Kamis, Maret 19, 2009

Permintaan Sederhana Sedulur dan Tetangga



oleh widodo




Saya pulang ke rumah di Wonogiri, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. Setiap di rumah bertemu sedulur dan tetangga, coba saya cermati perkembangan yang ada di kampung. Apakah telah tiba masa panen, masa menanam, masa menabur benih dan memupuk? Apa ada sedulur dan tetangga yang sakit? Apa ada ini dan ada itu?. Apalagi ketemu Mbah Kati (nenek saya dari keluarga Pak Ciptowiyono), kalau ketemu saya itu senengnya bukan main, Mbah yang satu ini cilik menthik, tapi jam 3 pagi sudah bangun dan masak air. Orangtua yang permintaannya sepele, bertemu cucu “eh, Kang Dodo muleh to!”.

Satu hal yang tidak begitu berubah, pandangan orang-orang di kampung pada citra diri mahasiswa. Jadi kalau bertemu mahasiswa, mesti anggapan mereka bahwa mahasiswa itu pasti pinter segala-galanya. Bahkan seorang calon guru, dianggap bisa mengobati seperti halnya dokter. Apalagi kala KKN di Demak dulu, dikiranya calon guru juga ahli memberantas wereng dan hama tanaman.


Adakalanya mereka tanya, pertanyaan ketika isu-isu di kancah sosial kemasyarakatan begitu fenomenal. Saat kenaikan BBM, ada yang Tanya “mau pemerintah itu bagaimana to, wong lagi susah kok rego bensin mundak, rego lengo gas mundak?. Saat pemilihan gubernur Jateng “calone sing kuat iku sopo to mas?”. Saat menjelang pemilu “lha calon legislatifnya gombal kabeh, ngapusi, mereka kepilih tapi keadaan rakyat kan tidak berubah, iya kan Mas?” dan seterusnya.

Menariknya obrolan dengan para sedulur dan tetangga, mereka itu minta sembako harganya murah, harga BBM turun, biaya sekolah anak jangan naik, pupuk jangan langka. Siapapun presidennya, yang penting kita bisa makan. Lha itu kan sederhana saja, sangat sederhana. Bukan minta kaya atau bergelimang harta, hanya makan cukup dan minyak tanah jangan langka.

Kesederhanaan permintaan itu tentu mengindikasikan bahwa orang jawa di kampung-kampung itu masih “nrimah mawi pasrah” dan “nrimo ing pandum”, atau lebih tepatnya pakai filosofi “yang penting cukup, bukan kaya”. Saya jadi ketawa dengan mereka, “iya, ya, yang penting cukup, cukup buat beli mobil, buat mbangun rumah, cukup beli sawah hektaran…ha ha ha”. Atau cukup punya satu istri (satu di Semarang, satu di Brebes, satu di Wonogiri, satu di Solo, atau satu di Cilacap, nah jadinya kan empat istri…hehe). Nah, yang terakhir ini tadi 100% murni guyon.

oleh: widodo

1 komentar:

Anonim mengatakan...

alhamdulillah...gelar sarjana ...mo jadi apapun memang yang dicari adalah manfaatnya...
tak hanya bisa berteori tetapi juga layaknya manusia harus pandai prakteknya...terampil...

bermimpilah...semoga tercapai segala mimpinya...be..yourself...

semoga dapat berbuat adil....baik dengan wonogiri, solo, brebes, ato cilacap.

sukses untuk mu...

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!