
Minggu, 8 Maret 2008, Semarang. Saya menjalankan tugasnya sebagai sebagai juri lomba kepramukaan di sebuah sekolah di Kota Semarang. Sebagai juri salah satu lomba dari sekian beberapa lomba yang dilaksanakan. Hari-hari yang terlewati semakin mendekatkan saya pada berpramuka sepanjang hayat, tiada hari tanpa berpramuka.
Sabtu, sehari sebelumnya, saya telah berencana setelah bakdha dhuhur hendak pulang ke kampung halaman, di Wonogiri. Maklum, hampir sebulan saya tidak pulang menjumpai sang Ibu, keluarga dan kerabat, kangen rasanya. Lebih kangen lagi, pada Bapak di Pangkal Pinang Bangka Belitung yang sedang merantau, berangkat seminggu yang lalu.
Namun, pagi itu ketika saya menyudahi menonton acara televisi pagi itu, Avatar The Legend of Aang Global TV. Dari ruang TV, lalu saya kembali ke kamar, ada tulisan one miscall di HP. Saya cek, jebule jam 08.13 HP saya berdering mendapat panggilan dengan identitas “Kwarcab Smg”, ini berarti nomor telepon kwarcab Kota Semarang. Saya menduga pasti penting, karena jarang sekali saya mendapat kontak dengan nomor telepon Kwarcab Kota Semarang. Biasanya panggilan itu karena dibutuhkan sebagai “apa” di kegiatan Kota semarang.
Apalagi, sekitar 12 hari lahgi akan dilaksanakan Kursus Pembina pramuka mahir dasar (KMD) di Unnes, jadi saya pikir ini pasti soal KMD yang akan dibahas oleh Kak Tusno (Kalemdikacab/Pusdikacab). Saya berinisiatif segera menelpon balik, dan diterima oleh seseorang di Kwarcab. “assalamu’alaikum, halo ini widodo, Kak”. dijawab “eh, dik widodo”. “Lha ini saya dengan siapa?” Tanya saya, “dengan Gunawan” jawabnya. “Gunawan sinten?” Tanya saya lagi, “Kak Gunawan” katanya, “oh kak Gunawan Surendro, saya pikir siapa, kok suaranya katon tuwo banget, ada apa Kak?” saya komentar sambil terkekeh. Jadi intinya saya diminta kesediaan menjadi juri di Lomba Galang Tegak se-Jateng di SMA 5 Jalan Pemuda Semarang. Dari Kwarcab kota semarang, ada 6 orang yang dikirim. Saya sendiri sebenarnya, kalau di Gerakan pramuka, dinesnya di Lemdikacab (salah satu perangkat Kwarcab). Jadi, kalau moment tertentu dihubungi Kwarcabnya, ya baru berangkat. Oleh karena itulah, akhirnya saya terpaksa dengan berat hati memberitahu Mamak di rumah, “Mak, aku ra sidho muleh, maaf ya Mak. Aku minggu sesuk esuk jam 8, kon dadi juri nang SMA Limo Semarang!”.
Minggunya, dengan pinjaman motor teman yang pulang ke Batang, saya berangkat ke SMA 5, santai saja yang penting tidak 10 menit sebelum jam 8 saya sudah sampai. Jam 9 masih ada briefing dengan juri lainnya. Kami seperti reuni lagi bersama Kakak-kakak Pelatih Pembina dari kota semarang, beberapa memang jarang bertemu. Saya juga sempat bertemu dengan guru-guru yang pernah bersama-sama menjadi juri senam pramuka 3 tahun lalu, bertemu dengan 4 guru/Pembina dari SMP 22 Semarang, guru dari SMA 12 Semarang. Saya bertemu juri dari berbagai kalangan, tak kurang ada 30 juri saat itu (di ruang juri). Lomba yang menjadi jatah saya bertajuk lomba Lagasakti VII. Suatu lomba menilai kecakapan peserta dalam halam kebudayaan dan kepramukaan. Lomba ini terdiri dari 2 juri, saya dan Kak Ristinah. Dimana dari sekian puluh pangkalan diadakan babak penyisihan dan diambil masing-masing 3 adik pramuka penggalang putera dan puteri untuk maju ke babak final. Waktunya memang lebih cepat karena hanya 6 orang yang maju babak final dan tiap peserta diberi waktu 5 menit untuk menjawa pertanyaan dari masing-masing juri.
Pada lomba ini, saya mesti mengajukan 2 pertanyaan kepada peserta. Yaitu, (1) menurut adik, bagaimana pandangan masyarakat terhadap gerakan pramuka?, (2) sebagai seorang pramuka, apa yang akan adik lakukan untuk meningkatkan kualitas/mutu gerakan pramuka? (sebenarnya sih, pertanyaan yang disusun panitia untuk saya ajukan kurang pasti, artinya tidak seperti yang saya tuliskan tadi, tampaknya pembuat soal masih kesulitan membedakan antara: gerakan pramuka, pramuka, dan kepramukaan).
Saya terkesan dengan jawaban para peserta yang rata-rata berusia 13 tahun ini. Simpulan jawaban mereka bahwa masyarakat menilai kepramukaan sebagai kegiatan positif karena dapat membentuk kedisiplinan, mempunyai keterampilan, menambah pengetahuan dan wawasan dan sebagainya. Hal yang akan dilakukan untuk meningkatkan mutu adalah dengan aktif di kegiatan kepramukaan. Saya sentil sedikit dengan tambahan pertanyaan, “Apakah setelah SMP, jika melanjutkan SMA/SMK, apakah adik tetap aktif dalam kepramukaan?”. Jawabnya, “ia kak, sebab saya sudah aktif sejak SD, saya dulu siaga”. “oh, begitu” komentar saya.
Lebih kurang, jam 12 siang. Lomba itu tuntas, seluruh peserta telah mendapatkan penilaian, semoga tidak mengecewakan. Hasilnya kami laporkan kepada panitia. Setelah shalat, makan siang, dan ngobrol-ngobrol ringan dengan juri lainnya. Lalu, saya pamit pulang. Eh, di tempat parkir ketika hendak menyetarter motor, dua orang kawan saya, kakak Pembina dari pangkalan SMP 13 Smg yang juga rekan di Racana Wijaya (Kak Eko Cahyo Nugroho dan Kak Shoki Muamar) menghampiri saya. Kami masih terlibat diskusi kecil tentang lomba yang diikuti dan soal KMD yang akan dilaksanakan oleh Unnes. KMD yang wajib (harus diikuti oleh seluruh mahasiswa program kependidikan/keguruan menjelang PPL). Sedikit-sedikit kami saling nggojeki, nggasaki seperti yang sudah-sudah kalau bertemu. (Nah, tentang KMD, kita ceritakan lain kali saja).
Sementara obrolan kami sudahi, lalu saya meluncur ke Sekaran. Di perjalanan saya sempatkan mampir di pom bensin di Kretek Wesi Sampangan. Di situ, tanpa dinyana-nyana, sang juru pom bensin menyapa saya “Salam Pramuka!, saya yang sedang pegang stang motor hanya menyawab “salam pramuka!” tanpa tangan menghormat sebagaimana salam pramuka biasanya. Saya tersenyum, saya benar-benar tersenyum, saya terkesan. Lagi-lagi saya terlibat diskusi dengan Mas Penjaga POM itu. Ia bilang, “Pramuka sekarang kok nggak segebyar dulu to Mas?”tanyanya setengah ingin menjelaskan juga, “oh, apa iya toh sekarang itu?!” Ya tetap rame acaranya kok, ya mungkin di pangkalan masing-masing saja. “anu lho mas, kok orang koyo ndisik, ndisik ki cah-cah pramuka sing neng sekolah rame turut negendi-ngendi, kok saiki sepi” begitu komentarnya. Saya tak sempat berkomentar lagi, karena pengemudi motor di belakang saya mesti mendapatkan haknya”. “matur nuwun mas!”
Saya pikir, saya berpikir lagi. Hem, ternyata apa yang saya tanyakan kepada peserta saat lomba di SMA 5, jawabannya saya dengar langsung oleh Sang Juru POM bensin. Hem, benarkah pramuka demikian itu, benarkah gerakan pramuka sedemikian sepi? Hem, tidak juga, tanggal 15 ini Kota semarang mengadakan pesta siaga tingkat kota. Namun, kita (gerakan pramuka dan pramuka) mesti berbenah, bahwa kita jangan sampai berhenti. Maju terus, berkegiatan, membela kepramukaan sebagai kegiatan positif dan berdampak positif, melalui apa? Berkegiatan yang bermanfaat, bukan menghamburkan anggaran duit saja.
Hem, gak ono entek’e ngomong, panjang dijabarkan, tak habis diuraikan untuk suatu pekerjaan dan perbuatan. Sekian dulu…bla la bla.
