Pengertian Media Pembelajaran
BAGIAN PERTAMA:
Konsep Media, Alat Peraga, dan Media Komunikasi Pembelajaran
McLuhan yang dikutip oleh Akhsin dalam Kustiono (2001: 2) menyatakan bahwa media juga disebut saluran (channel), karena menyampaikan pesan dari sumber informasi kepada penerima. Dengan demikian, media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam penyajian informasi untuk mengantar pesan dari sumber informasi kepada penerima.
Di dalam setiap komunikasi selalu terdapat urutan pemindahan informasi. Urutan pemindahan informasi itu, oleh Kemp (1985: 5) dideskripsikan dalam gambar berikut:

| Gambar di atas menunjukkan bahwa pesan atau ide, dalam bentuk informasi dari pengirim. Selanjutnya pesan itu diubah (encode) dalam bentuk lambang/kode. Pengubahan ini, misalnya suatu konversi diubah dalam bentuk suara/gelombang suara, tulisan kata, gambar. Pesan yang sudah berupa kode itu kemudian dipindahkan kepada penerima melalui channel dengan menggunakan media tertentu, misalnya: film, gambar, buku. Setelah tiba pada penerima atau tujuannya, dengan bantuan indera mata atau telinga pesan itu diolah atau ditafsirkan lagi. |
Komunikasi yang efektif tergantung pada partisipasi penerima. Orang akan bereaksi dengan jawaban, pertanyaan atau tindakan. Dengan bantuan sistem syarat, pesan itu dapat diterima dan dimengerti oleh penerima pesan. Penerima akhirnya mengirimkan kembali pesan yang telah diolah sebagai umpan balik (feedback) yang dapat berbentuk kata, ekspresi, atau gerakan tangan. Dari feedback ini pengirim dapat mengetahui apakah komunikasi berlangsung dengan efektif atau tidak. Ada gangguan atau tidak selama komunikasi berlangsung. Gangguan itu harus dicari oleh manusia sumber agar dapat diadakan perbaikan sesuai dengan maksud pesan (Kemp, 1985: 12).
Kata media sendiri berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti tengah atau perantara atau pengantar. AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Di samping sebagai sistem penyampai atau pengantar, menurut Fleming dalam Arsyad (2004: 3) media yang sering diganti dengan kata mediator adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator, media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar, siswa dan isi pelajaran. Di samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pengajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada peralatan paling canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran.
Acapkali kata media digunakan secara bergantian dengan istilah alat bantu atau media komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1994) bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi. Sementara itu, Gagne dan Briggs (1995) dalam Arsyad (2004: 4) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, tape recorder, kaset video, recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
Dari berbagai batasan tentang media yang telah dikemukakan banyak ahli, dapat dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung pada setiap batasan:
a. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware, yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindera.
b. Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software, yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang dngin disampaikan kepada siswa.
c. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
d. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
e. Media pendidikan digunkaan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
f. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalkan: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalkan film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalkan: modul, komputer, radio tape/kaset, video recorder).
g. Sikap, perbuatan organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
BAHAN 2:
Pengertian Media Pembelajaran
BAGIAN PERTAMA:
Landasan Teoretis Penggunaan Media
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Brunner dalam Arsyad (2004: 7) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman piktorial/gambar (ionic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Pengalaman langsung adalah mengerjakan, misalkan arti kata ‘simpul’ dipahami dengan langsung membuat ‘simpul’. Pada tingkatan kedua yang diberi label ionic (artinya gambar atau image), kata ‘simpul’ dipelajari dari gambar, lukisan, foto atau film. Meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat ‘simpul’ mereka dapat mempelajari dan memahaminya dari gambar, lukisan, foto, atau film. Selanjutnya, pada tingkatan simbol, siswa membaca (atau mendengar) kata simpul dan mencoba mencocokkan dengan ‘simpul’ pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh ‘pengalaman’ (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang baru.
Tingkatan pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti itu digambarkan oleh Dale (1969) dalam Arsyad (2004: 8) sebagai suatu proses komunikasi. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan siswa dapat menguasainya disebut pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan ke dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan siswa sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding). Cara pengolahan pesan oleh guru dan murid dapat digambarkan pada tabel 1.
| Pesan diproduksi dengan: | | Pesan dicerna dan diinterpretasi dengan: |
| Berbicara, menyanyi, memainkan alat musik, dsb. | <--> | Mendengarkan |
| Memvisualisasikan melalui film, foto, lukisan, gambar, model, patung, grafik, kartun, gerakan nonverbal | <--> | Mengamati |
| Menulis atau mengarang | <--> | Membaca |
Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa agar proses belajar-mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan. Dengan demikian, siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.
DAFTAR PUSTAKA (daftar pustaka ini adalah kumpulan pustaka yang berkaitan dengan tulisan/paparan tentang MEDIA KOMUNIKASI PEMBELAJARAN<>
AECT, Task Force. 1997. The Definition of Educational Technology. Washington: Association for Educational Communication and Technology (AECT).
Kustiono. 2001. Media Pembelajaran. Buku Ajar, disusun dalam rangka Tugas Pelatihan Penyusunan Handout dan Buku Ajar bagi Dosen Peneliti Universitas Negeri Semarang di Lembaga Penelitian. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes.
(Wonogiri, Selasa malam, 21.31 WIB, 9 Juni 2009, diiringi “Suara”-Hijau Daun)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar