Senin, Agustus 17, 2009

ANTARA HUJAN DAN NAFSU

Oleh Widodo (diperbaiki dari HUJAN 2, 15 Juni 2009)


Beberapa pekan ini, meski katanya musim hujan lewat masanya, tugas malaikat untuk menurunkan hujan masih jalan terus. Hawa ini silih berganti tak terduga, dari panas tiba-tiba dingin dan sebaliknya. Banjir dan bencana alam lainnya masih belum usai, buktinya media cetak dan elektronik juga memberitakannya. Barangkali semua merasakan cipratan air, tapi memang tak semua menerima bencana ini.

Hujan sekali lagi sebagai sesuatu yang ditunggu. Kini juga sebagian disesali, karena dianggap menurunkan kerugian juga bagi kita. Sekian waktu sudah terlewati, berbulan-bulan lamanya air tak mengucur di rumah kita, sawah mengering hendak menangis pun tak bisa. Tanaman hanyut dalam sepinya taburan kecipak irigasi di sawah atau ladang. Tak jarang kita berucap susah kalau hujan begini, tak bisa kemana-kemana dengan leluasa. Tak bisa berkunjung ke jagat-jagat yang kita inginkan.

Tapi diunjung sana, ada banyak rasa yang kontras dengan keadaan kita yang di sini. Saat kita menerima hujan dengan begitu lapang dada karena memang kita tak merasakan bahwa hujan menjadi air bah yang meluluh lantakkan rumah tinggal kita. Tak ada derita yang memilukan karena harta kita tak berkurang. Namun di sana, di mana ada saudara kita yang meringis, menangis, mengaduh dan betul sampai gaduh, hujan menghancurkan harapan mereka, bahkan sisa-sisa harapan. Anak sekolah bingung bagaimana bersekolah, pedagang bingung mau menjual apa –apalagi pasar-pasar tiada bersisa, serta berbagai kondisi yang sulit mereka pahami apalagi menyikapi.

Hal yang demikian itulah yang begitu kental kita rasakan selain berita baru-baru ini di koran maupun televisi. Bermacam-macam, mulai masalah pencemaran nama baik, KDRT, penetapan kursi di DPR, kuis-kuis milyaran, kampanye capres-cawapres 2009 (yang katanya makin tak sehat), kecelakaan burung besi yang bertubi-tubi, hingga flu babi yang melembekkan manusia (justru bukan menyerang babi).

Persinggungan masalah demikian menunjukkan bahwa ada situasi yang tidak terjawab oleh nalar. Atau mungkin nalar kita sudah malas diajak kompromi, yang mudah tak kita pikir pun tidak masalah. Tapi yang jauh dari kita seolah-olah enggan kita pikirkan.

Tuhan Maha Adil

Sejenak kita berkaca, barangkali kita terganggu dengan hujan kali ini atau mungkin sekian kali hujan yang kita terima. Hendak kemana-mana sering kehujanan, entah yang mau ke kantor, ke pasar, kencan. Pagi sampai sore bumi ini didera hujan, seakan ativitas ini berhenti mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi tak banyak aktivitas kalau hujan sudah turun. Namun kondisi ini jelas berbeda, saat kita jengkel tapi banyak pihak yang begitu senang dengan hadirnya tamu basah ini. Petani senang karena air kembali mengalir di sawah-sawah mereka, tumbuhan bersemi kembali, hewan peliharaan dapat merumput kembali dengan segenap gurauannya, kerbau kembali berkubang di lumpur. Singkatnya air mengalir sampai jauh.

Begitulah syair lagu Bengawan Solo bapak Gesang. Petani bisa menghasilkan lagi padi-padi yang menjadi pemenuh nafsu makan kita. Demikianlah bahwa dengan nyata Tuhan menunjukkan keadilannya, dan bahwa Gusti ora sare. Tuhan senantiasa berbuat di saat hamba-Nya sedang terlelap sekalipun, Tuhan tidak tidur. Kejadian di sini hujan dan tanpa banjir, atau mungkin daerah sana hujan dengan banjir itu bukan menunjukkan bahwa Tuhan tidak adil. Memaknai yang demikian ini maka kita sebagai manusia harus bertindak sebagai menungsa kang ora kena ngresula marang peparingane Kang Maha Kuwasa (tidak boleh mengeluh atas pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa).

Nafsu Sufiah

Kita tilik kembali tentang nafsu kita. Begitu banyak alat pemuas nafsu pun berbagai macam nafsu. Mulai dari nafsu sufiah, marah, lawamah, dan mutmainah. Nafsu sufiah bicara soal nafsu perut dan nafsu bawah perut. Nasi dan lauknya itulah alat pemenuh nafsu perut kita. Kalau perut sudah terisi nasi, sudah terisi air yang menyegarkan, terisi oleh berbagai macam makanan yang kita suka, maka dapat dikatakan bahwa nafsu perut telah terpuaskan. Namun bagaimana dengan nafsu bawah perut, singkatnya nafsu ini bicara soal pemenuhan hasrat seks kita. Tidak tua tidak muda, tidak kaya tidak misin, tidak yang di desa dan di kota betapa sulit mengerem nafsu ini. Beda lagi dengan hawa nafsu, nafsu inilah yang sering diumbar. Kalau libido seks sudah bicara, singkatnya kita sebut iman kuat tapi imron tidak kuat. Begitulah gurauannya.

Sekalipun orang berperut kenyang, belum tentu kenyang hasrat nafsunya. Apalagi kalau bicara soal nafsu sufiah bawah perut. Kadang nafsu ini begitu menggejolak untuk dipenuhi padahal alat pemuasnya sulit dipenuhi. Lalu terjadilah pelampiasan dengan berbagai cara (yang dibenar-benarkan supaya halal). maka saat ini menjadi penting bagi kita untuk menjalankan “tapa brata” yang memerlukan kemampuan untuk tidak terpengaruh oleh kenikmatan lahiriah semata (kecopaking iwak), galaunya suara orang (grombyanging wong), dan dorongan seks yang tidak sehat (semilake wentis kuning).

Sekalipun seorang Kyai atau Pendeta sudah banyak makan asam garam lautan, kalau sudah didera oleh nafsu yang satu itu (sufiah), siapa yang bisa menolak. Kemudian pun mencari pemuasnya dengan berbagai cara. Pernah diungkapkan bahwa wanita itu paling kuat/tahan menahan nafsu seksnya tapi sekali bobol maka sulit akan terobati. Ibarat rem sudah blong, maka sulit akan diperbaiki. Bagaimana laki-laki?

Generasi yang tercipta sekian waktu barangkali juga merupakan produk dari “nafsu” sehingga mereka juga terlahir dengan penuh nafsu. Tentunya termasuk saya.

Melunturnya semangat Manembah ini tentu otomatis juga mengendurkan rasa syukur. Orang yang dipandang berhasil atau “jadi orang” tatkala sudah punya penghasilan tinggi atau singakatnya disebut orang kaya. Seolah-olah nafsu telah menuhan keyakinan kita akan materialisme. Unsur kebendaan yang dinomorsatukan, bukan maknawiyah lagi. Inilah yang menarik karena sudah menjadi biasa dengan yang demikian. Mestinya kita harus terbiasa, bukan aku tak biasa seperti Alda Risma yang sudah mendahului kita kembali kepada-Nya.

Sepertinya dengan berbagai bencana ini, kita belum biasa dengan penderitaan. Bila bayi menangis kita isyaratkan sebagai bentuk tanggapan bayi yaitu melihat dunia begitu penuh dengan nafsu jahat, dunia penuh kesengsaraan, dunia semu keadilan, dunia fana. Sehingga Sang Bayi seolah-olah hendak kembali lagi ke dalam rahim ibunya yang begitu khusyuk dan nikmat. Bayi merasakan kenyamanan, karena disanalah ia tanpa kerja mendapat makan, gizi, susu, oksigen, bernafas, tidur. Singkatnya tanpa kerja sudah dapat segalanya.

Nafsu sulit pula dikendalikan oleh mareka yang cendekia sekalipun. Buktinya ada tokoh panutan sekelas anggota DPR, ustads, atau lainnya yang mudah jatuh dengan godaan ini. Nafsu berkuasa atau keserakahan juga bisa timbul karena nafsu bawah perut menuntut pemuasaan dengan segera.

Nafsu atau Ambisi

Saya mencoba mengusik sekian fenomena di sekitar kita, sudah sekian banyak profesor dihasilkan negeri ini dari berbagai universitas. Tapi apa sumbangsih mereka terhadap negeri ini? Begitupula bagaimana seseorang bisa menjadi profesor itulah yang dipertanyakan. Tak jarang kita temui profesor yang sebelum pofesor menempuh doktor hanya sekian waktu saja kemudian dalam beberapa bulan kemudian sudah menjadi guru besar.

Apakah profesor sudah menjadi obsessi yang berkembang menjadi ambisi pribadi demi sebuah gelar yang “nomor wahid”, lha wong kenyataannya banyak profesor yang “jago kandang”, menulis buku juga tidak bahkan artikel yang sederhana pun tak pernah dibuat. Setelah pengukuhan lalu tak mau dipanggil pak atau bu, maunya dipanggil prof. (profesor). Orang semacam ini dibentuk kesibukannya dengana jabatan di kampusnya atau mengejar angka kredit. Selepas pengukuhan kembali seperti adat awalnya, sekadar memenuhi kuliah lalu pulang atau sesekali menjadi pembicara di seminar lokal kampus. Lalu apa bedanya profesor dengan yang bukan profesor, tanya kenapa? Sehingga profesor semacam ini layak disebut profesor yang bukan profesor. Memang profesor tak semuanya demikian. Betapa sebuah gelar pendidikan pun sudah menjadi bagian dari nafsu kita, nafsu yang minta dituruti.

Berkembangnya nafsu berkuasa dari sekelumit uraian tadi menyiratkan bahwa nafsu dibentuk oleh nafsu yang lain dan tentu menuntut dipenuhi. Kalau hati sudah dipenuhi nafsu buruk, maka saudara jauh yang terkena bencana pun sudah terlupakan. Pemenuhan nafsu ini akan mengaburkan dari sikap asih, asah, dan asuh. Karena kalau kita meminta tolong sudah dengan embel-embel atau pamrih, ada tendensi negatif. Semua menjadi kabur karena nafsu yang sembarang diumbar, yang ikhlas menjadi tak ikhlas.

Terkadang nafsu kita bak hujan yang deras, lalu ”Apakah salah kita memiliki nafsu?” Tentu tidak karena memang sudah kodratnya demikian. Bagaimana mengelola dan memuaskan nafsu, itulah masalahnya.

Senin, Agustus 10, 2009

Media Komunikasi Pembelajaran



BAHAN 1:

Pengertian Media Pembelajaran

BAGIAN PERTAMA:

Konsep Media, Alat Peraga, dan Media Komunikasi Pembelajaran

McLuhan yang dikutip oleh Akhsin dalam Kustiono (2001: 2) menyatakan bahwa media juga disebut saluran (channel), karena menyampaikan pesan dari sumber informasi kepada penerima. Dengan demikian, media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam penyajian informasi untuk mengantar pesan dari sumber informasi kepada penerima.

Di dalam setiap komunikasi selalu terdapat urutan pemindahan informasi. Urutan pemindahan informasi itu, oleh Kemp (1985: 5) dideskripsikan dalam gambar berikut:

Gambar di atas menunjukkan bahwa pesan atau ide, dalam bentuk informasi dari pengirim. Selanjutnya pesan itu diubah (encode) dalam bentuk lambang/kode. Pengubahan ini, misalnya suatu konversi diubah dalam bentuk suara/gelombang suara, tulisan kata, gambar. Pesan yang sudah berupa kode itu kemudian dipindahkan kepada penerima melalui channel dengan menggunakan media tertentu, misalnya: film, gambar, buku. Setelah tiba pada penerima atau tujuannya, dengan bantuan indera mata atau telinga pesan itu diolah atau ditafsirkan lagi.

Komunikasi yang efektif tergantung pada partisipasi penerima. Orang akan bereaksi dengan jawaban, pertanyaan atau tindakan. Dengan bantuan sistem syarat, pesan itu dapat diterima dan dimengerti oleh penerima pesan. Penerima akhirnya mengirimkan kembali pesan yang telah diolah sebagai umpan balik (feedback) yang dapat berbentuk kata, ekspresi, atau gerakan tangan. Dari feedback ini pengirim dapat mengetahui apakah komunikasi berlangsung dengan efektif atau tidak. Ada gangguan atau tidak selama komunikasi berlangsung. Gangguan itu harus dicari oleh manusia sumber agar dapat diadakan perbaikan sesuai dengan maksud pesan (Kemp, 1985: 12).

Kata media sendiri berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti tengah atau perantara atau pengantar. AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Di samping sebagai sistem penyampai atau pengantar, menurut Fleming dalam Arsyad (2004: 3) media yang sering diganti dengan kata mediator adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator, media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar, siswa dan isi pelajaran. Di samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pengajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada peralatan paling canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran.

Acapkali kata media digunakan secara bergantian dengan istilah alat bantu atau media komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1994) bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi. Sementara itu, Gagne dan Briggs (1995) dalam Arsyad (2004: 4) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, tape recorder, kaset video, recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Dari berbagai batasan tentang media yang telah dikemukakan banyak ahli, dapat dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung pada setiap batasan:

a. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware, yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindera.

b. Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software, yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang dngin disampaikan kepada siswa.

c. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.

d. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.

e. Media pendidikan digunkaan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

f. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalkan: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalkan film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalkan: modul, komputer, radio tape/kaset, video recorder).

g. Sikap, perbuatan organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.


BAHAN 2:

Pengertian Media Pembelajaran

BAGIAN PERTAMA:

Landasan Teoretis Penggunaan Media

Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Brunner dalam Arsyad (2004: 7) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman piktorial/gambar (ionic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Pengalaman langsung adalah mengerjakan, misalkan arti kata ‘simpul’ dipahami dengan langsung membuat ‘simpul’. Pada tingkatan kedua yang diberi label ionic (artinya gambar atau image), kata ‘simpul’ dipelajari dari gambar, lukisan, foto atau film. Meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat ‘simpul’ mereka dapat mempelajari dan memahaminya dari gambar, lukisan, foto, atau film. Selanjutnya, pada tingkatan simbol, siswa membaca (atau mendengar) kata simpul dan mencoba mencocokkan dengan ‘simpul’ pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh ‘pengalaman’ (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang baru.

Tingkatan pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti itu digambarkan oleh Dale (1969) dalam Arsyad (2004: 8) sebagai suatu proses komunikasi. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan siswa dapat menguasainya disebut pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan ke dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan siswa sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding). Cara pengolahan pesan oleh guru dan murid dapat digambarkan pada tabel 1.

Pesan diproduksi dengan:

Pesan dicerna dan diinterpretasi dengan:

Berbicara, menyanyi, memainkan alat musik, dsb.

<-->

Mendengarkan

Memvisualisasikan melalui film, foto, lukisan, gambar, model, patung, grafik, kartun, gerakan nonverbal

<-->

Mengamati

Menulis atau mengarang

<-->

Membaca

Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa agar proses belajar-mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan. Dengan demikian, siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.


DAFTAR PUSTAKA (daftar pustaka ini adalah kumpulan pustaka yang berkaitan dengan tulisan/paparan tentang MEDIA KOMUNIKASI PEMBELAJARAN<>

AECT, Task Force. 1997. The Definition of Educational Technology. Washington: Association for Educational Communication and Technology (AECT).

Arsyad, Azhar. 2004. Media Pembelajaran. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Degeng, I Nyoman Sudana. 1989a. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2I.PTK.

Depdikbud. 1977. Alat Peraga dan Komunikasi Pendidikan (untuk SPG). Jakarta: P2BSPG.

Gerlach, Vernon S.; Donald P.; Ely. 1980. Teaching and Media and The New Technologies Instruction. New York: Application Century-Grofts.

Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan (Cetakan ke-7). Bandung: Citra Aditya Bakti.

Kemp, Jerrold E, Dayron, Diane K. 1985. Planning and Producing Media (First Edition). New York: Harper & Row Publishers.

Kustiono. 2001. Media Pembelajaran. Buku Ajar, disusun dalam rangka Tugas Pelatihan Penyusunan Handout dan Buku Ajar bagi Dosen Peneliti Universitas Negeri Semarang di Lembaga Penelitian. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes.

Miarso, Yusufhadi, dkk. 1984. Teknologi Komunikasi Pendidikan, Pengertian dan Penerapannya di Indonesia. Jakarta: Pustekkom Dikbud dan CV. Rajawali dalam rangka ECD Project (USAID).

Nasution, S. 1994. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Rachman, Maman. 1990. Pemanfaatan Efisiensi Buku Teks sebagai Sumber Belajar di Sekolah Menengah Tingkat Atas. Lembaran Ilmu Pendidikan, (Ed. Khusus): 25-34. Semarang: IKIP Semarang.

Sadiman, Arief S, dkk. 1993. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya (Edisi ke-3). Jakarta: Grafindo Persada.

Sudjana, Nana, dan Ahmad Rivai. 2003. Teknologi Pengajaran (Cetakan Keempat). Bandung: Sinar Grafika Agensindo bekerjsama dengan Pusat Penelitian Pengajaran dan Pembidangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dan) Lembaga Pendidikan IKIP Bandung.

Suharno, Noto. 206. Dampak Perkembangan Teknologi Informasi terhadap Perilaku Siswa. Jurnal Edukasi, tahun XVI No. 1 Januari – April 2006. Hal 173. Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes.

Tim MKDK IKIP Semarang. 1993. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: FIP IKIP Semarang.

(Wonogiri, Selasa malam, 21.31 WIB, 9 Juni 2009, diiringi “Suara”-Hijau Daun)

Minggu, Agustus 09, 2009

Haus Oase

Haus Oase
Karya: Sandra Noryz


Sebuah bangsa, sejuta wacana
selaksa dogma tanpa nyawa
tidakkah semua-mua meraba?
seseorang telah membakar rumahku
meluluh lantahkan isinya yang kuyu
hingga air-air kemanusiaan menjerit
tak lagi berderak parau
tak ada lagi sarang
Cuma bayang-bayang kematian yang mulai dipancarkan
musnah atap berteduh
oleh mereka prasunda lusuh
mereka yang cuma memaki
menghujati pemimpin sejati, tanpa membenahi
mesti segera dieksekusi
dirajam kerikil besi
rumahku butuh segera air penyelesaian
dan kontemplasi yang cerdas,
bukan hujatan-hujatan pedas,
oleh iblis-iblis yang cadas
Aku – maaf – kehabisan mufrodat,
tuk sekedar menyebutnya bangsat
tapi…ah…keparat !!!

Jumat, Agustus 07, 2009

Refleksi Hujan

Refleksi Hujan

Karya: Sandranoryz


kali ini pun serupa
tak berbeda dari biasanya
menjulang diri
derai Tuhan memedar angkasa
apa sesuatu merasukku?
kebahagiaan punah
makna membuncah menalingku
entah apa pun kenapa…
aku tak hendak membacanya
cuma ingin merasa, itu saja!
iya..
hujan…hujan…!
menggeliat membangun logika
rinainya perawan
tempat peraduan alam yang tak lagi menawan
lautan terik yang teranulir dipaksa kemusim
tapi, tatap saja menancapkan selaksa “kesadaran”
bintang kecil yang lagi paruk di pasaran
ah…hujan,kau terlalu sering beriku pelajaran
aroma basah dedaunan rumah
cercau alam membuncah
ekstanse yang – sungguh – cerah...ah…!!!

Senin, Juli 27, 2009

TUGAS REMIDI KMD ANGKATAN KE-V UNNES

TUGAS REMIDIAL BAGI PESERTA KELULUSAN DITANGGUHKAN

KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR (KMD)

ANGKATAN KE-V

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

18 s.d. 25 Juli 2009

1. Menyusun makalah dengan cara menyajikan gagasan berdasarkan kenyataan/fakta yang terjadi pada tataran praktek kepramukaan di lapangan. Aturan penyusunan makalah, yaitu:

a. Gagasan atau ide permasalahan seputar kepramukaan yang dikorelasikan secara kritis dengan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan atau bidang ilmu yang Kakak tekuni.

b. Diketik 1, 5 spasi, huruf times new roman, font size 12.

c. Dikerjakan minimal 10 halaman kwarto, maksimal 15 halaman.

d. Margin atas 4 cm, bawah 3 cm, kiri 4 cm, kanan 3 cm.

e. Sumber bacaan minimal 3 buku/artikel atau bahan lainnya.

f. Tata tulis lainnya mengikuti kaidah penulisan karya ilmiah yang berlaku.

g. Menggunakan Kaidah Bahasa Indonesia EYD

h. Sistematika makalah:

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penulisan Masalah

Bab II Kajian Teori/Kajian Pustaka

Bab III Isu dan pembahasan

A. Isu yang berkembang (masalah di lapangan)

B. Analisis Masalah Isu

C. Solusi (usulan ide pemecahan masalah)

Bab IV Penutup

A. Simpulan

B. Saran

Daftar Pustaka/Sumber Bacaan

2. Membuat lembar pengesahan yang ditanda tangani oleh Pemimpin Kursus dan Kepala Lemdikacab. Penyerahan tugas dikirimkan atau diserahkan kepada atas nama Kak Widodo, alamat tujuan: Sanggar Pramuka Racana Wijaya, Kompleks Joglo Unnes, Sekaran Gunungpati, Kota Semarang kode pos 50229. Contoh halaman pengesahan saya lampirkan.

3. Penilaian makalah meliputi:

a. Kesesuaian tema masalah dengan pembahasan

b. Tata tulis karya ilmiah, literatur, dan kaidah Bahasa Indonesia

c. Substansi karya ilmiah (isi paparan, ide, dan solusi)

d. Orisinalitas isi makalah

4. Pengumpulan makalah paling lambat saya terima pada hari Selasa, tanggal 11 Agustus 2009 (cap pos). Apabila melebihi waktu tersebut, status ditangguhkan diubah menjadi tidak lulus.

5. Hasil penilaian dan evaluasi makalah akan disampaikan kepada Kakak, segera setelah dikoreksi.

6. Sertifikat dan Surat Hak Membina (SHB) diserahkan setelah tugas dinilai dan memenuhi standar penilaian.


Semarang, 26 Juli 2009/ Pemberi Tugas: Kak Widodo: SHL. 095/SHL/XI.33: Pelatih Pembina Lemdikacab Kota Semarang


---------------------------------------------------------------------------------------

PENGESAHAN

Makalah dengan judul:

(judul….)

Telah disetujui oleh Pemimpin Kursus dan Kepala Lemdikacab Cakrabaswara Kota Semarang dan dipertanggungjawabkan sebagai karya sendiri bukan jiplakan, serta ditujukan untuk memenuhi tugas remidial kelulusan peserta pada KMD Angkatan ke-V di Universitas Negeri Semarang tanggal 18 s.d. 25 Juli 2009.

Semarang, ……… 2009

Penyusun,

(nama dan tanda tangan)


Kepala Lemdikacab Cakrabaswara

Kwarcab Kota Semarang: Tusno Mahyudi, SHL. 017/SHL/XI.33


Pemimpin Kursus: H. Sukarno, S.Ag.; SHL. 022/SHL/XI.33

(seperti halaman pengesahan skripsi, nama Pinsus di kanan, dan Kalemdikacab yg kedudukannya lebih tinggi di kiri)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kami beritahukan kepada Kakak-kakak, bahwa keputusan kelulusan ditangguhkan yang kami ambil berdasarkan pada evaluasi dan penilaian bahwa kakak-kakak memiliki kekurangan menyangkut kehadiran dan/atau tidak mengikuti posttest.

Dengan mempertimbangkan diantara 8 orang peserta yang ditangguhkan memiliki kekurangan yang berbeda-beda, selain diberi tugas menyusun dan mempertanggungjawabkan makalah, maka diberi ketentuan tambahan yaitu:

1. NETI SAROFA (no. Pst 8): tidak ada tambahan tugas lain

2. ARIF BUDI LEKSANA (no. Pst 63) : tidak ada tambahan tugas lain

3. MUSTHOFA BASYAR (no. Pst 80) : makalah dikerjakan paling lambat tanggal 26 Agustus dengan pertimbangan karena yang bersangkutan sedang sakit.

4. KARDINA IKA RAHAYU (no. Pst 85) : tidak ada tambahan tugas lain

5. NIKHE YUSTIANI (no. Pst 36) : tidak ada tambahan tugas lain

6. ASTRI WIDIARTI (no. Pst 33) : memberi komentar tertulis dalam blog ini pada salah satu artikel rubrik kepramukaan.

7. MUALAFAH (no. Pst 41) : sari/abstrak dari makalah yang dibuat dikirim ke email >> maswidcaem@gmail.com

8. KHAERUNISA (no. Pst 42) : sari/abstrak dari makalah yang dibuat dikirim ke email >> maswidcaem@gmail.com

Saya tunggu pengerjaan tugasnya. Kakak-kakak dapat menghubungi saya via phone/SMS ke 081548575997.


Saya menyadari akan kesibukan dan tugas-tugas Kakak-kakak, mungkin terkait Kuliah Kerja Nyata, PPL, dan sebagainya, namun demikian halnya saya juga memiliki tugas-tugas lain. Jadi, kita saling memaklumi.

Selamat bekerja, semoga sukses, yang sakit bisa segera sembuh, yang sudah sembuh bisa segera kirim kabar. Sedetik di mata, selamanya dijiwa, wassalamu’alaikum. Salam Pramuka!

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!