Senin, Februari 23, 2009

Perubahan Paradigma Pendidikan dengan Kehadiran TIK


AKU BERTANYA....Perubahan Paradigma Pendidikan dengan Kehadiran TIK?



Seorang dosen hadir pada perkuliahan,
Menyiapkan Laptop dan LCD untuk presentasi bahan kuliah
Tak terduga, mendadak listrik padam
Dosen menggerutu, ia tak bisa presentasi, sembari sesekali mengumpat PLN yang katanya tak becus mengelola listrik, terus merembet menyalahkan pemerintah
Sekitar seperempat jam kemudian, listrik on kembali
Namun keadaan menjadi tambah puyeng karena kabel konektor LCD ke laptop tak bisa nyambung
Walhasil presentasi tak jadi karena “digagalkan” kabel yang tak tahu diri
Dan dosen pamit, kuliah dilanjutkan minggu depan…


Begitukah peran yang dimainkan teknologi sehingga mengantarkan ketidakberjalannya pelaksanaan kerja? TIK yang mestinya memerankan diri sebagai media pembelajaran dalam konteks pendidikan, malah menimbulkan masalah baru yang diberi judul “ketergantungan pada teknologi” (sebagai alat). Paradigma apa yang dimaksud, selain rasa miris karena kita menjadi korban teknologi.

Saya tak meragukan, TIK telah dimanfaatkan sedemikian rupa dalam kepentingan pembelajaran, missal e-library, email, teleconference, e-learning, blog pembelajaran, dan lainnya.

Kesemua bentuk pemanfaatan tersebut menuntut dipenuhinya sejumlah prasayarat. Kita membutuhkan dana sangat besar untuk menyiapkan infrastruktur. Bagi individu, tentu juga merubah orientasi kebutuhan keluarga, misalnya sekarang membutuhkan dana untuk pembelian perangkat TIK (missal laptop) bagi anak guna belajar. Sayangnya, kepemilikan alat TIK terkadang lebih hanya sekadar demi memiliki dan prestise semata. “Lho tetangga kita punya, masa’ kita ndak punya, gengsi dong!”. Maka, lahirlah konsumtivitas dalam hal kepemilikan alat elektronik alias teknologi modern. Kelahiran TIK tak selalu untuk pembelajaran, ia lebih banyak dimanfaatkan untuk nge-games komputer atau malah mengaktifkan hotspot internet guna mendownload lagu, games, atau chating. Paling tidak, itulah hal yang menggayuti remaja sekarang.

TIK turut mengantarkan siswa pada pembelajaran yang benar-benar tak terbatasi ruang dan waktu. Masa mendatang, siswa bisa jadi tak membutuhkan guru seperti zaman kini, ya itu sangat mungkin terjadi. Guru lebih banyak berkomunikasi dengan siswa pada urusan-urusan nonformal belajar, seperti rekreasi akhir pekan atau main ke objek-objek sejarah. Atau mungkin guru yang menyediakan sumber belajar di internet (e-learning), memberitahukan tugas via blog pembelajaran, menyampaikan hasil belajar. Sedangkan siswa sendiri dapat menggunakan sumber lain sebagai sumber belajar mereka, tak lagi sebatas para guru yang menyampaikan pelajaran. Bahkan sumber belajar selain guru lebih kaya, ini tak bisa dinafikkan lagi.

Kekhawatiran saya adalah, karena sumber informasi dan bahan pelajaran begitu banyak dan luar biasa banyak, dimungkinkan informasi tersebut tidak tersaring dengan baik. Mana bahan yang penting dan tidak penting, mana bahan yang berguna dan belum berguna, mana bahan yang lemah secara keilmuan, mana bahan yang masih perlu diuji, mana bahan yang kontroversial, hal itu sulit dilacak. Internet penuh dengan sejumlah informasi, jika tidak ada pihak yang mengantarkan siswa agar membuat pilihan yang benar dalam cara belajar dan memilih bahan pelajaran, dapat diduga siswa akan tersesat dan menyesatkan.

Kekhawatiran lain adalah nilai-nilai sosial-budaya, semangat demokratis, teposeliro, tanggung jawab, tolong-menolong bisa menjadi luntur alias terdegradasi karena siswa lebih banyak berorientasi pada pemanfaatan TIK untuk apa saja, bukan untuk pendidikan. Kerjasama antar siswa sulit dilakukan karena pengajaran berlangsung individual, siswa mengerjakan tugas, mengupload via internet, mendapat nilai, dan selesai.

Individualisasi dalam pendidikan
Individualisasi berbeda dengan kemandirian. Munculnya TIK modern yang makin menghebat ini bersamaan dengan saat meningkatnya minat para pendidik terhadap kebutuhan akan individualisasi dalam pendidikan. Pencarian terbesar yang pernah dilakukan dalam lapangan media dan teknologi pengajaran adalah untuk menemukan cara-cara mengawinkan secara individual dengan mata pelajaran yang memadai, ditempatkan pada tahapan yang benar dan disajikan dalam media yang bisa digabungkn pada langkah yang optimal menurut urutan paling berarti. Jawaban yang tepat adalah individualisasi, tetapi akibatnya menimbulkan beban sangat berat yang harus dipikul oleh pembuat ketetapan dan sumber pengelolaan. Seorang guru bisa saja mencapai tahap ideal dari individualisasi pendidikan bagi para siswanya. Namun, bila dihubungkan dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang atau lebih, maka logistik individualisasi akan melewati batas kemampuan seorang guru.

Komputer berjaringan internet dapat mengatasi masalah itu, demikian pula rintangan-rintangan logistik lainnya di dalam individualisasi pengajaran. Dengan sirkuit elektroniknya yang akurat, komputer dapat membuat keputusan-keputusan penting yang tak terhitung jumlahnya dalam plan-implementing program pengajaran yang diindivualiasikan secara massal dan dalam waktu singkat.
Dapat dinyatakan, kehadiran TIK menimbulkan perubahan pada pola-pola pembelajaran. Sebelum pola pembelajaran berubah, guru mesti memperbaiki diri sebagai pihak yang belajar bagaimana TIK didayagunakan secara operasional.

Tidak ada komentar:

DARI MASA KE MASA




DOAKU

Ya ...Alloh, rachmatilah saudaraku dimanapun berada, tentramkanlah keluarganya, berkahilah rizkinya dan kesehatannya, kuatkanlah iman-takwanya, tinggikan derajatnya, kabulkanlah doa-doanya, serta ampunilah dosa-kekhilafanku!

Semoga kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini...aamin.

Atur Pembuka


Selamat datang di kawasan wajib senyum. Mari berbicara dari hati ke hati.
Ada hal-hal yang kurang berkenan itu wajar, dan ketidakpuasan juga hal wajar.
Hujan berganti kemarau, mari disambut dengan lapang dada karena memang sumuk... Bismillah.
"Sedetik dimata, selamanya di Jiwa"
Salam Pramuka!