Senin, Maret 02, 2009

Materiil atau spiritual dulu?

Pertanyaan komentar ini bisa sulit atau mungkin mudah dijawab. Dalam kesehariannya, orang yang diberi hak untuk memimpin di suatu lembaga tak jarang menyelewengkan amanah tersebut. Penyelewengan ini kita kenal beberapa diantaranya soal korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sehingga dalam hati saya bertanya, sebenarnya yang jadi Kyai atau tokoh agama kok kok masih ada yang menjadi “penyeleweng”? Jawabnya karena mereka belum makrifat. Lalu apalagi itu makrifat? Mungkin orang awam akan sulit menjawabnya. Tetapi biasanya ada persepsi bahwa kesalahan atau penyelewengan itu adalah kewajaran karena mereka juga manusia.

Pertanyaan lain, materiil atau spriritual dulu yang harus dipenuhi? Dalam pernyataan lain, kita kadang cenderung mendahulukan materi daripada spiritual. Buktinya, banyak dari kita memenuhi nafsu perut (kebutuhan makan), baru kemudian kita beribadah (shalat). Dengan alasan bahwa dengan “pemenuhan” tersebut, maka kekhusukan ibadah akan terjaga. Benarkah demikian?

Logika sederhananya misal kita hendak shalat, apakah kita tidak menutup aurat kita dahulu (tidak berpakaian yang layak)? Artinya disini, bahwa kesadaran akan perlunya shalat sebagai kekuatan spiritual, sedangkan baju atau pakaian sebagai kebutuhan material.

Pendapat lain akan menyatakan, bahwa orang -untuk dapat memenuhi materi shalat- harus memenuhi kebutuhan materi berawal dari kesadaran akan usaha memenuhi kepentingan ibadahnya. Singkatnya, untuk pakai baju orang harus sadar kegunaan bajunya itu.
Pertanyaan ini tidak akan berhenti pada pencapaian jawaban tadi, karena ada pertanyaan lainnya. Apakah kita harus cukup makan –materi- baru kita teguh untuk mengimani dan beribadah? Ataukah iman dulu baru kemudian kita cukupi makan kita? Semoga saudara/saudari bisa membantu memberikan jawaban.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!