Oleh Widodo (diperbaiki dari HUJAN 2, 15 Juni 2009)
Beberapa pekan ini, meski katanya musim hujan lewat masanya, tugas malaikat untuk menurunkan hujan masih jalan terus. Hawa ini silih berganti tak terduga, dari panas tiba-tiba dingin dan sebaliknya. Banjir dan bencana alam lainnya masih belum usai, buktinya media cetak dan elektronik juga memberitakannya. Barangkali semua merasakan cipratan air, tapi memang tak semua menerima bencana ini.
Hujan sekali lagi sebagai sesuatu yang ditunggu. Kini juga sebagian disesali, karena dianggap menurunkan kerugian juga bagi kita. Sekian waktu sudah terlewati, berbulan-bulan lamanya air tak mengucur di rumah kita, sawah mengering hendak menangis pun tak bisa. Tanaman hanyut dalam sepinya taburan kecipak irigasi di sawah atau ladang. Tak jarang kita berucap susah kalau hujan begini, tak bisa kemana-kemana dengan leluasa. Tak bisa berkunjung ke jagat-jagat yang kita inginkan.
Tapi diunjung sana, ada banyak rasa yang kontras dengan keadaan kita yang di sini. Saat kita menerima hujan dengan begitu lapang dada karena memang kita tak merasakan bahwa hujan menjadi air bah yang meluluh lantakkan rumah tinggal kita. Tak ada derita yang memilukan karena harta kita tak berkurang. Namun di sana, di mana ada saudara kita yang meringis, menangis, mengaduh dan betul sampai gaduh, hujan menghancurkan harapan mereka, bahkan sisa-sisa harapan. Anak sekolah bingung bagaimana bersekolah, pedagang bingung mau menjual apa –apalagi pasar-pasar tiada bersisa, serta berbagai kondisi yang sulit mereka pahami apalagi menyikapi.
Hal yang demikian itulah yang begitu kental kita rasakan selain berita baru-baru ini di koran maupun televisi. Bermacam-macam, mulai masalah pencemaran nama baik, KDRT, penetapan kursi di DPR, kuis-kuis milyaran, kampanye capres-cawapres 2009 (yang katanya makin tak sehat), kecelakaan burung besi yang bertubi-tubi, hingga flu babi yang melembekkan manusia (justru bukan menyerang babi).
Persinggungan masalah demikian menunjukkan bahwa ada situasi yang tidak terjawab oleh nalar. Atau mungkin nalar kita sudah malas diajak kompromi, yang mudah tak kita pikir pun tidak masalah. Tapi yang jauh dari kita seolah-olah enggan kita pikirkan.
Tuhan Maha Adil
Sejenak kita berkaca, barangkali kita terganggu dengan hujan kali ini atau mungkin sekian kali hujan yang kita terima. Hendak kemana-mana sering kehujanan, entah yang mau ke kantor, ke pasar, kencan. Pagi sampai sore bumi ini didera hujan, seakan ativitas ini berhenti mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi tak banyak aktivitas kalau hujan sudah turun. Namun kondisi ini jelas berbeda, saat kita jengkel tapi banyak pihak yang begitu senang dengan hadirnya tamu basah ini. Petani senang karena air kembali mengalir di sawah-sawah mereka, tumbuhan bersemi kembali, hewan peliharaan dapat merumput kembali dengan segenap gurauannya, kerbau kembali berkubang di lumpur. Singkatnya air mengalir sampai jauh.
Begitulah syair lagu Bengawan Solo bapak Gesang. Petani bisa menghasilkan lagi padi-padi yang menjadi pemenuh nafsu makan kita. Demikianlah bahwa dengan nyata Tuhan menunjukkan keadilannya, dan bahwa Gusti ora sare. Tuhan senantiasa berbuat di saat hamba-Nya sedang terlelap sekalipun, Tuhan tidak tidur. Kejadian di sini hujan dan tanpa banjir, atau mungkin daerah sana hujan dengan banjir itu bukan menunjukkan bahwa Tuhan tidak adil. Memaknai yang demikian ini maka kita sebagai manusia harus bertindak sebagai menungsa kang ora kena ngresula marang peparingane Kang Maha Kuwasa (tidak boleh mengeluh atas pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa).
Nafsu Sufiah
Kita tilik kembali tentang nafsu kita. Begitu banyak alat pemuas nafsu pun berbagai macam nafsu. Mulai dari nafsu sufiah, marah, lawamah, dan mutmainah. Nafsu sufiah bicara soal nafsu perut dan nafsu bawah perut. Nasi dan lauknya itulah alat pemenuh nafsu perut kita. Kalau perut sudah terisi nasi, sudah terisi air yang menyegarkan, terisi oleh berbagai macam makanan yang kita suka, maka dapat dikatakan bahwa nafsu perut telah terpuaskan. Namun bagaimana dengan nafsu bawah perut, singkatnya nafsu ini bicara soal pemenuhan hasrat seks kita. Tidak tua tidak muda, tidak kaya tidak misin, tidak yang di desa dan di kota betapa sulit mengerem nafsu ini. Beda lagi dengan hawa nafsu, nafsu inilah yang sering diumbar. Kalau libido seks sudah bicara, singkatnya kita sebut iman kuat tapi imron tidak kuat. Begitulah gurauannya.
Sekalipun orang berperut kenyang, belum tentu kenyang hasrat nafsunya. Apalagi kalau bicara soal nafsu sufiah bawah perut. Kadang nafsu ini begitu menggejolak untuk dipenuhi padahal alat pemuasnya sulit dipenuhi. Lalu terjadilah pelampiasan dengan berbagai cara (yang dibenar-benarkan supaya halal). maka saat ini menjadi penting bagi kita untuk menjalankan “tapa brata” yang memerlukan kemampuan untuk tidak terpengaruh oleh kenikmatan lahiriah semata (kecopaking iwak), galaunya suara orang (grombyanging wong), dan dorongan seks yang tidak sehat (semilake wentis kuning).
Sekalipun seorang Kyai atau Pendeta sudah banyak makan asam garam lautan, kalau sudah didera oleh nafsu yang satu itu (sufiah), siapa yang bisa menolak. Kemudian pun mencari pemuasnya dengan berbagai cara. Pernah diungkapkan bahwa wanita itu paling kuat/tahan menahan nafsu seksnya tapi sekali bobol maka sulit akan terobati. Ibarat rem sudah blong, maka sulit akan diperbaiki. Bagaimana laki-laki?
Generasi yang tercipta sekian waktu barangkali juga merupakan produk dari “nafsu” sehingga mereka juga terlahir dengan penuh nafsu. Tentunya termasuk saya.
Melunturnya semangat Manembah ini tentu otomatis juga mengendurkan rasa syukur. Orang yang dipandang berhasil atau “jadi orang” tatkala sudah punya penghasilan tinggi atau singakatnya disebut orang kaya. Seolah-olah nafsu telah menuhan keyakinan kita akan materialisme. Unsur kebendaan yang dinomorsatukan, bukan maknawiyah lagi. Inilah yang menarik karena sudah menjadi biasa dengan yang demikian. Mestinya kita harus terbiasa, bukan aku tak biasa seperti Alda Risma yang sudah mendahului kita kembali kepada-Nya.
Sepertinya dengan berbagai bencana ini, kita belum biasa dengan penderitaan. Bila bayi menangis kita isyaratkan sebagai bentuk tanggapan bayi yaitu melihat dunia begitu penuh dengan nafsu jahat, dunia penuh kesengsaraan, dunia semu keadilan, dunia fana. Sehingga Sang Bayi seolah-olah hendak kembali lagi ke dalam rahim ibunya yang begitu khusyuk dan nikmat. Bayi merasakan kenyamanan, karena disanalah ia tanpa kerja mendapat makan, gizi, susu, oksigen, bernafas, tidur. Singkatnya tanpa kerja sudah dapat segalanya.
Nafsu sulit pula dikendalikan oleh mareka yang cendekia sekalipun. Buktinya ada tokoh panutan sekelas anggota DPR, ustads, atau lainnya yang mudah jatuh dengan godaan ini. Nafsu berkuasa atau keserakahan juga bisa timbul karena nafsu bawah perut menuntut pemuasaan dengan segera.
Nafsu atau Ambisi
Saya mencoba mengusik sekian fenomena di sekitar kita, sudah sekian banyak profesor dihasilkan negeri ini dari berbagai universitas. Tapi apa sumbangsih mereka terhadap negeri ini? Begitupula bagaimana seseorang bisa menjadi profesor itulah yang dipertanyakan. Tak jarang kita temui profesor yang sebelum pofesor menempuh doktor hanya sekian waktu saja kemudian dalam beberapa bulan kemudian sudah menjadi guru besar.
Apakah profesor sudah menjadi obsessi yang berkembang menjadi ambisi pribadi demi sebuah gelar yang “nomor wahid”, lha wong kenyataannya banyak profesor yang “jago kandang”, menulis buku juga tidak bahkan artikel yang sederhana pun tak pernah dibuat. Setelah pengukuhan lalu tak mau dipanggil pak atau bu, maunya dipanggil prof. (profesor). Orang semacam ini dibentuk kesibukannya dengana jabatan di kampusnya atau mengejar angka kredit. Selepas pengukuhan kembali seperti adat awalnya, sekadar memenuhi kuliah lalu pulang atau sesekali menjadi pembicara di seminar lokal kampus. Lalu apa bedanya profesor dengan yang bukan profesor, tanya kenapa? Sehingga profesor semacam ini layak disebut profesor yang bukan profesor. Memang profesor tak semuanya demikian. Betapa sebuah gelar pendidikan pun sudah menjadi bagian dari nafsu kita, nafsu yang minta dituruti.
Berkembangnya nafsu berkuasa dari sekelumit uraian tadi menyiratkan bahwa nafsu dibentuk oleh nafsu yang lain dan tentu menuntut dipenuhi. Kalau hati sudah dipenuhi nafsu buruk, maka saudara jauh yang terkena bencana pun sudah terlupakan. Pemenuhan nafsu ini akan mengaburkan dari sikap asih, asah, dan asuh. Karena kalau kita meminta tolong sudah dengan embel-embel atau pamrih, ada tendensi negatif. Semua menjadi kabur karena nafsu yang sembarang diumbar, yang ikhlas menjadi tak ikhlas.
Terkadang nafsu kita bak hujan yang deras, lalu ”Apakah salah kita memiliki nafsu?” Tentu tidak karena memang sudah kodratnya demikian. Bagaimana mengelola dan memuaskan nafsu, itulah masalahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar