penelitian yang belum tuntas. 20-22 Maret dan 27-29, KMD dilaksanakan di Unnes. Pulang kapan lagi, padahal rencana pulang lagi saat Pemilu (9 April). Jika pulang sekarang, waktu begitu pendek, Selasa (10 Maret) sudah hari efektif, jadi paling lama saya di rumah hingga Rabu, 11 Maret. Akhirnya saya putuskan, pulang.

Pagi jam 7.15 terpaksa membangunkan seorang karib (Apit Tegal) yang masih merajut mimpi di pulau kapuk. Saya minta diantar ke Ungaran, agar secepatnya bisa sampai di rumah. Hari itu pulang, tak membawa tas, hanya kain pembalut badan dan uang, plus HP. Alhamdulillah begitu saya menginjakkan kaki di Pasar Ungaran, bus Semarang-Solo datang, berangkatlah saya (Terima kasih Apit sudah mau mengantar, kesekian kalinya saya merepotkan teman-teman).

Begitu di bus, coba saya nikmati sejuknya (sebenarnya: dingin) udara AC bus Safari. Sesantai mungkin saya sandarkan kepala di jog sandaran, menarik nafas sedalam-dalamnya dan menhembuskan dengan penuh rasa, plong dan Alhamdulillah. (tadi malam atau malam sebelumnya tidur jam 2 pagi, sehingga memaksa saya memejamkan mata beberapa saat).

Dalam perjalanan saya sempatkan meng-SMS beberapa orang teman. Jam 9.50, ketika bus memasuki kawasan Kerten Solo, HP berdering, “Kwarcab Kota Smg” memanggil. Intinya, mengundang rapat Pesta Siaga Tingkat Kota Semarang, rapat Selasa jam 14.00. Saya terhenyak sesaat, mengapa kemarin saya tidak dihubungi dulu, dan kini saat mencoba mengistirahatkan diri sejenak, ada panggilan tak terduga, mereka membutuhkan saya. Saya tanyakan juga, mengapa kemarin tidak menghubungi dulu? Jawabnya, baru bisa sekarang, semua Pelatih Pembina dan Andalan diundang rapat.

Saya jawab, insyaAlloh saya datang, saya usahakan, terima kasih. Mengapa, saya jadi ingat pesan nabi “Siapa yang memutuskan harapan orang yang datang kepadanya, Alloh akan memutuskan harapannya pada hari kiamat dan tidak akan masuk sorga” (Abu Hurairah RA). Saya tak ingin memutuskan harapan saya sendiri, selama bisa membantu, akan kita bantu, semoga Alloh dan orang-orang nanti dapat membantu saya.

Dan bus memasuki Terminal Tirtonadi jam 10 lebih sedikit. Segera saya berlari mengejar bus Gunung Mulia yang keluar gerbang terminal. Alhamdulillah saya melaju bersama gunung mulia. Cuaca cukup panas dan lapar (hampir setiap saya pulang ke rumah, jarang sarapan dulu). Bis berhenti di Terminal Jatisrono jam setengah 13, langsung saja saya ngeloyor ke warung mie ayam dekat peron terminal. “Mie ayam Bu!, pinta saya, plus es teh. Usaha bersantai di bus menjadikan rileks pikiran, barangkali salah mengapa pesan es teh, sebab kepala jadi ngelu. Mikir juga akhirnya, besok-besok kalau habis makan yang panas mending jangan minum es dulu.

Adik sepupu, si Yoko datang sesaat sebelum mie habis, ditawari mie nggak mau. Meluncur pulang, dan sampai di rumah ada kakang Bowo, mak’e dan gomin, serta 2 orang saudara yang berkunjung. Senang rasanya bisa sampai rumah lagi, Alhamdulillah. Seperti yang sudah sudah, mesti mak’e menyuruh segera makan, selalu begitu. Mata inipun tak ngantuk.

Dan siang itu, sebuah kisah indah kembali disaksikan, latarnya tak begitu jelas, apakah di Pakistan atau Iran (jelasnya matoritas muslim). Hanya sepenggal cerita yang bisa saya ungkapkan. Seorang adik kakak, adiknya perempuan dan kakaknya lelaki, tak tahu siapa namanya. Keluarga miskin, dengan 2 orang anak. Adik kakak sama-sama masih SD. Si adik yang masuk sekolah pagi harus segera pulang karena siangnya sang kakak masuk sekolah siang. Mengapa mesti segera pulang? Mereka hanya memilki 1 pasang sepatu yang mesti dipakai bergantian. Adik memakai pagi hari, kakak siang harinya, begitu terus setiap hari. Mau tak mau, sepatu ini cepat juga ausnya, sepatu menjadi butut.

Prestasi keduanya terbilang cemerlang di sekolahannya, terutama sang kakak. Kelebihan si kakak dan si adik, mampu berlari cepat untuk anak seumuran mereka. Si kakak memang tergabung dalam tim lari di sekolah. Demi mengejar prestasi belajar, si kakak harus tekun belajar, ini tentu berdampak dengan jarangnya datang latihan lari, padahal sepekan setelah pengumuman hasil belajar, ada lomba marathon tingkat regional. Dengan segenap pengorbanan, pagi itu ketika pengumuman ujian, nama si kakak terpampang di papan pengumuman, ia berhasil menjadi juara meski nomor 2.

Ada sesuatu yang mesti ia perjuangkan. Sepatu bututnya mesti segera diganti, tentu tidak dengan membeli, ia harus memperolehnya dengan berlari. Ia berkeyakinan harus menjadi juara, bukan juara I, namun juara III. Sebab, juara III akan mendapatkan sepatu baru, sepatu ia impikan. Sepatu yang akan ia berikan untuk adiknya tersayang, adik semata wayang.

Siang itu ia segera menemui sang guru olahraga, ia merengek meminta dimasukkan ke dalam tim lomba. “Kemana saja engkau selama ini, tak pernah datang lari”, “Saya mohon Pak masukkan saya dalam tim”, “Pulanglah, engkau bisa masuk dalam tim untuk perlombaan tahun depan, itu pun jika kau rajin”. “Pak…masukkan dalam tim, saya pasti juara Pak”, luluh juga sang guru melihatnya murid kesayangannya menangis sejadi-jadinya siang itu. Sorenya, ia dilatih secara individu. Diusahakannya dengan begitu meyakinkan sang guru pelatih, benarlah ia lolos untuk masuk dalam tim dengan begitu luar biasa.

-teman-teman, Bapak-guru, begitu trenyuh saya menyaksikan kisah ini, tak terasa basah mata saya, hampir saja airnya menetes deras jika tak saya tahan, agak malu juga sebab Yoko dan kang Bowo turut menyaksikan kisah yang sama”- seandainya saya menjadi si kakak.

Ia begitu kasihan pada adiknya, “Dik, nanti kalau kakak menang, sepatu ini buat adik, kakak pasti akan menjadi pemenang ke-3”, “Ia kak, tapi kalau kakak tidak menjadi juara, bagaimana?” Tanya adiknya. “Pasti aku akan juara ke-3”.

Dan tibalah saat perlombaan dimulai, maraton yang cukup jauh. Melewati pegunungan, tepi hutan, tepian sungai dan area danau yang disekelilingnya rerimbun pepohonan pinus. Mati-matian ia berjuang, memasuki lebih dari separuh perjalanan ia mulai merangsek ke depan barisan pelari. Dan kini ia nomor 1, ingatlah ia, ia bukan untuk juara 1, namun juara 3. Diperlambatlah ia pada posisi ke 3. Seorang pelari di sampingnya menyikut, terjungkal si kakak, ia mulai kehilangan posisi ke-3. Semangatnya bangkit begitu mengingat si adik kecilnya mesti berlari pulang secepat-cepatnya agar sepatunya gantian dipakai sang kakak.

Berlari ia, berlari. Pelari ke 7,6,5,4, dan kini ia menjadi yang ke-3 lagi. Semakin menjadi-jadi larinya meski, nafas begitu menderu, keringat bercucuran, dan panjatan kaki yang mulai goyah. Oh dia sekarang urutan ke-1 di detik-detik terakhir, ia juara. Dielu-elukan seluruh khalayak, sang guru dan kepala sekolah, ia juara.

Bukan senang, sedihlah ia menjadi juara 1, ia tak mendapat sepatunya. Di tepian kolam rumah, ketika sepatu dan kaos kaki dilepas pelan-pelan. Kaki, jari, dan telapak yang lecet perih tak seperih perasaannya. Didinginkan oleh air kolam, kaki terendam dan ikan-ikan riuh bergerombol mendinginkan suasana, kisah ini berakhir.

Selasa pagi, 10 Maret saatnya kembali ke Semarang.

by: widodo

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!