Minggu, Mei 31, 2009

TOPI yang TOP, Saatnya Engkau Pergi


By wid-caem-buh


Sejak SMP dulu, saya sudah sering pakai topi, jadi kemana-mana ya pakai topi. Pergi jauh atau dekat, topi menjadi teman. Memakai topi telah menjadi kebiasaan. Topi kuning dari almamater Unnes, topi harian, hingga topi pramuka. Beberapa topi yang saya miliki sudah saya berikan pada orang-rang di rumah (Wonogiri) terutama Pakde saya, dan salah satu topi kuning Unnes menjadi penutup kepala saat ke sawah.

Jadi ingat ketika masih berseragam biru-putih, bertopi biru, kelas III SMP. Mungkin karena seringnya topi itu dipakai, bagian pojok topi benang kainnya terurai, anggap saja bodhol. Ada seorang teman (ya seorang teman sesama pramuka), tampaknya tak tega melihat saya pakai topi yang bodhol. Dia secara sembunyi-sembunyi mengambil topi itu (tentu saya kelimpungan mencarinya), dan esoknya Dia mengembalikannya namun sisi yang bodhol itu tak ada lagi, sudah dijahit sedemikian rapinya. Betapa berkesan hari itu, betapa senangnya memiliki teman yang sedemikian baiknya.

Kali ini (27 Mei) saya berkunjung ke Blora, melakukan perjalanan ke sana yang kesekian kalinya, membawa satu rencana besar, dan banyak rencana terinci. Dalam tulisan ini, soal peristiwa di Blora tak diceritakan. Justru, menjelang sampai di Blora menjadi pecutan kecut namun penuh hikmah.

Mengawali perjalanan dari Unnes Sekaran, menumpang bus Minas menuju Pasar Kambing Candi Baru, diteruskan ke Penggaron lalu langsung ke Blora yang sebelumnya melewati Demak dan Purwodadi. Cuaca siang itu benar-benar cerah malah tepatnya sungguh panas, suhu Semarang benar-benar sedang naik-naiknya sampai sumuk dan gembrobyos.

Segera menaiki bus, berharap setelah duduk bisa sedikit bersantai. Topi saya lepas dengan harapan angin sembribit memanja bisa segera mengeringkan keringat di kulit kepala. Seperti para penumpang bus pada umumnya, rasa kantuk menyerang dan tak tertahankan. Sesekali terbangun, lalu tidur lagi, itupun sebenarnya tidur untuk mengusir kepenatan perjalanan panjang. Tidur-tidur yang sekonyong-konyong terbangun karena bus serasa menghentak karena ban bus melewati jalan berlubang Purwodadi-Blora, itulah sensasi naik bus, bokong ini serasa makin tepos terkikis gesekan jok tempat duduk.

Mendekati kawasan Blora Kota, bersiap untuk turun di terminal Gagak Rimang, topi yang tadi saya letakkan didekat tas sudah raib tak berbekas. Aduh kemana ini, saya cari ke bawah jok, ke kursi-kursi di belakang, tak disangka ternyata penumpangnya tinggal 5 orang saja. Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, topi itu hilang, saya sudah mencarinya di seantero kursi dan bawah jok.

Topi cokelat ini memang sudah beberapa kali hampir saja hilang, namun selalu dapat kembali dengan berbagai cara yang unik dan aneh. Bahkan pernah suatu kali usai kuliah, saya bermaksud memakai topi lagi yang saya taruh kursi kuliah. Eh, topinya sudah tak ada. Teman-teman di belakang tempat duduk kutanya satu persatu, hasilnya nihil. Batin saya, ya sudahlah kalau memang hilang mau bagaimana lagi. Namun, esok harinya ada seorang Ukhti yang malu-malu sambil senyum-senyum menyerahkan topi itu ke saya kembali. “Oalah kowe to, lha mbok umpetke, walah kok jail nemen” begitu celetuk saya (tentu saya juga sambil senyum juga, gemes rasanya).

Tapi, kali ini nampaknya nasib topi itu lain dari yang sudah-sudah. Nampaknya kami sudah tak berjodoh lagi, putus sampai di sini. Rasa kehilangan saya rasakan, dan itu mungkin wajar. Apalagi, kesan bersamanya begitu mendalam. 5,5 (lima setengah) tahun topi itu menemani perjalanan saya, sudah merambah Jakarta, Bandung, Jogja, Kabupaten/kota di Jawa Tengah dan terakhir di Blora itu.

Topi yang cukup menolong melindungi kepala dan rambut ini, topi yang telah menjadi saksi bisu perjuangan selama kuliah hingga lulus, mendampingi dalam detik-detik yang menentukan, mendampingi suka-duka berdinamika karya. Topi yang telah meninggalkan kesan yang dialamatkan kepada saya, kesan yang berbekas di hati kawan-kawan saya, bahwa ciri khas si Widodo karena topinya itu, Widodo itu yang bertopi cokelat itu. Topi yang warnanya semakin pudar.

Kesan lain yang begitu syahdu, si topi adalah pemberian seorang teman. Teman dari Pekalongan sekitar awal 2004 silam. Topi yang diserahkan bersama dengan sebuah kemeja cokelat bergaris hitam menjadi sebuah pemberian berharga yang favorit saya kenakan. Pemberian yang tak pernah disebutkan dengan maksud apa, namun saat itu memang menjelang 7 April tanggal kelahiran saya. Tinggal kemeja itu yang bisa saya “amankan”.

Topi yang katanya telah sejiwa dengan pemiliknya, diberi bordir nama pemiliknya bukan dengan kata-kata, namun dituliskan dalam wujud not balok nada. Alhamdulillah topi itu pernah disematkan di kepala ini, dengan cara beginilah Tuhan membantu saya. Terima kasih kepada kawanku di sana yang telah mempercayakan sebuah benda yang begitu berharga. Tetapi, sungguh maafkan daku ini yang tak bisa menjaganya.

Meski topi tersayang itu telah tak ada padaku, sebuah harapan masih ada di sanubari. Semoga topi sederhana itu berada di tangan orang yang membutuhkan. Mungkin saya akan dapat ganti yang lebih baik, benarlah hari ini menjelang kegiatan badminton sore ini 31 Mei, seorang sahabat memberikan sebuah topi berwarna putih. Sebuah kepercayaan baru buat saya, akan saya jaga sebaik-baiknya. Topi…oh topi. Sedetik dimata, selamanya dijiwa.

Salam pramuka!

Widodo/30-31 Mei’09/memory Blora 27 Mei’09.

Jumat, Mei 29, 2009

7 Hari Terlalu Indah Dilupakan dalam Kawah Candradimuka

(memory akhir KMD Unnes 2,3,9,10,15,16,17 Mei 2009)

7 hari yang begitu melelahkan namun mengesankan, paripurna sudah. 7 hari melayani dan mencoba terus melayani. 7 hari membalas SMS peserta, menjawab telepon mereka yang bingung akan tugas-tugas. 7 hari mematut raut wajah ini dengan senyum, senyum insan, senyum pelatih. 7 hari melihat perubahan, dari yang belum berhasduk menjadi berhasduk, dari yang awam tentang pramuka, hingga lincah menaksir tinggi tiang listrik..he he he. 7 hari menikmati nasi rames plus telur. 7 hari melihat mereka datang jam 7.15 pagi. 7 hari menjawab izin peserta dengan berbagai alasannya. 7 hari merangkai kata penuh makna (meski aku bukan pujangga). 7 hari mencoba membangkitkan semangat.

Minggu 10 Mei 2009, pagi sekitar pukul 8. Seseorang masuk ruangan itu, dengan takzim mengucapkan salam “assalamu’alaikum”. Segera menjawab dan menyilakannya masuk, saya benar masih ingat nama depannya dan ia mahasiswa “Perancis”. Memintanya menunggu sebentar karena saya sedang menyiapkan beberap lembar presensi peserta dan kesiapan pelaksanaan jadwal hari itu.

Itu adalah hari ketiga pelaksanaan Kursus Mahir Dasar (KMD) di Unnes. Wajahnya memang agak pucat, nafas yang masih agak memburu karena harus menaiki tangga gedung C6. Duduk di kursi yang tepat lurus di depan saya di batasi beberapa kursi, saya lirik sebentar tampaknya raut mukanya benar-benar pucat dan tangan memegangi kening seolah menahan rasa. “Kak, apa sedang sakit?”. Tak ada jawaban, pikir saya mungkin tak begitu mendengarkan suara saya. Saya kembali melanjutkan mengetik beberapa ide.

Sungguh tak menduga, ia pingsan, itu pun saya ketahui ketika seorang panitia menawarkan sega krempyeng untuk sarapan. “Kak Wid, ia semalam juga pingsan di kos temannya, terus pagi ini perutnya masih kosong”. Tak ada sahutan, pingsan. Ramai seketika itu, panitia berhambur, namun saya masih tak bergerak bangkit dari kursi. Meski dilematis antara menolong ataukah tidak, saya yakin akan bisa banyak membantu, tapi memegangnya pun tak berani, pikir saya “dia bukan muhrim saya”.

Hanya pertanyaan dan saran kepada panitia coba saya utarakan untuk mengorek keadaannya yang terbaring di tikar, Kak Ringsung (pemimpin kursus) turun tangan. Saya hanya mendekat mencoba menyarankan ini dan itu. Kondisi sedikit membaik ketika seorang kakak (teman kuliahnya) masuk mencoba memberi pertolongan. Alhamdulillah Ia sadar, dan ketika air teh itu sudah diteguknya itu berarti ia telah sadar. Bukan dengan maksud berbasa-basi, sedikit mendekat, saya pandangi wajahnya dan “tawarkan” sunggingan senyum padanya, hanya itu.

Kakak-kakak, kejadian pagi itu menjadi tambahan sejarah dan cerita berkesan selama KMD, minimal bagi saya. Mencoba mengenal dan menggugah 207 orang peserta, diantaranya 165 orang puteri dan 42 orang putera. Sebagian besar adalah mahasiswa yang mencoba belajar bagaimana menjadi Pembina yang berkualitas.

Kami para pelatih hanya mencoba melayani mereka sebaik-baiknya, itu pun sebagai semboyan saya. Bermaksud memberatkan? tentu tidak, meski ada tugas-tugas yang mesti diselesaikan para peserta dengan tepat waktu dan tepat mutu. Kami tak ingin memanjakan mereka. KMD ini adalah kawah Candradimuka. Sebagai percontohan bagi KMD yang direncanakan tahun depan bagi seluruh mahasiswa kependdikan di Unnes. Standar kelulusan kursus mesti dinaikkan grade-nya.

Dan kini, kalau toh ada 2 peserta yang belum bisa menerima sertifikatnya, mereka telah menerima haknya sebagai seorang Pembina. Memperkuat barisan pengayom dan pelindung peserta didik di berbagai satuan kepramukaan.

Di dalam wahana selama 7 hari ini, memang sedikit yang bisa kami berikan. Namun, percayalah bahwa saya sendiri sebagai pelatih tetap belajar dan berusaha belajar untuk ikhlas. Ada plus minus dari sekian hal yang coba kami berikan, itupun barangkali lebih banyak kurangnya.

Saatnya membacakan hasil kerja keras mereka, dag dig dug bukan hanya hak para peserta saja, tim pelatih juga tegang membahas kelulusan peserta. Peserta dianggap memiliki antusiasme tinggi, tertib mengerjakan tugas dan catatan. Dan cukup mencengangkan ketika mengetahui hasil postest meningkat drastis dibandingkan pretest-nya. Saya geleng-geleng senyum tak henti-henti, apalagi saya wali kelas D. Tim pelatih menangkap pesan yang sama, bahwa KMD ini adalah salah satu kursus yang berkualitas, salah KMD terbaik yang terselenggara 2 tahun terakhir ini. Ya itulah penilaian yang diberikan, paling tidak selama saya bergabung dengan Lemdikacab Cakrabaswara selama lebih kurang 1,5 tahun ini.

Kini mereka berdiri bukan sebagai peserta KMD, kita adalah mitra sesama Pembina. Mereka pantas ditahbiskan menjadi Pembina. Setelah berjibaku dengan beberap tugas dari pelatih, berselimut malam yang dingin dan tetesan hujan, lumpur yang menggumpal di sepatu, perkemahan yang becek. Itulah kakak-kakak, sebuah penghayatan. Suatu saat ketika sudah aktif di gugusdepan menjadi Pembina/pembantu Pembina, maka kakak memiliki cerita bahwa berkemah dalam kondisi seperti itu sulit (padahal itu bagi orang dewasa, bagaimana jika bagi peserta didik berumur 7-17 tahun). Merasakan pahit getirnya adalah pelajaran berharga. Tak ada yang dipermudah maupun dipersulit.

Lali karo aku ora popo, tetapi hal-hal barangkali sebagai hal baik yang saya sampaikan semoga berkesan dan dapat diamalkan. Kecintaan saya kepada pramuka hingga kini tak berhenti, ini adalah sangu membangun rumah di surga…amin.

Witing Tresno iku jalaran seko kulino. Moga-moga ada CBSA Pramuka diantara kakak-kakak, CBSA tetap dalam kaidah syar’i agama.

Itulah pesan saya… “kalau kau suka hati tepuk tangan; tukang tahu tukang tempe toel toel; ketika aku masih ngantuk, ku tak tahu apa itu getuk; makan telo gosong sama-sama kulite; dan jagung arab tongkole gedhi…; sedetik di mata, selamanya di jiwa. Salam pramuka!

Sebuah tulisan yang tak kohesif dan koherensif.
Widodo/19-5-2009/Semarang, Selasa Pahing.

Kamis, Mei 28, 2009

Menuju Gagak Rimang Blora (part 2)



Oleh mas wid

Hari itu nampaknya untuk jadwal tidur agak lebih malam padahal seharian belum leren, tapi tak apalah ini adalah sebuah moment yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Usai ditraktir sate di Jepon, kami meluncur ke arah timur Blora, tepat di depan kantor kecamatan Jiken motor Pak Dwi berhenti. Di sana kami sudah disambut si empunya rumah, seorang kakek dan nenek yang kira-kira berusia 80an tahun. Ramah sekali, lebih seringnya sang kakek berbahasa Indonesia sangat fasih.

Obrolan itu terasa begitu mengena dan menjurus pada garapan si kakek sekarang. Eyang soewarso, begitulah panggilan saya kepadanya. Cerita begitu saja mengalir menganak sungai. Dari jaman perjuangan Peta hingga pemilihan presiden tahun 2009.

Di ruang tamu itu, tertata rapi puluhan atau mungkin ratusan buku. Wayang, gambar Bung Karno, photo Mbah Warso kala masih paruh baya terpajang rapi di dinding. Bahkan ada kertas berbingkai rapi bertuliskan huruf Kanji Jepang yang memuat ijazah sekolah Jepang tahun 1943, itulah ijazah Pak Soewarso.

Beberapa manuskrip pilihan berbahasa Jepang, Inggris, Sansekerta, hingga berbahasa Jawa Kuno. Juga ditunjukkan serta Centini, dan beberapa manuskrip asli bertuliskan Jawa kuno, hingga Al Qur’an berhuruf jawa. Kata Pak Warso, Qur’an ini baru sebagian diterjemahkan olehnya.

Tampaknya Pak Warso sering kedatangan tamu penting, terbukti di buku tamunya ada banyak nama terpampang mengisi lembaran buku itu. Diantaranya terpampang nama seorang professor dari UI Jakarta, UGM, dosen Undip, mahasiswa, hingga para pemerhati lainnya. Saya berkesempatan mengisi buku kehormatan itu, maka saya tuliskan nama dan saya goreskan tanda tangan.

Tak berhenti di situ, saya memohon izin untuk mengambil gambar, karena malam itu kamera digital saya bawa. Saya potret beberapa bagian dari ruangan itu. Dengan bersemangat, pak warso melanjutkan ceritanya. Hingga ia akhirnya menyinggung soal keberadaan supriyadi ketika saya mencoba menggelitik dengan sebuah pertanyaan tentang pejuang peta itu. Menurutnya supriyadi telah wafat ketika berada di ssebuah lembah dalam kejaran pasukan belanda. Sehingga beberapa waktu kemarin ketika, ada seseornag yang mengaku sebagai supriyadi, ia menyangsikan kebenarannya.

Dikatakan oleh Eyang Warso, akhirnya ia mendatangi orang yang mengaku sebagai supriyadi tersebut. Ia “tantang” orang itu untuk berdialog berbahasa Jepang, ia lontarkan pertanyaan dalam bahasa Jepang, ia tantang untuk menulis dalam Huruf Jepang. Apa yang terjadi? Pihak yang ditantang tak dapat menjawab, tak dapat menuliskan, tak dapat mengungkapkan sebagai permintaan Pak Warso. Apa pasal sehingga mbah warso ‘mennatang” dalam Bahasa Jepang? Sebab kala itu, setiap pasukan peta mampu berbahasa jepang, menulis kanji jepang. Sehingga jika ada eks prajurit peta apalagi seorang supriyadi tidak mampu melakukannya, maka jelas itu sangat pantas diragukan.

Tawaran menarik datang kepada saya, tawaran bagi tidak sembarang orang. Saya mungkin agak beruntung karena saya adalah teman Pak Dwi, sedangkan eyang warso sendiri adalah ayah dari pak dwi. “ayo mas saya tunjukkan beberapa pusaka dan keris di kamar khusus saya, seklaian tadi masnya bawa kamera”. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya langusng mengiayakan. Di kamar itu ada puluhan barang pusaka sebagian besar adaah keris, ada wayang keramat, patung logam, tombak, keris, pring petuk (bambu yang bertemu kedua cabang bukunya), serta beberapa artefak. Barang-barang yang katanya masih menyimpan kekuatan magis. Di ruangan tersebut rasanya memang berbeda, rasa yang tidak biasanya. Di samping tumah juga ada semacam pondok kecil yang disbeut sebagai tempat uji nyali (biasanya 3 malam tidur di sana). Bagi pendatang yang berani boleh mencobanya. Ruangan yang dilengkapi bantal, buku, koran, hingga telepon yang siap digunakan kapanpun. Diajaknya saya keruangan itu, kami bertiga mengobrol sekitar setengah jam di sana. Dan sungguh tak terduga saya ditawari untuk mencoba ruangan itu, uji nyali.

Menurut ceritanya, banyak orang penting yang datang menemui beliau, dari yang mencari bahan tugas sampai Profesor untuk penelitian, bahkan ada yang minta “petunjuk” dan doa terkait pemilihan legislatif atau pilkada.

Rembugan malam itu seperti ingin diakhiri, namun kelelahan menggerayapi, dan ketika Pak Dwi mengajak pamitan, saya mengiyakan. Malam itu tentu tak terlupakan, saya belajar banyak hal.

Ke Semarang aku kan kembali…walau apapun yang kan terjadi, terima kasih semoga bermanfaat.

Senin, Mei 25, 2009

TAKUT KEHILANGAN

(oleh si Wid)


Sayatan dimulai dari kulit sekitar ulu hati memanjang lurus turun hingga diatas pusar, lalu menyambung secara horizontal, jadilah berbentuk T terbalik. 20 Mei 2009 masih pagi benar, dingin itu tidak menghalangi saya menyegerakan diri berangkat ke Solo. Di ranjang, tergeletak seorang ibu, 45 tahunan usianya. Berjuang dengan operasi pembedahan, bukan operasinya yang dihadapi, namun berjuang antara hidup-mati.

Saya hubungi teman-teman untuk memohon doa mereka, agar si ibu dapat menghadapi operasi, agar operasi berjalan lancar. Agar diberi kesembuhan, agar diberikan keputusan terbaik dari Alloh. Sedapat mungkin berbekal pulsa di HP, saya kirim SMS ke teman-teman, dari teman lama hingga orang-orang yang baru saya kenal. Alhamdulillah respon teman-teman begitu luar biasanya, disanalah ketenangan saya rasakan.

Berikutnya, apa yang saya rasakan? Kengerian, kekhawatiran. Tak biasanya saya sekhawatir itu. Semakin berdebar jantung ini. Saya takut akan sebuah kehilangan, kehilangan besar dalam hidup ini. Mengangkat kista sebesar kepalan tanganku, dan kanker yang ternyata menggerogoti tubuh perempuan ini. Sebelumnya, sakit yang tak tertahankan ketika tiba masanya haid. Inikah deritanya para seorang perempuan. Rasa sakit hingga polahnya bak sedang kesurupan.

Setelah menjalani pembedahan lebih kurang 3,5 jam, si perempuan dibawa masuk ke kamar perawatan inapnya. Ketika obat bius sudah menurun daya kerjanya, yang kemudian dirasakan adalah sakit, perih yang amat sangat. Kesadaran yang hampir pulih, Alhamdulillah si perempuan bisa mengenali orang-orang di sekitarnya, anggota keluarga, kerabat yang dengan setia menunggu.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi Solo menjadi saksi dari sebuah hari yang menentukan. Perjalanan wanita itu hingga menjalani momentum yang sungguh rumit. Setelah menahan sakit sekitar 1 tahun dan berupa mengobati dengan berbagai cara, ia menyerah dan operasi adalah jalan terakhir untuk menuntaskan rasa sakit itu. Keputusan itu yang menjadi usaha selain doa yang terus dipanjatkan.

Malam pertama usai operasi adalah masa kritis kedua (kritis pertama saat operasi). Sakit, panas, dan perih tak bisa mengantarkan tidur. Keluarga dan saudaranya bergantian berjaga, memberikan sentuhan dengan mengipasi tubuhnya yang terbalut selimut. Menjelang dini hari mata ini semakin terasa pedas, rasa kantuk tak tertahankan, dan akhirnya aku terkapar juga.

Hari kedua usai operasi, rasa sakit yang luar biasa masih amat terasa. Tangan si perempuan itu berulang-ulang mengelus perutnya. Coba kutanya “sakit endi dioperasi karo nglahirke?”, “lara bar operasi” begitu jawabnya. Jika rasa sakit habis operasi melebihi rasa ketika melahirkan, sungguh tak terbayangkan betapa sakitnya.

Saya tak dapat berbuat banyak, hanya berdoa, ikut mendampingi, menunggui, dan menghibur dengan canda-canda. Soal biaya pengobatan, memang lumayan banyak biaya yang mesti dikeluarkan. Belum lagi, kini mesti menjalani kemoterapi selama beberapa minggu, dalam satu kali kemo saja menghabiskan sekitar Rp 3jutaan. Beruntung sekali keluarga kami, biaya pengobatan termasuk biaya operasi itu hampir seluruhnya ditanggung anak pertama keluarga ini. Tak kurang juga dukungan anggota keluarga dan sanak saudara. Mereka menunggui, mendampingi, dan merawat sebelum di operasi hingga usai operasi. Kerabat jauh di Jakarta juga pulang untuk memberikan dukungan.

Aku sangat bersyukur si ibu ini berangsur sembuh, dan saya lebih bersyukur lagi bahwa saudara-saudara dan kerabat dekat tak melupakan kami. Lebih-lebih para tetangga, warga se-RT/RW, se-dusun menjenguk si ibu. Alhamdulillah, kami yang tak ingin melupakan tetangga kami, mereka pun ternyata dekat dihati dengan kami. Terima kasih.

Tibalah saatnya, setelah 5 hari usai operasi, dengan kondisi yang makin membaik, si ibu dapat dibawa pulang ke rumah. Dan malamnya, rumah kembali ramai dengan canda kerabat dan saudara, tetangga yang kembali menjenguk. Siapakah si perempuan yang menjalani operasi itu? Ibu saya sendiri, bu Sajiyem.

Dalam doa, saya berkata ‘kasih sayang ibu begitu besar, dan saya belum mampu membalas’, saya tak ingin lebih merepotkan lagi, saya ingin lebih bermanfaat. “satu yang pasti, ya Alloh aku memohon “berikan kekuatan keimanan dan kekuatan lahir-batin, berikan kesempatan, dan kesabaran agar aku bisa benar-benar menjadi insan yang berguna, menjadi insan yang memberi bukan meminta”.

Terima kasih ya Alloh, terima kasih buat Bapak, Kakangku, Mbokde, Pakde, Paklik, Bulik, genduk kabeh, sedulur, para kerabat, saudara, tetangga yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih buat teman-teman dimana berada siapapun juga dan kakak-kakak di Gerakan Pramuka atas bantuannya. Jika kita memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya, maka janan khwatirkan apa yang Anda akan dapatkan. Semoga semuanya mendapat balasan yang terbaik dari Alloh.



Widodo/25 Mei’09

Senin, Mei 18, 2009

Menuju Gagak Rimang Blora (part 1)

Menuju Gagak Rimang Blora (part 1)
Oleh mas wid


Ketika gagasan di kepala ini sudah membumbung sampai ke ubun-ubun, ingin rasanya di letuskan seperti halnya keinginan terpendam Gunung Slamet berniat membuncahkan lahar. Maka tulisan ini hadir sebagai pelampiasannya.

Dan kali ini, sungguh bersyukur sekali mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah jejatian, Blora. 30 April ini, Kamis, pagi meneguhkan itikad untuk segera menuntaskan kewajiban wiyata tahun ini. Ke Blora saya menuju, membawa sejumlah gagasan yang hendak ditawarkan.

Perjalanan Semarang-Demak-Purwodadi- lalu Blora. Penggantian aspal menjadi cor semen belum juga tuntas. Meksi masih pagi, debu berterbangan menyesakkan nafas. Menegangkan urat nadi, keringat itu benar-benar seperti aliran air Bengawan Solo musim hujan. Inilah hidup.

Pertama kali ke Blora menjadi sebuah kenangan. Bertanya sana sini mencari arah perjalanan dan mencari tumpangan yang paling efisien. Dan dengan sedikit memaksakan diri, dari Semarang harus naik bus kecil ke Demak, lalu berganti bus lagi menuju Purwodadi. Problem kemacetan di sepanjang jalan sekitar Sayung Demak hingga berbulan-bulan belum juga tuntas. Perjalanan bertambah lama, dan saya sempat turun di daerah Purwodadi yang di pusat jalan itu ada Tugu Adipura, lambang kebersihan kota. Lapar benar, haus benar. Teringat membawa kamera, maka tak saya sia-siakan segera jepret sana sini, sampai si ibu penjual minuman juga minta diphoto, pikir saya tak apalah ini buat menyenangkan hati.

Dan ketika bus arah Blora hadir ditempat itu, segera saya berlari mengejar untuk sedapat-dapatnya kemudian memejamkan mata beberapa saat. Lapar itu sulit diajak kompromi, sehingga ketika bapak penjual salak menyodorkan dagangannya, saya tak dapat menolaknya.

Alhamdulillah sekitar jam 14 tibalah di terminal Gagak Rimang Blora, belum sempat menghirup udara Blora dalam-dalam, tukang ojek sudah menyerbu menawarkan tumpangan. Dengan halus saya menolak, “maaf mas, badhe dipun petuk”. Alhamdulillah setelah menerima bel dari Pak Dwi, lalu tempat yang tuju pertama tentu mushola, terminal yang begitu sepi namun musholanya tetap hidup.

Tak berapa lama Pak Dwi datang langsung mengajak ke rumah seorang rekannya (Pak Putut), ngajak ngopi. Benarlah, siang-siang saya bersama bapak-bapak itu ngopi di warung langganan mereka. Kebetulan sekali Pak Putut menawari makan, Kepala Ikan Manyung. Kepala ikan yang besar, rasanya pedas, namun nikmat benar, baru pertama kali ini mencicipinya.

Berikutnya ke tempat adik kandung Pak Dwi, lalu meluncur ke wisma Pak Dwi di Nglengkir Bogorejo. Berkenalan dengan istri dan anak-anaknya, lalu tak berapa lama langsung diajak ke sekolah tempat Pak Dwi mengajar. Jalan yang berliku, berlurah, berbukit, dan naik hingga berkilometer terlewati terus menanjak. Sekolah itu di puncak bukit, di puncak gunung, ya boleh percaya boleh tidak, sekolah itu paling puncak, lebih tinggi dari bukit itu sendiri.

Dalam perjalanan ke sekolah itulah, Pak Dwi tak henti-henti menceritakan programnya di sana, program pendidikan lingkungan bagi anak-anak, warga Nglengkir, hingga masyarakat Samin, luar biasa. Sungguh tak saya duga, anak-anak di daerah tersebut telah berkiprah untuk menjaga kelestarian hutan tempat itu bahkan sebelum bantuan pemerintah datang. Untuk menjadi guru ditempat seperti itu tentu harus mengorbankan kesenangannya, mengorbankan tenaga, dan pikiran yang begitu berat. Bayangkan, di puncak bukit dimana dari pusat Kecamatan Bogorejo berjarak 19 km lebih dan jalannya naik kebukit berkelok-kelok. Maka, cukup wajar bila ada seorang ibu guru minta pindah tempat mengajar.

Hampir maghrib kami meluncur turun kembali ke rumah Pak Dwi, usai mandi dan shalat, pak dwi langsung mengajak keluar berkeliling. Ternyata ke daerah Jepon, dimana kami berhenti di depna warung sate yang katanya terkenal se-Blora. Entah berapa porsi sate yang kami nikmati, belum habis satu porsi sudah datang berpuluh satu di piring kami, hem seperti tamu agung saja saya ini, malam itu saya kekenyangan.

To be continued…

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!